
Jari jemari Ady tengah menari indah di atas keyboard, ia sedang fokus menyelesaikan pekerjaannya karena sebentar lagi waktu pulang akan tiba.
Tok!
Tok!
Tok!
Pintu terketuk, Aciel yang duduk di hadapan Ady pun bangkit dan membuka pintu tersebut.
"Tuan, ada yang ingin bertemu denganmu." Ujar Aciel sambil melebarkan pintu.
Ady mengangkat kepalanya, otomatis ketikannya terhenti ketika pandangannya bertubrukan dengan wanita paruh baya.
Ady pun berdiri, dia tersenyum dan mendekati wanita itu.
"Apa kabar tante? ada keperluan apa sampai-sampai kau menghampiriku disini?" Tanya Ady dengan sopan.
Wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah Tiara pun membalas senyuman Ady, Ady mengajak duduk Tiara di sofa yang berada di sana. Sedangkan Aciel, dia kembali mengerjakan tugasnya yang sempat tertunda.
"Tante mau minum? aku akan pesankan ...,"
"Tidak, tante kesini hanya ingin menanyakan sesuatu." Sela Tiara.
Ady mengangguk kaku, di dalam hatinya dia sangat khawatir jika Tiara mengetahui kebenaran tentang Alea.
"Boleh tante tau dimana pertama kalinya kamu bertemu Alea?" Tanya Tiara dengan serius.
"Buat apa yah tan? itukan privasi Ady tan," ujar Ady yang sedikit keberatan.
"Maaf kalau soal itu, yasudah siapa nama ayah dari Alea?" Tanya kembali Tiara.
Ady terdiam, dia tak suka dengan cara Tiara mendesak pertanyaan dengan pertanyaan lagi.
Dertt!
Dertt!
"Ehm, maaf aku terima telfon dulu." Ujar Ady sambil mengambil ponsel yang berada di sakunya.
"Halo Al, ada apa?" Tanya Ady.
"Kapan pulang? Ara merengek mencarimu, aku sudah alihkan perhatiannya tetapi dia malah menangis sembari menatap pintu berharap kamu pulang," ujar Alea.
"Yah ... ekhee ... hiks ... yah yah,"
Ady terkejut karena tak biasanya putrinya itu rewel saat dia di kantor, Ady juga mendengar isakan putrinya yang begitu memilukan.
"Iya, aku akan pulang sekarang." Putus Ady.
Tatapan Ady mengarah pada Tiara, dia memasukkan ponselnya dan juga mengambil jasnya yang memang berada di tangan sofa.
"Maaf yah tan, aku harus pulang," ujar Ady.
Saat Ady baru saja berbalik, suara Tiara membuat langkahnya terhenti.
"Kenapa kau selalu mencoba menghindari pertanyaan tante?" Ucap Tiara yang kini sudah berdiri sambil menatap punggung Ady.
Ady terdiam sebentar sebelum membalas ucapan Tiara.
"Tak semua hal harus ku beri tahu, termasuk privasi istriku. Tante tidak berhak sama sekali," ujar Ady dan segera membuka pintu kantornya.
Ady pun keluar, dia tak peduli jika Tiara akan marah dengannya. Dia masih menimang-nimang tentang kebenaran itu, dirinya takut ini menjadi hal yang membuat Alea terkejut sekaligus beban pikiran.
Sesampainya di parkiran, Ady langsung menaiki mobilnya. Dia menjalankan mobilnya membelah kerumunan kendaraan.
Sedangkan di rumah, Alea sibuk menenangkan Ara. Sedangkan Shaka, bayi itu asik bermain dengan mainannya.
"Yah ... yah hiks ...,"
"Iya sayang, ayah lagi pulang," ujar ALea.
Ara sepertinya tak mau mengerti, dia terus menangis keras hingga suaranya serak. Alea bingung harus apa, sudah di beri asi dan mainan tetapi tetap saja putrinya memanggil ayahnya.
Bell rumah Alea berbunyi, dengan menggendong Ara dia bergerak ke arah pintu.
"Ya ... sia ... Dion?"
***
Mobik Ady memasuki komplek rumahnya, dia mengernyitkan alisnya ketika melihat sebuah mobil yang terparkir di depan rumahnya.
"Mobil siapa itu? ku rasa tidak asing." Gumam Ady.
Ady pun memarkirkan mobilnya di belakang mobil itu, dia turun dan mendekati gerbang. Baru saja ia membuka gerbang, sudah terdengar teriakan ALea.
"JANGAN GILA KAMU! PERGI KAMU!"
Ady pun segera berlari dan melihat istrinya yang tengah berusaha melepaskan diri dari tarikan Dion.
Ady pun langsung menerjang tubuh Dion dengan tendangannya, Alea yang melihat suaminya pun langsung memeluknya dengan erat. Ady juga membalas pelukan Alea tak kalah erat, dia merasakan istrinya sangat ketakutan.
"Ngapain kau disini?" Tanya Ady dengan menatap tajam Dion.
Dion balik menatap tajam Ady.
"Alea harusnya menikah denganku! bukan denganmu! Aku yang menemaninya saat itu, seharusnya kalian bercerai!" Sentak Dion dengan kencang.
"Apa kau tidak waras? kau tidak bisa lihat jika kami telah memiliki anak? apa kau mau memisahkan ibu dari anaknya?" Geram Ady.
"Aku tak peduli, Alea harus menjadi milikku!" Sentak Dion.
Ady menggelengkan kepalanya, dia tak habis pikir dengan jalan pikir Dion. Dia kira, Dion tak lagi mengganggu istrinya. Namun, dirinya salah menilai Dion. Pria itu tak akan berhenti sebelum keinginannya terpenuhi, dia bisa berbuat hal yang bahkan melebihi apa yang ia perbuat sekarang.
"Kau bisa mencari wanita lain, yang bahkan lebih baik dan lebih cantik dari aku? Aku mohon Dion, aku gak bisa," ujar Alea dengan nada memelas.
"Alea, dengan mudahnya kamu jadikan aku pelarian di saat kamu jengah dengan suamimu. Dan saat rumah tanggamu kembali, dengan teganya kau membuangku begitu saja?" Ujar Dion dengan mata menyorot tajam pada Alea
Alea terisak, dia melepas pelukannya dari Ady dan menangkupkan tangannya di hadapan Dion.
"Maafkan aku, aku tak bermaksud untuk melukaimu. Aku benar-benar minta maaf, tapi ... kita tidak bisa memaksa keinginan hanya untuk kepuasan hati. Kau pria baik, dan pasti bisa mendapat lebih baik dari aku," ujar Alea.
"Al." Panggil Ady dengan pelan.
Dion menatap sedih pada Alea, dia berada jika ALea tengah mempermainkan perasaan nya. Dia hanya di pancing dan di.lrpas sesuka hati, padahal dirinya baru pertama kali mencintai seorang wanita.
Tanpa sepatah kata pun, Dion berbalik dan pergi. Alea yang melihat itu menghembuskan nafasnya dan kembali memeluk suaminya.
"Maafkan aku hiks ... maaf," ujar Alea dengan penuh penyesalan.
Sebenarnya Ady merasa kecewa, apalagi dirinya kembali mengingat kedekatan Alea dan Dion dulu. Bukan sepenuhnya salah Dion, Alea lah yang memulai semuanya.
"Jangan mengulang kesalahan lagi, jika terjadi kedua kalinya maka aku tak bisa lagi memaafkanmu," ujar Ady dan mengecup kening istrinya dengan cukup lama.
"Aku tak akan lagi mengulang kesalahan yang sama, aku sudah sangat bahagia dengan kehidupanku sekarang. Maafkan aku karena telah menyakiti perasaanmu kala itu," ujar Alea di tengah tangisnya.
Ady menjauhkan wajahnya dan Alea, dia menghapus lembut air mata Alea. Kemudian Ady mengecup mata Alea yang terlihat bengkak, kemudian dia mengusapnya dengan lembut.
"Sudahlah, matamu akan semakin bengkak nanti." Pinta Ady.
Alea berhenti menangis, walau masih sesenggukan.
"Oh ya, dimana Ara?" Tanya Ady yang baru menyadari putrinya.
"Tdi Edgar pulang, sama Razka juga. Mereka bawa si kembar ke kamar karena aku takut kita ribut," ujar Alea.
Ady mengangguk, mungkin Ara menangis karena memiliki firasat buruk terhadap Alea. Sehingga hatinya gelisah dan memanggil sang ayah.
"Tadi di jalan aku sempat membeli kue kesukaanmu dam Ara," ujar Ady mengalihkan pikiran Alea yang tengah termenung.
"Oh ya, lalu Shaka?" Sahut Alea.
"Apapun yang kau suka, pasti anak manja itu suka." Ujar Ady sambil mencium kening istrinya.