Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
S2: Main bersama



"LENATAAA!!! MAIN YOOOKKK!!"


Ara sedang memegang pagar rumah Rangga sambil meneriaki nama Renata, temannya itu. Sudah biasa hal seperti ini, Ara berteriak memanggil Renata untuk bermain.


Tak lama, keluarlah sosok anak kecil. Dia berjalan mendekati ARa sambil membawa permen lolipopnya. Merupakan kebiasaan Renata, dia akan selalu memakan permen lolipop dan itu buatan ibunya sendiri.


"Apa?" Tanya Renata tanpa membuka gerbang.


"Ish! main ke taman, temen-temen juga udah banyak yang nunggu loh!" Seru Ara.


Mata Retana berbinar, dia segera keluar gerbang dan menggandeng lengan Ara.


"ABAAANGGG!!! RE MAIN DULU!!?" Seru Renata dan lari sambil menarik Ara.


Sesampainya keduanya di taman, mereka mendekati teman-teman yang sedang membuat sebuah lingkaran.


Renatap dan Ara segera mendekati mereka. "Itu apa?" Tanya Renata.


"Oh ini, kita lagi mau main kelereng," ujar anak perempuan berambut pendek.


Ara mendekati anak itu, dia melihat kelereng yang berada di genggaman temannya itu.


"Eh Lampe, beli dimana kau?" Tanya Ara.


Anak yang di maksud ARa itu memutar bola matanya jengah. "Namaku Ana, bukan Rampe cadel!" Kesal nya.


"Taulah, lambutmu kan pendek. Ala panggil Lampe saja, kalau udah panjang baru Lapan." Sahut Ara.


"Haaa ... terserah kau saja," ujar Ana dengan pasrah.


Mereka kini bersiap main, Ara dan Renata bingung menatap teman temannya. Satu kawan laki-kaki mereka mendekati mereka.


"Nih kelereng untuk kalian, mainnya di lempar ke buletan itu dan mengenai kelereng yang lain. Ngerti?" Ujarnya sambil menyerahkan kelereng pada keduanya masing-masing mendapat lima buah.


"Ohh ... iya iya, Ala mudeng," ujar Ara.


Mereka pun kini bermain bergantian, hingga sampai pada urutan Ara. Bocah itu akan melemparnya, tetapi suara Alea membuatnya mengurungkan niatnya.


"Ara!"


Mereka semua menoleh, melihat Alea berjalan menghampiri Ara sambil menggendong Sky yang menangis.


"Kalau main ajak adeknya, Ara. Nangis nih gara-gara ngelihat Ara keluar," ujar Alea.


"Dih bundaaaa!!! Ala tuh mau main." Rengek Ara.


Alea tak mengindahkan rengekan putrinya, dia menurunkan Sky di hadapan Ara.


"Jagain adeknya yah, bunda mau masak dulu," ujar Alea.


Alea berani membiarkan putra dan putrinya kain, karena komplek perumahan ini bisa di bilang penjagaannya ketat. Bahkan saat orang asing masuk melewati pos penjagaan, pasti akan di cek terlebih dahulu dan di tanya kemana tujuannya.


"Kan ada abang di rumah," ujar Ara.


"Abang lagi les karate, gak ada di rumah tadi berangkat bareng uncle Edgar. Udah yah, satu jam lagi pulang, no telat-telat!" Peringat Alea dan pergi dari sana.


Bahu Ara melemas, netranya menatap Sky yang juga tengah menatapnya dengan ari mata berlinang. Ara heran kenapa adiknya itu selalu ingin bermain keluar dengannya, pasalnya saat ada di rumah keduanya bagaikan kucing dan tikus yang selalu bertengkar.


"Awas kalo nangis! Ala lempal pulang nanti!" Seru Ara dan membawa Sky mendekati teman-temannya.


"Ih Ara, adik kamu lucu bangeett!!!"


"Iya eh, pinjem dong!"


Ara terkejut saat tiba-tiba saja para temannya mengerumuni Sky, bahkan ada yang menggendongnya dan langsung mengajaknya bermain ke ayunan.


"Ini kita gak jadi main?" Tanya Ara.


"Nanti aja lah, adek kamu gemesin banget. Eh liat deh, matanya warna hijau. Bagus banget!!" Seru Ana.


Yah, Sky memiliki bola mata berwarna hijau. Namun, anehnya saat bayi dulu malahan bola mata Sky berwarna abu persis Ara. Tapi, entah mengapa berubah menjadi hijau.


"Mana Ara tahu, tanya ayah Ala aja," ujar Ara.


"Tapi dulu Cky walnanya cama kayak Ala kok, nda tahu jadi belubah," ujar Ara.


"Ih Ara, jangan-jangan kamu sama Sky anak pungut lagi. Kalian gak mirip orang tua kalian, malahan cuman Shaka yang mirip." Celetuk Ana.


"MANA ADA! NGAWULL!!" Sewot Ara.


***


Ara pulang dengan perasaan kesal, memang dirinya berbeda dengan kedua krang tuanya. Tapi hanya warna bola mata saja, dia harus meminta kejelasan pada ayahnya nanti.


"Eh udah pulang." Seru Alea yang melihat putrinya pulang sambil menggandeng Sky yang memakan permen lolipop yang di berikan Renata.


Sky melepaskan gandengan tangannya pada sang kakak, dia berjalan ke arah bundanya dan menarik pelan celana yang Alea kenakan.


"Aya dah pulang?" Tanya Ara.


"Belum, ayah katanya lembur. Palingan ARa ketemu ayah besok," ujar Alea.


Ara mengangguk, dia lun masuk ke dalam kamarnya. Alea merasa heran dengan putrinya yang tak seceria biasanya.


"Sky di kasih permen sama siapa sayang?" Tanya Alea sambil membawa Sky ke gendongannya.


"Dali kakak depan," ujar Sky.


Alea tadinya bingung, tapi sedetik kemudian dia mengerti. Pastilah tetangga depan, teman putrinya.


"TAdi Sky nakal gak?" Tanya Alea.


"Boy nda nakal, boy pintal. Ala delek," ujar Sky.


"Hus! gak boleh gitu, pasti Razka ini yang ngajarin." Kesal Alea.


Malam harinya, tepatnya jam sebelas malam. Ady baru saja pulang, tubuhnya terasa sangat lelah.


Dia.membuka pintu rumahnya, keadaan sudah remang-remang karena beberapa lampu sengaja Alea matikan.


Ady kembali menutup pintu, saat ia berbalik tatapannya mengarah pada tangga. Di sama terlihat sosok anak kecil sedang duduk sambil menatapnya.


Jantung Ady berdebar kencang, rasa lelahnya entah tiba-tuba hilang kemana. Karena lampu remang-remang, sehingga sosok anak kecil itu tak terlihat selain bayangan.


"Ara apa Shaka? tapi jam segini kan mereka udah tidur." Batin Ady.


Ady berjalan mendekat, walau dadanya sedari tadi berdebar hebat. Tapi Ady memberanikan dirinya.


"Orang bukan? kalau bukan ngomong yah," ujar Ady dengan polosnya.


Tangan Ady meraba dinding, dia menemuka saklar lampu dan menyalakannya.


Ctak!


"Astagaaa ... Araaa!!"


Ady mengusap wajahnya kasar, dia juga mengusap dadanya yang berdetak kencang itu.


Ara sedang tidur sambil duduk di tangga, sepertinya dia menunggu Ady pulang ke rumah sampai ketiduran.


Ady pun berjalan mendekati putrinya, dia melihat putri kecilnya yang tidur dengan pulasnya.


"Kenapa tidur di sini sih nak," ujar Ady dan menggelengkan kepalanya.


Ady menggendong Ara, dia pun menaiki tangga menuju kamarnya. Tadinya Ady mau mengantarkan Ara ke kamarnya, tetapi dirinya tiba-tiba saja rindu tidur dengan putri kecilnya.


DI bawalah Ara ke kamarnya, dia melihat istrinya sudah tertidur pulas sambil mendekap putra bungsunya.


Di baringkannya Ara sebelah Sky, dia menepuk lengan putrinya kala Ara bergerak gelisah.


Ady membuka jasnya, setelah itu dia kembali keluar menuju kamar Shaka. Ady membawa Shaka ke gendongannya, sepertinya malam ini dia ingin mereka semua tidur bersama. Berkumpul bersama keluarga kecilnya, membuat rasa lelah Ady berkurang.