Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
Episode 95: Di rebut



Alea tengah menepuk punggung Shaka, tetapi sayangnya Shaka belum memejamkan matanya. Berbeda dengan Ara, anak itu sudah tidur sambil memeluk leher Ady yang tertidur di sebelahnya.


"Shaka kok belum tidur? udah malem sayang." Ujar Alea sambil mengusap lembut rambut lebat Shaka.


"Belun nantuk," ujar Shaka.


"Coba pejemin matanya, kalau Shaka melek terus gimana mau tidurnya?" Saran Alea.


Shaka menggeleng, seperti ada sesuatu yang anak itu pikirkan. Alea tak begitu paham, sebab Shaka anak yang pendiam mengenai perasaannya.


Sehabis makan malam tadi, Alea merasa canggung dengan kakak iparnya. Dia merasa tak enak, apalagi saat Shaka lebih dekat dengan dirinya di bandingkan ibu kandungnya.


"Apa Chaka akan kembali cama mamah?" Tanya Shaka di tengah keheningan.


"Hm." Sahut Alea sambil menatap Shaka.


"Apa bunda akan tinggal kan Chaka belcama mamah?" Tanya Shaka.


Alea tersenyum tipis, dia juga tengah bingung. Bagaimana jika Shaka kembali pada Siska, apakah dia rela? bolehkah Alea egois untuk Shaka?


"Bagaimana pun juga, Mamah Siska adalah ibu kandung Shaka. Shaka akan kembali tinggal bersamanya, bukankah Shaka rindu dengan mamah?" ujar Alea.


"Tapi ... Chaka nda mau, Chaka mau sama bunda. Chaka nda cuka tinggal cama mamah, Chaka mau cama bunda aja. Chaka mau celalu cama bunda," ujar Shaka dengan cepat.


"Iya, kalau nanti Shaka tinggal sama mamah ... Shaka kan juga bisa main ke bunda," ucap Alea.


Shaka mendudukkan dirinya, dia menggeleng keras dan siap menjatuhkan air matanya. Alea juga ikutan terduduk, dia panik melihat Shaka yang akan menangis.


"Nda! Chaka nda mau! Chaka mauna tinggal cama bunda! nda mau cama mamah hiks ... hiks ... bunda nda cayang Chaka lagi!" Isak Shaka.


"Bu-bukan begitu sayang, sini dengerin bunda." Panik Alea dan berusaha membujuk putranya itu.


"Nda! hiks ... bunda nda cayang Chaka hiks ...,"


Alea mengambil Shaka, walau ia sempat berontak Alea sekuat tenaga menahannya. Dia mendudukkan Shaka di pangkuannya, tangannya menepuk punggung sempit putranya itu.


"Shaka tahu? Shaka sama berharganya kayak Ara untuk bunda, Shaka anak bunda. Kesayangan bunda, masa iya bunda gak sayang Shaka. Apa pernah bunda pukul Shaka hm?" Bujuk Alea dengan suara lembut sambil mencium kepala Shaka.


"Nda pelnah." Jawabnya lirih.


"Bunda sayang sama Shaka, jangan bicara bunda tidak sayang Shaka. Bunda sedih dengarnya," ujar Alea.


Berharap nya Shaka berhenti menangis, malah menangis kencang. Bahkan Ady sampai terbangun akibat tangisan Shaka yang lumayan keras.


"Syuttt ... kok malah tambah nangis, cup ... cup ... cup,"


Alea berdiri dengan Shaka di gendongannya, dia mengayunkan Shaka agar sedikit meredakan tangisnya.


"Kenapa yang?" Tanya Ady dengan suara seraknya.


"Biasa mas, rewel. Udah kamu tidur lagi aja, maaf ke ganggu yah tidurnya?" Seru Alea.


"Bunda janan cedih hiks janan cedih hiks ... Maapin Chaka ... vely solly bunda hiks ...," ujar Shaka di sela tangisannya.


Alea menghela nafas pelan, salah jika dirinya berbicara seperti tadi. Shaka paling tak bisa mendengar dirinya sedih ataupun menangis.


"Enggak ... bunda gak sedih kalau Shaka bahagia, berhenti yah nangisnya. Nanti bunda jadi ikutan nangis," ujar Alea.


Hanya butuh lima detik, tangisan Shaka terhenti. Hanya tersisa sesenggukan. yang Alea dengar, dan hal itu membuat Alea menghela nafas lega.


Ady yang memang belum tidur pun terkekeh pelan, dia menyandarkan tubuhnya sambil melihat istri dan keponakannya.


"Gimana mau punya anak lagi, kalau mereka berdua masih harus dapat perhatian seutuhnya." Batin Ady.


Ady memang menginginkan anak kembali, tetapi mengingat usia Ara masih terlalu kecil membuatnya dan sang istri harus menunda hingga putri mereka sedikit besar.


Karena, jika mereka memiliki bayi pastilah kasih sayang akan terbagi. Ady tidak mau putrinya kekurangan kasih sayang, dari kecil saja Ara harus berbagi kasih sayang dengan Shaka. Apalagi jika memiliki adik, pastilah anak itu akan merasa tersingkirkan.


"Eh, kamu belum balik tidur mas?" Tanya Alea menyadari sang suami yang belum kembali tidur.


"Gimana aku bisa tidur, kalau belahan hati aku aja masih sibuk hm?" Sahut Ady dengan lembut.


Alea menggelengkan kepalanya, pernikahan mereka sudah berjalan 6 tahun tetapi gombalan Ady belum juga hilang.


"Shaka tidur?" Tanya Ady.


"Kayaknya sih udah, kamu geserin Ara gih mas," ujar Alea.


Ady sedikit menggeser putrinya agar Shaka bisa tertidur, setelah itu Alea merebahkan Shaka dengan perlahan.


"Mas, selimut kesayangan Shaka gak di bawa yah?" Tanya Alea.


"Mas lupa, gak papa deh. Anaknya gak nyariin juga," ujar Ady.


Kebiasaan aneh Shaka yaitu dia tidak tidur jika tak ada selimut kesayangan nya, selimut dari dirinya berumur 1 tahun yang kala itu Alea belikan.


Entah mengapa anak itu sangat menyukainya, padahal warnanya sudah luntur dan juga usang. Namun, Shaka tetap memakainya.


"Iya yah, tumben gak nyariin." Ujar Alea yang masih heran.


"Dari kemarin dia fokus sama ketidaksukaannya kembali kesini, makanya sampe lupa. Nanti, kalau keadaan sudah membaik dan dia sudah betah pasti ingat dengan selimutnya," ujar Ady.


"Terus gimana?"


"Ya gak gimana-gimana lah yang, udah ayo tidur aku ngantuk banget." Ajak Ady.


***


Pagi hari, mereka di kejutkan dengan kedatangan Robert dan juga Naura. Kebetulan mereka baru saja sarapan, dan kini mereka berkumpul di ruang keluarga.


"Gimana keadaan kamu Ady?" Tanya Robert dengan tatapannya datarnya ke arah Ady.


"Baik kek," ujar Ady seadanya.


Tatapan Robert mengarah pada Alea, dia mengamati Alea yang tengah berbicara pelan pada Ara dan tak melihat ke arahnya.


"Dan kamu Alea?"


Alea sontak saja kaget, dia menatap sekelilingnya yang ternyata juga melihat ke arahnya.


"Ehm kabar Alea baik kek," ujar Alea dengan gugup.


Alea masih merasa sungkan pada kakek serta eyang Ady itu, bukan karena takut di marahi hanya saja sikap cuek yang Robert layangkan untuknya membuat Alea sungkan.


"Bagus kalau begitu, oh yah ... Alea, eyang bawakan kamu tas. Ini tas keluaran terbaru loh, coba deh kamu lihat." Seru Naura sambil menyodorkan tas bermerk itu di hadapan Alea.


Alea pun memaksa senyumnya, dengan gerakan pelan dia mengambil tas tersebut. Bahkan tas tersebut masih terdaoat lebel harga, Alea pun mengintipnya sedikit.


"Waduh, nolnya banyak banget." Batin Alea. Mata Alea melotot ketika melihat harga yang tertera disana.


"Gimana Al? suka?" Tanya Naura.


"Su-suka eyang, terima kasih," ujar Alea.


"Sama-sama cantik," ujar Naura dengan ramah.


Amanda dan Siska ikut tersenyum, Naura juga membawakan Siska dan Amanda hadiah. Sedangkan Robert, sedari tadi tatapannya tak lepas dari Ara yang berada di pangkuan Ady dengan bibir mengerucut lucu.


"Ayah mah cuma nomongna doang! tadi katana mau ajak Ala kelual, tauna cuman halapan doang!" Oceh Ara.


"Ya kan ada eyang buyut sama kakek butut dateng, masa kita pergi," ujar Ady.


"Kalau ditu, tenapa kacih Ala halapan? huh, telyekan cekali pelacaanku!" Ketus Ara.


Ady menghela nafas berat, jika sudah di janjikan sesuatu pasti akan selalu di tagih oleh putrinya itu. Ara memang tidak bisa di berikan janji, karena pastinya dia akan terus menagihnya.


"Kenapa Dy? apa yang putrimu mau?" Tanya Robert yang sedari tadi diam.


"Eh, ini kek. Biasa, suka rewel," ujar Ady.


"Kok ayah pitna Ala? kan ayah yang buat ALa malah, tenapa malah ALa yang di calahin?" Tak terima Ara.


Robert mengangkat kedua sudut bibirnya, memang cucu perempuan nya ini bisa mengembalikan mood senangnya.


"Sini princess, kakek buyut mau ngomong," ujar Robert.


Ara menurut, dia berjalan ke arah Robert dengan lesu.


"Ara tai gak, kakek bawa hadiah loh buat Ara. Coba lihat nih." Unjuk Robert pada sebuah boneka panda yang sangat lucu.


Ara melihatnya, dia tersenyum lebar dan langsung mengambil boneka itu dari tangan Robert.


"WAHH MAKACIH KAKEK BUYUT!" Seru Ara.


"Sama-sama sayang," ujar Robert dan mencium pipi gembul Ara.


"Emang kakek buyut yang telbaik, nda kayak ayah. Kelja pagi pulang malem, tapi pelit. Duitna cuman di kasih mecin bang kamplet doang." Celoteh Ara.


Ady menjatuhkan rahangnya, tak di sangka apa yang putrinya itu ucapkan.


"Bang kamplet?" Heran Robert.


"Bang itu kaltu hitam punana ayah," ujar Ara.


Robert membulatkan mulutnya, kini dia mengerti apa yang di maksud cucunya itu.


"Kok Ala doang yang di kacih? abang Chaka mana?" Pinta Ara.


"Oh iya, kakek sampe lupa. Mana abang Shaka?" ujar Robert hampir melupakan Shaka.


Ady menatap sekitar, dia ikut mencari Shaka.


"Ehm, sepertinya Shaka di taman belakang kek. Biar Ady susul," ujar Ady dan akan berdiri.


"Sebentar, apa dia marah karena kembali kesini?" Tanya Robert.


Ady mengangguk pelan, dia bisa melihat Robert yang menghela nafas berat. Netra Robert mengarah pada Ara yang duduk di karpet dengan memainkan bonekanya, cucu perempuan nya itu tampak anteng dengan mainan barunya.


"Bukan marah, dia hanya belum siap. Hanya saja, aku merasa sudah lama jauh dari keluarga. Capek juga tinggal di negara tetangga," ujar Ady.


"Apa kamu juga sudah siap dengan kenyataan yang nantinya Alea ketahui?" Tanya Robert dengan suara pelan agar Alea tak mendengar percakapan mereka.


Jantung Ady berdegup kencang, dia hampir melupakan masalah istrinya. BAgaimana jika nantinya keluarga Arga mengetahui kepulangannya?


"Ady juga gak bisa balik ke sana lagi Kek, keluarga Dominic akan mengadakan kumpulan besar-besaran. Kalau Ady balik lagi ke liar negri, belum tentu Shaka mau di ajak balik tanpa paksaan," ujar Ady.


Robert dan Ady kembali berbincang, hingga pekikan Ara membuat mereka mengalihkan pandangannya pada anak itu.


"TENAPA AMBIL BONEKA ALAAA!!!"


Ady sudah berdiri, dia bukan takut putri terluka. Melainkan dia takut Ara yang melukai lawannya itum.


"BELLA JUGA MAU!" Seru Bella.


"Tapi itu bonekana Ala!" Ketus Ara.


Bella membawa boneka Ara pergi, Ara akan mengejarnya tetapi Ady langsung membawa tubuh mungilnya kedalam gendongannya.


"LEPAC AYAH! BONEKANA ALA! BONEKAAA ALAAA!!! LEPACIN!!" Histeris Ara.


"Syuttt, tenang okay. Sabar, sabar, sabar," ujar Ady menenangkan putrinya.


Ara berusaha mengatur nafasnya yang memburu, dia masih melototkan matanya ke arah kepergian Bella.


Ara mengusap dadanya, dia menarik nafas dan mengeluarkan. Itu yang Ady ajarkan ketika Ara kesal ataupun marah.


"Cabal ... cabal ... cabal, olang cabal jodohna lancal," ujar Ara.


Ady mendudukkan dirinya dengan Ara di pangkuannya, dia mengambil minum yang ada di meja dan memberikannya kepada putrinya.


"Hah ... legana," ujar Ara setelah menghabiskan satu gelas air.


"Sudah? tenang?" Ujar Ady.


Ara mengangguk pelan, sedangkan Siska sudah menyusul putrinya yang membawa boneka Ara.


"HIKS ... HUAAAA BONEKANA BELLA!!!"


Ara terkejut, begitu juga dengan yang lain. Mereka ikut menemui asal suara itu, dan ternyata berada di halaman belakang.


Mereka melihat Siska yang tengah menatap tajam Shaka, dan Bella yang menangis sambil menatap boneka yang terambang di kolam ikan Ethan.


"Kenapa kamu menjatuhkan boneka adikmu hah?!" Bentak Siska.


Shaka tak menjawab, Alea langsung berjalan mendekati Shaka yang hanya menatap Siska datar.


"Shaka sayang, benar Shaka yang jatuhkan bonekanya?" Tanya Alea memastikan.


"Iya." Jujur Shaka.


Siska akan menarik tangan Shaka, tetapi Alea lebih dulu menghalangi nya. DIa menatap Siska dengan sorot mata yang lumayan tajam.


"Kita cari tahu dulu kenapa dia berlaku seperti itu, baru kakak bisa memberinya nasehat. Bukan seperti ini," ujar Alea.


"Lihat Alea, putraku tinggal bersamamu malah menjadi nakal! lebih baik dia tinggal bersamaku dan jadi anak penurut!" Sentak Siska.


"Dia bukan nakal kak!" Bentak Alea.


Ady menurunkan Ara yang sedari tadi meminta turun, dia mengamati apa yang putrinya itu lakukan.


"Ini bukan calahna abang ante! tapi calahna bocah dendeng itu! makan tuh kalma!" Ketus Ara sambil menyorot tajam ke arah Bella.