
BRAK!
BYUURRR!
Edgar terjatuh dengan baju yang basah, lagi-lagi dirinya kembali di sakiti oleh murid lain. Bukan Edgar tak mampu melawan, dia sadar jika dia harus menjaga nama baik Ady sebagai abang iparnya.
"Gue udah peringatin sama lu, jangan suka cari muka!" sentak Yudha.
"Hahaha, basah kuyup deh tuh jadinya," ujar teman Yudha.
"Cabut!" titah Yudha.
Mereka pun pergi meninggalkan Edgar yang berusaha bangun, dengan santai Edgar melepas baju sekolahnya sehingga kini dia hanya memakai kaos putihnya saja.
"Ck, hanya anak dari seorang kepala sekolah tapi dengan berani menindasku," gumam Edgar.
Edgar pun keluar dari dalam toilet, sekolahnya sudah sepi karena yang lain telah pulang. Edgar pun kembali ke kelasnya, dia mengambil tas dan beranjak untuk pulang.
Sedangkan Razka, dia sedang ada les di luar sehingga dia pulang terlebih dahulu dan Edgar pun memaklumi itu.
Edgar berjalan di lorong sekolah yang sepi, tasnya ia sampirkan di bahu kanan sementara tangan yang lain memegang seragam sekolahnya.
Netranya melihat sebuah mobil, itu adalah mobil sang kakak. Edgar tahu Karena Alea berada di luar mobil sambil melirik arlojinya.
"Ngapain kakak kesini?" gumam Edgar.
Edgar pun menghampiri sang kakak, dia menepuk pundaknya pelan dan hal itu membuat Alea terkejut.
"Kakak ngapain kesini?" tanya Edgar pada Alea yang memegang dadanya karena terkejut.
"Kamu ngagetin aja sih!" kesal Alea.
Edgar hanya diam dengan pandangan datarnya, Alea mulai meneliti baju sang adik di tambah luka lebam di pipinya.
"Loh loh ... ini kenapa baju kamu basah? muka kamu ancur begitu? sayang dong perawatannya kalau di hancurin doang," ringis Alea.
"Kakak lebay deh, udah yuk pulang! aku mau main sama Ara," ujar Edgar dan memasuki mobil.
Alea terbengong, seharusnya dia yang marah mengapa jadi dia merasa yang terabaikan?
Alea akhirnya masuk ke dalam mobilnya, dia harus segera pulang karena saat ini jadwalnya sang putri meminum asi karena dia hanya menyetok beberapa saja dan mungkin sudah habis.
Selama perjalanan pulang, Edgar hanya memejamkan matanya. Tubuhnya sedang tidak sehat, terlihat dari bibirnya yang pucat.
"Kamu sakit?" tanya Alea sambil melirik sebentar sang adik.
"Nggak," jawab Edgar tanpa membuka matanya.
Alea hanya mengangguk, netranya melihat ke arah spion mobilnya. Tepat di belakangnya adalah mobil Dion, sepertinya mobil itu mengikuti Alea.
"Ed, pegangan!" seru Alea dan menambah kecepatan mobilnya.
"Untuk apa sih, kakak ngapa ... AAAAA KAK! YANG BENER DONG BAWA MOBILNYA!"
Edgar sungguh panik ketika dia membuka matanya ternyata mobil Alea masuk ke dalam pasar yang terkenal besar dan cukup untuk di lalui mobil.
"KAK! BANYAK ORANG! KENAPA LEWAT SINI SIH!" panik Edgar.
TIN!
TIN!
TIN!
Alea terus membunyikan klakson, orang-orang pun pada menjauh sehingga mobil ALea terus melaju. Sesekali Alea melihat ke arah spion mobilnya, terlihat mobil Dion masih mengikutinya.
"Pria gak waras!" gerutu Alea.
"Di deketin aja udah baper, dasar payah," lanjut Alea.
Edgar hanya bisa menggelengkan kepalanya, inilah sifat asli sang kakak. Wanita bar-bar yang menjelma jadi seorang wanita karir, dan kini sang kakak telah menjadi seorang ibu yang kembali pada sifat aslinya.
Mobil Alea berhasil keluar dari pasar, kini mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi di jalan raya.
"Hah? penyok? kotor? baret?!" kaget Alea ketika melihat penampakan mobil SUV miliknya.
Terlihat Siska dan Amanda yang keluar dari dalam rumah, mereka sungguh terkejut melihat penampakan mobil Alea yang terlihat kurang baik.
"Kamu abis balap liar?" tanya Amanda dengan tatapan bengongnya.
Alea menggeleng, netranya melihat mobil Ady yang baru memasuki gerbang. Wajah Alea menjadi panik, dia belum izin dengan Ady jika dia akan pergi keluar tadi.
Mobil Ady terhenti di sebelah mobil Alea, dia keluar dan menatap bingung keadaan mobil miliknya yang di pakai oleh sang istri.
"Kok mobil SUV aku bisa begini mah?" heran Ady.
"Ya mamah gak tahu, orang yang bawa istri kamu. Tanya sama dia lah," ujar Amanda.
Tatapan Ady terjatuh pada Alea, sedangkan wanita yang tengah di tatap itu hanya menyengir dan menyenggol lengan Siska yang berada di sebelahnya.
"Kak, cariin alasan dong," bisik Alea.
"Kok kakak sih? kakak ya gak tau," bisik kembali Siska.
Tatapan Ady terjatuh pada Edgar yang tengah berjongkok sambil menyandarkan dirinya. Tubuhnya begitu lemas karena muntah dan tidak enak badan.
Ady pun berjalan mendekati Edgar, tangannya terulur dan memegang dagu Edgar agar meneliti luka lebam yang terdapat di wajah Edgar.
"Abis baku hantam di mana kamu Ed?" tanya Ady.
"Biasa bang, anak karate. Aku lemes banget, kak Alea bawa mobilnya kayak nge prank malaikat maut UHUK!" ujar Edgar dengan lemas.
Mereka kembali mendengar suara kendaraan, tapi kini kendaraan bermotor. Ternyata Razka telah pulang dengan di antar oleh temannya.
"Makasih yah wen," ujar Razka ketika dia turun dari motor.
Razka berbalik dan terkejut ketika melihat keluarganya sedang menatap dirinya.
"Kenapa?" heran Razka.
Tatapan Razka jatuh pada Edgar, selanjutnya dia beralih menatap mobil kesayangan sang abang.
"Mobilnya abis kena adzab bang?" heran Razka.
"Jangan nyeleneh kamu!" sentak Amanda.
Razka menggaruk belakang telinganya, dia melihat Edgar yang sedang berusaha untuk berdiri.
"Ed, lu gak papa? sorry yah tadi gue tinggalin lu, tapi serius deh tadi gue ada les tambahan." ujar Razka sambil berjalan mendekati Edgar.
"Ngomongnya nanti aja, gue lemes banget ini," ujar Edgar.
Razka segera membantu Edgar masuk ke dalam rumah, tak lama Siska dan Amanda jiga mengikuti mereka untuk melihat keadaan Edgar.
Sementara Alea tengah membuat ancang-ancang untuk menghindar dari Ady. Namun, sebelum dirinya sempat melangkah. Ady langsung saja menarik ujung kerah Alea.
"Mau kemana kamu? jelasin tadi habis kemana! baju pakai yang beginian, bikin sakit mata tau gak!" kesal Ady.
Alea meneliti bajunya, ini hanyalah baju sederhana terkesan mewah saja. Untuk apa Ady mempermasalahkan bajunya?
"Kaca mata, tas mewah, mau cari berondong kamu?" selidik Ady.
"Apaan sih mas, orang aku cuma jemput Edgar doang kok," ujar Alea membela diri.
Ady mendelik, sedangkan Alea yang di tatap seperti itu meneguk ludahnya kasar.
"Yakin cuma ke sekolah Edgar aja? terus yang tadi keluar dari Kafe Xx itu siapa? setan?" sinis Ady.
"Mirip sama aku kali mas." ujar Alea sambil mengibaskan tangannya.
Ady berjalan menuju mobil yang tadi Alea gunakan, dia membuka pintu mobil dan mengambil sesuatu di centter mirror.
Ady kembali mendekati Alea sambil membawa sesuatu yang berbentuk kecil di tangannya, dia melihatkan itu tepat di depan wajah Alea.
"Ini CCTV mobil, masih mau nyangkal?"