Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
S2: Akhir



Semua keluarga berkumpul di ruang tengah, termasuk Arga beserta istrinya Angel. Mereka memang terpaksa menikah karena keadaan, tapi lihat sekarang. Tangan mereka tak berhenti bertaut, bahkan tak malu menunjukkan kemesraan mereka dengan para keluarga.


"Hei Arga, berhentilah berpacaran dengan istrimu. Kapan kalian akan memiliki momongan hah?!" Seru Tiara yang sudah terlanjur kesal pada putranya itu.


Arga melirik sekilas, dia tersenyum dengan masih merangkul istrinya. Tangannya mengelus perut datar sang istri sembari menatap ibu angkatnya itu.


"Otw mi," ujar Arga.


"HAAA?! ANGEL HAMIL GA?!" Seru Tiara heboh.


Arga mengangguk, sedangkan Angel hanya menunduk malu sambil mencubit kecil perut suaminya.


"Selamat ya Angel, akhirnya kalian akan punya bayi," ujar Alea.


"Terima kasih Al," ujar Angel.


Alea dan Ady senang dengan berita itu, begitu pun yang lainnya. Mereka kembali berbincang hingga tak sadar jika waktu sudah sangat sore.


"Baiklah, kita pulang sekarang. Ady, apa kau tidak ingin menginap di rumah mamah?" Seru Amanda dan menatap putranya.


Ady melirik sekilas istrinya yang terlihat murung, dia tahu jika Alea belum rela melepaskan Shaka.


"Tidak mah, kami akan pulang saja," ujar Ady. Dia mengerti pastinya Alea akan menangis seharian dan jika di rumah orang tuanya istrinya itu tidak leluasa.


"Oke, baiklah."


Ady menggendong Sky yang sudah mengantuk, dia juga merangkul istrinya untum pulang. Tatapannya mengarah pada putrinya yang masih asik bercanda dengan Shaka dan juga sepupunya yang lain.


"Ara, ayo kita pulang." Ajak Ady.


Ara langsung berlari mendekati Ady, dia menggandeng tangan Alea dan menatap Shaka yang hanya melihatnya dari jauh.


"Chaka! ayo pulang!" Seru Ara.


Shaka hanya diam, tatapannya berkaca-kaca. Tangannya terangkat dan melambaikan tangannya pada Ara.


"Hati-hati." Hanya kata-kata itu lah yang keluar dari mulut Shaka.


"Dih! ayo cepet! nanti di tinggal loh! nanis nanti!" Seru Ara dengan kesal.


Amanda dan Ethan saling tatap, mengerti jika pastinya Ady belum memberitahu Ara tentang Shaka.


"Ara ayo kita pulang." Ajak Alea sambil menarik tangan putrinya.


"Bunda, Chaka nya masih di cana." Sahut Ara.


Alea tetap menarik putrinya untuk pulang, sementara Ady mengikuti kedua orang itu dari belakang.


"Bunda, itu Chaka ketinggalan. Chakaaa!!! ayo ikut pulaaangg!!" Seru Ara merengek.


Shaka menghapus air matanya, dia hanya melambaikan tangannya pada Ara dari ambang pintu.


"Ara!" Sentak Alea saat Ara berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Alea.


"Chakana macih di cana bunda," ujar ARa.


"Shaka tidak ikut pulang bersama kita, jadi ayo masuk mobil!" Titah Alea.


Ady hanya bisa menghela nafasnya, dia menoleh menatap SHaka yang berdiri di depan Siska yang merangkulnya.


"Bunda .... ayah hiks ... Bunda." Lirih Shaka.


Siska mengelus bahunya Shaka, dia sedikit menunduk dan berbisik di telinga putranya itu.


"Kok Shaka diam disini? gak ikut pulang bersama bunda dan ayah?" Tanya Siska.


SHaka menghentikan tangisannya, dengan cepat dia menghapus air matanya dan menatap Siska.


"Maksud mamah?" Tanya SHaka.


"Cepatlah, susul mereka. Nanti keburu pulang, mamah gak bisa antar," ujar Siska dengan senyum lembutnya.


"Mamah izinin SHaka tinggal lagi sama ayah dan bunda?" Tanya Shaka dengan raut wajah tak percaya.


Siska mengangguk, dia memeluk Shaka dan mencium kening anak itu.


"Kejarlah," ujar Siska.


"AYAAAHHH TUNGGU SHAKAAA!!!"


Ady yang akan masuk ke dalam mobilnya seketika terhenti, dia membalikkan badannya dan menatap Shaka yang berlari menuju arahnya.


"Shaka, kenapa? apa ada yang tertinggal di mobil? tadi ayah sudah menurunkan koper Shaka," ujar Ady.


"Bukan, Shaka mau ikut ayah pulang. Boleh?"


Ady terkejut, dia menatap Shaka dengan pandangan sendu.


"Shaka, sebentar lagi kan mau jalan ke bandara. KAlau ke rumah ayah dulu, Shaka bisa telat," ujar Ady dengan penuh perhatian.


"Shaka gak ikut kami kok Dy,"


Ady mengangkat wajahnya, dia melihat ke arah Siska yang datang bersama Nando mendekatinya.


"Shaka tetap akan tinggal sama kamu," ujar Siska.


"HA? bukannya bang Nando waktu itu bilang ...,"


"Benar, tapi setelah kami pikir-pikir ... kami egois. Sudah cukup Shaka menderita karena kami, kami tak ingin egois lagi padanya. Saat aku bertanya padanya, dia senang atau tidak kembali pada kami."


"Kau tahu jawabannya?" Tanya Siska yang di balas Ady dengan gelengan.


"Dia bilang, jika dirinya berat untuk pergi jauh dari kalian. Tapi, karena tidak ingin kalian terkena masalah, maka Shaka menurut."


Alea ikut keluar dari mobil, dia mendengarkan percakapan Siska dengan suaminya.


Siska mendekati Alea, dia menggenggam tangan Alea dengan senyum tulusnya.


"Alea, kakak tidak ingin menjadi egois lagi dengan mengambil Shaka darimu. Dia memang putra kandungku, tapi kamu ibu susunya. Walau dia bukan putramu, tapi aku yakin ikatan batin kalian sangat kuat. Aku tidak tega melihatnya bersedih seakan kehilangan hal yang paling berharga, sudah cukup dia menderita karena kami." Lirih Siska.


Alea tersenyum, dia masih tak menyangka jika Siska membiarkan Shaka kembali pada keluarganya.


"Kak ini beneran?" Tanya Alea dengan suara bergetar.


Siska mengangguk, Alea langsung memeluk Siska dengan begitu erat. Air mata kebahagiaan jatuh, dia begitu bahagia saat ini.


"KAmu begitu mengajari Shaka untuk bersikap pada ku seperti anak kandung pada umumnya, jika tidak ... Pasti saat ini Shaka membenciku karena menitipkannya padamu," ujar Siska dan melepas pelukannya.


Begitu lula dengan Ady, dia memeluk Nando singkat karena merasa bahagia. Dia tidak tau bagaimana cara mendeskripsikan rasa bahagianya.


"Bang aku akan menyerahkan kedudukan ahli waris padamu seperti yang ku katakan saat itu," ujar Ady sangking bahagianya.


Nando menggeleng, dia menepuk bahu Ady dengan senyum mengembang.


"Tidak, aku tidak butuh itu. Aku bukan orang yang senang akan harta, bagiku kebahagiaan keluarga kecilku yang utama. KAmi memang sangat berharap Shaka kembali, tetapi kebahagiaan SHaka lebih kami ke depankan," ujar Nando.


Para keluarga tersenyum senang, adem rasanya mereka kembali damai untuk Shaka.


Anak tak pernah menginginkan dirinya di lahirkan, justru orang tua kah yang menginginkan dia hadir. Pahami keinginan anak, jangan berkata jika ini yang terbaik dan itu yang terbaik sehingga menekan apa yang anak inginkan.


Bahagianya anak, bahagianya orang tua. Sebagai seorang anak, tugasnya adalah patuh dalam hal kebaikan. Didiklah anak dengan penuh kasih sayang, bukan bentakan maupun pukulan.


Banyak anak yang menjadi korban orang tua, sering di pukul dan di bentak. Meninggalkan bekas kenangan pahit untuk anak. Kebanyakan, anak yang mengalami kekerasan pasti akan mudah kepancing emosi. Mudah marah dan merasa takut.


Lihatlah cara Alea mendidik putra-putrinya, dia selalu memberi peringatan dengan cara lembut agar sang anak mengerti. Sebab pukulan dan bentakan, akan mejadikan anak semakin melakukan kesalahan.


Ady dan Alea serta keluarga yang lain berbahagia, mereka mengantarkan Nando dan Siska ke bandara dan mengucapkan salam perpisahan.


Di mobil, Alea dan Ady tengah menuju perjalanan pulang. Hari sudah malam, sehingga Shaka, Ara dan Sky tertidur di kursi belakang.


"Aku senang mas," ujar Alea sambil bersandar pada d4d4 bidang Ady.


"Hadirnya Ara membuat kita kembali bersama, dan hadirnya Shaka membuat kebahagiaan kita lengkap," ujar Alea dengan senyum mengembang.


...-tamat-...


Terima kasih para pembaca sudah bersedia mampir di karyaku yang sederhana ini. Semoga kalian sehat selalu, yang belum ketemu jodoh semoga segera di pertemukan. Yang pejuang garis dua semoga segera mendapat momongan. Yang sakit semoga cepat pulih ... Aaminn.


Sekian dari aku, ada kurangnya aku mohon maaf. Jika ada ketikanku yang salah, mohon di kritik dan saran. Terima kasih🙂


YANG BELUM FOLLOW, SEGERA FOLLOW. KARENA AWAL BULAN AKU AKAN MELUNCURKAN KARYA NOVEL ANAK GENIUS YANG PEMERAN UTAMANYA ADALAH ANAK KECIL. Agar kalian tahu update terbaru aku😍😍😍


Sampai bertemu di karya ku yang lain, love you All 😘😘😘