Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
S2: Mama kangen sama kamu Shaka



Bunyi bell pulang sekolah telah terdengar, para murid segera keluar menuju gerbang. Mereka menunggu orang tua mereka datang menjemput.


Shaka memegangi tangan Ara, mereka berjalan menuju gerbang. Penuhnya murid, membuat Shaka khawatir pada Ara.


"Bang, Bella masih di dalam. Nanti Ala sampel dulu yah," ujar Ara.


"Gak usah, nanti juga di jemput sama papahnya," ujar Aksa.


Ara menurut, dia berjalan mengikuti Shaka. Sesampainya di ruang tunggu, Shaka dan ARa duduk, mereka menunggu Ady datang menjemput.


"Ala haus bang," ujar Ara.


Shaka mengambil botol airnya, setelah itu dia menyerahkan botol itu pada Ara.


Ara menerimanya dan meneguknya dengan cepat, dia sangat haus sedari tadi. Airnya sudah habis, dan tidak sempat beli di kantin.


"Haaa ... legana," ujar Ara setelah menghabiskan minuman Shaka.


Ara menyerahkan botol itu kembali pada Shaka, setelah itu dia kembali terfokus pada gerbang.


"Shaka, Ara."


Shaka dan Ara menoleh, mereka melihat Nando tengah berjalan menghampiri mereka sambil menggandeng Bella.


"Halo uncle," ujar Ara menyapa Nando.


"Halo Ara, ayah belum jemput?" Tanya NAndo.


Ara menggeleng, sedangkan Shaka hanya diam sambil menatap ke arah lain. Dia tengah menghindari tatapan Nando padanya.


"Kalau gitu, bareng uncle aja yuk." Ajak Nando.


"A-,"


"Enggak! bentar lagi ayah datang," ujar Shaka menolak untuk ikut.


Ara menatap Shaka dengan raut wajah kesal, dirinya sudah lelah menunggu Ady. Dan saat ini ada yabg tengah menawarkan tunangan pada mereka, tetapi Shaka malah menolak.


"Tapi ayah lama loh! Shaka ihhh!!" Kesal Ara.


"kalau kamu mau, kamu aja. Shaka mau tunggu ayah," ujar Shaka.


Ara merengut kesal, tak mungkin ia pulang tanpa Shaka. Dirinya sudah terbiasa pulang dengan Shaka, jika tidak bersama Ara tidak mau.


"Solly yah uncle, Abang nda mau. Nanti kita tunggu ayah saja," ujar Ara.


Nando tersenyum sendu, netranya menatap putranya yang tak kau menatapnya sama sekali.


"Pa, Bella mau pulang sama abang. Abang! ayo pulang cama Bella!" Seru Bella dan melepas genggaman Nando pada tangannya.


Bella berjalan menghampiri Shaka, dia menyentuh tangan Shaka sambil menatap Shaka dengan sorot mata sedih.


"Bella mau pulang sama abang, main sama abang. Ayo bang, ikut pulang. Mamah katana kangen cama abang," ujar Bella.


Shaka menurunkan egonya, dia menatap Bella yang tengah menatapnya dengan netra berkaca-kaca.


"Pulanglah! sudah siang, kau harus tidur siang." Sahut SHaka dengan lembut.


Bella menatap Nando, papahnya itu pun menyuruhnya untuk mendekat dan tidak lagi mengangguk Shaka.


Bella menurut, dia berjalan dengan lesu ke arah Nando. Dengan sigap, Nando membawa Bella ke gendongannya.


"Kita pulang yah, lain kali kita akan ajak abang ke rumah." Bujuk Nando.


"Iya deh," ujar Bella.


Nando paham bagaimana Bella sangat menginginkan dekat dengan abangnya, tetapi keputusan SHaka untuk menjauh dari mereka membuat Nando tak bisa berbuat apapun.


"Shaka, papah pulang dulu yah. Sesekali telpon kami, kami rindu sama Shaka," ujar Nando.


Shaka tak menjawab, dia hanya diam sambil menatap gerbang berharap sang ayah cepat datang.


Tak mendapat respon membuat Nando bersedih, dia mendekat ke arah SHaka dan mengecup keningnya.


Shaka masih bergeming, dia tak ada niatan untuk menjawab. Shaka membentengi dirinya dari sang ayah, sehingga sulit Nando menembus pertahanan sang anak.


Shaka menatap kepergian Nando dengan sorot mata yang sendu, tangannya memegangi dadanya yang entah mengapa terasa sakit.


"Shaka pengen di bujuk, tapi papah selalu lebih perhatian pada Bella. Shaka rindu kalian, tapi Shaka lebih sayang keluarga ayah." Batin Shaka.


Sedangkan Ara, dia tengah menatap Shaka. Dirinya sebenarnya bingung, mengapa Shaka memanggil Nando dengan sebutan papah Bukan Uncle?


Ara belum tahu jika sebenarnya Shaka bukanlah saudaranya, melainkan sepupunya. Ady sengaja tak memberitahu, karena tak ingin ada jarak di antara mereka.


"Kok abang panggil uncle, papah si? kita kan punya ayah, ngapain panggil uncle papah?" Tanya Ara.


Shaka menatap Ara, rambut ara yang terkuncir dua membuat kesan lucu pada anak itu. Shaka melihat mata Ara, dia sangat suka mata Ara. Menurutnya, mata Ara sangat unik. Berwarna abu-abu, bahkan Shaka sempat menginginkan seperti Ara.


"Abang!" Seru Ara karena pertanyaannya gak di wajahnya,"Hanya ingin, jangan cerewet. Kau sama seperti Sky," ujar Shaka dengan cuek.


Ara merengutkan wajahnya, dia menendang-nendang kakinya untuk mengusir kejenuhannya.


"Shaka, Ara!"


Ara dan Shaka menoleh, dia melihat Ady menghampiri mereka sambil menggendong Sky.


"AYAAAHH!!" Pekik Ara dan berlari ke arah sang ayah.


Namun, Sky yang tak suka Ara terlalu dekat dengan Ady segera menendang wajah kakaknya. Sepatu yang Sky kenakan lumayan sakit dan membuat Ara berjongkok sambil memegangi keningnya.


"HUAAAA!!!"


Shaka berlari panik ke arah Ara, dia memegang bahu adiknya itu. Sedangkan Ady, dia tak mengerti mengapa Sky menendang Ara.


"Shaka, ayah minta tolong. Kamu bawa Sky ke.mobil, di sana ada bunda. Kasih Sky ke bunda aja," ujar Ady dan menyerahkan Sky pada Shaka.


Sky awalnya menolak, tetapi setelah Shaka menunjukkan sebuah permen anak itu pun menurut.


Setelah kepergian Shaka, Ady berjongkok di depan putrinya. DIa menatap kening yang putrinya pegang.


"Sakit banget?" Tanya Ady.


Ara mengangguk sembari menangis, dia merentangkan tangannya pada Ady. Ady pun menyambut uluran tangan sang putri, dia pun membawa Ara ke gendongannya.


"Sky nakal!" Isak Ara.


"Iya, nanti ayah nasehatin Sky yah." Bujuk Ady.


Ara tak menjawab, dia masih menangis sambil menyandarkan kepalanya di pundak Ady.


Ady berjalan ke arah parkiran, di sana ada Sky yang sedang bermain bersama Shaka tepat di samping mobil.


Sesampainya di mobil, Ady membuka pintu bagian depan. Alea yang sedang bermain ponsel menoleh saat pintunya di buka.


"Loh, Ara kenapa mas?" Tanya Alea.


"Di tendang sama Sky," ujar Ady.


Ady menurunkan ARa ke pangkuan Alea, sementara dirinya ingin mengambil Sky yang sedang bermain.


"Shaka, masuk mobil kita pulang." Titah Ady.


Shaka menurut, sedangkan Sky di bawa oleh Ady ke dalam gendongannya. Dia memasuki mobil dengan Sky.


"Sky gak boleh gitu, masa kakaknya di tendang sih nak," ujar Alea memperingati putranya.


Sky hanya menatap Alea yang sedang menasehatinya, setelah sang bunda selesai berbicara. Ia menatap dasi Ady dan memainkan nya.


"Sky semakin nakal mas," ujar Alea.


Sky memang nakal, tapi jangan salah. Anak itu sangat cerdas dan gampang mengerti. Dia sangat aktif dan juga cepat tanggap.


Keaktifannya membuat Alea dan Ady sempat khawatir, apalagi di umurnya yang masih satu setengah tahun.


"Gak papa, kita ajarin pelan-pelan." Sahut Ady