Mafia Boss Love Story

Mafia Boss Love Story
PERUBAHAN HETI



"Sudah nyonya, ini hanya cedera saja, Besok juga pasti sembuh, iya kan dok" Ucap heti sambil melihat mereka di sana (dokter, satu suster dan wanita tadi).


"Iya nyonya, dia hanya cedera saja" Jawab sang dokter.


"Apa Masih ada yang di tanyakan lagi nyonya, nona "Lanjut nya.


"Tidak ada, makasih dok" Ucap wanita tadi dengan ramah.


"Sama sama nyonya, itu sudah kewajiban saya, kalo begitu saya keluar dulu nyonya, permisi "ucap sang dokter dan akhirnya suster dan dokter pun meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan setelah mereka mengangguk.


"Makasih lho na sudah bantu saya, namu mu siapa?, dan kenapa tadi ada di sana?" Tanya nya.


"Nama saya heti nyonya, kebetulan tadi saya lewat sana terus melihat nyonya yang hampir tertabrak "


"Apa kamu butuh sesuatu?" Tanya nya kepada heti.


"Tidak ada" geleng heti.


"Minta saja apa yang kamu mau, saya merasa bersalah kalo kamu tak memintanya, kamu sudah menyelamatkan nyawa saya tadi"


"Tidak apa ko nyony.."Ucapan heti terputus ketika mendengar suara pintu terbuka dengan keras, di susul dengan seorang pria yang seperti nya dokter karena memakai jas dokter, siapa lagi jika bukan dokter darel yang mengkhawatirkan mamahnya.


"Mah, apa mamah baik baik saja, apa ada yang sakit, di sebelah mana ma" Ucapnya sambil memutar balikan badan sang mamah.


"Sudah ku bilang jangan ingin membeli sesuatu di pasar, jika mamah sangat ingin, setidaknya bawa pengawal untuk menjaga mu mah" Lanjutnya dengan tanpa jeda saking khawatir nya, padahal mamahnya baik baik saja.


"Issssh kamu ini, mamah baik baik saja, untung ada anak muda ini" jawabnya menunjuk heti yang Hanya terdiam menyaksikan ibu dan anak itu.


Seketika deril pun melihat heti dengan tatapan dingin nya,berbeda sekali ketika dengan sang mamah, dirinya baru menyadari jika ada orang lain selain mamahnya.


"Siapa dia mah" Masih dengan suara dingin.


"Dia Yang udah nolongin mamah, namanya heti" Ucap nya, membuat deril lagi lagi menatap nya dengan tajam.


Seketika desiran aneh muncul di hati heti ketika melihat wajah deril yang di dingin, perawakan tinggi, wajah tampan, dan matanya...oooh matanya sangat tajam. Melihat nya saja sudah merinding bagi heti.


"Tapi... kenapa dengan hatiku"Batin sela tak karuan, berasa deg degan melihat deril.


"Nyonya, apa aku sudah bisa pulang" Tanya heti beranjak dari ranjang ya yang tadi sedang duduk.


"Apa kamu benar tidak apa apa?" Tanya sang wanita tak enak, apalagi melihat heti yang masih terlihat pincang itu.


"Iya nyonya, permisi" Ucap heti Ingin melangkah ke pintu.


"Tinggu na, Panggil aku tante saja mulai dari sekarang.." Ucapan wanita itu menghentikan heti.


"Dan kamu deril" Lanjut nya menunjuk deril dengan tegas.


"Hantarkan dia kerumahnya"lanjut lagi.


"Tapi mah..aku masih ada kerjaan...aku ke sini juga karna mamah.."Tolak deril mentah.


"Sudah hantarkan saja... mamah seperti merasa berhutang padanya"


"Sopir mamah saja, Tidak mungkin mamah tak bawa" kekeh deril tak mau, lagian di rumah sakit dirinya masih banyak kerjakan.


"Nyony...aaah maksud nya Tante, gak papa tan aku bisa pulang sendiri" Ucap heti, berbalik kepadanya, sekarang dirinya yang tak enak hati melihat perdebatan anak dan ibu hanya karena dirinya.


Tanpa di suruh dan di silahkan, Heti langsung saja keluar begitu saja, bisa bisa dirinya bisa mengakibatkan lebih parah dari ini, mending keluar saja.


"Deril... cepat"Bentak wanita itu ke sang anak yang akhirnya hanya bisa berdecak sebal dan meninggalkan sang mamah menyusul heti.


"Cepat.. jangan lelet begitu, hanya cedera saja bukan" Ketus deril ketika di belakang heti membuat si empunya kaget.


"I iya, mau kemana?, apa anda mengikuti ku?" Gugup sela sekaligus heran melihat deril berada di sini.


Deril hanya diam tanpa ingin menjawab pertanyaan heti sama sekali.


"Hah"bingung heti.


"Masuk mobil ku cepat "Ucap deril tajam.


"I iya "Heti akhirnya hanya bisa mengikuti apa Yang deril suruh.


"Siapa nama mu tadi?" Ketus deril ketika di dalam mobil.


"He heti "


"Nama panjangnya "


"He heti nu Nugraha " Gugup sela Karena takut deril menanyakan nya.


"Cih, apa kau bermaksud menipu mamah ku dengan cara berpura pura menolongnya "Ucap deril pelan dengan menyetir mobilnya.


"Apa maksud anda tuan "Kaget sela dengan tuduhan deril. Apa dia bercanda, kesalnya.


"Aku sudah tau kebusukan dan jahat nya dirimu, kau sangat sombong dan jahat pada saudara mu sendiri, padahal pada teman mu saja kau seperti menghormatinya"


"Apa maksud mu, jika anda tak ingin menghantar ku, turun kan saja, apa susah nya"Teriak heti karena emosi mulai menyerang.


Dirinya sudah susah payah menjadi orang yang lebih baik mulai sekarang, tapi orang di di sampingnya ini, tidak tau apa apa malah menuduhku yang bukan bukan.


"Bukan nya terimakasih..."Lanjut heti dengan sangat tercekat menahan kesal.


Sedangkan deril hanya meliriknya sinis...


"Jika kau benar benar baik, makasih atas pertolongan mu...dan satu lagi, jika kau benar benar berkata jujur, jangan pernah menampakkan wajahmu itu di hadapan Mamah ku lagi, Paham" Ucap deril dingin dengan tatapan tajam ketika berbicara padanya, bahkan terkesan menyeramkan.


Dia pikir deril hanya bersifat dingin saja ketika pertama kali melihatnya, tapi lebih dari itu Ternyata.


Setibanya di rumah, dirinya langsung saja masuk ke Mensionnya dan melihat kaka dan mamahnya seperti sedang berbahagia.


Ada apa ini, kenapa mereka berdua bahagia ketika ayah tak ada' itulah yang terlintas di pikiran heti.


"Sayang..."Teriak Lita ketika melihatnya dan langsung menghampirinya.


"Kenapa dengan kaki dan tangan mu?"


"Tadi ada orang yang hampir tertabrak mah, lalu aku menolongnya, dan akhirnya aku yang kena" jawabnya jujur.


"Apa" Kaget Keduanya.


"Kenapa kamu menolongnya jika membahanyakan mu, biarkan saja jika dia tabrakan atau apa, itu bukan urusan mu heti" Ucap lita seakan sedang mengajari sang anak.


"Itu sifat tidak baik, menolong sesama manusia itu harus mah, dan aku gak mau kaya mamah dana ayah, lihat kelakuan ayah..aku pikir di sini sela yang salah.. ternyata mamah dan ayah" Ucap heti.


"Heti... kamu!!!, apa maksud mu bicara begitu pada mamah hah!!" Teriak lita marah ke arah heti.


"Sudah mah, aku gak mau memperbanyak dosa dengan berdebat dengan orang tua ku, sudah cukup aku selalu menganggap sela yang bersalah, tapi jika aku ingat ingat lagi , dari mana salahnya sela, Sela sendiri di sini karena ayah, dan sela ada di sini karena mamah yang bawa" Ucap heti tak mau kalah.


"Kau mulai berani berteriak dan melawan ku hah" Kesal lita di atas rata rata.


Bahkan sampai ingin melayangkan tamparan ke wajah putri bungsunya itu jika tangan seseorang tak menghalanginya.


.


.


.


Bersambung 🍁


like Komen dan subscribe nya biar aku tambah bersemangat lagi ka untuk mengetik dan buat cerita, biar gak ngebleng kalo bahasa ku🤣