Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
S2: Salah paham akibat nyontek



Shaka dan Ara tengah memperhatikan guru mereka mengajarkan tentang cara menulis cerita pengalaman pribadi. Sekolahan ini merupakan perkumpulan anak-anak yang memiliki kecerdasan melebihi yang lain. Dimana semua anak dalam sekolah itu sudah bisa membaca dan juga menulis, walau masih TK.


Satu kelas saja hanya terisi 8 orang, mereka benar-benar di didik untuk menjadi penerus. Tak hanya keluarga Dominic, berbagai Keluarga juga ada disini yang jelas keluarga mereka bukan Keluarga biasa.


Ada keluarga Robert, keluarga mantan mafia. Ada keluarga Johanson keluarga pemilik.


perusahaan pertambangan batu hara terbesar dan masih banyak yang lainnya.


"Jadi, kalian buat cerita seperti yang ibu contohkan. Mengerti?"


"MANGERTII BUUU!!" Seru mereka kompak.


Ara pun menulis, yah tulisan anak TK yang berantakan. Begitu pun dengan Shaka, keduanya berusaha untuk menulis cerita.


Selang beberapa waktu, bell sekolah pun berbunyi. Ara membereskan peralatan sekolahnya, sementara Shaka masih menulis.


"Chaka! kan buat pe-el," ujar Ara.


"Sebentar lagi selesai, kamu juga udah selesai kan?" Sahut Shaka.


"Iya si," ujar Ara dengan lirih.


Ara pun akhirnya menunggu Shaka selesai, di kelas hanya tersisa mereka berdua saja. Tak lama, Shaka selesai. Dia membereskan peralatan belajarnya dan memasukkannya ke dalam tas. Shaka menggendong tasnya dan mengajak Ara untuk pulang.


Di gerbang, ternyata Razka yang menjemput mereka. Ara yang melihat om kesayangannya itu segera berlari.


"UNCLEEEE!!"


Razka tersenyum, dia berjongkok dan membawa Ara ke gendongannya. Netranya melihat Shaka yang juga melihatnya.


"SHaka di gendong juga?" Tanya Razka.


"Ck, ogah!" Ketus Shaka.


Razka tertawa, dia senang menjaili keponakannya. Shaka paling tidak suka di manja olehnya maupun Edgar, apalagi jika di cium. Pasti Shaka akan membersihkan bekas ciuman itu berkali-kali hingga bersih.


"Kita ke tempat tongkrongan om dulu okay," ujar Razka.


"Mau! mau! mau!" Seru Ara.


Shaka mendelik, pastilah om nya ini ada maunya. Shaka membatin dalam hati, lihat saja apa yang nanti akan om nya itu lakukan.


Mereka pun menaiki mobil Razka, Ara duduk di depan sementara Shaka duduk di belakang. Hati ARa begitu senang, tumben juga si Bella tak merecokinya. Untunglah, Ara senang hari ini.


"Berangkat?" Tanya Razka.


"GOOO!!" Seru Ara.


Razka pun menjalani mobilnya ke tempat tongkrongannya, seharian ini dia dapat izin dari Ady untuk membawa jalan-jalan Shaka dan Ara sampai sore.


Sesampainya di tempat tongkrongan, Razka turun begitu lupa dengan Shaka dan Ara.


"Weeeiii !!! dateng juga lo, waduhhh bawa bocil lo?!" Seru teman Razka menyapanya.


"Yoi, nih bocil bukan sembarang bocil. Liat aja nanti." Seringai Razka.


Ara mengambil duduk di meja, tongkrongan Razka seperti cafe remaja pada umumnya. Ara mengambil buku menu dan melihat berbagai macam makanan.


"Uncle ada uang enggak?" Bisik Ara pada Razka yang duduk di sampingnya.


"Enggak, kali ini.keluarkan jurus Ara okay. Banyak temen uncle yang kaya." Bisik Razka.


Ara mengangguk, dia melirik ke arah beberapa teman Razka. Dia memejamkan matanya dan kembali membukanya.


"Huhuhu, betapa teltekan cekali pelacaanku. Mau jajan, tapi uncle Ala nda ada uang. Gimana lah Ala mengici pelut Aka ini, mendelita kali pelutku menahan lapal," ujar Ara dengan dramatis.


Shaka memutar bola matanya malas, dia sudah paham dengan drama yang Ara mainkan. Sementara Razka, sudah tertawa dalam hati.


Para teman Razka yang melihat binaran mata di mata Ara pun ada yang luluh.


"Kasihan sekali, adik manis kalau lapar pesan saja. Kakak yang akan bayar," ujar teman Razka yang memiliki rambut ala korea.


Ara menghentikan dramanya, dia menatap teman Razka itu dengan berbinar.


"Benalkah? wahh telima kacih kak ... kak ...,"


"Iya, Kak danteng eh makcudna kak Elang," ujar Ara tersenyum malu-malu.


Razka yang tadinya menahan tawa tiba-tiba saja melongo tak percaya dengan apa yang keponakannya itu katakan.


"Et dah buset, nih bocah udah ada tanda-tanda playgirl nya." Batin Razka.


Ara sudah memesan beberapa makanan, tak lupa ia memesankannya juga untuk Shaka.


Tak lama, makanan pesanan Ara datang. Sangat banyak, sehingga teman Razka yang lain pun terkejut.


"Etdah cil! makan lu banyak bener! rakus lu!" Sewot teman Razka berambut botak.


Ara yang akan memakan ayamnya segera mendelik. "Napa cih cewot aja! lagian ini kakak danteng yang bayalin bukan citu! dah kele, plotes lagi!" Ketus Ara.


Mereka mendadak syok dengan perkataan Ara, apalagi teman Razka yang botak itu. Dia merasa tak ada harga di hadapan bocah kecil seumuran Ara.


"Sabar, ini baru 10% dari sifat aslinya." Ujar Razka sambil menepuk bahu temannya.


***


Besok nya, Sky sudah di izinkan pulang. Ady memilih untuk memulangkan Sky karena putra bungsunya itu tidak betah berada di rumah sakit.


Sehabis mengantarkan istrinya masuk ke kamar bersama Sky, Ady pun pergi ke kamar Ara dan Shaka. Malam ini, dia ingin melihat kegiatan yang di lakukan keduanya.


Cklek!


Ady tersenyum saat melihat pemandangan yang begitu menyejukkan pikirannya, dimana Ara tengah menulis sambil tengkurap di atas karpet berbulu, sementara Shaka sedang membaca buku di atas kasurnya.


"Kalian sedang belajar?" Tanya Ady.


Ara mengangguk, Ady berjalan mendekati putrinya dan melirik apa yang putrinya tulis. Ady duduk di sebelah Ara, dia melihat sebuah kertas yang di tumpuk oleh kertas yang sedang Ara tulis.


"Ara boleh ayah liat catatan Ara?" Tanya Ady.


"Heum, lihat aja." Ujar Ara sambil mengangguk.


Ady menarik kertas yang menjadi perhatiannya, dia membawa kertas itu.


"Pengalaman hari liburku, aku melihat bundaku bertemu pria di rumah dan ayahku sedang tidak ada dan ... APA?!"


Ara dan Shaka tentu saja terkejut, mereka menatap Ady yang terlihat terkejut dengan kertas yang ia pegang.


"Ayah kenapa?" Tanya Ara.


Ady tak menjawab, dia segera bangkit dan berjalan tergesa-gesa menuju kamarnya. Dia membuka pintu kamar dengan keras sehingga Sky yang tadinya sudah tertidur pun menjadi terbangun.


"Mas!" Kesal Alea.


Ady berjalan cepat menuju istrinya, dia menunjukkan kertas yang ia pinjam dari putrinya.


"Ini apa Al? ara menulis disini jika kamu bertemu laki-laki di rumah, siapa laki-laki itu? tidak mungkin Ara menulis laki-laki jika itu adakah Edgar ataupun keluarga kita." Sentak Ady sambil memberikan kertas itu pada Alea.


Alea kebingungan, dia mengambil kertas itu dan membacanya. Dahinya mengernyit, tatkala dirinya di sebut.


"Aku gak pernah bawa laki-laki masuk mas," ujar Alea dengan bingung.


"Tapi Ara menulis seperti itu!" Sentak Ady.


Alea sudah pusing, di tambah Sky menangis karena tidurnya terganggu. Tatapannya mengarah pada Ara dan Shaka yang melihat pertengkaran mereka.


"Ayah, bunda. Itu Ala nyontek cama Temen. Kan di culuh nulis celita plibadi, Ala nda ngelti jadina nyontek." Lirih Ara.


Ady dan Alea menatap tak percaya pada putrinya, menyontek menyebabkan dirinya dan Alea bertengkar. Mereka sama-sama menepuk keningnya, sementara Shaka mendelik menatap Ara.


"Abang udah bilang jangan nyontek! ribet jadinya kan!" Kesal Shaka.


Ara menggaruk kepalanya. "Ya gimana lagi, Ala cape mikil hehe. Solly ya ayah," ujar Ara dengan rasa bersalah.


____


Aku buat udah dari abis isya yah, kalau kalian liat ini pagi itu artinya proses Review nya lama🄲. Sesuai janjiku, kita double up.