Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
Episode 103: Kekhawatiran Ady



Ady mengangkat tangannya, dia meraih gagang pintu dan mencoba membukanya. Panik, jelas saja. Ara tak pernah mengunci kamar dan tak tau bagaimana membuka kunci.


"Ini udah lama?" Tanya Ady.


Shaka mengangguk dan menceritakan jika tadi Ara masih menjawab dan kini tidak ada suara.


Ady menuju lemari di sebelah pintu kamar Ara, dia mencari kunci dan setelah menemukannya Ady langsung membuka pintu itu.


"Kuncinya masih gantung!" Decak Ady.


Ady berusaha mendobrak pintu itu sambil memanggil putrinya, kelakuan Ady membuat Razka dan Edgar yang tadinya sedang di kamar kini keluar juga.


"Kenapa sih bang?" Tanya Razka.


"Kalian bantu abang dobrak, Ara kunciin diri di kamar dan gak ada suaranya," ujar Ady dengan panik.


"Tidur kali bang," ujar Edgar.


"Gak bang, tadi aku udah intip. Di kasur gak ada Ara," ujar Rangga.


Mereka bertiga pun mencoba mendobrak pintu, dan akhirnya pintu itu terbuka.


BRAK!


Ady berlari masuk, dia mencari putrinya. Alea yang baru tiba langsung ikut masuk, dia tak melihat adanya Ara di dalam kamar.


"Ara kemana mas?" Panik Alea.


"Coba di kolong ada gak?" Tanya Ady.


Rangga berjalan menuju pintu kamar mandi yang setengah tertutup, dengan perlahan dia membuka lebar pintu itu.


"ASTAGA! ARAAA!!"


Mereka semua langsung mendekati Rangga, betapa terkejutnya mereka melihat Ara yang sudah terlentang dengan mata terpejam.


Ady mendekati putrinya, jantungnya serasa berhenti berdetak ketika melihat wajah pucat sang putri.


"Ara sayang ... nak bangun ... hei,"


Ady terus menepuk pipi Ara, dia juga memeriksa denyut nadi Ara.


Denyut nadi Ara tak dia temukan membuat Ady kalang kabur, dia menempelkan telinganya di dada sang putri.


"Detak jantungnya lemah." Gumam Ady.


Ady segera membawa putrinya ke gendongannya, dia berlari keluar di ikuti oleh Alea yang sudah menangis karena melihat kondisi putrinya.


Ady memasuki mobil, dia menyuruh Alea untuk memangku Ara sementara dirinya menyetir.


Razka dan Edgar berniat untuk ikut, tetapi Ady melarang dan menyuruh mereka menjaga Shaka.


Terpaksa mereka menuruti keinginan Ady, Shaka pun hanya bisa menangis meraung memanggil sang bunda untuk ikut.


Ady melajukan mobilnya, wajahnya terlihat sangat panik.


"Mas buruan mas, tubuh Ara dingin banget hiks ...,"


Tak sadar Ady meneteskan air matanya, dia sungguh merasa bersalah sebab membentak sang putri hanya karena pekerjaannya.


Ady menambah laju mobilnya, dia bahkan menerobos lampu merah dan beruntung tak ada polisi yang berjaga.


Mereka pun sampai di rumah sakit, Ady segera turun dan membuka pintu penumpang. Dia mengambil Ara dari pangkuan istrinya dan membawanya masuk.


"TOLONG PUTRI SAYA! DOK! DOKTER!" Panik Ady.


"Maaf pak, dokter tengah sibuk karena korban kecelakaan beruntun. Harap bapak tenang dulu," ujar seorang suster yang mendekati mereka.


Ady tampak marah, dia menaruh putrinya di brankar yang berada di sudut ruangan dan menatap suster itu tajam.


"APA KAU TAK LIHAT BAGAIMANA PUTRIKU? TUBUHNYA MEMBIRU DAN DETAK JANTUNGNYA MELEMAH! PUTRIKU HAMPIR TIADA BODOH!"


"Pak harap tenang," ujar perawat laki-laki.


"TENANG? KALIAN GILA? PUTRIKU SEKARAT AKU TENANG?! CEPAT PANGGILKAN DOKTER, JIKA SAMPAI TERJADI SESUATU DENGAN PUTRIKU ... AKU AKAN MENUNTUT RUMAH SAKIT INI!"


Suster pun saling pandang dengan temannya, mereka sepertinya tak mengenal Ady.


"Ada apa ini?"


Ady mengarahkan atensinya pada seorang pria yang membelah kerumunan.


"Ady?"


Pria yang merupakan paman Ady itu seorang dokter senior di rumah sakit tersebut, dia langsung memerintahkan suster untuk membawa Ara ke ruang khusus karena ruang UGD yang telah penuh.


Ara langsung di tangani oleh paman Ady, sementara Ady menunggu dengan cemas sambil sesekali menyeka air matanya.


"Ini semua salah mas, ini semua salah mas." Gumam Ady.


Alea tetap diam, dia menangisi kondisi putrinya.


Tap! tap! tap!


"Ady, gimana keadaan Ara?"


Ady dan Alea menolehkan kepala mereka, mereka berdiri karena melihat Robert Ethan dan Manda menyusul mereka.


"Ara sedang di tangani," ujar Ady dengan lemas.


"Kamu tuh gimana sih Ady! kenapa Ara bisa jadi kayak gitu? kenapa dia bisa pingsan hah?!" Bentak Manda pada Ady.


"Tenang man," ujar Ethan menenangkan sang istri dengan mengusap bahunya.


Manda menghela nafasnya, dia menahan tangis karena cucu kesayangannya sedang tidak baik-baik saja.


"Gimana kejadiannya? kok bisa Ara di temukan tergeletak di kamar mandi?" Tanya Ethan dengan tenang.


Memang saat dirinya di beri tahu Razka, dia sungguh terkejut. Dia langsung mengajak Amanda beserta Robert yang memang mereka sedang mengadakan meeting.


"Maaf pah, ini semua salah Ady." Lirih Ady.


"Iya, emang salah kamu!" Sewot Amanda.


"Mah." Peringat Ethan, dirinya tahu saat ini pasti putranya tengah menyalahkan dirinya sendiri.


Ady semakin menundukkan kepalanya, dia sungguh menyesal karena membentak.putrinya seperti tadi.


"Bukan sepenuhnya salah mas Ady mah, ini juga salah Alea yang gak becus jaga Ara." Ujar Alea sambil menatap sang ibu mertua.


Cklek!


Paman Ady keluar dan membuka maskernya. Mereka.lamgsung berebut menanyakan kondisi Ara.


"Brian, gimana keadaan Ara?" Serobot Amanda.


"Tenanglah kak, sekarang Ara sidah sadar. Beruntung langsung cepat di tangani, benturan di kepala membuat jantungnya terkejut. Hampir saja dia mengalami henti jantung, dan apakah Ara bayi prematur?"


Ady sungguh lemas mendengar perkataan pamannya itu, jika saja Ara terlambat di selamatkan. Dia akan kehilangan putri semata wayangnya. Sampai-sampai, Alea dan Ady tak mampu menjawab pertanyaan pamannya itu.


"Iya, memangnya ada masalah?" Khawatir Robert.


"Tidak, setelah aku cek tubuhnya sehat. Tidak ada masalah, aku hanya menebak saja," ujar Brian.


"Oh syukurlah, boleh kami masuk?" Tanya Robert.


"Boleh, silahkan. Ara menangis karena merasakan sakit di kepalanya, kalian harus bisa menenangkannya kalau begitu aku permisi dulu," ujar Brian dan pamit pergi.


Alea dan Amanda langsung masuk diikuti oleh Ady dan juga Ethan. Sementara Robert menyusul mereka paling belakang.


Ara sedang menatap ke arah depan sambil menangis memegangi kepalanya yang sakit.


"Cakit tau nda! citu cuma bilangna tenang ya tantik tennag yah, nanti takitna ilang. TAU! tapi ini cekalang cakit palana dimana cih! celakang hiks bukan nanti!" Omel Ara pada seorang perawat yang tengah menangkan dirinya yang menangis.


"Iya dek, suster tau. Kalau makin nangis makin sakit loh," ujar sang suster.


"Dengelin celamah citu juga makin cakit huaaaa!!!"


Alea meminta suster itu keluar karena sudah ada yang menjaga putrinya, Alea langsung memeluk putrinya dengan pelan karena takut kepala sang putri terasa sakit.


"Sayang." Panggil Ady dengan lembut.


Ara menoleh, netranya membulat dan semakin erat memeluk sang bunda.


"Nda ayah hiks ... maapin Ala, Ala nda tahu keltasna puna ayah hiks ... maapin Ala." Histeris Ara.


Robert, Amanda beserta Ethan menatap Ady dengan pandangan menyelidik.


"Apa yang kau lakukan pada cicitku Ady?" Suara berat dan tegas itu mampu membuat Ady merasa takut.


"Maaf kek, Ara memainkan berkas kontrak kerjasama dengan perusahaan kusuma. Dan aku membentaknya," ujar Ady.


"APA?! Kau membentak cucuku hanya karena kertas itu? bodoh kamu Adyy!!" Geram Amanda dengan kesalahan putranya itu.