Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
Episode 67:



"Mas, sudah cepat. Kasihan Edgar sudah menunggu di depan!" Seru Alea.


Pasalnya, Ady sekarang tengah bergelanyut manja di pelukan sang istri. Bahkan Alea harus ekstra sabar saat memakaikan Ady jas dan dasi pria itu.


"Mas!" Peringat Alea.


Dengan berat hati Ady melepas pelukannya, dia juga mengerucutkan bibirnya. Alea yang melihat itu bukannya gemas malah meringis pelan.


"Bibir kamu jontor mas?" Tanya Alea.


Mendengar hal itu Ady mendelik, dia bersedekap dada dan menghembuskan nafasnya.


"Kamu gak cocok buat muji orang Al," ujar Ady.


Alea hanya cuek sambil mengambil tas Ady yang berada di kasur, ia segera keluar dari kamar meninggalkan Ady yang terbengong.


"Di tinggal?" ujarnya dengan miris.


Sementara Alea, wanita itu memberikan tas Ady pada asistennya siapa lagi kalau bukan Aciel.


"Nanti kalau bosmu itu memarahimu katakan padanya jika aku tak suka orang yang selalu marah. Perkiraanku jika di kantor nanti pasti keadaan berbeda dari biasanya," ujar Alea setelah memberikan tas tersebut.


"Oh, baik nyonya bos. Saya akan ingat pesan anda." ujar Aciel sambil memberi hormat.


"Bagus!" Puas Alea.


Tak lama Ady pun datang sambil menggendong Ara, seperti rutinitas biasanya bahwa ia akan menggendong putrinya dulu sebelum berangkat ke kantor.


"Sini sayang sama bunda." Ajak Alea sambil mengulurkan tangannya berniat mengambil Ara.


Ara hanya melihat tangan sang bunda tanpa menyambutnya seperti biasa, dan hal itu membuat Alea terheran.


Dengan inisiatif Alea menyempilkan tangannya di bawah lengan putrinya, tetapi bayi kecil itu malah melengos sambil memeluk leher sang ayah.


"Ara, kenapa seperti itu?" ujar Alea dengan heran.


Aciel mendekat dan berkata, "Nyonya bos, pasti tuan bos sudah menghasut nona kecil. Lihatlah tatapan anak itu seakan sama seperti tuan bos," ujar Aciel.


Alea menatap mata Ady, selanjutnya menatap putrinya yang ternyata juga tengah menatapnya. Dia bersedekap dada sambil merubah ekspresi wajahnya menjadi cuek.


"Oohh gitu yah sekarang cara mainnya, Ara gak mau sama bunda? oke, sebulan Ara gak minum susu mau?" Seru Alea sambil menatap putrinya.


Sepertinya bayi itu mengerti kata susu, dia segera merentangkan tangannya pada sang bunda. Bukannya di sambut malahan Alea memundurkan tubuhnya.


Melihat hal itu Ara mencebikkan bibirnya, dia melengkungkan bibirnya ke bawah dan matanya menjadi menyipit.


"EKHEE ... EKHEE ... EKHEEE,"


Benar dugaan mereka, Ara akan menangis setelah bibirnya melengkung sekaligus matanya menyipit.


"Tanggung jawab kamu! Karena hasutan kamu putri saya jadi menangis begini!" Seru Ady sambil menatap tajam ke arah Aciel yang meringis.


"Ya kan salah tuan sendiri, saya mah cuman bantu nyonya bos," ujar Aciel membela diri.


Alea melihat putrinya yang masih menangis, sepertinya ia salah jika mengancam putrinya seperti itu.


"Udah sini sama bunda, cup ... sayangnya bunda." ujar Alea sambil mengambil Ara dari gendongan Ady.


Sementara Edgar, remaja itu tengah menonton drama sambil memakan permen karet. Dia sudah terbiasa dengan asupan drama yang keluarga kakaknya itu buat.


"Hais ... Drama di pagi hari,"


****


Seperti biasa Ady memasuki ruang kantornya, ia membuka jasnya dan menyampirkannya di kursi. Setelahnya ia duduk dan mulai membuka laptopnya.


Baru saja Ady mengetik sesuatu, sudah ada yang mengetuk ruang kerjanya. Ia berdecak kesal karena pekerjaannya harus tertunda dan hal itu membuat kepulangannya terlambat.


Tok! Tok! Tok!


"Ck, MASUK!" Seru Ady.


Cklek!


Terlihat Angel masuk dengan wajah tersenyum, berbeda dengan Ady yang menatap datar. Dia sudah tau apa maksud Angel menemuinya, sungguh ia kesal dengan sepupunya itu.


"Sudah tahu kenapa kau masih kesini!" Ketus Ady dengan mata yang menatap layar laptop.


Angel menaruh paper bag dan duduk di hadapan meja kerja Ady.


"Karena itu aku membawakan kamu cemilan, kau terlihat sangat kurus. Pasti istrimu tak merawatmu dengan baik," ujar Angel dengan nada yang dibuat semelas mungkin.


Ady tak menanggapi ucapan Angel, ia hanya menganggap jika itu hanyalah angin lalu. Angel pun membukakan paper bag yang ia bawa, dia mengeluarkan isinya yang ternyata adalah kotak makan yang berisikan sandwich.


"Aku membawakan kamu cemilan, cepat makanlah," ujar Angel.


"Aku sibuk!" Cetus Ady.


"Oh gitu yah, biar aku suapkan dan kau fokus bekerja." ujar Angel sambil tersenyum sumringah dan mengangkat kotak bekal itu sambil bangkit dari duduknya.


Ady yang terlalu fokus pada laptopnya hingga tak sadar jika Angel telah berdiri di sebelahnya sambil memegang kotak makan. Bahkan Angel menyodorkan sandwich itu tepat di hadapan Ady.


Merasa terkejut Ady pun menjauhkan wajahnya dan menatap Angel dengan tajam.


"Sudah ku bilang bukan jika aku sibuk? Kenapa kau terus menggangguku?!" Sentak Ady.


"Kan tadi aku udah bilang kalau mau nyuapin kamu, kenapa kamu marah? Aku kan niat mau bantu kamu, karena istri kamu gak rawat kamu dengan baik," ujar Angel dengan wajah senyum lembutnya.


Ady memejamkan matanya sejenak, sungguh kepalanya benar-benar ingin pecah rasanya. Di keluarganya sedang ada masalah, dan kini Angel malah membuat masalah baru.


"Aku dengar dia keguguran, dia saja gak becus mengurus calon anaknya apalagi suaminya. Ck, dia tak pandai menjadi istri. Oma sudah mengajarkanku menjadi istri yang terbaik, sehingga ...,"


BRAK!


Ady menggebrak meja dengan sangat kencang, dia bahkan tak menatap Angel. Netranya terpejam dan urat di tangannya sangat terlihat.


"BISAKAH KAU TAK MENAMBAH BEBANKU?" Teriak Ady dengan kencang dan itu membuat Angel sangat takut.


CKLEK!


"BERANI SEKALI KAU MEMBENTAK CUCUKU!"


Ady membuka matanya, dia memutar bola matanya malas ketika mengetahui siapa yang berteriak tadi.


Dia adalah Fara Hermawan, seorang wanita tua yang ternyata adalah oma dari Angel. Wanita itu selalu memanjakan Angel di karenakan Angel adalah cucu tunggalnya.


"Oma, Ady banyak pikiran dan Angel selalu mengganggu Ady," ujar Ady dengan pasrah.


Fara berjalan masuk dengan tongkat sebagai penyanggah tubuhnya, berhubung umurnya yang sudah tua dan kakinya sering sakit sehingga Fara harus memakai tongkat.


"Itulah istrimu tak melakukan tugasnya dengan baik, coba sedari awal kau menikah dengan cucuku. Pasti kehidupanmu bahagia dan tentram," ujar Fara dengan wajah ketusnya.


Ady hanya mampu terdiam, dia sudah tahu jika Fara akan berbicara seperti itu. Sebab, sebelum ia kabur dari rumah Fara memintanya untuk menikahi Angel. Hanya saja Ady tak mau, mencintai seorang wanita dan itu bukan Angel.


"Aku hanya menganggapnya sebagai adik, sudahlah ... itu sudah sangat lama dan bahkan aku sudah memiliki seorang putri," ujar Ady.


"Tapi Ady, aku mencintaimu dan kau tahu itu!" Sentak Angel yang sepertinya mulai berani karena ada Fara disampingnya.


Ady memejamkan matanya sejenak dan kembali membuka matanya.


"Pertama, aku menikahi wanita yang tepat. Seorang istri yang pandai menjaga suasana hatiku dan menyenangiku. Yang kedua, dia seorang istri sekaligus ibu yang hebat untukku dan juga putriku. Dia menyiapkan segala kebutuhan kami, tak mengeluh sedikitpun sampai-sampai tangannya kasar karena sering mengerjakan pekerjaan rumah."


"Yang ketiga, dia keguguran bukan tak becus dalam menjaga. Tetapi ini semua karena dorongan yang di sebabkan Bang Nando ketika bertengkar dengan Kak Siska, dan yang kempat ... perbandingan kamu dan dia seperti langit dan bumi. Sangat jauh berbeda,"


Biarlah Ady di marahi oleh Fara, sungguh dia merasa sangat kesal karena Angel dan Fara terus merendahkan istrinya yang begitu dia cintai.


"Aku juga bisa membuatmu bahagia, jika ...,"


"Bagaimana kau bisa membuatku bahagia sedangkan orang tuamu membuangmu karena kau anak yang nakal? Bagaimana bisa jika kau wanita idaman semua temanmu menjauhimu karena marah dengan sifatmu yang dengki dan penuh keirian. Pandai memanipulasi dan pandai merayu pria yang telah beristri? Kau bahkan lebih cocok menjadi pelakor kelas pasar," ujar Ady dan kata-kata itu sangat menusuk hati Angel.


Fara yang melihat cucunya akan menangis segera mendekati Ady dan memarahinya.


"Kau tak berhak mengatur kehidupanku, aku hanya menghormatimu karena kau saudara dari kakekku! Aku menjaga reputasinya, dan sayangnya sekarang tidak berlaku karena aku akan memutus kerja sama perusahaan Dominic dan Hermawan!" Tegas Ady sambil menatap datar ke arah Fara.


"KAU! KAU TIDAK PUNYA HAK UNTUK MEMUTUSKANNYA KARENA ...,"


"Perusahaan Dominic sudah resmi menjadi milik Adyatma putra Dominic, karena bertepatan hari ini umurku sudah menginjak usia 25 tahun yang artinya semua aset dan harta keluarga Dominic jatuh ke tanganku!" Sela Ady dengan seringai di bibirnya.