
"Boy, dengerin papa. Jangan suka masuk kulkas, kalau itu pintu ketutup. Kamu mati di sana tau!" Peringat Ady pada putranya yang asik memakan coklat di pangkuannya.
"Boy nda nakal," ujarnya dengan enteng.
"Gak nakal apanya, waktu bayi baru bisa merangkak aja kamu sering hilang. Ketemu-ketemu ada di closet kamu, entah gimana caranya kamu naik Sky ... sky." Ujar Ady sambil menggaruk kepalanya.
Tatapan Ady beralih pada karpet berbulu, di sana ada putrinya dan juga Shaka yang sedang menonton kartun kereta.
"Shaka sudah berumur 5 tahun, sebentar lagi kak Siska akan kembali mengambil Shaka. Bagaimana dengan Ara? dia pasti sedih karena harus berpisah dengan Shaka." Batin Ady.
Melihat Ara dan Shaka yang begitu dekat bak anak kembar membuat Ady khawatir jika suatu saat mereka harus terpisah. Ady tak berhak mengambil hak asuh Shaka selama orang tua kandungnya masih ada.
"Ayah! itu adek muntah yah!" Teriak Ara.
Ady tersadar sari lamunannya, entah sejak kapan Ara berjalan mendekatinya dengan raut wajah yang panik. Setelah itu dia menunduk, betapa terkejutnya Ady melihat Sky yang sudah muntah-muntah bahkan mengenai tangannya. Namun, kenapa Ady tak merasa jika ada muntahan sang anak di tangannya?
Shaka berlari mengambil tidur di meja dan memberinya pada Ady. Ady dengan sigap menampung muntahan SKy karena anak itu kembali memuntahkan isi perutnya.
"Ara, panggil bunda!" Titah Asy.
Ara berlari ke dapur untuk memanggil sang bunda, sementara Shaka berlari ke dapur juga untuk mengambil baskom.
"Sky kenapa mas!" Sentak Alea saat menemui mereka, bahkan apronnya belum ia lepas karena sangking panik nya.
"Aku gak tahu, tolong kamu cari minyak angin ke atau apa buat meredakan mualnya. Masuk angin kayaknya," ujar Ady.
"Yaudah sebentar " Alea pun pergi ke kamar untuk mencari minyak angin.
Shaka kembali dengan baskom, sehingga Ady mengambil baskom itu dan membuang muntahan Sky padanya.
Sky di arahkan oleh Ady untuk muntah di baskom itu, tetapi Sky menggeleng sambil menangis. Sepertinya ia tak ingin muntah lagi, sehingga Ady menjauhkan baskom itu.
Namun, baru saja Ady menjauhkan baskom itu. Sky kembali muntah sehingga Ady harus menggunakan tangannya lagi untuk menampungnya karena tak sempat mengambil baskom yang ia sudah taruh di meja.
"Ini mas minya anginnya," ujar Alea.
"Kamu ambil Sky, bawa ke kamar mandi. Ganti bajunya dan pakaikan minya angin, aku cuci tangan dulu." Titah Ady.
Tanpa banyak protes, Alea mengambil Sky dari pangkuan Ady. Dia membawa Sky ke kamarnya. Sementara Ady, sibuk membersihkan tangannya.
Ady membawa baskom itu ke dapur, tak lupa dia mencuci tangan. Bukan hanya kali ini Ady menghadapi hal seperti ini, Ara juga dulu pernah seperti ini jadi Ady tak terlalu panik dan mencoba untuk tenang.
"Bang."
Ady menoleh, dia mendapati Edgar tengah mendekatinya sambil membawa gelas kosong. Pasti remaja yang beranjak dewasa itu ingin mengambil air minum.
"Sudah selesai tugas kuliahnya?" Tanya Ady sambil mengeringkan tangannya dengan tisu.
"Sudah, itu baskom apa bang?" Tanya Edgar.
Ady melirik baskom yang masih berada di cucian piring. "Oh itu, tadi bekas muntahan Sky. Jadi abang bersihin," ujar Ady.
"Sky muntah? salah makan apa gimana? perasaan dari pagi dia gak jajan di luar deh " Bingung Edgar.
Sky memang pernah makan jajanan luar, awalnya biasa saja seperti yang saudara lainnya makan. Namun, berbeda dengan Sky. Anak itu tak bisa memakan jajanan luar pasti selalu berakhir batuk, demam atau bahkan muntah.
"Emang gak ada jajan hari ini, tadi siang Ara memang jajan cimol depan kompleks tapi makannya di kamar sedangkan Sky main sama Blacky. Abang belum tahu pasti, coba kamu hubungi dokter suruh kesini," ujar Ady.
Edgar mengangguk, untungnya dia menyimpan nomor dokter anak.
Ady naik ke kamarnya, di dalam ALea sedang membaluri Sky minyak angin. Kini anak itu tak memakai baju, hanya popok saja karena Alea bari saja me-lap tubuh anaknya dengan air hangat.
Mungkin karena sangking enaknya pijitan Alea di perut Sky, sampai-sampai bayi itu tertidur dengan damai.
"Sky kenapa? kok merem gitu? pingsan?!" Panik Ady.
Alea menoleh sejenak. "Enggak, tidur kayaknya. Mungkin lemes banget," ujar Alea.
Ady menghela nafasnya pelan, dia berjalan menuju ranjang dan duduk di tepi. Tangannya mengelus rambut kecoklatan putranya itu dengan sayang.
"Apa Sky keracunan yah mas?" Tanya Alea.
Alea menatap arah lain, dia seperti memikirkan sesuatu. "Apa jangan-jangan karena dia makan susu bubuk, jadi pencernaanya bermasalah?"
Ady mengiyakan ucapan istrinya, bisa saja Sky keracunan akibat terlalu banyak mengkonsumsi susu itu bahkan satu kaleng habis.
"Kamu susuin Sky dulu, kali aja bisa di netralin sama asi." Titah Ady.
Alea menurut, dia lebih dulu memakaikan Sky baju hangat. Setelah itu Alea merebahkan dirinya dan membuka tiga kancing baju atasannya.
Alea mengeluarkan nutrisinya, Ady oun membantu memposisikan Sky untuk menghadap Alea.
Alea mengarahkan ujung nutrisinya para mulut Sky, walau tertidur anak itu tetap menerimanya dan meminumnya.
Alea tersenyum, dia mengusap rambut putranya. Ady menatap dua kesayangannya itu dengan rasa sayang.
TOK!
TOK!
TOK!
"Bang, kak! ini dokternya udah dateng!" Seru Edgar.
Ady beranjak dari duduknya, dia berjalan menuju pintu dan sedikit membukanya.
"Sebentar, Sky lagi nyusu," ujar Ady.
"Oh, iya bang," ujar Edgar dan pergi dari depan pintu.
Ady kembali menutupnya, dia berbalik dan melihat istrinya itu sedang merapihkan pakaiannya.
"Sudah?" Tanya Ady.
"Gak tahu, sama Sky udah di lepas. Entah kenyang apa perutnya gak enak," ujar Alea.
Ady mengangguk, dia oun membuka pintu dan mempersilahkan kan dokter naduk untuk memeriksa Sky.
***
Gimana dok keadaan Sky?" Tanya Ady saat mengantarkan dokter itu ke pintu utama setelah tadi memeriksa Sky.
"Makan susu bubuk tidak lah berbahaya tuan, tetapi Sky terlaku banyak memakannya bahkan tadi katanya sampe habis satu kaleng ya ... hahaha,"
Ady ikut tersenyum, putranya memang ajaib. Sehingga dokter di hadapannya ini heran dengan kelakuan ajaib putranya.
"Tapi tenang aja oak, mungkin perutnya bergejolak karena terlalu banyak memakannya. Selalu banyak di minumin air putih saja," ujar dokter.
"Masih asi kan?"
Ady mengangguk, Sky belum genap 2 tahun dan Alea belum melepaskan asinya. Tapi bertahap, Ady mengenalkan susu formula pada putranya itu.
"Nanti kalau keadaannya semakin parah, misal muntah-muntah kembali dan lebih para dari sebelumnya. Saya sarankan untuk langsung di bawa ke rumah sakit, karena di takutkan pencernaannya yang terganggu." Pinta sang dokter
"Baik, terima kasih dok sudah menyempatkan waktu disini,"
Mereka berjabat tangan sebelum dokter itu pulang. Setelah memastikan dokter pulang, Ady kembali ke kamar.
Di kamar, ada Ara dan Shaka yang menemani Sky serta bundanya. Sky sedang menyusu karena baru saja nangis karema dokter itu menyuntikkannya obat. Jurus ampuh menghentikan tangisan anak itu adakah susu.
Alea tak menampakkan nutrisinya pada Shaka dan Ara, walau dulunya mereka menyusu juga tapi tak baik untuk menunjukkan nya pada anak balita. Sehingga Alea sellau mamakai kain penutup, dan untungnya Sky tak pernah rewel jika menyusu dengan tertutup.
"Ara, Shaka. Tidur yuk, udah malem." Ajak Ady.
Shaka dan Ara menurut, mereka turun dari tepat tidur dan menggandeng lengan Ady. Shaka di sebelah kanan, sedangkan Ara di sebelah kiri.
Ady menoleh sejenak pada istrinya. "Mas temenin mereka tidur dulu, kalau Sky rewel panggil mas yah," ujar Ady yang di balas anggukan oleh Alea.
Malam aku up lagi yah buat ganti yang kemarin, mudah-mudahan kondisiku sudah fit kembali 😁😁