Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
Episode 92: Kekesalan Ara



"Ady, apa maksud mu? Abang sudah sembuh. Shaka bisa balik tinggal sama kita," ujar Nando tak terima.


"Abang tanya sendiri sama istri abang," ujar Ady.


Tatapan Nando mengarah pada Siska, Sedangkan yang di tatap tengah terkejut karema Ady masih mengingatnya.


"Benar begitu?" Tanya Nando dengan dingin.


"I-iya mas, aku ...,"


Ady tersenyum sinis, dia kira Siska memberitahukan hal itu. Namun, kakaknya itu malah menyembunyikan kenyataan yang ada.


"Tapi Shaka anak kami, gak seharusnya kamu berkata seperti itu," ujar Siska.


"Silahkan, silahkan kalian ajak Shaka tinggal kembali sama kalian. Kalau saja dia mau kembali dengan kalian." Sarkas Ady.


"Dia pasto mau, kan dia ...,"


"Kata siapa? kita datang kesini harus membujuknya dengan susah payah, istriku sampai harus menangis agar Shaka menuruti kemauan kami." Sela Ady.


Tatapan Ethan, Amanda dan yang lainnya mengarah pada Ady. Terlihat pria itu tersenyum miris sambil menatap Siska yang menatapnya tak percaya.


"Seharusnya kakak paham resikonya, jika kakak masih pertahankan laki-laki tukang selingkuh kayak dia ... anak kakak yang jadi korban!" Sentak Ady sambil menunjuk Nando.


"APA MAKSUDMU?!" Bentak Nando yang tak terima tuduhan Ady.


Ady pun ikut berdiri, dia mengangkat satu sudut bibirnya.


"Loh, lupa? kamu tuh pernah selingkuh sama siapa namanya hm ... siapa yang, aku lupa," ujar Ady dan menatap ke arah istrinya.


Belum juga menjawab, Ady sudah balik menatap Nando dengan seringainya.


"Abang sudah menyesal dan tak lagi mengulanginya!" Sentak Nando.


"Oh ya? waktu itu diem-diem lih nari ketahuan, siapa tahu juga kan ...,"


"Ady! Itu hanya ketidaksengajaan, mas Nando di jebak! kamu tahu itukan?" Sela Siska.


"Yah, 80% di jebak dan sisanya kata hati. Kak, sulit pria hanya dengan satu wanita. Hanya saha, laki-laki bisa memilih antara cinta untuk keluarganya dan nafsunya," ujar Ady.


Ethan menahan Nando agar tidak kelepasan, jika mereka berkelahi bisa saja membuat gaduh dan anak-anak menjadi takut.


"Alea, kau pasti memberitahu Shaka kan tentang siapa ibu kandungnya?" Tanya Siska sambil menatap ke arah Alea.


"Tentu saja kak, aku selalu mengajarkannya agar menerima kakak sebagai ibu kandungnya." Terang Alea.


"Ady kau dengar? Shaka tahu aku ibu kandungnya, dia pasti akan ikut denganku kembali," ujar Siska.


Ady tersenyum, dia menunjukkan sesuatu yang mana membuat mereka mengarah pada apa yang Ady tunjuk.


"Shaka." Gumam Siska.


Shaka berdiri di ujung tangga, wajahnya masih terlihat lelah. Dia berjalan menuju mereka, dan Siska langsung mendekati putranya.


Namun, sayang sekali saat Siska akan memeluk Shaka. Anak itu malah menghindar dan berlari ke arah Alea.


"Bunda, tenapa tindali Chaka tidul," ujar anak itu.


Alea merasa tak enak dengan Siska, dia membawa Shaka ke gendongannya dan memberi nasehat pada anak itu.


"Itu ada mamah, ayo sapa mamah dan papah Shaka dulu," ujar Alea.


Shaka menggeleng, dia merebahkan kepalanya di pundak Alea dan kembali tertidur.


"Kan? lihat sendiri, untuk sekedar melihat Kak Siska saja dia tak mau. Itu semua karena siapa? jangan salahkan istriku, dia selalu menasehati putra kalian agar mengingat dan selalu menyayangi kalian. Namun, Shaka hanya mengikuti kata hatinya. Alea yang merawatnya, memberikan dia asi, begadang hanya karena Shaka rewel." Terang Ady.


"Shaka, ini mamah nak. Mamah kandung SHaka, Shaka gak kangen sama mamah?" Ujar Siska sambil menyentuh pipi Shaka.


Shaka hanya diam, dia semakin mempererat pelukannya pada leher Alea.


"Kak!" Kaget Alea.


Ady menarik istrinya, dia menyuruh Alea diam. Ady membiarkan Shaka bersama Siska karena dia tahu apa yang akan terjadi nanti.


"BUNDAAAA!!! BUNDAAA!!! CHAKA MAU CAMA BUNDA HIKS ... BUNDAAA!!!"


***


Setelah drama tadi, mereka memutuskan untuk tak meneruskan pembahasan. Mereka takut itu akan berakibat pada mental Shaka melihat mereka yang berkelahi.


"Shaka main gih sama Bella sama Ara juga," ujar Alea pada Shaka yang masih di gendongannya, anak itu tak mau lepas dari sang bunda.


"Nda mau, nanti di tinggal bunda," ujar Shaka.


Alea hanya bisa menghela nafas pasrah, dia hanya mengusap bahu Shaka agar anak itu tenang.


"Sayang, makan dulu gih. Shaka biar sama aku," ujar Ady yang baru saja memasuki kamar.


"Shaka gak mau lepas mas," ujar Alea.


Ady menatap ke arah Shaka yang kini tengah bersandar di bahu Alea, dia mengerti mengapa Shaka takut Alea lepas. Shaka takut dia akan di tinggal oleh Alea karema sudah bersama orang tua kandungnya.


"Sama ayah dulu yah, bunda belum makan. Kasihan, kalau bunda sakit gimana?" Bujuk Ady.


"Bunda makan aja, Chaka nda nakal," ujar anak itu.


Ady menghela nafas berat, Shaka sangat sulit di bujuk jika sudah seperti ini.


"Aku ambil makan yah yang, aku suapin. Kalau Shaka rewel, takutnya Ara juga ikutan rewel. Jadi makin runyam," ujar Ady.


Alea mengangguk pasrah, dia menduduki dirinya di kasur Bella. Sementara Ady keluar untuk mengambil makan.


"Loh Alea, belum makan juga? makan gih entar kamu sakit, sini Shaka sama kakak dulu aja," ujar Siska yang baru muncul dari pintu.


Alea tersenyum, saat Shaka akan di ambil oleh Siska anak itu malah merengek.


"Nda mau, nda mau!" Rengek Shaka.


"Sini sayang, sama mamah dulu. Bunda harus makan," ujar Siska dengan lembut.


"Mau cama bunda hiks ... mau bunda," ujar Shaka dan menyingkirkan tangan Siska dari tubuhnya.


Siska menatap ke arah Alea, wajahnya memelas. Alea tahu jika Siska pasti sedih karema Shaka.


"Jangan di paksa, Shaka memang rewel kalau sedang sakit. Biarkan dia sama Alea, jika sudah nyaman dia akan mendekati kakak sendiri nantinya," ujar Ady yang masuk ke kamar Bella dengan nampan berisikan piring dan gelas.


"Huft ... yasudah deh kalau gitu, Bella ayo makan dulu ajak juga kakak Aranya," ujar Siska dan mengajak putrinya.


Bella mengangguk, dia mengajak Ara untuk makan bersamanya. Namun, Ara menggeleng sambil memegangi perutnya.


"Tenapa Ala?" Bingung Bella.


"Pengen pup," ujar Ara dengan wajah menahan sesuatu.


"Pup? apa itu Pup?" Bingung Bella.


"Ish! cetolan, cetolan alam!" Geram Ara.


Bella semakin bingung, begitu pula dengan Siska yang memperhatikan mereka. Berbeda dengan Alea dan Ady yang memang tahu anaknya itu kenapa.


"Ala ngomong apa cih?" Bingung Bella.


"BELAAAAKKK!! GITU AJA PAKEK NANYA TELUS!!! Teltekan cekali pelacaanku." ujar Ara sambil melotot ke arah Bella dengan wajah merah padamnya menahan kesal.


DOUBLE UP KARENA KEMARIN GAK UP🤩🤩🤩.


Oh yah bagi yang punya aplikasi oren, jangan lupa mampir yah ke akunku Arka_novel. Disana ada cerita transmigrasi on going, judulnya plot transmigrasi.