Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
Episode 49: Gimana dengan Arga?



Alea tengah memakaikan baju Ara, sehabis mandi tadi Ara tak hentinya menangis. Alea sangat pusing, dia tak tau harus apa. Malah Ady ada urusan penting yang mengharuskannya pergi di hari minggu.


"Iya-iya, sebentar lagi nak. Kok rewel banget sih," ujar Alea dengan sedikit kesal.


"Dah, dah! udah,"


Ara telah selesai memakai baju, tapi tangisan bayi itu belum juga berhenti. Suhu tubuh Ara juga normal, tetapi mengapa bayi itu terus menangis.


Alea sudah mencobanya untuk memberikan asi, tetapi bayi itu malah melengoskan wajahnya pertanda ia tidak mau.


"Alea, kenapa Ara menangis terus?" tanya Amanda yang memasuki kamar Alea yang terbuka.


"Ini mah, ngambek kayaknya karena pas Ara bangun mas Ady udah berangkat. Jadi dia kesal," ujar Alea.


Amanda tersenyum, cucunya sangat lengket dengan Ady. Mungkin karena anak perempuan, jadi Ara lebih manja dengan ayahnya.


"Sini, sama oma yuk. Itu ada temen arisan oma, yuk sayang." Ajak Amanda pada cucunya itu.


"Jangan mah, nanti ngerepotin," ujar Alea merasa tidak enak.


Amanda menggeleng, dia membawa Ara ke gendongannya. Tangisan bayi itu sedikit mereda, netranya menatap sang bunda dengan berkaca-kaca.


"Enggak udah, kamu lakuin aktifitas kamu. Biar Ara sama mamah dulu," ujar Amanda.


"Yaudah deh, tapi kalau Ara ngerepotin bawa kesini lagi ya mah," ucap Alea.


"Tenang aja, udah yah ... bye bunda ... Ara mau main dulu,"


Amanda membawa Ara ke ruang tamu, di sana berkumpul teman-teman sosialitanya. Mengadakan arisan sambil berbincang mengenai banyak perkara.


"Aduhh, sorry ya jeng. Cucu lagi rewel karena di tinggal ama bapaknya," ujar Amanda.


Kelima orang itu melihat ke arah Amanda yang tengah menduduki dirinya, Ara di arahkan pada mereka sehingga dengan jelas dapat melihat wajah imut Ara.


"Anak siapa jeng? setahuku cucu kamu laki-laki, kok mukanya kayak gak asing yah," ujar ibu Vanes.


"Iya, setahuku juga gitu. Kan putraku teman bisnis menantumu," ujar ibu Wendy.


Amanda tersenyum bangga, dia memperlihatkan Ara yang menatap sekitarnya. Hidung mancung bayi itu terlihat merah, kedua pipi putihnya masih terlihat bekas air mata.


"Gemes banget jeng, pengen cubit rasanya!" ujar bu Irma.


"Ya jangan, bisa ngamuk si Ady kalau tahu anaknya di cubit," kata Amanda yang mana hal itu membuat mereka memekik kaget.


"APA?! ADY? SEJAK KAPAN DIA NIKAH? KOK AKU GAK DI UNDANG SI JENG?"


Amanda terkejut mendengar pekikan keras temannya, Ara juga terkaget hingga wajahnya pias karena terkejut.


"EKHEE ... EKHEEE ... EKHEEE,"


"Nah kan, cup-cup." Amanda kesal karena ulah temannya sang cucu kembali menangis.


Saat Amanda asik menenangkan Ara, dan teman-temannya memperhatikan bayi kecil itu datanglah Ady dengan sedikit tergesa-gesa.


"Mah," panggil Ady.


Amanda menoleh, dia menatap Ady dengan raut wajah panik. Sedangkan Ara, ketika mendengar suara sang ayah dia menghentikan tangisnya walau dirinya belum menatap Ady.


"Sini sama ayah sayang, uuhhhh kesel sama ayah yah." ujar Ady sambil membawa putrinya itu ke gendongannya.


Ady menimang Ara ke kiri dan kanan, dia menepuk punggung sempit putrinya seraya menggumamkan kata maaf.


"Aku pamit ke ruang bayi dulu mah," ujar Ady dan berlalu dari sana.


Teman-teman Amanda masih terheran, mereka menatap Amanda dengan pandangan bertanya. Mereka tak menyangka jika Ady sudah memiliki anak, mereka mengiranya jika Ady pria dingin yang masih menginginkan status single nya.


"Elmira Chiara Zeinaya Dominic, putra pertama Ady. Ternyata putraku sudah menikah tiga tahun yang lalu, dan Ara bayi mungil itu adalah putri pertamanya dengan istrinya yang bernama Alea." Terang Amanda.


"Dari keluarga mana jeng?" tanya bu Irma.


"Hati-hati loh jeng, biasanya kalau dari keluarga sederhana selalu punya niatan morotin harta," ujar ibu Vanes.


Amanda menggelengkan kepalanya, dia percaya tak semua orang seperti itu. Contohnya menantunya, biarpun Dominic keluarga kaya tetapi Alea tak pernah menghamburkan uang dengan percuma.


"Jangan begitu bu, justru yang dari keluarga kaya biasanya matrenya kelewatan. Iya ga jeng Amanda?" Bela ibu Wendy.


"Benar, jangan melihat dari luarnya saja. Nyatanya hubungan putraku dan istrinya adem-adem aja tuh," ujar Amanda.


***


"Jadi gimana mas? kamu sudah kirim bukti itu pada pihak kepolisian?" tanya Alea di sela dirinya melipat baju Ara.


Ady yang kini tengah memberikan telunjuknya untuk di genggam sang putri pun terhenti.


"Sudah, mereka akan segera memprosesnya. Papah dan kakek juga sudah tahu apa yang kamu alami, mereka mengirim pengacara terbaik agar memberatkan hukuman Keyla. DI tambah dukungan dari para istri yang suaminya Keyla rebut, apalagi kasus korupsi kayla di kantor lamamu. Aku jamin dia akan sangat lama di penjara," ujar Ady.


"Aku tidak mau ikut sidang," ucap Alea.


"Kenapa?" Tanya Ady dengan bingung.


Alea menghembuskan nafas lelah, dia menaruh pakaian yang telah di lipat ke tumpukan yang lain.


"Aku capek sama urusan sidang gitu, lama banget. Di wakilin boleh gak?" Tanya Alea.


"Kamu kan sebagai korban Al, hakim pasti minta penjelasan dari kamu." Sahut Ady.


Alea menghembuskan nafas lelah, dia mengangguk pasrah dan kembali fokus dengan acara melipatnya.


Mereka kembali sibuk dengan apa yang mereka lakukan, Ady yang tengah memperhatikan Ara yang di tengkurapkan sehingga bayi itu berusaha menahan kepalanya. Dan Alea yang merapihkan lemari kecil Ara.


"Ekhee ... ekhee." Ara sudah lelah, Ady terus mengerjainya. Padahal ia belum terlalu sanggup tengkurap dan menahan kepalanya.


"Mas jangan di paksa, kasihan. Kepalanya masih belum kuat," ujar Alea.


Ady tersenyum lalu mengangguk, dia membalikkan tubuh putrinya sehingga tampaklah wajah Ara yang memerah.


"Ututu, sesak yah dek," ujar Ady.


"Oaaa ...." Celoteh Ara.


Alea menggeleng, dia mendekati putrinya dan melihat telinga sang putri yang sehabis di tindik beberapa waktu lalu.


"Kenapa?" Tanya Ady.


"Enggak, takutnya merah. Soalnya kemarin sempet merah, tapi sekarang udah enggak," ujar Alea.


Ady pun turut ikut melihatnya, dia mengelus telinga putrinya. Dia teringat saat itu ARa menjerit kesakitan, dia tahu pasti sangat sakit sekali.


"Oh iya, gimana sama keadaan Adik Arga?" tanya Alea setelah ia teringat kembali.


Ady mendengus kesal saat istrinya bertanya tentang musuh bebuyutannya.


"Tidak bisakah kau bicara yang lain? makhluk astral itu sudah lama tidak menggangguku dan dunia ini terasa sangat adem, kenapa kau membahasnya lagi?" Kesal Ady.


"Bukan begitu, aku hanya terlampau khawatir saja," ujar Alea.


Ady menghembuskan nafas lelah, bagaimana pun juga Arga adalah anak dari sahabat orang tuanya. Sedari kecil mereka memang selalu merasa di bandingkan sehingga berusaha untuk menjatuhkan satu sama lain.


"Aku gak tau, besok saja kita berkunjung ke rumahnya saat jam makan siang. Aku tak ingin bertemu dengannya, tapi karena kau memaksa yasudah besok kita mengunjunginya," ujar Ady.


"Aku gak maksa loh mas, kan tadi cuman nanya," ujar Alea yang merasa heran.


Ady mematung, dia kesal dengan istrinya yang malah meledek dirinya.


"Huh?!" Delik Ady.