Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
Episode 62: Berhenti atau lanjut?



"Jadi gimana Siska? Mami dan papi hanya bisa mengikuti jawabanmu, jika kamu mau berpisah pun kami tak akan membela anak kami sedikit pun," ujar Rosi pada menantunya yang tengah sarapan.


Kunyahan Siska pun berhenti, dia menatap ibu mertuanya. Rasanya dia tak dapat pisah dengan ibu mertua yang sangat sayang padanya seperti anak sendiri.


"Iya, benar apa di katakan mami. Papi tidak bisa melarang, hanya saja ... papi kasihan sama Shaka. Dia masih terlalu kecil, masa anak-anaknya seharusnya diwarnai dengan keluarga harmonis. Papi hanya takut dia tumbuh menjadi anak yang kurang kasih sayang jika kalian pisah nanti," ujar Revan seperti berusaha membuat Siska memikirkan ulang perkataannya, jujur saja dia tak ingin cucunya menderita.


"Tapi semua kembali dari hatimu, papi gak bisa memaksa," ujar kembali Revan.


Cklek!


Pintu ruangan Siska terbuka, disana terlihatlah Ady yang menggendong Ara menghampiri brankar Siska.


"Aku kira kakak belum sarapan, jadi aku bawakan makanan," ujar Ady yang tengah berjalan masuk.


Tak lama berselang, Alea pun masuk dengan Shaka yang bersandar manja di gendongan Alea.


"Kau lihat putramu kak, dia merebut istriku bahkan saat aku memeluk istriku sendiri dia berteriak dan memarahiku." Adu Ady pada sang kakak.


Siska terkekeh, mungkin putranya lebih nyaman dengan Alea di bandingkan dirinya. Jujur saja Siska memang merasa kurang dekat dengan putranya, Alea yang lebih mengerti keadaan Shaka di banding dirinya. Oleh sebab itu Siska merasa Shaka jauh lebih dekat dengan adik iparnya.


"Sini sama mamah sayang," ujar Siska dan merentangkan tangannya.


Namun, Shaka hanya menatap tangan Siska. Kemudian dia melengos dan malah menaruh kepalanya di pundak istrinya.


Siska yang melihat hal itu menjadi sedih, dan Alea pun merasa tidak enak.


"Maaf kak, sepertinya Shaka lelah. Aku coba tidurkan dan aku kasih kakak lagi yah," ujar Alea berusaha membujuk.


"Kamu baru pulih loh Al, gak usah capek-capek lah. Kasih aja sama mak nya, nangis-nangis lah sekalian." Ketus Ady.


Alea menatap tajam suaminya agar tak.kembali berbicara, entah mengapa makin kesini Ady merasa Shaka adalah saingannya.


Cklek!


Pintu kembali terbuka, di sana terlihatlah Nando berjalan masuk dengan wajah yang terlihat pucat pasi. Seperti tak ada tanda-tanda kehidupan, bahkan kantung matanya terlihat hitam.


"Masih punya muka juga kesini huh?" Cetus Ady.


"Mas!" Peringat Alea sambil menggelengkan kepalanya.


Ady mendengus sebal, dia menduduki dirinya di sofa sambil menaruh sang anak di karpet berbulu disana agar sang anak bebas merangkak.


"Nando, duduk disitu. Kita selesaikan semuanya dengan kepala dingin." Titah Revan.


Nando menurut, dia mengambil kursi dan duduk di ujung brankar Siska. Wajahnya sangat terlihat lelah, bahkan Siska tak mengizinkan Nando untuk tidur di dalam kamar rawatnya.


"Kalian yakin akan bercerai?" Tanya Revan sambil menatap keduanya secara bergantian.


Nando melirik sekilas Siska, istrinya itu tak menatapnya sama sekali dan hanya diam tanpa sepatah kata pun.


Nando kembali mengalihkan pandangannya, dia sudah menguatkan hatinya mendengar keputusan istrinya nanti.


"Nando." Panggil Rosi.


"Aku mengikuti kemauan Siska, lagi pula tak ada kesempatan kembali untukku bukan? biarlah dia cari kebahagiaan dia, aku tak apa menghalanginya lagi. Mungkin setelah kita resmi memutuskan, aku akan pindah ke eropa untuk mengasingkan diriku disana," ujar Nando. Tersirat nada kesedihan yang sangat dalam, bahkan Siska merasakan sesak di dadanya.


Ady dan Alea hanya mampu diam, mereka tak mau ikut campur percakapan itu. Terlebih Alea yang sudah mewanti Ady agar tak ikut campur karena masalah itu sangat rumit.


Siska hanya memalingkan wajahnya dengan air mata yang mengalir, dia merasa sedih karema Nando tak kembali berjuang. Wanita memang aneh, saat di perjuangkan malah di suruh menjauh saat menjauh di salahkan karena tak berjuang.


Belum juga sampai ke pintu, tubuh Nando mendadak oleng. Menyadari hal itu Revan dan Ady mendekat, dan benar saja tak lama tubuh Nando ambruk dan dia pingsan dengan darah yang keluar dari hidung.


Melihat hal itu Siska dan Alea sontak saja terkejut, apalagi Rosi bahkan wanita paruh baya itu sampai histeris.


Siska turun dari brankar, ia menyuruh Ady untuk meletakkan Nando disana. Tak tinggal diam, Siska mengambil tisu dan menghentikan darah yang terus mengalir dari hidung Nando.


Alea langsung mengamankan kedua bocah itu, agar para suster dan dokter yang masuk tak menghalangi mereka bertugas.


"Pake acara pingsan lagi, jadi tambah biaya kan. Dah selingkuh, ngerepotin lagi." Gerutu Ady sembari berjalan keluar kamar untuk memanggil dokter.


Tak lama dokter pun masuk beserta kedua suster, mereka langsung mengecek keadaan Nando.


"Kami akan mengambil darahnya agar di uji lab, karena saya curiga ada yang tak beres dengan tubuh Tuan Nando," ujar dokter tersebut.


Mendengar hal itu sontak saja Siska membulatkan mata, tak sadar ia menggenggam tangan Nando yang terasa sangat dingin.


"Pasien tak makan berhari-hari, dan juga tubuh pasien sangat kekurangan cairan. Saya akan menginfusnya terlebih dahulu, setelah itu kita akan mengambil sample darahnya," ujar sang dokter.


"Baik dok, terima kasih," ujar Rosi.


Mereka memasang infus, dan juga mengambil darah. Siska mengamati itu semua sambil menggenggam tangan Nando yang tak terinfus.


"Maaf, kalau bisa jangan terlalu lama bayi-bayi ini menetap di rumah sakit. Saya khawatir mereka terserang penyakit." Tegur sang dokter.


"Oh, iya dok. Ini juga mau pulang," ujar Alea.


Alea kembali menggendong Shaka, tetapi bayi itu malah menunjuk ke arah Nando. Mengerti hal itu, Alea langsung berjalan mendekat dan menurunkan Shaka di samping Nando.


Tak terduga, Shaka malah mencium pipi Nando sampai jejak liurnya tercetak jelas di pipi Nando. Mungkin saja bayi itu paham apa yang terjadi pada sang papah, tak lama setelah itu Shaka kembali merentangkan tangannya berharap kembali di gendong oleh Alea.


"Alea, aku titip Shaka. Maaf merepotkanmu dan juga Ady," ujar Siska.


"Tak apa kak, Shaka juga keponakanku. Kalau begitu kami pamit dulu,"


Alea dan Ady pun pulang, sepanjang berjalan Adu dan Alea saling mengobrol mengenai Nando.


"Terus kalau Mila di penjara, anaknya sama siapa?" Tanya Alea.


"Entah, di panti asuhan kali kalau enggak di rawat sama mantan suaminya," ujar Ady.


Mendadak mereka menghentikan langkah mereka, tepat di depan Alea berdiri seorang pria yang menatap Alea dengan senyum.


"Akhirnya kita bertemu lagi, apa kabar?"


Bukannya senyum, Alea malah membalasnya dengan tatapan tajam. Bahkan Shaka lun iku menatap tajam dengan mata bayinya, Ady juga langsung merangkul pinggang istrinya untuk mendekat ke arahnya.


"Oh, tuan Dion. Kabar saya dan istri saya sangat baik, tolong jangan halangi jalan keluarga kecil kami!"


_________


Yang dukung Nando dan Siska pisah mana suaranya? coba komen😁


Yang dukung Nando dan Siska bertahan, mama nih?