Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
S2: Jemput Shaka mas!



Sesampainya di pekarangan rumah Nando, mobil Nando terhenti. Nando keluar bersama Bella di gendongannya, sedangkan Shaka dan Ara keluar mandiri.


"Manja banget." Cibir Ara pada Bella.


"Ara, gak boleh gitu," ucap Shaka.


Ara mengerucutkan bibirnya sebal, mereka pun mengikuti langkah Nando yang sudah berjalan lebih dulu.


Langkah mereka terhenti sesaat di depan pintu, menunggu pintu itu terbuka. Tak lama, pintu itu terbuka dan tampaklah Siska yang sedang tersenyum lebar.


"Eh mas, sudah pulang," ujar Siska.


"Iya, oh ya Shaka Ara ... ayo masuk," ujar Nando dan menoleh pada mereka.


Shaka dan Ara mendekat, Ara menyapa Siska tapi tidak dengan Shaka.


"Shaka gak peluk mamah nak?" Tanya Siska dengan wajah memelas.


SHaka hanya melirik sekilas dan memandang ke arah lain, dia terlalu kaku untuk berada di sisi kedua orang tua kandungnya.


"Mas,"


"Udah, mungkin Shaka capek. Udah yuk masuk," ujar Nando.


Nando merangkul istrinya untuk masuk, sementara Shaka dan Ara masih berada di depan pintu.


"Chaka, pulang yuk!" Rengek Ara sambil memperhatikan sekitarnya.


"Kita udah sampai sini Ara, pulang mau naik apa?" ujar Shaka.


"Ala bica telpon Kak langga, kita nginep di lumah na aja," ujar Ara.


Shaka menatap kesal ke arah Ara, dia juga ingin pulang dan tak ingin disini. Hanya saja saat ini keadaan memaksa mereka untuk tetap disini sampai besok Ady menjemput mereka.


"Ara, Shaka! ayo masuk, kenapa malah diam disana?!" Seru Nando.


Ara menyenggol tangan Shaka dengan kesal, sementara SHaka hanya bisa bersabar dengan kelakuan adiknya itu.


Nando mengajak SHaka dan Ara makan siang, mereka sudah sama-sama duduk di meja makan dengan berbagai hidangan yang lezat.


"Ini piringnya Ara, dan ini piringnya Shaka. Mamah sudah kasih nasinya, kalian tinggal ambil lauknya aja yah," ujar Siska sambil memberikan mereka masing-masing piring.


"Mamah? mamah capa ... humppp!!"


Shaka begitu gemas dengan Ara yang sering ceplas-ceplos, sehingga ia membekap mulut Ara agar tak mengacaukan acara makan siang.


"Apa cih Chakaa!! huh, teltekan pelacaan Ala tau!" Gemas Ara seketika Shaka menarik tangannya dari mulut Ara.


Siska dan Nando hanya saling pandang, laku keduanya kembali pada kegiatan masing-masing.


Shaka melihat menu makanan, sesaat netranya tertuju pada ayam semur. Begitu lezat ketika di pandang membuat perut Shaka lapar.


Shaka mengambilnya, dia mengambil paha ayam dan menaruhnya di piring. Sesaat, dia menoleh pada Ara. Bocah cerewet itu sedang mengamati satu persatu hidangan.


"Ara mau makan apa? Shaka makan semur ayam, Ara mau apa?" Tanya Shaka.


"Ala telol aja," ujar Ara dan mengambil telur dadar.


Sebenarnya ada daging dan makanan yang lain, tapi entah mengapa Ara sangat tak berselera.


Ara sudah menyendokkan nasinya, dia makan dengan nikmat. Begitu pula dengan Shaka, dia baru akan memakan ayamnya. Namun, suara Siska membuatnya mengurungkan niatnya.


"Tadi aku masak paha ayam tapi kok gak ada? aku masak cuman satu, khusus buat Bella,"


Seketika nafsu makan Shaka hilang begitu saja, dia menatap ayam di piringnya. Tak berani menatap Siska yang sedang mengaduk wadah semur mencari paha ayam.


"Chaka kok nda makan?" Tanya Ara yang mana membuat atensi Siska dan Nando mengarah padanya.


"Loh itu kan ayam ...,"


"Siska!" Peringat Nando agar Siska tak menyinggung Shaka.


Siska terdiam, dia menutup mulutnya yang hampir saja melukai Shaka.


"Bella makam udang dulu yah, mamah tadi buat udah tepung. Enak loh," ujar Siska.


"Gak mau! tadi pagi kan Bella bilang cama mama mau ayam paha semur, tapi mamah nda buat!" Tolak Bella.


"Bukan gak buat sayang, tapi bang Shaka yang makan. Udah, Bella ngalah dulu sama abang yah, besok mamah masakin lagi," ujar Siska.


Bella menggeleng pertanda tak mau, biasanya kemauannya sellau Siska dan Nando turuti. Tapi kali ini, Siska tak menurutinya dan membuat Bella hampir menangis.


"Nih buat Bella aja, Shaka gak lapar." Ujar Shaka sambil memberikan piringnya di depan Bella.


Kreett!!!


Shaka turun dari kursinya, dia berjalan keluar rumah. Nando menjadi khawatir, dia akan menghampiri Shaka.


"Janan uncle, bial Ala aja." Pinta Ara.


"Iya, tolong bujuk Shaka ya Ara," ujar Nando.


Ara mengangguk, dia pun turun dari kursinya dan menyusul Shaka. Ara paham dengan sifat Shaka, ketika abangnya itu kecewa dia akan memilih pergi.


"Chaka!"


Shaka yang tengah duduk di anak tangga teras pun menoleh, dia menatap Ara dengan kening mengerut.


"Kenapa Ara disini? balik sana, makanannya pasti belum habis kan," ujar Shaka.


Ara tak menjawab, dia duduk di sebelah Shaka dan menatap wajah Shaka yang terlihat sedih.


"Shaka pengen ayam yah?" Tanya Ara.


Shaka menggeleng. "Bukan, Shaka gak lapar. Shaka ngantuk," ujar Shaka.


"Bohong yah, kalau bunda yang masak pasti lebih dali catu kalna takut ada yang cuka juga. Mungkin aja onty lupa macukin yang catuna lagi," ujar Ada mencoba menghibur Shaka.


Shaka sedikit tersenyum, dia jadi merindukan bundanya itu. Bagaimana tangan hangat bundanya memeluknya, dan menjaganya. Shaka merindukan itu.


Karena lelah, Ara pun menyerah. Dia memeriksa kantong roknya dan mendapatkan satu bungkus coklat.


"Nih makan, nanti pelut Chaka cakit lagi kalau telat makan. Cabal yah, nanti Ala culuh ayah bawa makan untuk Chaka." Ujar Ara sambil memberikan coklat miliknya pada SHaka.


"Shaka gak lapar Ara," ujar Shaka.


"Iya nda lapal, tapi Ala lapal. Kalau chaka nda makan, Ala juga nda makan," ujar Ara.


Shaka pun terdiam, dia tak boleh egois. Akhirnya, Shaka menurunkan egonya.


"Yaudah, ayo kembali. Kita makan," ujar Shaka.


***


"Mas, Shaka sama Ara udah makan belum yah?" Tanya Alea yang kini sedang menyusui Sky.


"Kamu tuh yang ... yang, Shaka aku titipin ke bang Nando. Dia mapan, pasti makan tidak susah," ujar Ady.


Alea setuju akan hal itu, tapi entah mengapa hatinya merasa tak tenang menitipkan kedua anaknya pada kakak iparnya.


"Mas ambil mereka aja gih, aku khawatir," ujar Alea.


Ady menghela nafasnya, pekerjaannya saja masih banyak dan Alea menuntutnya untuk mengambil kedua anaknya itu.


"Kita tunggu sampai malam, kalau enggak ada telpon berarti mereka aman-aman aja," ujar Ady.


Alea kesal, dia kembali fokus pada Sky. Keadaan putra bungsunya itu berangsur membaik. Dokter mengatakan jika Sky terkena gejala tipes, hanya gejala sehingga Alea bisa sedikit tenang.


Alea mengambil ponselnya, dia mencoba menghubungi seseorang.


"Iya, halo Al,"


"Bang, tolong jemput Ara sama Shaka yah bang di rumah Nando. Ajak mereka ke rumah abang, besok aku datang jemput mereka,"


Ady mendongak kan kepalanya, dia menatap tajam Alea yang menghubungi Arga tanpa persetujuannya.


"Iya bang, makasih yah." Ujar Alea dan menutup telponnya.


"Kamu ngapain telpon abang kamu hah? kita titipin Shaka sama orang tua kandungnya!" Sentak Ady sambil beranjak dari duduknya dan menatap tajam Alea.


Alea tak menjawab, dia hanya menepuk-nepuk punggung putranya yang kini sudah terlelap.


"ALEAA!"


"Hiks ... HUAAA!"


Sky terkejut mendengar bentakan Ady, dia kembali menangis keras. Alea menatap tajam Ady, tangannya sibuk menenangkan putranya.


"Kamu mau tahu apa alasannya mas? sekarang kamu ke rumah kak Siska dan lihat bagaimana ekspresi Shaka ketika kamu menjemputnya."


________


Ada yang masih ingat nama adik rangga? komen yah, aku lupa soalnya🄲