Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
Episode 91: Kembali ke kediaman Dominic



"Huh akhirnya sampai juga," ujar Alea dengan bernafas lega. Akhirnya mereka sampai di kediaman Dominic.


"ASTAGAA ... KALIAN UDAH DATANG!" Seru Amanda sambil merentangkan tangannya.


Amanda keluar dari rumah sambil di ikuti oleh Ethan, mereka menyambut kedatangan keluarga putra sulung mereka.


"Apa kabar mah," ujar Alea.


"Baik sayang, gimana kabar mu?"


Kedua wanita berbeda usia itu asik cepaka cepiki, sedangkan pria hanya memandang dengan senyuman.


"Tumben Shaka minta gendong?" Tanya Ethan.


"Iya pah, Shaka lagi mabuk udara. Tadi di jet dia muntah jadi lemas," ujar Ady.


Ethan mengangguk-anggukan kepalanya, dia beralih menatap Ara yang berada di sebelah Ady. Anak itu sedang mengerjapkan matanya lucu sambil menatap Ethan.


"Cucu opa, sini sayang." Seru Ethan.


Bukannya mendekati Ethan, Ara malah bersembunyi di belakang tubuh Ady. Tangan kecilnya memegang erat celana yang di gunakan sang ayah.


"Loh, kok malu? masa sama opa malu?" Canda Ethan.


"Ara, ayo salam sama opa. Gak boleh gitu," ujar Ady.


Ara memberanikan dirinya untuk muncul, dia mendekati Ethan dan mencium tangan Ethan.


"Kenapa mukana opa beda?" Tanya ARa sambil mengerjapkan matanya.


"Beda? maksudnya?" Heran Ethan.


"Opa danteng di liat dali dekat," ujar Ara yang mana mengundang tawa semua orang.


"Hahahah, Ady putrimu sangat pandai memuji. Sudah, kita masuk. Kalian pasti lelah kan," ujar Ethan dan mengajak mereka semua masuk.


Mereka semua masuk, Ethan mengarahkan mereka ke ruang keluarga. Ini pertama kalinya setelah tiga tahun Ady dan keluarga kecilnya menginjakkan kaki di kediaman Dominic kembali.


"Wah kalian sudah datang." Seru seorang wanita cantik yang tak lain adalah Siska.


Alea yang baru saja akan duduk mengurungkan niatnya, dia kembali berdiri tegak dan menyambut pelukan Siska.


"Apa kabar kak?" Tanya Alea dengan sopan.


"Baik, kau apa kabar?" Tanya balik Siska.


"Sangat baik," ujar Alea dan melepas pelukan mereka.


Ady, pria itu hanya menatap cuek ke arah istri dan kakaknya. Dia lebih memilih memposisikan tidur Shaka di pangkuannya.


"Halo cantik, masih ingat aunty?" Seru Siska pada Ara yang tengah duduk sambil memakan biskuit yang sebelumnya amanda berikan.


Ara menatap ke arah Siska, dia mengerutkan keningnya berusaha mengingat wanita di depannya ini.


"Nda." Jawab Ara dengan polos.


Raut wajah Siska berubah menjadi tak enak, apalagi Amanda langsung menertawainya.


"Siska, terakhir kali kau bertemu dengannya saat dia berumur 6 bulan. Tentu saja dia lupa," ujar Amanda.


"O-oh iya, dan apakah itu putraku?" Tunjuk Siska pada SHaka yang masih tidur.


Siska mendekati Ady, dia ingin mengambil Shaka dari gendongan Ady. Namun, Ady menahan tangan kakaknya itu dan menatapnya dengan datar.


"Apa kakak tidak lihat dia sedang tidur?" Ujar Ady sambil menarik kembali tangannya.


"Iya, tapi kakak hanya ingin menggendongnya saja," ujar Siska dengan memelas.


"Shaka tidak suka tidurnya di ganggu, apalagi dia sedang tidak enak badan. Tunggulah dia bangun, Alea saja tak tega membangunkannya sedari tadi," ujar Ady dengan nada menohok Siska.


"Mas!" Peringat Alea.


Ady hanya menghiraukan peringatan Alea, dia kembali menatap Shaka yang masih pulas tertidur.


"Kalau gitu pindahkan saja ke kamar, ayo kakak antar dia ke kamar," ujar Siska.


Ady menatap Alea, setelah mendapat anggukan Ady pun pamit untuk menidurkan Shaka di kamar agar badan anak itu tidak sakit.


Sementara Ara, dia masih menikmati makanannya. Banyak sekali makanan di meja, bahkan Ara sampai bingung ingin menyicipi yang mana lagi.


"Ih mamah seneng banget, akhirnya ada anak yang doyan nyemil. Kalau Bella, dia gak suka nyemil. Makanan pun milih-milih dan harus yang dia suka. Kalau Ara, kayaknya semua makanan masuk yah." Antusias Amanda.


"Hahaha, iya mah Ara selalu suka makan. Shaka juga begitu, tapi dia gak terlalu suka makanan manis. Beda sama Ara, bahkan mas Ady menjatah coklat untuk Ara agar giginya tidak rusak," ujar Alea.


"Seneng mamah, jadinya bisa sering stok cemilan buat cucu," ujar Amanda.


Ethan menatap ke arah cucunya itu, dia sedari tadi memperhatikan sang cucu yang makan dengan lahap.


"Berapa berat badannya?" Tanya Ethan.


Ethan menganggukkan kepalanya, dia mengangkat Ara ke dalam gendongannya. Ara hanya anteng dan tidak ribut karena asik dengan makanannya.


"Bunda, udah," ujar Ara.


Alea langsung mengeluarkan tisu basah dari dalam tasnya, dia membersihkan tangan si kecil yang kotor.


"Chaka mana?" Tanya Ara.


"Abang!" Peringat Alea.


Ara memanyunkan bibirnya, Amanda pun menjadi gemas. Dia malah mengunyel-unyel pipi Ara.


"Oma! janan! nanti tambah melal!" Histeris Ara.


Amanda melepas cubitannya, dia menatap Ara yang tengah memegang pipinya sambil menatap ke arah Amanda.


"Hiks ... teltekan cekali pelacaanku," ujar Ara.


ketiga orang itu tertawa menanggapi ucapan Ara, anak itu selalu saja bisa membuat mood orang kembali membaik.


"EKhem!" Dehem Ady.


Ady datang bersama dengan Siska dan juga Nando, mereka akhirnya duduk bersama di ruang keluarga.


"Syukurlah Bang Nando udah sembuh, dan bisa balik lagi kesini," ujar Alea.


"Iya, sekarang abang bisa kumpul lagi sama kalian dan juga Shaka." Ujar Nando sambil menatap ke arah Ady.


Ady menatapnya dengan datar, dia masih merasa kecewa dengan abang dan kakak iparnya.


"PAPAH!"


Mereka semua menoleh ke arah anak kecil kisaran umur dia tahun, terlihat anak itu memegang sebuah boneka sambil mendekati Nando.


Nando dengan sigap membawa sang anak ke pangkuannya, sedangkan anak itu menatap ke arah Ady yang sepertinya dia kenal.


"Om? om, papah itu om?" Tanya anak itu.


"Iya, Ady Alea ... perkenalkan dia putri kami, Arabella dan kami memanggil Bella." Terang Nando.


"Hallo Bella," ujar Alea dengan ramah.


Ady hanya tersenyum tipis, sedangkan Ara dia menatap anak itu dengan seksama.


"Oh iya Bella, kenalan dulu sama Kakak. Tuh ada Kakak Ara," ujar Nando.


Bella menatap ke arah Ara, dia menatap Ara begitu juga dengan Ara.


"Kenapa liatin Ala begitu?" Ketus Ara, dia tak pernah suka di pandang seperti itu.


"Kakak?" Tanya Bella ke Nando.


"Iya itu kakak, kenalan dulu," ujar Nando.


Bella turun dari pangkuan Nando, dia berjalan ke arah Ara dengan membawa bonekanya.


"Kakak ayo main," ujar Bella, seperti anak kecil pada umumnya. Dia hanya menatap Ara dengan pandangan polosnya.


"Main apa?" Tanya Ara yang kepancing dengan ajakan main.


"Ini," ujar Bella.


Ara melihat ke arah boneka Bella, itu adalah boneka yang dulu dia ingin beli. Namun, sayangnya hanya satu. Boneka itu sangat mahal dan limited, sehingga waktu itu Ady gagal mendapatkannya.


"Bonekana bagus," ujar Ara.


Ady menatap boneka yang ponakannya pegang, dia ingat boneka itu. Bahkan Ara sampai sakit selama seminggu karena dia tidak dapat boneka tersebut. Padahal Ady sudah membayar mahal agar di buatkan kembali, tetapi perusahaan terkenal itu tak dapat produksi kembali.


"Iya, ini di kacih eyang buyut," ujar Bella.


Ady khawatir putrinya akan menangis dan mengambil boneka Bella, itu akan semakin membuat suasana tak enak.


"Ala juga punya, modelna milip di belikan eyang buyut juga," ujar Ara.


Ady menghela nafas lega, putrinya tak seperti yang dia pikir. Biasanya anak-anak akan berebut mainan, tetapi tampaknya Ara mengerti posisinya.


"Ayo main, Bella puna mainan anyak kak," ujar anak itu.


Ara akan menjawab, dia menatap terlebih dahulu sang ayah untuk meminta izin.


"Boleh, tapi jangan rebutan yah. Kalau Ara mau pinjam, izin dulu. Jangan di rusak okay," ujar Ady memperingati sang anak sebelum dia bermain.


Ara tersenyum lebar, dia segera menggandeng lengan Bella dan mereka pergi dari ruang keluarga.


"Manis sekali, di tambah lagi kalau Shaka kembali tinggal sama Kakak. Akhirnya, waktu yang kakak tunggu tiba juga," ujar Siska.


"Tiba apanya? ingat kak, kakak telah memberikan Shaka padaku sampai umurnya lima tahun. Apa kau tak ingat?"