Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
Episode 35: aku pastikan kamu mendapat balasan



Alea tengah mencuci wajahnya, matanya terasa sakit mungkin akibat menangis. Alea memandang pantulan dirinya di cermin, tangannya menggenggam erat tepi westafel.


"Keyla ... dia yang selalu memprovokasiku agar membenci suamiku sendiri, dia yang selalu memanas-manasiku karena dia iri denganku. Kenapa aku begitu bodoh!!!" geram Alea.


Alea memejamkan matanya, dia menahan amarah sekaligus rasa sakit hatinya. Jika saja putrinya tak selamat, dia akan menjadi ibu yang gagal. Jika saja putrinya tidak selamat, hidupnya tidak akan berwarna seperti ini.


"Dimana Alea yang duku? seorang keras kepala dan tak di anggap lemah? kemana Alea yang kuat? kenapa kau menjadi seperti ini Alea?"


Seperti sebuah bisikan, Alea pun membuka matanya. Dia menyunggingkan senyumnya dan menyeringai.


"Jika dulu aku bisa melawannya tanpa marga Dominic, bagaimana jika sekarang? marga Dominic telah melekat di namaku, aku bisa melawannya dengan marga itu bukan?" ujar Alea pada dirinya sendiri dengan nada lirih.


Alea menguncir rambut panjangnya, dia menatap dirinya di pantulan cermin. Netranya menajam, tangannya terkepal kuat.


"Aku pastikan kamu mendapat balasan dari perbuatanmu ini Keyla," geram Alea.


Alea pun keluar dari kamar mandi, dia melihat Ady yang hampir siap dengan seragam kantornya. Alea pun mendekati suaminya, dia mengambil alih mengancingkan kemeja Ady sehingga pria itu hanya menatap wajah istrinya.


"Matamu bengkak," ujar Ady dan mengangkat tangannya untuk mengelus mata Alea.


"Mungkin aku salah makan kemarin, oh ya ... dimana dasi mas?" tanya Alea mengubah topik.


Ady menunjuk ke arah nakas, dia akan mengambil dasi milik Ady. Namun, netranya tak sengaja melihat ponsel Ady yang terdapat notifikasi pesan.


"Wah, masih gatal rupanya," gumam Alea.


Alea pun mengambil dasi milik Ady, dia mendekati Ady dan melingkarkan dasi itu ke leher Ady.


"Kenapa wajahmu terlihat lelah?" tanya Ady ketika Alea memasangkan dasinya.


"Mungkin karena Ara selalu terbangun dan menangis karena haus, belakangan ini dia sangat kuat menyusu," ujar Alea yang tengah fokus merangkai dasi Ady.


Ady masih curiga, sebab lelah Alea bukan seperti lelah jarang tidur. Akan tetapi lelah banyak fikiran.


"Sudah, mas pake sendiri yah rompinya. AKu mau keluar sebentar untuk ambil Ara, sudah cukup waktu dia berjemur," ujar Alea.


Ady pun hanya mengangguk, Alea keluar dalam kamarnya. Sementara Ady berjalan mendekati nakas dan mengambil ponselnya.


"Angel?" gumam Ady.


Ady membuka isi pesan itu, tampak Angel memberi pesan dirinya.


"Ady, bisakah kau mengantarku ke rumah sakit? oma sedang tidak ada di rumah,"


Ady mengerutkan keningnya, biasanya jika Angel sakit keluarganya akan membawa dokter ke rumah.


Ady pun memutuskan untuk tidak membalasnya, dia segera memakai rompinya dan mengambil jasnya keluar dari kamar.


Sedangkan Alea, dia tampak gemas dengan kedua bayi yang tengah berjemur dengan asiknya di temani oleh kedua baby sitter.


Ady memutuskan untuk memakai baby sitter kala istrinya sedang sibuk, begitu pula dengan Nando. Terlebih anak mereka sangat aktif, dan tidak betah hanya tidur di kasur. Tidak mungkin Alea dan siska selalu menggendong mereka, keduanya pasti lelah.


"Ara, lagi berjemur yah sayang hm?" tanya Alea pada anaknya yang sedang tengkurap.


Ara hanya menatap polos ke arah sang bunda, Alea pun mengalihkan pandangannya pada Shaka yang sedari tadi terdiam dengan kaca mata hitam bayi miliknya.


"Kenapa dengan Shaka?" tanya Alea pada kedua baby sitter itu.


"Den Shaka tidur non," ujar salah satunya.


Alea terkekeh, Shaka memang bayi yang gampang tertidur dan tak rewel seperti Ara. Shaka pun jarang menangis, berbeda dengan Ara yang sangatlah rewel.


"Alea,"


Alea menolehkan kepalanya, dia melihat Nando yang datang menghampirinya dengan setelan jas kantor miliknya.


"Kenapa bang?" tanya Alea.


"Bisakah aku titip Shaka malam nanti?" tanya Nando.


Alea menaikkan satu alisnya, Nando yang di tatap seperti itu pun akhirnya menjelaskan.


"Oo gitu, gak papa bang. Lagian nanti juga mas putra pulang cepat, jadinya ada yang temenin Alea jaga Ara dan Shaka,"


Nando mengerutkan keningnya, kenapa Alea memanggil Ady dengan sebutan putra? dia baru mendengar Alea memanggil suaminya dengan akhiran nama karena biasanya hanya mas saja.


"Kenapa kau memanggil Ady dengan sebutan putra?" heran Nando.


"Itu karena pertemuan kami mas putra bilang namanya Putra, aku gak tahu kalau namanya Ady. Jadi kebiasaan deh, tapi kadang Al panggil mas Ady kok," sahut Alea.


Nando tak mengambil pusing, dia mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Setelahnya Nando mendekati Shaka dan membawanya ke gendongannya.


"Aku akan masuk terlebih dahulu," pamit Nando.


Alea mengangguk dan menatap Ara, dia mengangkat tubuh kecil putrinya dan menepuknya pelan.


"Kalian bisa istirahat dulu, sekitar jam sembilan aku akan menitipkan Ara kembali," titah Alea.


"Terima kasih non," ujar keduanya dengan sopan.


Alea mengangguk sembari tersenyum, dia membawa Ara masuk kembali ke dalam. Tujuannya kini ingin memandikan Ara, tapi sebelum itu dia harus memastikan Ady berangkat terlebih dahulu.


Cklek!


Alea membuka pintu kamar, dia melihat Ady yang sedang memakai jam tangan mahal milik pria itu.


"Sudah mau berangkat?" tanya Alea dan berjalan mendekati Ady.


Ady mengangguk, dia melihat putrinya dan menciumi pipi putrinya dengan menekannya keras.


"Ekheee ekheee,"


"MAS!" tegur Alea.


Ady hanya tertawa tanpa salah, dia terkekeh melihat Ara yang sepertinya menatap dirinya kesal karena pipi bayi itu memerah.


"Kamu tuh sukanya gangguin Ara, kalau yang lain gangguin anak kamu ... kamunya marah," kesal Alea.


"Abisnya gemes, pipinya tambah melar yah nak," ujar Ady.


Alea menggelengkan kepalanya, dia memakaikan Ara bathrobe bayi dan memakaikannya karena sedari tadi Ara hanya memakai popok tanpa baju.


"Ayo aku antar ke depan," titah Alea.


"Ehm sebentar," ujar Ady.


Alea mengerutkan keningnya ketika Ady malah mengeluarkan dompetnya, pria itu menyerahkan kartu ATM dan memberikannya pada Alea.


"Untuk apa? kamu kan udah ngasih aku, uang nya pun masih ada," heran Alea.


"Ini buat keperluan kamu, beli baju dan lain sebagainya. Masa iya istri seorang Adyatma gak di kasih ATM, malu aku," ujar Ady.


Alea tertawa, dia pun mengambilnya sambil mengucapkan terima kasih. Setelahnya Ady berjalan menuju lemari dan membuka lemari itu, dia mengambil kotak merah dan membawanya pada Alea.


Ady membuka kotak itu, Alea pun melihat dengan jelas apa yang ada di dalam kotak tersebut.


"Cincin? untuk apa kamu kasih aku cincin?" bingung Alea.


Ady tak menjawab, dia mengambil satu tangan Alea sedangkan yang lain menahan tubuh Ara. Ady mengambil cincin dan memasukkannya di jari manis Alea.


"Aku gak pernah liat lagi cincin pernikahan kita dulu," ujar Ady.


Alea sontak saja membulatkan matanya, dia merasa bersalah dan hampir melupakan cincin itu.


"Maaf mas, aku menjualnya," cicit Alea.


"Aku tahu, kau pasti menjual itu untuk menyambung hidup. Tidak masalah, itu hanya sekedar cincin," ujar Ady.


Alea tersenyum bahagia, dia memeluk suaminya begitu pula dengan Ady yang membalas pelukan Alea.