Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
S2: Keributan kakak adik



Ady tengah berdiam diri di ruang kerjanya, dia sedang memikirkan acara keluarga yang di adakan minggu depan. Dan saat iyu tiba, bertepatan dengan Shaka yang kembali pada orang tuanya.


Cukup lama Ady merenung, dia memutuskan untuk keluar dari ruang kerjanya.


"Ayah!"


Ady yang baru saja menutup pintu menoleh, dia melihat Shaka yang berjalan menghampiri nya.


"Ada apa?" Tanya Ady.


"Bunda cariin ayah tadi, kok ayah lama banget di ruang kerjanya?" Sahut Shaka.


Ady mengelus rambut Shaka. "Tadi ayah ada kerjaan," ujar Ady.


Shaka mengangguk mengerti, dia tahu jika pekerjaan Ady sangat lah sibuk. Maka dari itu, dia tak pernah menuntut Ady untuk selalu menemani dia dan Ara bermain.


"Shaka, ayah mau bicara," ujar Ady.


"Hm?" Sahut Shaka dan menatap ayahnya itu.


Ady menundukkan dirinya, dia memegang kedua bahu Shaka dan menatap lekat anak itu.


Awalnya dia akan mengurungkan niatnya, tapi kapan lagi dia akan membicarakan ini.


"Minggu depan ...,"


"Minggu depan Shaka akan kembali tinggal bersama mama dan papa, ayah mau ngomong itu kan?" Sela Shaka.


Ady tertegun sejenak, dia melupakan kecerdasan dan kepekaan Shaka. Padahal, dia sudah mempersiapkan diri untuk membicarakan hal ini pada Shaka agar tak menyinggung hati anak itu.


"Shaka sudah siap jika memang mama dan papa akan kembali mengambil Shaka, hanya saja ... Shaka masih punya harapan gak yah untuk tinggal disini selama nya?"


Ady berlutut, dia menangkup pipi gembil Shaka. Dia juga tak ingin SHaka kembali, tetapi sebagai pria dia harus menepati janjinya. Seharusnya di umur yang ke tiga Shaka sudah kembali, tetapi karena satu perkara Ady merawat SHaka hingga berumur lima.


"Shaka, jika sudah jalannya ... kita akan kembali tinggal bersama. Jika tidak, kamu tetap menjadi putra kebanggan ayah dan bunda. Pintu rumah ini terbuka lebar untuk kamu, kapan pun kamu butuh ayah ... ayah akan sekalu datang. Percayalah,"


Shaka mengangguk, dia yakin biarpun dirinya tidak tinggal bersama Ady dan Alea. Tapi, pastilah bunda dan ayahnya itu akan selalu ada untuknya.


Sedangkan di teras, Ara akan memakai sepedanya. Namun, adiknya itu malah menaiki sepeda miliknya.


"CKY! TULUN GAK!" Sentak Ara.


Ara menari Sky untuk turun, karena tak ingin jatuh akhirnya Sky pun turun. Ara melototi adiknya itu, sedangkan Sky menatap kesal pada kakaknya.


"Ngeyel! nanti jatuh, Ala yang di omelin bunda!" Ketus Ara sambil berbalik dan menghadap sepedanya.


Ara ngedumel sambil memeriksa sepedanya, dia tidak tahu jika Sky akan melancarkan aksinya.


"Tuh kan, bell na pa ... HUAAAA!!!"


Ady dan Shaka yang mendengar suara tangisan Ara yang menggema segera berlari ke teras. Mereka melihat Ara yang memegang b0k0ngnya sambil menangis tanpa suara. Bahkan mulutnya sudah terbuka bersiap menangis kencang.


"Ara kenapa nak?" Tanya Ady.


Ara hanya berbicara tidak jelas, sebab tangisannya lebih besar. Dia melihat Sky yang akan berjalan masuk ke rumah, sebelum itu Ara mendekati Sky dan menjambak rambut bocah itu hingga terjungkal ke belakang.


"ARA!" Bentak Ady.


Ara tambah menangis sebab merasa Ady membela Sky, kini bukan hanya Ara yang menangis. Sky juga menangis keras karena merasakan sakit di kepala akibat jambakan Ara.


Ady menggendong Sky, dia celingukan mencari Alea. Dia melihat Alea yang berjalan cepat ke arah mereka.


"Kenapa ini mas? kok nangis semua?" Panik Alea.


"Biasa, berantem. Kamu cek dulu itu, dia pegangin b0k0ng nya terus." Titah Ady.


Alea menarik putrinya untuk mendekat, dia sedikit menyingkap celana Ara dan melihat bekas gigitan yang lumayan dalam.


"Astagaaa Sky ...,"


Alea menatap putranya tak percaya, ternyata Sky menggigit Ara. Mungkin karena itu Ara kesal dan menjambak rambut adiknya.


"Di gigit sama Sky," ucap Alea dengan nada tak percaya.


"HA? masa yang?!" Kaget Ady.


Alea memperlihatkan, gigitan itu terlihat biru. Sky benar-benar menggigitnya dengan sekuat tenaga.


Ady sama kagetnya, dia menatap putranya yang melihat ke arah sang kakak. Tangisan Sky memang sudah berhenti, hanya tersisa sesenggukan kecil.


"Boy kenapa nakal? kok kakaknya di gigit?" Tanya Ady sambil menatap putranya.


Sky yabg di bilang nakal pun kembali menangis, memang Sky mudah sekali menangis. Selain jail dia juga cengeng, sehingga Ady paham dengan putranya itu.


Sedangkan Shaka, entah anak itu ada dimana, sebab menghilang begitu saja.


"Jangan di tanya dulu mas, makin nangis nanti." Pinta Alea.


"Kamu kenapa sih Boy, nakal banget. Bingung ayah, kamu nurun dari siapa?" Geleng-geleng Ady.


"Ya ngikutin kamu lah mas! mamah bilang sama aku kalau dulu kamu sangat nakal," ujar Alea.


Ady yang di tuduh seperti itu tak terima, mana ada dia nakal. Bahkan dia merasa menjadi anak yang sangat penurut.


"Bunda! ini obatnya,"


Ady dan Alea sama-sama melihat Shaka yang datang sambil membawa kotak obat dan juga es batu.


Sungguh mereka taj berpikir jika Shaka akan melakukan itu, di umurnya yang ke lima tahun sudah sangat meringankan pekerjaan mereka.


"Bu guru bilang ini kotak buat luka, terus kalau jatuh kepalanya di kompres pakai es. Bener kan bunda?"


Alea mengangguk, dia mengelus pipi Shaka dengan sayang. "Bener, pinternya anak bunda. Masuk yuk, kita obatin adeknya di dalam," ujat Alea.


***


Jam sepuluh malam, Shaka masih belum tidur. Sedangkan Ara, sedari tadi dia sudah terlelap di kasur.


Shaka sedang menulis di meja belajarnya, entah apa yang dirinya tulis. Matanya tidak bisa di ajak kerja sama, padahal dia ingin menyelesaikan pekerjaannya segera.


Bruk!


Shaka pun akhirnya tertidur sambil terduduk di meja belajar, sepertinya matanya sudah tak kuat menahan ngantuk.


Kreett!!


Ady masuk ke dalam kamar putra-putrinya, dia sedikit heran melihat Shaka yang tertidur di meja belajar nya.


Perlahan Ady mendekati Shaka agar tidak menimbulkan suara, karena putrinya akan mudah terbangun ketika ada suara yang mengejutkannya.


Netra Ady menangkap sebuah kertas berisikan tulisan, dia yang penasaran pun mengambil kertas itu dan membacanya.


"Nomor satu ... Jam sebelas Ara selalu bangun ingin buang air kecil, setelahnya dia akan mencari minum. Nomor dua: Ara selalu kelupaan membawa bekal dan botol minumnya. Nomor tiga: Ayah selalu lembur bekerja, ingatkan ayah untuk istirahat. Nomor empat: Sky selalu bangun tengah malam, bunda juga ikut terbangun. Coba buatkan Sky susu botol sebelum tidur dan taruh di sampingnya. No-nomo lima ...,"


Air mata Ady jatuh ke atas kertas itu, dirinya sudah tak sanggup lagi membacanya. Begitu besar rasa sayang Shaka pada keluarganya.


"Kamu beruntung kak memiliki anak seperti Shaka, tapi kamu rugi telah menyia-nyiakannya. Jika ada kesempatan, aku akan mempertahankan SHaka di keluarga ini." Lirih Ady sambil menatap sendu pada Shaka yang sedang tertidur.


Ady menghapus air matanya, dia kembali menaruh kertas itu. Setelahnya, dia mengangkat Shaka ke gendongannya dan membawanya ke tempat tidur.


Ady merebahkan Shaka, dia menarik selimut bergambar kereta dan menyelimuti putranya itu. di kecupnya kening Shaka dengan lembut.


Netranya beralih pada ranjang putrinya, dia oun berjalan ke ranjang Ara dan mengecup nya juga sama seperti yang ia lakukan pada Shaka.


"Maaf yah, tadi ayah bentak Ara. Sakit yah di gigit Sky? sabar yah, jika besar Sky juga yang akan menjadi pelindung Ara." Bisik Ady.


Ady merasa bersalah telah membentak Ara, tetapi dia hanya mengatakan maafnya saat putrinya itu tertidur.


****


Untuk kalian yang memiliki nasib seperti Shaka sabar yah🙂. Kalian kuat, makanya kalian terpilih untuk mejadi tegar😁