Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
Episode 98: Berangkat menuju pernikahan Angel



Dua hari berlalu, dimana semenjak Ara bermain di rumah Rangga Ady menjadi posesif pada putrinya. Dia tak mengizinkan Ara hanya sekedar ekluar bermain, walau hanya dengan Renata.


Jangan panggil Ara jika dia tak punya jalan keluar untuk mengambil arah lain, dimana saat Ady berangkat bekerja dia selalu meminta Edgar atau Razka membukakan pagar dengan dalih ingin mengajak Renata main di rumah. Tentu saja kedua paman Ara itu percaya, dia akan main di rumah Rangga hingga siang menjelang.


Pagi ini tampak berbeda, sebab rumah Ady semua orang tengah sibuk mempersiapkan diri. Yah, Angel sepupu Ady menikah hari ini.


Ara dan Shaka sudah di persiapkan lebih dulu sebelum Alea mempersiapkan dirinya, sebab kedua anak itu sangat susah jika di ajak bepergian.


"Ala janan kemana-mana, abang mau ambil minum. Awac aja nakal!" Peringat Shaka sambil turun dari sofa yang ia duduki.


"Iya," ujar Ara dengan singkat.


Shaka pergi mengambil minum, tak lama dia kembali dengan susu botol yang tengah ia minum.


"Cucu? Chaka ambil dimana? Ala juga mau!" Seru Ara.


"Ini cucu abang yang tadi, kalo punana Ala kan cudah habis." Ujar Shaka sambil menatap ke arah Ara.


Ara mengerucutkan bibirnya, jatah susu paginya sudah ia minum. Sedangkan Shaka, dia menunda minum susunya.


"Janan manyun, kayak bebek. Nih abang dah kenyang," ujar Shaka dan memberikan botolnya pada Ara.


Ara tersenyum lebar, dia mengambil botol itu dan langsung meminumnya.


"Makacih abang!" Seru Ara.


"Kalau ada mauna aja panggil abang," ujar Shaka.


Ara tak menghiraukan perkataan Shaka, dia lanjut meminum susunya hingga pekikan suara Razka membuat Ara terkejut.


"Astaga dek, kenapa minum susu lagi? ntar di omelin bunda loh! Ara, badan kamu udah kayak gentong begitu juga," ujar Razka membuat Ara mendelik.


"Uncle tenapa cih? cilik amat, lagian duga bunda nda ada. Udah cana! lambutna gak cimetlis itu," ujar Ara dengan kesal.


"Ha? iyakah?" Ujar Razka sambil mengecek rambutnya, dia pun kembali ke kamarnya untuk menata ulang rambutnya.


Ara segera menghabiskan susu itu sebelum Alea menghampiri mereka, setelah habis Ara menaruh botol itu di sisi sofa.


"Udah siap semua? ayo berangkat!" Titah Ady yang tengah berjalan menuruni tangga diikuti oleh Alea.


Ara dan Shaka turun dari sofa, mereka berlari ke parkiran mobil.


"Eyang sama kakek udah jalan?" Tanya Ady pada Alea.


"Iya dari pagi banget, kamu tahu sendiri kan oma gimana?" Ujar Alea.


Ady pun mengangguk menyetujui, dia dan ALea segera menyusul dia bocah itu. Dan tak lama Razka dan Edgar pun ikut menyusul masuk kedalam mobil.


"Edgar, tolong pasangkan sabuk pengaman Ara." Pinta Alea.


Edgar mengangguk, dia memasangkan sabuk pengaman Ara. Ady menyediakan tempat duduk khusu anak-anak di kursi mobil paling belakang. Sedangkan Edgar dan Razka berada di barisan tengah.


"Gedungnya jauh gak sih bang?" Tanya Razka.


"Lumayan, sekitar satu jam ke sana. Kenapa?" Tanya balik Ady.


"Kenapa gak naik pesawat atau kereta aja, kalau mobil kan tambah lama," ujar Razka.


"Shaka gak bisa naik pesawat dia, gampang mual. Kalau Ara, dia gak bisa naik kereta mesti nangis," ujar Ady.


Razka pun mengangguk paham, maka dari iyu Ady memutuskan untuk menggunakan mobil menyesuaikan kondisi Ara dan Shaka.


Mobil Ady melaju, selama di perjalanan Alea memang menyiapkan cemilan agar kedua anak itu tidak rewel.


Ara terus bersenandung ria, dia menghitung dan juga menyebut satu persatu apa yang ia lihat.


"Ayah itu apa?" Tanya Ara menatap delman.


"Itu delman dek," ujar Ady.


"Ayah, kok itu banak gelobak? mau hajatan yah?" Tanya kembali Ara.


"Itu jajanan, udah ayah jangan di tanya terus. Nanti fokus ayah buyar," ujar Alea mewakili suaminya.


Ara mengerucutkan bibirnya, tak lama ia menatap mobil di sebelahnya. Kebetulan kala itu mobil tengah berhenti akibat lampu merah.


"ABANG! ITU KOK FOTONA AYAH ADA DI CANA?" Seru Ara.


Shaka ikut melihat apa yang di tunjukkan oleh sang adik, dia pun mengerutkan keningnya karena melihat Ady yang tengah berpose dengan seorang wanita.


"Ayah, itu ayah butan?" Tanya Shaka.


Ady pun mengalihkan pandangannya, dia terkejut melihat foto dirinya berada di sebuah poster. Namun, Ady tentu hafal betul jika dia tak pernah berfoto untuk di jadikan iklan.


"Kok bisa ada foto kamu mas?" Kejut Alea.


"Gak tahu, nanti aku coba bicara sama Aciel. Menurutku itu editan saja, tidak bagus karena bisa merusak reputasiku," ujar Ady.


Alea mengangguk menyetujui, dia hanya terheran bukankah dia dan suaminya sudah tidak kembali selama 3 tahun? mengapa bisa ada foto suaminya?


Lamanya perjalanan membuat Ara rewel, anak itu tak betah duduk lama di mobil. Sehingga Alea menyuruh Razka untuk membawa Ara ke depan.


"Tulun hiks ... tulun nda! teltekan cekali pelacaanku hiks ...." Rengek Ara.


"Sebentar lagi sampai sayang." Bujuk Alea.


Ara hanya terisak kecil, anak itu akan rewel ketika lelah. Untuk itu Alea berusaha membuat Ara tertidur, bahkan Ady pun ikut membujuk putrinya itu.


"Raz, liat Shaka tidur tidak?" Tanya Ady.


Razka menoleh, dia melihat Shaka yang sudah tertidur dengan kepala terantuk-antuk.


"Iya bang," ujar Razka.


"Pakai kan dia bantal lehernya, itu ada di pintu. Takutnya kepalanya kepentok kaca," ujar Ady.


Razka menuruti titah Ady, dia mengambil bantal leher milik Shaka dan memakaikannya. Shaka terusik, tetapi hanya sebentar setelah itu dia kembali tidur dengan tenang.


Tak berselang lama, Ara yang sudah lelah akhirnya pun tertidur. Alea bisa menghela nafas lega ketika putrinya itu sudah terlelap.


Mobil Ady pun sampai di sebuah pelataran yang sangat indah karena di hiasi, sudah ada dua bodyguard yang berdiri disana menunggu kedatangan mobil tamu.


"Yuk turun." Ajak Ady.


"Bang, Shaka masih tidur," ujar Edgar.


"Kamu tolong bawa dia, abang masih harus bawa Ara," ujar Ady.


Edgar pun menuruti, tubuh Shaka tak seberapa berat. Hanya menggendong anak kecik berumur 3 tahun tak masalah bagi Edgar.


Mereka pun turun, Ady mengambil Ara dari gendongan Alea karema takut istrinya akan lelah menggendong putrinya.


Alea menggandeng lengan Ady, sedangkan Razka dan Edgar mengikuti Ady dan juga Alea.


"Sangat meriah," ujar Edgar.


"Benar," ujar Razka.


"Kenapa abang gak buat resepsi aja yah?" Gumam Edgar.


"Buat resepsinya udah telat kali Ed." Sahut Razka.


Edgar mengangguk membenarkan, mereka pun menyudahi percakapan mereka karena melihat Robert dan Naura menyambut mereka.


"Aduh, cucu eyang." Seru Naura.


"Pada tidur Dy?" Tanya Robert.


"Iya kek, biasa rewel kalau perjalanan jauh. Di bangunin apa lagi, bisa jadi pusat perhatian kita." Canda Ady.


"Yasudah, acara bentar lagi mulai. Tinggal tunggu mempelai datang, kamu ajak istri sama adikmu duduk di sana. Keluarga semua udah kumpul disana." Tunjuk Robert.


Ady mengangguk, dia membawa keluarganya untuk duduk bersama keluarga besar Dominic. Alea sudah panas dingin, apalagi melihat betapa cantik dan anggunnya mereka membuat Alea renda diri.


"Gak usah gugup yang," ujar Ady menyadari raut wajah sang istri yang berubah.


Razka mengajak Edgar duduk, kini keduanya duduk di hadapan remaja laki-laki lainnya. Edgar memposisikan SHaka di pangkuannya, beruntung tak ada musik yang mengganggu tidur keponakannya itu.


"Wah, Ady sudah lama tidak bertemu kamu. Tante jadi pangling, tambang tampan yah." Seru sepupu dari Ethan.


"Terima kasih tan," ujar Ady dengan singkat.


"Udah lama gak ketemu, eh sekalinya ketemu bawa bini ama anak. Hebat juga kamu," ujar seorang pria yang merupakan suami dari wanita tadi.


Ady hanya menanggapi dengan senyum tipis, hingga dia merasakan pergerakan kecil dari putrinya itu.


"Hum ... ini dimana? kok lame hiks ... ayah," ujar Ara yang panik ketika membuka mata dan mendapati banyak orang.


"Hus ... ini ayah sayang, ini ayah nih." Ujar Ady dan membalikkan posisi sang anak jadi menghadap nya.


Ara langsung merangkul leher Ady dengan erat, dia tak terbiasa dengan suasana yang ramai. Apalagi dengan orang yang tak dia kenal.


"APa dia istrimu?" Unjuk wanita itu pada Alea.


"Iya, sayang ini sepupu mamah. Kenalkan dirimu," ujar Ady.


Alea tersenyum, dia memperkenalkan dirinya dan di balas ramah oleh wanita itu.


"Wah Ady, tante tidak menyangka. Selain punya istri cantik, kau juga punya putri yang sangat cantik." Seru wanita itu.


Wanita itu tersenyum pada Alea, hingga tatapannya mengarah pada sosok di belakang Alea.


"Oh Tiara, kau sudah datang?"


Jantung Ady berdegup kencang, dia langsung menolehkan kepalanya dan betapa terkejutnya melihat Arga dan juga tiara berdiri di belakang nya.


"Kenapa mereka bisa ada disini?" Gumam Ady.