
Tak! Tak! Tak!
Waktu makan hanya dentingan sendok dan piring yang terdengar, tak ada obrolan seperti biasanya. Robert dan Ethan terheran dengan mereka yang sedari tadi diam. Karena kebiasaan keluarga ini jika makan pastilah ada sebuah perbincangan.
"Alea sudah selesai. Aku akan ke kamar Edgar untuk mengantarkan dia makan," pamit Alea dan berlalu pergi untuk mengambil makanan Edgar.
Tatapan Ethan menghunus ke Ady, dia membersihkan mulutnya dengan sapu tangan.
"Kau apakan lagi istrimu?" curiga Ethan
"Enggak di apa-apain kok!" Elak Ady.
"Boong itu mas, dia selingkuh ama si rendang," ujar Amanda yang mana membuat Ady melototkan matanya ke arah sang mamah.
Ethan menatap Ady dengan heran, kemudian tatapannya beralih pada Robert yang tengah meminum air putihnya.
"Angel," ujar Robert setelah selesai dari minumnya.
Ethan mengangguk paham, dia menatap Ady dengan tajam. Apakah putranya selingkuh? sementara istri dan putrinya harus dia bahagia kan.
"Enggak pah, Alea salah paham. Mamah ni apa-apaan sih." Ady mulai kesal, dia tak pernah berselingkuh dari istrinya. Namun, sedari tadi dia di tuduh seperti itu.
"Istri di rumah nunggu suami pulang, yakin kalau suaminya giat kerja. Nyatanya lagi nganterin kunti," ujar Naura yang sedari tadi diam.
Naura sama kesalnya, dia tak suka Ady membuat Alea kesal. Bagaimana pun Alea sudah dirinya anggap seperti cucu kandungnya. Dia juga tidak suka dengan cucu sepupu suaminya itu.
Ady dengan kesal menyudahi makannya, dia segera menyusul istrinya untuk menyelesaikan masalah tadi.
Kaki jenjangnya melangkah ke arah kamar Edgar, tetapi pendengarannya mendengar jelas tangisan putrinya. Setahunya Ara tertidur di kamar, kenapa putrinya malah berada di kamar Edgar?
Cklek!
Ady membuka pintu kamar Edgar, dia melihat Edgar yang tertidur dengan Ara yang berada di sampingnya. Netranya mencari keberadaan diaman sang istri sambil berjalan semakin masuk.
"Dimana bundamu sayang?" tanya Ady ketika berada di dekat putrinya.
Mendengar suara sang ayah, Ara langsung menoleh. Tangisan Ara terhenti dan dia tertawa sembari menendang kakinya. Dia mengarahkan tangannya pada Ady berharap untuk di gendong.
"Kau manja sekali." Kekeh Ady sambil membawa Ara ke gendongannya.
Tangannya membenarkan baju belakang putrinya, netranya beralih menatap pintu kamar mandi yang terbuka. Ternyata Alea berada di kamar mandi sehingga ia tidak melihatnya.
"Ngapain mas kesini?!" Sewot Alea ketika melihat suaminya yang sudah berada di kamar Edgar.
Ady menempelkan jari telunjuknya di depan bibir, Adik iparnya tengah tertidur pulas dan ia tidak mau suara Alea membuatnya terbangun.
"Kita selesaikan di kamar," ujar Ady dan berjalan meninggalkan kamar Edgar.
Alea mendengus kesal, dia menghentakkan kakinya dan tak urung dirinya mengikuti Ady.
Sesampainya di kamar mereka, Ady menduduki dirinya di sofa. Ara dia dudukkan di pangkuannya karena bayi tiga bulan itu sama sekali tidak mau di tidurkan.
"Sini duduk!" Titah Ady pada Alea yang hanya berdiri dengan menatapnya kesal.
Alea dengan ogah duduk di samping Ady agak sedikit menjauh, dia membuang wajah ketika Ady tersenyum lembut kepadanya.
"Kok jauhan begitu, sini deket mas," ujar Ady.
"Kamu kok makin lama ngelunjak yah mas!" Kesal Alea.
Ara hanya menatap polos sang bunda yang sedang marah, ia memainkan tangannya dan di masukkan ke mulut.
"Mas mau jelasin, kemarin dia minta tolong sama mas. Kita masih saudara, jelas mas gak enak buat nolongnya," ujar Ady.
"Kalau dia minta tolong buat nikahin dia, mas juga bakal lakuin. Gitu?!" Sinis Alea sambil menatap Ady yang terkejut.
"Kamu kok ngomongnya gitu? aku gak ada niatan buat poligami sayang," ujar Ady.
"Udah yah, jangan marah terus. Kasihan Ara, dia bingung kenapa bunda dan ayahnya bertengkar." Bujuk Ady sambil mengulurkan tangannya pada kepala Alea.
Di usapnya kepala istrinya itu, Alea pun luluh. DIa mengangguk, lagian suaminya tidak terbukti berselingkuh. Hanya saja dia kesal ketika melihat Ady dengan Angel, terlebih beberapa kali Angel menelpon suaminya walau Ady tak menghiraukannya.
"Tapi mas harus nganterin aku malam ini," ujar Alea memberikan syarat pada Ady.
Ady menaikkan satu alisnya, tak biasanya Alea meminta dia untuk mengantar istrinya itu.
"Kemana?" Heran Ady.
Alea menaikkan satu sudut bibirnya, kali ini dia akan bersenang-senang sesuai keinginannya.
"Aku mau ...,"
***
Wajah Ady tertekuk kesal, dengan Ara yang berada di gendongan depan dia menatap jengah ke arah Alea yang memainkan capit boneka.
Ternyata Alea membawanya ke tempat permainan, disana terdapat banyak sekali mesin mainan. Dan kini Alea tengah memainkan sebuah mesin capit boneka yang terlihat besar.
"Al, udah yuk. Aku capek nih," ujar Ady yang tampak sangat jengah.
"Bentar mas, bonekanya gak dapet-dapet. Sebentar lagiii," ucap Alea.
Ady mendengus kasar, dia memikirkan bagaimana caranya agar Alea berhenti bermain.
"Oaaa, aaaaa! oaaaa!"
Ady menundukkan kepalanya, dia melihat Ara yang melototkan sesuatu. Netranya beralih menatap apa yang Ara pelototkan.
"Apa kau ingin naik?" Tanya Ady.
"Oaaa!"
Ady terkekeh, putrinya hanya berkata oaa dan dia tak mengerti apa artinya itu. Ara belum bisa mengatakan apapun selain oaa dan oeek, oleh karena itu Ady harus memahami dengan keras apa yang di maksud putrinya lewat tatapan mata.
"Kuda yah, kuda ... tapi Ara belum boleh naik. Itu buat kakak-kakak yang sudah besar kalau Ara sudah bisa jalan ... kita naik itu okay," ujar Ady berusaha untuk berkomunikasi dengan putrinya.
Tatapan Ara masih berbinar, mungkin karena adanya lampu dan suara seperti nyanyian membuat Ara tertarik.
Ady mencoba yang lain, dia mendapati kora-kora dan melangkah mendekatinya.
"Pak, saya sewa kora-koranya buat saya yah. Jalaninnya yang pelan aja, saya bawa putri saya soalnya." Pinta Ady pada penjaga kora-kora tersebut.
Ady mengeluarkan dompet, dia mengambil uang berwarna merah 5 lembar dan memberikannya pada penjaga tersebut.
"Baik pak, kami akan melakukannya," kata penjaga itu.
Ady di tuntun untuk naik, dia tersenyum ketika putrinya tertawa lebar ketika mereka mulai di ayunkan.
"Kau senang bukan? mari kita bersenang-senang dan lupakan sementara bundamu yang asik sendiri itu," ujar Ady.
Senyum Ara semakin lebar, bayi itu sangat senang menaikinya. Mereka di ayun tak terlalu kencang, hanya pelan agar Ara bisa merasakan senangnya menaiki wahana.
Sedangkan Alea, dia tengah berjingkrak senang. Pasalnya dia mendapatkan boneka yang sedari tadi dia incar, boneka teddy bear yang sangat besar.
"Mas! lihatlah! aku dapat ... loh mas?"
Alea kebingungan mencari suaminya, dia membawa boneka itu sambil mencari sang suami.
Sampai akhirnya Alea menemukan dimana keberadaan Ady, senyumnya mereka ketika melihat tawa suaminya dan juga putrinya.
Walau Ara masih berusia bulanan, bayi itu cepat tanggap. Alea bersyukur dengan hal itu, senyum putrinya beserta sang suami adalah kebahagiaannya saat ini.
"Manisnya ...." Lirih Alea.