
Alea memasuki kamar Edgar dengan segelas jahe hangat di tangannya, dia berjalan pelan mendekati Edgar yang ternyata tengah tertidur dengan kepala berada di kepala ranjang.
Alea dengan pelan menaruh gelas itu di nakas, tangannya terulur untuk mengelus pipi adiknya. Wajah Edgar tampak terlihat pucat, Alea menjadi tidak tega melihatnya.
"Ed, bangun dulu. Minum jahe hangatnya, agar kamu mendingan," ujar Alea.
"Eungh ...." Edgar remaja yang gampang sekali terbangun sehingga dia membuka matanya dan menatap Alea disertai dengan senyum tipis.
Alea memberikan gelas jahe yang dia ambil kembali dari nakas, dia memberikan pada Edgar dan langsung di minum dengan perlahan oleh remaja itu.
"Enakan? kepalanya masih pusing? kakak pergi beli obat dulu yah." Tanya Alea dan berakhir mengusulkan dirinya untuk pergi ke apotik.
Edgar menggeleng, dia menaruh gelas yang sudah kosong tersebut ke atas nakas. Netranya menatap Alea yang tengah menunggu dirinya berkata.
"Jangan! sebentar lagi juga sembuh, percayalah." Larang Edgar.
"Gak, pokoknya kakak akan membelikanmu obat. Liat jidat kamu gesrek begitu! Tunggu disini dan jangan keluar." Tegas Alea dan langsung beranjak pergi dari kamar Edgar.
Edgar menghela nafas lelah, berdebat dengan sang kakak juga percuma. Edgar merebahkan dirinya, dia menarik selimut dan kembali memejamkan matanya. Badannya sangat sakit, mungkin akibat benturan dan pukulan yang Yudha berikan untuknya kemarin dan berdampak saat ini.
Alea kini berjalan menuju kamar bayi, dia melihat Ara yang sedang tidur di sebelah Shaka.
"Kak aku keluar sebentar, aku titip Ara yah," ujar Alea tanpa menunggu balasan Siska, dia lun segera ke kamarnya untuk mengambil tas.
Alea mengambil dompet serta ponselnya, setelah itu dia keluar dari rumah dan pergi menuju apotik menggunakan mobil Ady yang ia ambil kunci tersebut dari lemari miliknya.
Alea pergi menuju apotik yang terdapat di pusat kota, setelah sampai dia memarkirkan mobilnya dan bergegas turun memasuki apotik tersebut.
"Selamat datang, ada yang bisa kami bantu?" ujar apoteker menyambut kedatangan Alea.
Alea tersenyum ramah, dia meminta obat pereda demam dan juga antiseptic untuk luka di kening Edgar. Dia juga meminta obat pereda nyeri jika sewaktu-waktu Edgar mengeluh sakit di lukanya.
"Baik, ini obatnya bu. Apa masih ada lagi?" tanya apoteker tersebut.
"Tidak ada, ini uangnya dan terima kasih." ujar Alea sembari menyerahkan uang berwarna merah pada apoteker tersebut.
Alea keluar dari apotik, dia kembali melihat belanjaannya. Tanpa sadar bahunya menabrak seseorang hingga membuat plastik yang ada di genggamannya terjatuh.
Bruk!
"Eh, maafkan aku,"
Alea akan mengambil plastik miliknya, tetapi seorang wanita lebih dulu mengambilnya dan memberikan plastik itu pada Alea.
"Terima ... loh, Angel?" kaget Alea.
Wanita itu adalah Angel, dia merubah mimik wajahnya dan menatap Alea dengan pandangan tidak suka.
"Ck, kenapa aku harus bertemu dengan pembantu sepertimu disini?" decak Angel.
Alea memutar bola matanya jengah, dia menatap kesal ke arah Angel yang tengah menatapnya angkuh.
"Ini tempat umum, wajar dong kalau aku disini. Lagian yang pembantu itu siapa? aku atau situ? statusku juga jauh di atasmu karena aku istri dari Ady," kesal Alea.
"Angel cepatlah, aku harus segera pulang karena ...." Ucapan seorang pria terhenti kala keduanya menatap pria tersebut dengan raut wajah yang berbeda.
Ady baru saja akan menghampiri Angel, dia menemani sepupunya itu ke apotik untuk membeli obat. Namun, siapa sangka jika dia melihat istrinya yang juga berada disana.
"Alea ...." Lirih Ady.
Alea menatap Ady dengan kesal, dia pergi dari sana sambil menabrak bahu Ady. Sungguh dirinya kesal dengan sang suami yang seenaknya jalan dengan Angel walaupun wanita itu sepupunya.
"ALEA! TUNGGU MAS!" seru Ady dan akan beranjak mengejar istrinya.
"Apalagi?" jengah Ady.
"Antarkan aku ke dalam, katanya tadi kau mau mengantarku," ujar Angel.
Ady berdecak kesal, dia menatap mobil Alea yang berlalu pergi. Setelah itu dia kembali menatap Angel yang tengah menatapnya memelas.
"Jangan manja! aku sudah mengantarmu dan bilang pada oma jika aku sudah mengantarmu sampai ke tujuan dengan selamat!" ucap Ady yang sudah terlampau kesal.
Ady segera pergi menuju mobilnya, dia menghiraukan teriakan Angel yang memanggil dirinya. Dia sudah terlampau kesal, jika bukan karena oma Angel yaitu sepupu sang kakek mana mungkin dia mau.
"ADY! KENAPA KAU TEGA MENINGGALKAN AKU SIIIHHH!" Angel masih berteriak walau yakin Ady pasti tak akan mendengarkan nya.
Ady melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia harus segera menyusul istrinya yang tengah ngambek padanya.
Mobilnya pun memasuki kediaman Dominic, terlihat mobil yang di pake Alea sudah terparkir dengan rapih di garasi. Ady dengan segera keluar dari mobilnya dan berlari masuk mencari istrinya.
"ALEA! ALEAAA!"
Ady teriak memanggil istrinya, Amanda dan Naura segera mendekati Ady yang berteriak bak kesetanan.
"Ada apa sih Ady, kenapa kau berteriak seperti itu?" Heran Amanda pada putranya yang tengah frustasi.
"Alea marah padaku mah, tadi aku mengantar Angel ke apotik untuk membelikan dia obat karena katanya kepala dia pusing," ujar Ady.
Naura memukul bahu Ady dengan keras, netranya menatap tajam pada cucu laki-lakinya itu.
"NGAPAIN KAMU TURUTIN ANAK MANJA GAK TAU DIRI ITU ADDYYYY ...." Geram Naura.
"Pasti mi si tua rempong itu yang nyuruh Ady, aku yakin itu!" ujar Amanda memanas-manasi mertuanya.
Naura semakin kesal, dia menaikkan lengan bajunya dan menatap Ady dengan marah.
"Rasakan! istrimu marah karena kamu nganter si anak manja itu! kamu pamit pergi kerja ke kantor, eh tau-taunya malah asik jalan ama si rendang!"
"Eyaaangg ....," Rengek Ady.
Amanda menahan tawa, mulut ibu mertuanya bisa di katakan seperti cabe. Sangat menusuk ke hati tetapi membuat dia puas.
"Mamah gak bisa bantu, udah ah mending mamah ngeliat cucu kesayangan mamah aja. Byeee sayang, selamat berjuang ...." Ujar Amanda sambil melambaikan tangannya dan segera pergi menuju kamar bayi.
Kini tinggallah Ady yang menatap sang eyang dengan melas, Naura pun menggedikkan bahunya acuh dan pergi dari hadapan Ady.
"Gini banget punya keluarga, yang anak cucu meraka siapa sih? aku apa Alea? berasa anak angkat kalau kayak gini," lirih Ady.
Ady mencari keberadaan Alea, setiap kamar dia datangi dan ternyata Alea berada di kamar adik iparnya. Dia melangkah masuk ke dalam kamar itu dengan tangan bertaut, Alea menyadari hal itu dan menatap Ady dengan tajam.
"Udah puas ngedate nya? ngapain pulang? baru inget punya bini di rumah? nunggu suaminya pulang makan siang eh malah ngajakin anak bau kencur." Ketus Alea.
Edgar tak mengerti apapun, dia hanya menikmati potongan buah yang Alea suapkan. Edgar tak peduli karena ia tak mau ikut campur dan membela kakak iparnya itu, dia senang melihat Ady yang seperti kucing kecil kecebur got seperti ini.
"Al, bukan kayak gitu. Lagian, kenapa juga kamu gak izin kalau mau pergi. Kan jadinya aku ...,"
"BISA PUAS SELINGKUH MAKSUD KAMU HUH?! INGAT YAH MAS, BERITA SUAMI SELINGKUH KESAMBER GLEDEK UDAH VIRAL LOH! JANGAN SAMPE KAMU JUGA KENA!"
Glek!
Ady meneguk ludahnya kasar, dia tak pernah mendapati kegalakan istrinya seperti ini. Ini seperti bukan Alea, benar kata orang jika seorang laki-laki dekat dengan wanita lain pasti sifat istri akan menampakkan wujud aslinya seperti ini.
"Habislah kau bang," ucap Edgar dengan nada lirih.
biar semangat sahurnya otor up lagi nih😘, jangan lupa like dan komennya.