Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
S2: Panggil Ala kakak!



Cklek!


Alea yang sedang bermain dengan Sky di atas brankar menoleh pada pintu yang baru saja terbuka. Terlihat, Ady masuk sambil menggendong Shaka dan menggandeng Ara.


Ya, tadi setelah sampai di parkiran rumah sakit Ara terbangun dan Shaka yang masih tertidur. Sehingga Ady memutuskan untuk menggendong Shaka karena dirinya pikir mungkin saja bocah itu lelah.


"Shaka kenapa mas?" Tanya Alea.


"Biasa, tidur," ujar Ady.


Alea menggeser Sky agar Shaka di baringkan di sana, infus Sky belum dokter lepas karena keadaan Sky belum terlalu membaik.


"Taruh di sebelah Sky mas," ujar Alea.


Shaka di tempat kan di sebelah Sky yang sedang duduk, bocah itu mengamati Shaka yang sedang tertidur.


"Bang kit? kit nda?" Tanya Sky sambil menunjuk Shaka.


Alea tersenyum, dia mengelus rambut putranya dengan sayang.


"Enggak, abang bobo," ujar Alea.


"Bo? Ala nda bo ga?" Tanya Sky.


Alea terkekeh, dia mengerti bahasa Sky. Anak itu bertanya apakah Ara tidak bobo juga? Padahal SKy sudah di ajarkan untuk memanggil Ara kakak, tetapi anaknya tetep kekeuh memanggil Ara.


"Ala ... Ala ... ciapa Ala?! Kakak! Ala macukin lagi nih ya ke pelut bubda! huh, teltekan cekali pecalaanku!" Sewot Ara yang kini duduk di sofa.


Ady menggelengkan kepalanya, dia ikut duduk di sofa dan merangkul putri kecilnya. Ady mencium gemas pipi gembil Ara yang sedikit kemerahan itu.


"Gimana adeknya mau manggil kakak, orang Ara selalu panggil diri sendiri Ara. Coba belajarlah panggil diri sendiri kakak," ujar Ady.


Ara mendelik menatap Ady, hal itu membuat Ady terkekeh sebab delikan putrinya begitu lucu di matanya.


"Aneh ayah! mical, ayah ... kakak mau jajan cempol. Ala belasa kayak kakakna ayah!" Seru Ara.


"Ya kan enggak gitu konsepnya sayang," ujar Ady.


"Kenapa jadi Ala yang suluh panggil kakak, culuh Cky panggil kakak." Kesal Ara.


Ady menghela nafasnya, dia mengangkat Ara ke pangkuannya. Di belainya rambut pendek putrinya yang di hiasi oleh jepitan rambut yang sangat cantik.


"Oh iya, ayah mau tanya. Tadi di rumah onty, makannya banyak gak?" Tanya Ady membuka pembahasan mengenai tadi.


"Nda," ujar Ara tanpa berpikir.


"Enggak? kok enggak?" Tanya Ady dengan kening mengerut.


Ara menyandarkan badannya pada dada bidang sang ayah, dia memainkan kancing kemeja Ady.


"Tadi Chaka nambek, dia ngambil paha ayam. Chaka cuka paha ayam, telus pas mau di makan Bella duga mau," ujar Ara.


"Paha ayam ada dua sayang, kan bisa satu-satu," ujar Ady.


"Nda ada satunaaa!! di obok-obok di cali nda ada, nda tau ... jatuh di jalan kayakna," ujar Ara.


Alea pun turut mendengar cerita putrinya, dia juga heran. Dia paham dengan Shaka yang sangat menyukai paha ayam, seharusnya Siska paham kesukaan Shaka itu menurun dari siapa.


"Terus abang marah?" Tanya Ady.


Ara menggeleng. "Nda, abang nda malah. Cuman ... nda enak makan telus kelual. Telus Ala bujuk mau macuk lagi tapi nda makan, cuman nemenin Ala doang," ujar Ara.


Ady dan Alea saling tatap, kemudian tatapan mereka beralih pada Shaka. Alea mengelus kepala Shaka yang sedang tertidur nyenyak, berdasarkan cerita Ara itu artinya putranya belum makan padahal hari sudah sore.


"Yang, Shaka belum makan. Disini ada makanan gak?" Tanya Ady.


"Ada, makanan siang tadi sisa satu box. Tapi udah dingin, kasihan Shaka kalau di kasih yang dingin," ujar Alea.


"Aku belikan yang baru yah, ada sate di depan rumah sakit," ujar Ady.


"Nanti aja, Shaka bangun kamu ajak dia ke rumah mamah Tiara. Titipin mereka di sana, setidaknya kalau di sana ada Gehna sama mamah Tiara yang jaga." Pinta Alea.


Ady terdiam, mencoba menimbang keputusan istrinya. Dia berpikir, ada benarnya Ara dan Shaka di sana sebab Gehna selalu bisa mengajak keduanya bermain.


"Oke deh! Ara nanti ke rumah oma mau?" Tanya Ady pada putrinya setelah menyetujui keinginan istrinya.


Wajah Ara berbinar, dia menegakkan tubuhnya dan menatap Ady dengan tersenyum lebar.


"Lumah Oma Tiala?" Tanya Ara.


"Iya," ujar Ady.


"MAU! MAU!"


Ady terkekeh gemas, dia memeluk putrinya dan melabuhkan kecupan sayang.


***


Sekitar jam 7 sore, Ady mengantar SHaka dan Ara ke rumah Tiara. Namun, sebelum itu dia mampir dulu ke sebuah resto. Shaka baru saja bangun dan pastinya lapar, sekalian mereka mampir untuk makan.


"Kita makan ayah?" Tanya Shaka yang kini menggandeng tangan Ady memasuki Resto.


Sedangkan Ara, bocah itu sudah berlari ke arah kasir untuk memesan makanan.


"Iya, Shaka siang tadi belum makan kan?" Tanya Ady.


"Udah kok." Ujar Shaka sambil menutupi ekspresinya.


Ady menghentikan langkahnya, dia menatap Shaka yang juga tengah menatapnya. Terkejut karena Shaka berbohong, padahal anak itu selalu berkata jujur kecuali soak satu ini.


Di perhatikannya Shaka, anak itu memilin celana yang ia kenakan sambil menatap Ady. Ady mengerti, ketika anak itu gugup pasti memilin celananya seperti yang ia lakukan saat ini.


"Shaka kenapa bohong? ayah tahu, tadi Shaka gak makan siang." Tanya Ady.


"Maaf ayah, Shaka gak mau ayah sama mamah berantem," ujar Shaka dan menundukkan kepalanya.


Ady memejamkan matanya sejenak dan kembali membukanya, dia heran di buat dari apa hati SHaka. Berkali-kali Siska menyakitinya, tetapi Shaka tetap membelanya. Bahkan rela berbohong demi menutupi kesalahan SIska.


"Lain kali jangan berbohong, ayang enggak suka anak yang suka berbohong. Mengerti Shaka?!" Peringat Ady dengan halus.


Shaka mengangguk. "Sorry ayah." ujar Shaka sambil menatap Ady dengan wajah memelas.


"Hem, kali ini ayah maafkan. Tidak ada lain kali okay! ayo masuk, Ara pasti sudah memesankan makanan," ujar Ady.


Selang beberapa kama, kini ketiganya sudah makan. Ady juga membungkus beberapa menu untuk ia bawa ke rumah sakit.


Ady pun mengantarkan keduanya ke rumah Tiara, tetapi lagi-lagi di jalan Ady berhenti di sebuah supermarket.


"Kenapa kita kesini yah? oma titip apa?" Tanya Shaka.


"Enggak, kita masuk ke dalam. Ambil keranjang masing-masing, masukin cemilan yang kalian suka. Supaya di rumah oma kalian gak minta jajan, ayo masuk," ujar Ady.


Dengan bingung, keduanya pun masuk. Ara dan Shaka mengambil keranjang masing-masing, mereka berkeliling mencari jajan.


"Ayah, Shaka boleh ambil ini?" Tanya Shaka menunjuk sebuah ciki kecil.


"Ambil, ambil yang Shaka suka. Jangan yang kecil, sekalian yang besar supaya Shaka kenyang," ujar Ady.


Dengan ragu, Shaka mengambil yang besar. Karena Ady melihat keraguan Shaka, dia mengambil ciki yang besar lainnya dan menaruhnya di keranjang Shaka. Biarlah kali ini saja anaknya itu makan ciki lumayan banyak, lain kali Ady lebih memperhatikan kesehatan keduanya.


Shaka yang melihat Ady mengambil banyak jajan ke keranjang nya menjadi berani untuk mengambil apa yang dia suka.


"Nah gitu, ambil yang Shaka suka. Lihat noh Ara sudah mengambil keranjang yang lain," ujar Ady.


"Heum!" Seru Shaka dan melanjutkan memilih.


Ady hanya mengikuti keduanya dari belakang, dia mengamati apa yang kedua anak itu ambil. Dia sengaja mengajak keduanya agar melupakan dengan kejadian yang tak mengenakkan siang tadi.


Setidaknya setelah dia ajak kesini Shaka kembali tersenyum dan mengambil apa yang dia suka tanpa rasa takut.


Saat makan di resto tadi, Ady mengamati jika Shaka seperti takut saat mengambil makanan yang tersaji. Ady takut kemungkinan anak itu trauma dengan perlakuan Siska, walau hanya perlakuan yang tidak di sengaja dan sederhana tetapi berdampak pada psikis Shaka.


Ady melihat bola coklat, itu adalah kegemaran Sky. Dia pun mengambilnya beberapa box dan memasukkannya ke keranjang yang ia bawa, tak lupa dirinya mengambil cemilan untuk Alea.


Oh ya, terima kasih atas doa nya dan bantuan kalian😘.