
"Luka di tubuhnya sangatlah parah, namun yang lebih parah lagi adalah di bagian kepala rey" Jawab dokter deril sekaligus dokter pribadi brian.
Brian yang beberapa waktu lalu di larikan ke rumah sakit tempat dirinya bekerja karena sedang keadaan darurat. Biasanya dirinya yang akan ke mension brian untuk memeriksanya.
Rey, angga beserta beberapa orang pasukan sebagai keamanan untuk menjaga brian hanya di buat syok, kaget, dan bercampur aduk mendengar penuturannya.
"Dasar pria tua b******n "Umpat rey marah.
"Apapun yang terjadi padanya, kau harus menolongnya Der, jangan katakan hal buruk apapun sebelum kau berhasil menyembuhkan nya" Lanjut nya dengan serius menatap deril.
"Itu sudah tugasku, dan lagi pula dia juga temanku rey, akan ku usahakan sebisa mungkin agar dia sembuh, untuk apa gelar dokter ku ini jika tak di pakai rey" Jawab deril.
"Dan aku butuh persetujuan darimu, seharusnya keluar atau kerabat dekat dengan nya, tapi sayangnya di tak punya itu, dan aku meminta izin padamu agar Brian menjalani operasi " Lanjut nya
"Baru saja ku katakan, sembuhkan dia apapun caranya, cepat sana, tidak perlu meminta izin pada ku jika untuk kesembuhan nya, paham " Jawab deril dengan sedikit berteriak.
Deril hanya mengangguk paham, rey sangat menyayangi persahabatan, maklum saja dia sangat marah, dan rasa khawatir menyelimuti hatinya melihat keadaan brian yang belum sadar.
Deril akhirnya menjalankan tugas sebagai dokter untuk mengoperasi brian yang sudah di bawa oleh para suster keruangan khusus operasi.
Sebisa dan sekuat tenaga dia kerahkan untuk berusaha mengobati brian, dirinya hanya sebagai perantara saja sebagai dokter, bukan dia yang menyembuhkan, hanya berusaha dan berharap kesembuhan semua pasien yang dia tangani.
Hanya suara detik kan jantung yang terdengar di monitor.
Sedangkan semua orang yang berada di luar menunggu dengan rasa khawatir di hati mereka.
Tuuuut tuuuut tuuuut 'Suara handphone yang berdering menyadarkan mereka dari rasa khawatir nya setelah beberapa kali tak mereka dengar.
"Siapa?" Tanya rey yang melihat angga memegangi handphone nya tanpa mengangkat teleponnya itu.
Angga hanya melihat Rey dan melihat handphone nya kembali dengan bergantian.
Rey yang memang tidak sabaran langsung mengambil handphone tersebut dari tangan angga.
"Sela?" Ucap nya setelah melihat nama sang penelepon.
Sela yang masih di apartemen sang mamah berusaha menghubungi semuanya abangnya hanya untuk menanyakan kabar satu orang saja sangat susah baginya.
Rasa tak karuan di hatinya malah semakin menjadi jadi setelah dia bangun dari tidur nya sejak pagi, bahkan malam saja dia sesekali terbangun tidak bisa tidur memikirkan Brian.
Apa lagi ketika dia mengingat brian yang sama sekali tak bisa di hubungi sampai sekarang.
"Ayolah angka telepon nya...Ayo angkat telepon bang..."Ucap sela dengan sesekali melihat layar handphone nya yang hanya tertera sedang berdering itu.
Sekali mati...hubungi lagi...sekali mati hubungi lagi ..
Hanya itu yang dia lakukan untuk menghubungi para abangnya...
"Ya dek" Suara di sebrang sana yang seketika membuat sela tersenyum, seperti ada harapan bahwa perasaan sejak semalam itu hanya hal biasa.
"Bang han, bang han ada dimana, apa devan bersama mu" Ucap sela dengan rasa bahagia.
" Tidak, aku sedang mengurus pekerjaannya sekarang di kantor, coba saja kau tanya yang lain" Jawab han yang sedang di ruangan kerja nya.
Mendengar hal itu, sela lagi lagi di buat murung dengan kenyataan, baru saja dia senang berharap brian ada bersama han..
"Coba abang saja yang telepon,dari beberapa hari ini sampai sekarang tak pernah terhubung, sekali terhubung tak pernah di angkat "Jawab sela.
Han yang mendengar penuturan sela merasa sedikit aneh, pasalnya semua abangnya tak pernah mencueki sela, apa lagi jika sela sendiri yang berusaha menghubungi termasuk han sendiri.
Han akhirnya menghubungi rey menggunakan handphone yang lainnya yang di gunakan khusus para pekerja untuk melayani klien nya.
Rey yang mendengar handphone nya berdering langsung mengangkat nya.
"Hey...ini aku...kau sebenarnya sedang dimana?, sela mencari brian, dan bahkan dia sedang menghubungiku sekarang" Ucap han tanpa berhenti.
Ya, dia memang tidak tau jika Brian di larikan ke rumah sakit, dia sangat sibuk di perusahaan Brian yang seharusnya pekerjaan bosnya itu.
"Hah"
Rey hanya bisa menghela nafas mendengar ucapan han yang terdengar mengoceh menurutnya.
"Dia juga menghuni ku dan angga, tapi kami sangat sibuk hanya untuk sekedar membuka handphone" jelas Rey.
"Apa terjadi sesuatu pada tuan brian?" tanya Han.
"Ya, kami sedang di rumah sakit deril sekarang, karena luka Brian yang sangat serius mengakibatkan dirinya harus menjalani operasi" Ucap rey terdengar datar, namun sungguh...itu hanya topeng agar tak terlihat sedih dan terlihat lemah saja.
Bagaimana bisa seseorang merasa biasa saja jika teman dekat bahkan mereka anggap saudara sedang berbaring di rumah sakit.
"APA? "Teriak kecil han keluar begitu saja mendengar penuturan rey.
Sambungan yang belum terputus dengan sela mengakibatkan sela yang mendengar nya tersentak, walaupun handphone nya di jauhkan dengan han, tapi karena han berteriak, jadi dia bisa mendengar nya.
"BANG....BANG...ADA APA BANG??... KENAPA BERTERIAK?..." Teriak sela berharap han bisa mendengar nya.
Teriakan sela yang sangat kencang bisa di dengar oleh Han maupun rey yang di seberang telepon lain.
"Han, sela ada bersama mu hah"Suara rey terdengar geram.
"Bukan " sangkal han yang mendengar tuduhan rey.
"Sela...aku aku sedang sibuk, teleponnya nanti saja nya" Ucap han ke sela.
"Tapi kenapa tadi kau berteriak bang?" Penasaran sela dengan masih berteriak pelan.
"Tidak ada apa apa, abang tutup dulu teleponnya nya" Ucap han dengan diakhiri suara handphone yang menandakan sudah terputus.
Tuuuut
"BANG... BANG.." terik sela dengan kesal melihat layar telepon nya.
"Ini sangat aneh, jika tidak ada apa apa, kenapa dia berteriak?" Gumamnya.
Dia bukan anak kecil lagi, bukan berusia belasan tahun lagi, kenapa ingin berbohong dengan cara seperti ini, semua orang akan tau jika melihat kelakuan han yang berusaha menutupi sesuatu darinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bagaimana keadaan nya der?" Ucap han dengan khawatir menghampiri deril yang baru saja keluar dari ruangan operasi tadi.
Begitu juga angga yang sangat ingin tau keadaan brian.
Deril hanya menghela nafas, dia seperti sedikit berat untuk mengatakan nya, namun sebagai dokter, dia harus proporsional sekalipun pada sahabat nya.
Membuat rey dan Angga melihat nya merasa tegang melihat deril yang menarik nafas, biasanya jika dokter bersikap seperti ini akan membawa kabar tak mengenakan' pikir mereka secara spontan.
"Operasi nya berjalan lancar, Aku bisa yakin jika umur nya panjang dia pasti akan siuman dan sadar. namun..." Ucap deril terhenti, seperti tak bisa meneruskan kalimatnya yang membuat dia sedih.
.
.
.
Bersambung 🍁