
Siska sepertinya sangat marah, dia menjambak rambut wanita itu tanpa belas kasihan. Nando mencoba menghentikannya, tetapi jambakan Siska sangatlah kuat.
"Dasar PELAKOR! apakah dirimu tidak laku sampai menjerat suamiku huh?!"
"SISKA LEPASKAN MILA!" Sentak Nando.
Siska menatap suaminya tak percaya, hanya demi membela wanita ini Nando berani membentaknya bahkan di hadapan Amanda.
"Kamu menduakan putriku? benar itu Nando?" Tanya Amanda, tersirat nada kecewa dari pertanyaannya itu.
Nando hanya diam dan tak berani menjelaskan, sedangkan Alea mendekati kakak iparnya dan berusaha membujuknya untuk tenang.
"Tenang kak, kalau seperti ini tidak akan selesai. Malu di tonton sama karyawan, apalagi kalau ada media," ujar Alea, karena saat ini nama baik keluarga menjadi prioritas utamanya.
Siska menghempaskan Mila begitu saja, netranya menatap tajam pada Nando yang tengah menatapnya datar.
"Dari awal aku sudah memberi kepercayaan aku pada mas, tapi ini balasannya? mas khianatin aku? salah aku apa mas?"
"AKu sudah memberikan kamu anak, laki-laki lagi. Penerus keluarga, apa kekuranganku?"
Siska berucap dengan nada datar, akan tetapi Nando hanya menatapnya dengan datar. Bahkan ia sepertinya tak bisa menjawab apa yang Siska tanyakan untuknya.
"Dan kamu!" Unjuk Siska tepat di depan wajah Mila.
"Kamu cantik dan pintar, kenapa harus suami saya yang kamu dekati? apa karena suami saya kaya? perempuan murahan seperti dirimu tak pantas ada didunia!" Tegas Siska.
"SISKA TUTUP MULUTMU!"
"APA MAS? APA HAH?!"
Siska menatap nyalang ke arah Nando, tangannya memukul dada Nando dengan keras. Dirinya terisak, tatapannya terjatuh pada netra gelap Nando.
Bukannya menenangkan istrinya, Nando malah menolong Mila yang pingsan. Dia langsung mendorong Siska, karena terkejut Siska tak dapat menjaga keseimbangan tubuhnya sehingga dia menabrak seseorang di belakang.
BRAK!
Alea dan Siska berjatuh bersamaan, terlebih Alea terjatuh dengan pinggang membentur ujung meja.
Alea merasakan sakit di perutnya, sedangkan Amanda langsung menolong menantunya itu.
"Arghhh, s-sakit,"
"Siska, kamu bantu mamah. Biarkan dulu Nando," ujar Amanda.
Tanpa berpikir panjang, Siska langsung membantu Alea berdiri. Wanita itu semakin meremas perutnya dan hak itu membuat Siska dan Amanda khawatir.
Tatapan Siska tak sengaja bertemu dengan Nando yang menggendong Mila, dia melepaskan pegangan Alea dan mendekati suaminya.
"Urus perpisahan kita, karena aku gak sudi punya suami tukang selingkuh kayak kamu!" Tekan Siska.
Siska kembali membantu Alea, mereka berdua sama-sama Alea menuju lift. Namun, saat pintu lift terbuka, mereka dikejutkan dengan Ady yang sepertinya baru akan keluar.
Tatapan Ady terjatuh pada sang istri yang terlihat kesakitan, dia langsung mendekat dan membantu menopang tubuh sang istri.
"Alea kenapa mah?!" Panik Ady.
"Tadi jatuh, udah sekarang kamu gendong istri kamu. Kita bawa ke rumah sakit." Putus Amanda.
Ady menuruti perkataan sang mamah, dia membawa Alea ke gendongannya. Mereka.memasuki.lif, tatapan Ady terjatuh pada wajah Alea yang sangat pucat.
"Sakit mas," ujar Alea dengan nada lirih.
"Sabar yah, kita ke rumah sakit," ujar Ady berusaha menenangkan sang istri.
Setelah keluar dari lift, Ady langsung berlari cepat menuju mobil. Akan tetapi, saat ia akan membuka pintu. Tiba-tuba tangannya terasa seperti ada yang mengalir, tatapannya langsung mengarah ke bawah dan melihat kaki istrinya yang sudah di lumuri darah.
"Mah, ini ... ini apa mah?" Tanya Ady dengan panik.
Tatapan Amanda dan Siska mengarah pada apa yang Ady tujukan, seketika mereka melototkan matanya.
"Istri kamu lagi hamil Dy?!" Kaget Amanda.
"Hamil? Ka-kami belum sempet memeriksanya mah," ujar Ady.
Amanda membuka pintu, dia menyuruh Ady menaruh Alea. Siska pun memasuki mobil di sebelah kemudi. Sementara Amanda menemani menantunya itu di belakang.
"Buruan Dy, mukanya udah pucet banget ini loh," ujar Amanda yang tengah merangkul Alea.
"Iya mah," ujar Ady yang tengah menyalakan mobil.
"Lebih cepat Dy, istri kamu udah pingsan ini loh," ujar Amanda.
Mendengar hal itu Ady bertambah panik, hingga tak sadar air matanya pun turut jatuh.
Akhirnya mobil memasuki pelataran rumah sakit, Ady segera turun dan memanggil perawat.
Alea pun di bawa masuk menggunakan brankar, ketiga orang itu mengikuti kemana suster akan membawa Alea.
"Mohon maaf tuan, nyonya kalian tidak bisa masuk. Biar dokter yang menangani pasien," ujar suster itu.
Ady dan yang lainnya menunggu di depan ruang pemeriksaan. Dengan harap cemas, Ady berdoa agar istrinya baik-baik saja.
"Apa yang sebenarnya terjadi? kenapa istriku bisa seperti itu mah? ini belum waktunya dia ke kantor, tapi kenapa dia ada di kantor?" Tanya Ady sambil menatap sang mamah yang duduk di bangku tunggu.
"Tadi Siska telpon mamah, katanya teman dia melihat Nando bersama perempuan. Mamah langsung ajak Alea, dan saat kami sampe sana sudah sangat ramai," ujar Amanda.
"Terus habis itu ...,"
Amanda menceritakan apa yang terjadi tadi, tubuh Ady mendadak lemas saat mengetahui hal itu. Netranya menatap Siska yang tengah menundukkan kepalanya, dengan perlahan dia pun mendekati sang kakak.
"Dia Mila kak, teman bang Nando yang akan bekerja di perusahaan. Bukan selingkuhan seperti yang kakak kira," ujar Ady.
Siska mendongak, dia terkekeh sinis sambil menatap adiknya.
"Teman? teman tapi mesra begitu? aku lihat dengan mata kepalaku sendiri kalau Mas Nando sedang memeluk wanita itu, aku tidak salah paham Ady! wanita itu membalas pelukan Mas Nando!" Sentak Siska.
"Apa?!" Kaget Ady.
"Oh, atau jangan-jangan wanita itu yang di maksud sahabat oleh Keyla saat persidangan itu?" Tanya Amanda.
Sontak saja tatapan keduanya mengarah pada Amanda.
"Sahabat? sahabat ... temannya Alea?" Heran Siska.
"Iya, berarti wanita ular itu bukan hanya menjerat Nando. Tapi kamu Ady!" ujar Amanda sambil menatap tajam putranya.
Ady menggeleng, dia tak ada hubungan apapun dengan teman istrinya. Mereka hanya beberapa kali bertemu dan hanya sekedar mengobrol, tak lebih dari itu.
"Enggak mah, aku gak pernah ada pikiran buat selingkuhin istriku! sama sekali gak ada mah, bahkan jika aku di suruh memilih anatar berselingkuh dan di tembak aku lebih memilih tertembak mah," ujar Ady.
Cklek!
"Suami pasien,"
Mereka semua mendekat pada dokter itu, Ady yang paling depan karena dia adalah suami dari Alea.
"Gimana keadaan istri saya dok?" Tanya Ady.
Wajah dokter itu mendadak sedih, dia menarik ke bawa maskernya dan menatap Ady dengan sesal.
"Maaf pak, kandungan istri anda masih sangat muda dan sangat rentan. Istri anda mengalami benturan dan hal itu membuat istri anda syok dan berakhir pendarahan, maka dari ini saya katakan jika istri anda ... keguguran,"
Mendengar hal itu, sontak saja Ady terjatuh. Dia luruh ke lantai dengan pandangan kosong, sungguh tak terbayang di benaknya jika dia akan kehilangan calon anaknya.
"Mah ... anakku mah," ujar Ady.
Amanda memeluk putranya, dia berusaha membuat Ady tenang. Ady terlihat sangat rapuh mendengar berita itu, sementara Siska merasa kesal dengan dirinya sendiri yang tak sengaja mendorong Alea.
"Jangan seperti ini, temani istrimu," ujar Amanda.
Ady mengangguk, dia pun mulai bangkit memasuki ruangan itu. Terlihat sang istri sudah sadar dan tengah menahan isakan tangis, Ady langsung menerjang tubuh sang istri dan memeluknya.
"Bayi kita hiks ... aku gagal jadi ibu mas," ujar Alea.
Ady tak kuasa menahan tangis, dia mengusap rambut sang istri dan mengecup keningnya.
"Enggak kamu gak gagal, hanya saja dia belum rezeki kita," ujar Ady.
Kesedihan mereka tak luput dari tatapan Amanda dan Siska, mereka tentu saja sedih. Terlebih Siska yang merasa sangat bersalah.
"Aku akan mengajukan surat gugatan cerai secepatnya mah," ujar Siska.
"Gugatan itu bisa membuat kamu kehilangan Shaka, ingat siapa itu Nando. Ayahnya seorang mentri, kakaknya seorang hakim. Kita tidak bisa gegabah," ujar Amanda.
"Lalu ... aku harus apa?"