
Tiara, Robert beserta Arga masuk ke dalam kamar rawat Ara. Mereka melihat Alea yang tengah duduk di brankar Ara.
"Tante," ujar Alea.
Tiara langsung memeluk Alea, sedangkan Arga dan Robert tak sanggup menahan air matanya.
"Kamu putri kembaran tante, itu Arga saudara kamu kembaran kamu. Dan itu kakek kamu," ujar Tiara dengan isakan tangis.
Alea mengangguk, dia sudah tahu. Hanya saja, rasa terharu masih menyelimuti dirinya.
Kini, Alea bisa kembali pada keluarga yang sebenarnya. Tak menyangka jika musuh Robert adalah keluarga Alea.
Apakah kedua keluarga itu akan kembali berseteru? atau justru berdamai?
***
3 hari setelah pulang dari rumah sakit, Ady mengadakan acara syukuran untuk kesembuhan Ara dan juga kehamilan ketiga Alea. Ketiga? yah ketiga, karena kedua saat itu keguguran akibat insiden waktu itu.
Semua keluarga berkumpul, ada yang di ruang tengah dan di taman belakang. Seperti saat ini, Ady tengah membujuk putrinya itu untuk keluar bermain dengan yang lain.
"Sayang, sini nak. Kenapa di kamar terus, ayo keluar." Bujuk Ady pada putrinya.
Ara melengos, dia melipat tangannya di depan dada sambil menjauhi sang ayah.
"Ara ...,"
"Ayah cama anak balu ayah itu aja, Ala mau cali ayah balu," ujar Ara dan membuang wajahnya.
"Nak, masa gitu sama adeknya." Pasrah Ady.
"Pokokna adek lahil bakal Ala buang adekna! liat nanti Ala buang!" Ketus Ara.
Ady menggaruk alisnya, dia tak mengerti mengapa putrinya bisa secemburu ini mengenai adiknya nanti.
"Kok gitu sih? abang Shaka aja seneng punya adik, masa Ara enggak?" Bujuk Ady.
"Tau nda, puna adik teltekan cekali nantina pelacaanku. Nanti adikna kayak ci anabel, teltekan cetiap hali pelacaanku!" Ketus Ara
Ara akhirnya pergi bermain bersama yang lain, sementara Ady ikut keluar dan lebih memilih duduk di meja teduh.
Alea tengah tertawa bersama di ruang keluarga bersama Tiara dan juga mertuanya. Robert telah menjelaskan semuanya pada Alea tentang ibu dan ayah dari Alea.
Alea pun tak bisa marah dan kesal, semua sudah berlalu dan jalannya takdir. Alea tidak ingin 2 keluarga menjadi permusuhan, merela berdamai demi Ara. Cicit mereka.
Untuk Ady, tentu saja Alea marah. Bahkan dia mendiami Ady selama hampir 4 hari dan membuat laki-laki itu frustasi.
Tapi kembali lagi, sifat Alea yang mudah memaafkan akhirnya memaafkan suaminya itu.
Sedangkan para kakek, mereka tengah berada di ruang bermain menemani Shaka, Ara dan Bella bermain.
"Aku mau ini!" Pinta Bella sambil menarik boneka yang berada di pelukan Ara.
Ara yang tak siap pun tak bisa menahan boneka kesayangannya, karena dia kesal dan lelah. Dia pun berlari ke arah Ady yang sedang meminum kopi di meja teduh.
"AYAAHH!!!"
Ara berlari sambil menangis, dirinya sudah lelah dan di tambah lagi Bella merebut kembali mainannya.
Ady melihat sang anak yang berlari pun beranjak dan berjalan mendekat. Dia merentangkan tangannya sehingga Ara masuk ke dalam gendongan Ady.
"Hei, kenapa nangis?" Tanya Ady sambil mengusap air mata putrinya.
"Boneka Ala di ambil Bella hiks ... di ambil lagi hiks ...,"
Ady menghela nafas pelan, dia membawa Ara bersandar di bahunya dan berjalan menghampiri Bella yang saat ini berada di pangkuan Nando.
"Bella, kembalikan mainan milik Kak Ara sayang," ujar Ady dengan lembut.
Nando langsung melihat apa yang putrinya pegang, sedangkan Bella langsung menyembunyikan boneka itu di belakang punggungnya.
"Maaf bang, itu mainan anakku. ARa menangis karena Bella mengambilnya," ujar Ady.
Nando mengangguk, dia mencoba membujuk Bella. Namun, putrinya itu malah berteriak dan menangis keras.
"Pinjam dulu bentar Dy, dari pada Bella nangis," ujar Nando.
"Anakku juga nangis bang! kamu kan bisa belikan dia!" Kesal Ady.
Reyhan yang sedang menemani Shaka bermain bola berjalan mendekat. Begitu pula dengan Robert dan Ethan.
"Ada apa ini?" Tanya Reyhan.
"Kakek hiks ... boneka Ala di ambil Bella hiks ... dia ambil balang Ala telus." Adunya.
Robert menatap boneka yang Bella pegang, itu boneka kedua yang Robert berikan pada Ara. lagi-lagi boneka itu di ambil oleh Bella.
"Bella, kembalikan barang milik Ara nak." Bujuk Robert.
"NDAK! NDAK MAU!! HUAAA!!"
Mereka menutup telinga mereka karena suara Bella yang tampak sangat nyaring, bahkan Ara sampai menghentikan tangisnya.
"Dih, pelacaan Ala yang nanis tadi. Huh, teltekan cekali pelacaanku!" Gumam Ara.
"Sudah-sudah, sakit telingaku. Biarkan saja, Ara nanti kakekmu ini belikan yang baru." Ujar Reyhan sambil mengibaskan tangannya.
"Itu boneka limited, mana ada yang jual!" Ketus Robert.
Akhirnya bukan lagi Ara dan Bella yang bertengkar, melainkan Reyhan dan Robert.
"Bang, jangan suka ajarin anak untuk merebut milik orang lain. Nanti sampai besar dia akan menjadi seperti itu!" ujar Ady dengan kesal.
"Namanya juga anak kecil Dy, lagi pula Bella umurnya lenih kecil dari Ara. lebih baik Ara yang mengalah," ujar Nando.
Bukan hanya para kakek, para juga pun ikut berdebat. Keadaan semakin ricuh demi mempertahankan ego masing-masing.
Sedangkan Shaka, dia mengamati boneka yang Bella pegang. Dia melirik ke arah papa nya itu, lalu melirik Ady.
Dengan berjalan pelan, Shaka menghampiri Nando. Dengan gerak cepat, dia menarik boneka milik ARa dari tangan Bella dengan gesit.
"HUAAA!!!"
Atensi mereka semua teralih pada Bella dan juga Shaka, mereka tak menyangka jika Shaka berani mengambil boneka itu dari Bella.
"Ala, tulunlah. Ini bonekanya, jangan menangis lagi,"
Ady menurunkan Ara, sehingga kini putrinya itu memeluk kembali bonekanya.
"Makacih Chaka!" Seru Ara dengan senang.
Bagaimana dengan Bella? tentu saja anak itu menangis kejer, Nando sibuk menenangkannya.
Mungkin karena rame, para wanita oun akhirnya keluar. Siska langsung berjalan menuju suaminya yang menenangkan putri mereka.
"Kenapa Bella mas?" Tanya Siska dengan bingung.
"Bonekanya di ambil Shaka," ujar Nando.
Siska langsung mencari Shaka, melihat putranya itu sedang bermain bersama Ara dia pun menghampiri nya.
"Shaka, apa yang kau lakukan? kau membuat adikmu menangis!" Omel Siska.
"Bella ambil boneka Ala," ujar Shaka.
"Dia hanya meminjam, kenapa kau rebut hah?!"
"Katakan yang baik, jangan membentaknya!" Kesal Alea.
"Ini urusanku dengan putraku!" seru Siska.
"Dia putramu, tapi aku bundanya! Selama dia tinggal bersamaku, akulah bundanya bukan kamu!" EMosi Alea sudah meluap, dia tak dapat menahan kekesalannya. Apalagi kini dia sedang hamil, kondisi hormonnya tak menentu.
Ady yang melihat istrinya itu sudah tak terkendali segera mendekat, dia mengusap bahu istrinya agar meredakan amarahnya.
"Sudah-sudah," ujar Ady.
"Apa sih mas! Bilangin sama kakakmu, jangan biasakan putrinya merebut milik putriku!" Ketus Alea.
"APa maksudmu?!" Seru Siska tak terima.
Alea dan Siska berdebat, merek yang ada di sana panik. Baru saja mereka berdamai dan tertawa-tawa, kini bertengkar hanya karena putri mereka.
"Kakak gak bisa liat didikan kakak? Shaka ikut sama aku dari kecil, sifatnya mudah mengalah dan sayang sama yang lain. Berbeda sama sama Bella yang sedari kecil di rawat oleh kalian, dia egois dan pintar merebut!" Marah Alea.
Alea tak dapat lagi membendung emosinya, bukan hanya putrinya tetapi putranya. Shaka sudah seperti putra kandungnya, ibu mana yang rela anaknya di bentak.
"Alea! wajar saja, Bella masih kecil!" ujar Siska tak terima.
"Putriku juga masih kecil, begitu juga dengan putraku! mereka belum mengerti yang benar dan salah, mereka masih lugu dan polos! Skak! Siska terdiam mendengarkan perkataan Alea.
Alea langsung menarik Shaka masuk, sementara Ady membawa Ara ke gendongannya dan pergi masuk menyusul sang istri.
" Lihat, cicitmu itu selalu mengganggu cicitku!" Ketus Reyhan.
"Hei, dia juga cicitku!" Seru Robert tak terima.
Sementara di dalam, Alea langsung menuju dapur. DIa mengambil botol susu dan menyerahkannya pada Shaka.
"Minum dan tidurlah, sudah waktunya tidur siang." Titah Alea.
Begitu pula dengan Ara, dia turun dari gendongan Ady dan mengambil botok susunya dari tangan Alea.
Ara berjalan ke arah Shaka, dia memegang tangan Shaka dengan tangan yang satunya. Sedangkan tangan yang lain ia gunakan untuk menahan botolnya.
Keduanya masuk ke dalam kamar mereka sambil bergandengan, melihat itu Ady dan ALea tersenyum tipis.
"Mas, serasa punya anak kembar yah." Bahagia ALea.
"Euhmm,"
Ady memeluk Alea dari belakang, membuat Alea nyaman dengan perlakukan Ady.
"Mudah-mudahan yang Ini kembar," ujar Ady.
"Mana bisa! bapaknya gak ada kembaran." Ketus Alea.
"Loh, kamu kan kembaran yang. Lupa?"
Alea lupa akan hal itu, dia dan Arga ternyata adalah saudara kembar.
"Ya aku lupa. Eh, ngomongin soal kembaran. Kembaran aku kemana dia?" Tanya Alea dengan heran.
"Dia lagi bulan madu lah tang sama istrinya, pengantin baru." Jawab Ady.
"Pasti mereka lagi liburan, seru banget." Ujar Alea sambil membayangkan liburan.
Ady terdiam, dia teringat jika awal mereka menikah Ady belum kembali pada kekayaannya. Sehingga ia hidup pas-pasan, bahkan mahar yang di berikan pada Alea hanya sedikit.
"Yasudah, kita liburan kayak mereka gimana?" ujar Ady sambil menaik turunkan alisnya.
Olak!
"Terlambat! udah isi lagi baru ngajak!"
Ady pun tertawa mendengarnya, dia membalikkan badan Alea dan menciumi istrinya itu. Mereka berpelukan tanpa memperdulikan ada yang melihat mereka.
"Terima kasih, terima kasih telah kembali dan menerimaku lagi mas," ujar Alea.
"Justru aku yang berterima kasih, terima kasih sudah memberikan aku seorang putri yang lucu. Maaf karena selama kamu hamil Ara, aku gak pernah ada di sampingmu,"
Alea mengangguk sambil menatap Ady dengan netra berkaca-kaca. Perjuangannya untuk mendapat maaf Ady akhirnya tercapai, berkat putrinya yang meluluhkan hati dingin pria itu.
"Hayooo!!! ngadain pesat kok gak ngajak-ngajak!"
Alea dan Ady terkejut, mereka menoleh dan mendapati Arga datang bersama Angel.
"Arga!" Seru Alea.
Alea melepas pelukan suaminya, dia langsung memeluk Arga yang merentangkan kedua tangannya.
"Aku ini abangmu tau!" cemberut Arga.
"Kita cuman beda berapa menit doang!" Ujar Alea tak terima.
Ady melihat istrinya yang bahagia pun tersenyum, netranya beralih menatap Angel yang menatapnya.
"Masuklah, keluarga yang lain ada di ruang tengah," ujar Ady.
Angel mengangguk, dia merasa malu dengan Ady. sehingga dia pun masuk menemui keluarga yang lain.
Pelukan Arga dan Alea terlepas, Arga berjalan mendekati Ady. Dia menepuk bahu Ady pelan sebagai tanda menyapa.
"Sebenernya gue belum ikhlas maafin lo," ujar Arga.
"Tapi karena lo ipar gue, yaudah deh gue maafin,"
Ady menatapnya datar, apa-apaan kakak iparnya itu?
"Teruma kasih karena selama ini lo menjaga adik gue, memberikan dia cinta dan kebahagiaan." Tulus Arga.
"Itu udah jadi tugas gue," ujar Ady.
Keduanya berpelukan, Alea yang melihat itu pun tersenyum.
"Kak Alea,"
Mereka bertiga menoleh, pelukan Ady dan Arga terlepas.
"Ga, ini Edgar adik kita. Dia anak ayah sama ibu," ujar Alea.
Arga tersenyum, dia menatap remaja yang menatapnya dengan berkaca-kaca. Edgar sudah di ceritakan oleh Alea jika Arga adalah kakaknya juga. Walau mereka beda ibu, tetapi mereka satu ayah.
"Ternyata adikku sudah besar," ujar Arga.
Arga membawa Edgar ke pelukannya, Edgar akhirnya merasakan sosok abang. Alea dan Ady yang melihat itu saling merangkul dan tersenyum.
"Hadirnya Ara, membuat keluarga kita bersatu," ujar Alea.
"Benar, Love binder's Baby. Bayi pengikat cinta,"
Sedangkan yabg di bicarakan, kini sedang tertidur pulas. Dalam tidurnya, entah ala yang ia mimpikan. Ara tersenyum dalam tidurnya dengan senyum bahagia.
Lanjut season duanya gimana nih? langsung pas Ara besar, atau lanjut soal Shaka yang akan kembali saat umurnya 5 tahun?
Maaf banget yah baru bisa kembali up, harus baca ulang biar ngerti alur😭. udah yah, jangan di teror terus author nya🤭🤭.
Selanjutnya, mulai besok aku akan up setiap hari. Gak papa kan kalau up nya cuman satu? tapi ada lah sesekali kita double up.
Lanjutan nya di sini aja kali yah, biar langsung🤭🤭