Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
Episode 54: Keputusan 1



"Sudah sembuh nak?" Tanya Amanda pada Edgar yang kini berada di taman belakang rumah.


Edgar tersentak kaget, dia menoleh dan tersenyum tipis.


"Sudah mendingan mam," ujarnya.


Amanda tersenyum, dia memang menyuruh Edgar untuk memanggilnya sama seperti Razka. Dia pun duduk di sebelah Edgar dan mengelus rambut tebal remaja itu.


"Jangan terlalu cape, tubuhmu juga perlu istirahat," ujar Amanda.


Edgar mengangguk singkat, dia kembali melihat taman yang sangat indah di tambah pantulan cahaya matahari.


"Edgar,"


Edgar dan Amanda menoleh, mereka melihat Ady yang tengah menghampiri mereka sambil menggendong Ara.


"Abang titip Ara yah, soalnya kita harus ke pengadilan sekarang." Pinta Ady.


"Baik bang, tapi siang nanti teman-temanku datang menjenguk. Apa tidak papa?" ujar Edgar dan bertanya balik.


"Tidak masalah, ini rumahmu juga. Jika temanmu mau kesini ya silahkan, abang gak larang. Ya kan mah?"


Amanda mengangguk sambil tersenyum, Edgar pun membalas senyuman itu. Ady menyerahkan Ara yang sedang terjaga itu itu ke pangkuan Edgar.


"Mamah ikut ke pengadilan juga?" Tanya Ady pada ibu kandungnya itu.


"Ya jelas dong! mamah ini kan neneknya Ara, dia mau celakain Ara ya mamah harus maju paling depan. Sekalian mamah undang teman sosialita mamah buat nyerang tu cewek gila," ujar Amanda dengan nada sewot.


Ady dan Edgar meringis, mereka tak tahu apa jadinya jika Amanda membawa teman-temannya ke pengadilan nanti.


"Gak usah aneh-aneh deh mah, udah ah aku mau susul istriku," ujar Ady.


Setelah kepergian Ady, tak lama Amanda pun ikut masuk. Kini, tinggal Edgar yang menggendong Ara sambil berjalan-jalan sekitar taman.


"Oaa ... oaaa." Celoteh Ara sambil memasukkan tangannya ke dalam mulut.


"Jangan di masukin tangannya, kotor," ujar Edgar dan menarik tangan Ara kembali.


Ara kembali memasukkannya, dan lagi-lagi Edgar menarik tangan mungil itu dari mulutnya.


"Ekhee ekhee ekhee,"


"Eh, kok nangis?" Bingung Edgar.


Ara merasa kesal karena Edgar selalu melarangnya, akhirnya Edgar membiarkan Ara mengemut jarinya. Mungkin ia akan meminta pacifier Ara nanti.


Sedangkan di kamar, Alea sedang memakai jam tangan mewahnya. Ady hanya menunggu sambil duduk di tepi kasur melihat sang istri berhias.


"Masih lama gak Al, gak usah cantik cantik. Nanti mereka pada naksir kamu gimana?" ujar Ady dengan posesif.


"Berarti tandanya aku cantik dong?" Tanya Alea menggoda Ady.


Ady yang melihat pantulan diri sang istri di cermin pun langsung menelitinya, secara tak sadar ia mengangguk dan hal itu membuat Alea memekik senang.


"WAAHHH, TERIMA KASIH SUAMIKU!"


Ady tersadar, dia menggelengkan kepalanya dengan keras.


"Cantik di lihat dari ujung lemari, udah ah. Aku mau kasih pacifier sama Sarung tangan Ara dulu, pasti anak itu tengah mengemut jarinya," ujar Ady dan berlalu keluar.


Alea terkekeh, suaminya sangat jaim mengakui jika istrinya cantik. Senyuman Alea luntur, wajahnya berubah menjadi serius. Beberapa jam ke depan, ia akan bertemu kembali dengan wanita yang menghancurkan karir beserta pelaku penabrakan dirinya.


"Gue pastikan, lu akan mendekam lama di penjara Keyla," ujar Alea dengan nada lirih sambil menatap pantulan dirinya di cermin.


***


Dua mobil bermerk Alphard itu memasuki parkiran pengadilan, para wartawan sudah berkumpul didekat mobil itu.


Ia mengulurkan tangannya, dan di sambut baik oleh sosok wanita yang keluar dari mobil dengan menggandeng tangan pria itu.


Wartawan mendekati mereka, beberapa foto pun di jepret untuk sebuah surat kabar nanti.


"Tuan Ady mohon waktunya sebentar, apakah benar jika anda memiliki wanita simpanan?"


"Tuan, apakah wanita itu istri anda?"


"Tuan, apakah anda telah memiliki seorang putri?"


Ady tak menghiraukan pertanyaan mereka, dia merangkul istrinya karena takut para wartawan itu menyakitinya. Alea kini telah memakai kaca mata dan masker, itu yang Ady sarankan agar wajah Alea tak tertangkap kamera sebelum konferensi pers terjadi.


Ethan, Amanda beserta kedua orang tua Ethan mengikuti dari belakang. Beruntung Ara di tinggalkan, karena kalau tidak bayi itu akan menangis keras akibat sesak dan ramai.


Sesampainya di ruang sidang, Ady dan yang lainnya masuk. Mereka duduk di tempat yang sudah di sediakan, dan juga menunggu datangnya tersangka.


Ady menggenggam tangan Alea tang terasa dingin, dia tahu jika istrinya tengah menahan gugup.


"Tenanglah, aku disini," ujar Ady menenangkan sang istri.


Kreett.


Pintu terbuka, beberapa polisi datang dengan seorang wanita. Mereka menduduki kursi yang berada di hadapan Alea serta keluarganya.


"Tenangkanlah dirimu," ujar Ady dengan tangannya yang mengeraykan genggamannya pada sang istri.


Alea merasa sangat marah ketika melihat wajah santai Keyla, ingin rasanya dia menuju Keyla dan menamparnya dengan keras sehingga Ady harus menahan istrinya itu.


Para hakim pun masuk, mereka menduduki tempat masing-masing. Tak kama sidang pun mulai, para pengacara pun mulai angkat bicara.


Pengacara yang di siapkan keluarga Dominic terdiri dari tiga orang, dan mereka semua pengacara terkenal. Tadinya Alea mau mengikut sertakan pengacara nya, hanya saja mendadak Ady melarangnya karena mereka sudah menaruh pengacara terbaik.


"Yang mulia, klien kami mengatakan jika tersangka adalah dalang dari percobaan pembunuhan. Kala itu klien kami tengah hamil delapan bulan, akibatnya beliau harus di operasi untuk menyelamatkan bayinya."


"Benar, sekali apa yang di katakan oleh pengacara Ben. Bahkan kami memiliki bukti yang sangat kuat, dan tersangka sendiri yang mengakuinya,"


Hakim pun meminta bukti, ketiga pengacara itu menyerahkan bukti yang berbeda-beda. Untuk memperkuat posisi Alea saat ini.


Sedangkan Alea, tatapannya menusuk ke arah Keyla. Dia membuka kaca matanya beserta masker yang dirinya gunakan.


"Aku tidak akan melepasmu." Gumam Alea saat menangkap raut wajah Keyla yang terkejut.


"Yang mulia! izinkan Klien kami menjelaskan permasalahannya," ujar Pengacara Ben.


"Izin di berikan," ujar sang hakim.


Alea menatap sang suami, Ady pun menganggukkan kepalanya memberi ALea kekuatan. Alea berdiri, dia mengambil pengeras suara dan mendekatkannya pada bibirnya.


"Tersangka, Keyla dia membuatku di pecat dari kantor atas tuduhannya. Aku keluar dari kantor secara tidak terhormat, entah dia membuntutiku atau memantauku setelah itu aku tidak tahu. Tapi saat umur kandunganku 8 bulan ada motor yang melaju cepat ke arahku sehingga motor tersebut menabrakku yang mulia,"


"Betul sekali, saudari Alea telah menjelaskan kejadiannya. Maka saya yang akan mendatangkan bukti atas tuduhan itu semua," ujar Pengacara lain dan berjalan menyerahkan sebuah ponsel yang terdapat rekaman CCTV.


Alea kembali duduk, Ady mengusap punggung istrinya agar sang istri tenang.


Sedangkan Keyla, ia tengah mengepalkan tangannya. Dia tak pernah mengira jika suami Alea, Ady adalah seorang penerus Dominic.


"Kenapa bisa nasib mereka sebaik itu, ku kira di sidang ini mereka tak akan menang. Tapi ternyata, mereka malah membawa tiga pengacara sekaligus." Batin Keyla bergemuru.


_______


**maaf yah up cuma Sedikit terus, otornya lebih sibuk gaes apalagi mau deket lebaran kesibukan nuambah ini😪😪😪


Kalau sempet, nanti aku up lagi yah😁**