Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
Episode 102: Karena berkas kontrak



"Hai Ady,"


Ady terkejut melihat teman lamanya, bahkan dia sampai tak sadar jika pagar rumahnya sudah terbuka sehingga wanita itu masuk dan mendekati Ady.


"Gea? kau ... kenapa kau bisa tahu rumahku?!" Kaget Ady.


"Tadinya aku tidak tahu, hanya saja saat aku melihat istrimu aku menjadi tahu kalau ternyata kita tetangga," ujar Gea.


"APA?!" Kejut Ady.


"Santai lah, aku hanya ingin menyapa. Suamiku juga ada di rumah, apa kau pikir aku datang untuk apa huh?" Heran Gea.


Ady pun menggaruk belakang lehernya, bukan masalah itu. Hanya saja dirinya takut Alea akan terus cemburu apalagi mereka bertetangga.


"Aku sempat kaget melihatmu tinggal di perumahan sederhana seperti ini," Ujar Gea sambil melihat sekelilingnya.


"Ah itu ... aku hanya ingin putriku bermain tanpa batasan akibat menjadi seorang penerus Dominic yang harus di jaga ketat. Disini dia bisa bermain dengan tekan sebayanya tanpa takut karena penjagaan yang ketat," ujar Ady yang sepertinya sudah mulai biasa dengan kehadiran Gea di depannya.


Gea mengangguk memaklumi, Ady merupakan orang terkenal bahkan nama Dominic sudah banyak yang tahu.


"Kau benar, putrimu tak pernah tampil di media manapun. Kalau keponakanmu selalu ada di media, untuk itu banyak yang penasaran bagaimana rupa anakmu saat ini," ujar Gea.


"Dia tumbuh menjadi anak yang cantik, bahkan banyak yang mengira jika dia anak bule hahaha," ujar Ady.


Gea ikut tertawa, saat konferensi pers dulu dia sempat melihat Ara. Dirinya juga terkejut melihat wajah bule putri Ady tersebut.


"Bagaimana bisa dia memiliki wajah bule seperti itu? bukankah kau ...,"


"Kakekku memilikinya kalau kamu lupa," ujar Ady memotong ucapan Gea.


Gea membulatkan mulutnya, tak lama dia pun pamit karena takut sang suami menunggu lama. Ady pun masuk kembali ke dalam rumah dan melihat putrinya yang berdiri di depan pintu sambil bersedekap dada.


"Capa tu ... lagi ada acala oblal yah?" Ledek Ara.


"Kau ini, anak kecil tidak usah tahu." Gerutu Ady.


"Yacudah!" Ketus Ara dan melangkah keluar rumah.


"Mau kemana kamu dek?" Tanya Ady yang membuat langkah Ara terhenti.


"Bukan ulusan olang tua!"


***


Pagi ini seperti biasa Ady bersiap ke kantor, dia sudah sarapan dan kini tengah mencari berkasnya yang ia harus bawa.


"Yang liat berkas warna merah gak?" Tanya Ady sambil mencari berkasnya.


Alea yang tengah membereskan lemari pakaian mengerutkan keningnya, dia mengingat ingat berkas milik suaminya.


"Aku gak pernah liat mas, terakhir kamu taruh dimana?" Tanya Alea sambil mendekati suaminya.


"Aku taruh di meja," ujar Ady.


Baru saja Ady melemaskan bahunya, doa terkejut melihat pesawat kertas yang terjatuh di kakinya.


karena penasaran, Ady langsung mengambilnya dan membukanya. Seketika netranya membola sempurna dengan perasaan terkejut.


Dengan amarah, Ady langsung keluar dan melihat Ara yang tengah mencari sesuatu.


"Cari apa?" Tanya Ady dengan datar.


Ara terkejut, dia melihat kertas yang dirinya cari. Saat akan mendekat, dia memundurkan langkahnya saat Ady menatapnya tajam.


"ARA TAU GAK?! INI KERTAS KERJA AYAH! AYAH RUGI MILIYARAN RUPIAH KARENA KAMU!" Bentak Ady.


Ara terkejut, dia langsung menunduk karena takut akan bentakan Ady. Baru kali ini Ady membentaknya karena masalah kertas, dirinya hanya tahu itu kertas biasa dan tak begitu berarti.


"ARAAAA!!!" Geram Ady saat melihat kertas itu sudah sedikit sobek dan banyak bekas tinta.


Alea yang mendengar suara keributan pun keluar kamar, dia menatap putrinya yang sedang menunduk sambil menangis.


"Kamu kenapa bentak Ara mas?" Tanya Alea sambil mendekati putrinya dan mengelus kepalanya.


"Kamu tahu? berkas yang aku cari malah dia buat jadi seperti ini! aku butuh kertas ini, aku harus mengulangnya kembali padahal waktu sudah mepet! gara-gara dia, aku bisa rugi miliyaran Alea!" Kesal Ady.


Alea mengerti, tetapi dirinya tak suka Ady membentak putrinya.


"Yasudah mas, kamu tenang yah. Aku bantu kerjain yah, nanti Razka sama Edgar denger kan jadi gak enak," ujar Alea. Beruntung Robert dan Naura sedang berada di kediaman Dominic.


Ady berdecak keras, dia kembali memasuki kamar dan menutup pintu dengan kencang. Ara sambil bergetar kaget karena bunyi pintu yang kencang.


Alea mengelus dadanya, dirinya tahu jika pekerjaan Ady sangatlah sulit apalagi itu adalah kontrak. Alea juga mengerti betapa kesalnya Ady, karena dia pernah ada di posisi itu.


"Ara sayang, sudah yah jangan nangis pinter," ujar Alea dan menjongkokkan dirinya.


Ara semakin keras menangis, dia berlari ke kamarnya dan menguncinya. Melihat hal itu Alea mengikutinya.


"Kenapa bun?" Tanya Shaka yang baru saja mendekati kamar Ara.


"Pintuna di tunci?" Heran Shaka.


Alea mengangguk, dia menyingkir agar Shaka bisa membujuk Ara.


"Ala buka pintuna! abang mau macuk! kam kacul abang ada di dalam!" Teriak Shaka.


"NDA MAU HIKS ... NDA MAU!! AYAH UDAH NDA CAYANG ALA! BIALIN ALA DICINI AJA!"


"Ala nda lapel? abang mau botol cucu Ala nda mau?" Bujuk Shaka kembali.


"NDA!"


Shaka menghela nafas pelan, dia menggelengkan kepalanya kepada sang bunda.


"Yasudah, Shaka jangan jauh-jauh dari kamar yah. Takutnya Ara kenapa-napa, bunda mau bantu ayah sebentar," ujar Alea dan pergi ke kamarnya.


Sedangkan di kamar, Ara menangis sambil menutupi wajahnya dengan bantal. Pipi putihnya kini memerah di sertai dengan linangan air mata.


"Pokokna Ala nda mau makan, nda mau kelual nda mau minum cu ... ndaaa hiks ... ala nda bica tanpa cucu hiks ...,"


Ara kembali terisak, dia turun dari kasurnya dan melompat-lompat.


"Hiks ... hiks ... mau kabul aja, ayah nda cayang Ala ladi!" Isak Ara.


"Aduh belet pipic," ujar Ara.


Ara pun berlari ke kamar mandi, dia buang air kecil dan membersihkannya sendiri.


"Ah, legana!" Seru Ara.


Saat Ara akan beranjak ke luar, cerobohnya dia tak memperhatikan jalan. Ara terpeleset dengan kepala yang membentur keras lantai kamar mandi yang dingin.


Ara yang terkejut tak menangis, dia hanya diam dan tak mengeluarkan suara apapun hingga dia memejamkan matanya kemudian pingsan.


Shaka yang menunggu di depan kamar sangat cemas, apalagi suara tangis Ara tak lagi dia dengar.


"Ala! Ala! ayok main ke kak langga!" Bujuk Shaka, karena biasanya Ara sangat antusias bermain ke rumah Rangga.


Tak dapat sahutan, Shaka semakin khawatir. Karena tadi Ara masih menjawabnya walau dengan teriakan.


Ting tong ... ting tong ...


Shaka berlari menuju pintu untuk melihat siapa yang datang, dia membuka pintu tersebut dengan tenaga kecilnya.


"Ara nya ada?"


"Kak Langga, itu Ara di kamar lagi nanis." Seru Shaka dan menarik tangan Rangga ke arah kamarnya dan Ara.


Rangga yang tak siap hanya bisa menuruti, dia di bawa Shaka ke depan kamar Ara.


"ALA! INI ADA KAK LANGGA! ALA MAU TETEMU NDAA!!"


Tetap tak ada sahutan, Rangga pun menjadi heran.


"Ada kunci cadangan gak?" Tanya Rangga.


"Nda tahu," ujar Shaka.


Rangga melihat ventilasi di atas pintu, dia melihat sekelilingnya.


Rangga mengambil kursi dan membawanya ke depan pintu, dia menaiki kursi itu untuk melihat dalam kamar.


Beruntung Rangga tinggi sehingga ventilasi dapat dia jangkau.


"Ara nya kok gak ada." Gumam Rangga saat melihat kamar yang kosong dan tak adanya Ara.


"Tadi macih ada cualana kok kak," ujar Shaka.


Rangga turun, dia bertanya dimana Ady dan Alea. Shaka mengatakan jika Alea dan Ady sedang ada kerjaan.


"Panggil tante dan om," ujar Rangga.


Shaka segera berlari ke kamar Ady, dan kebetulan Ady sudah keluar kamar dan bersiap berangkat.


"Ayah ayah, itu Ala na nda ada di kamal!" Seru Shaka.


"Palingan ngumpet di bawah tempat tidur." Cuek Ady.


"Nda ada sualana juga ayah!" Ujar SHaka kembali sambil menyeimbangkan langkahnya dan Ady.


"Tidur mungkin," ujar Ady.


Saat melewati kamar putrinya, langkah Ady terhenti. Entah mengapa perasaannya tidak enak, bahkan sampai mengabaikan Rangga yang bertanya padanya.


"Maaf om, kunci cadangan kamar mana?" Tanya Rangga.