
"Oeekkk ... oeekkk,"
Ady tengah menenangkan Ara yang menangis akibat sehabis di tindik, dia menimangnya ke kiri dan kanan.
"Sebentar yah, sakitnya sebentar doang kok nak," ujar Ady.
"UHUK! UHUK! OEEKK,"
Ady mengelus pelan punggung putrinya, Ara sudah terbatuk karena kebanyakan menangis. Alea tengah ke kamar mandi untuk buang air sementara Robert hanya bisa menatap Ady yang kewalahan menenangkan Ara.
"Besok mending kamu ikut sekolah kejuruan ayah aja Dy," saran Robert.
"Maksudnya?" bingung Ady.
"Kamu masih bodoh dalam mengurus anak," ujar Robert dengan wajah tanpa dosa.
Ady menatap Robert dengan pandangan datar, dirinya sungguh kesal dengan usulan kakeknya itu.
"Sudah, sini mas Ara nya," ujar Alea yang baru kembali dan mengambil Ara dari gendingan Ady.
"Syuutt, kok nangisnya begitu hm?" ujar Alea.
Alea pun memakai kain penutup, dia menyusui Ara dan menatap Ady yang juga tengah menatapnya.
"Sekarang pulang?" tanya Ady.
Alea mengangguk, mereka pun memutuskan pulang.
Di tengah perjalanan, Alea meminta Ady untuk berhenti. Dia melihat jalanan yang menjadi saksi saat dirinya tertabrak, Alea menatap Ady yang juga tengah menatapnya.
"Di tempat ini ... di tempat ini aku di tabrak, saat itu aku melakukan operasi sebab tabrakan itu," batin Alea.
"Ada apa? Kenapa kau meminta berhenti disini?" heran Ady.
"Tidak papa, aku kira disini ada pemulung seperti biasa ternyata tidak. Tak apa mas, jalan kembali saja," ujar Alea.
Dengan wajah yang masih terlihat bingung, Ady mengangguk dan melajukan kembali mobilnya.
Alea menatap jalanan luar, dan netranya pun beralih menatap Ara yang tengah pulas tertidur di pelukannya.
"Bunda harus balas bukan? dia hampir saja melenyapkanmu, bunda tidak tahu apa jadinya jika kamu tidak selamat," batin Alea.
Matanya bergilir menatap Ady yang tengah fokus mengendarai mobilnya, dia tak pernah mengira jika Ady adalah seorang penerus Dominic.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Ady pada Alea yang kini masih melihatnya.
"Oh, enggak," ujar Alea dan kembali melihat jalanan.
Ady semakin heran dengan tingkah ALea belakangan ini, seperti ada sesuatu yang istrinya itu sembunyikan.
Robert, pria paruh baya itu hanya menatap keduanya tanpa minta.
Netra Ady tak sengaja melihat kumpulan para remaja yang tengah memukuli remaja lain, dia pun menghentikan mobilnya karena merasa kenal dengan remaja itu.
"Al, itu Edgar!" seru Ady dan segera keluar.
Alea dan Robert yang melihat itu langsung saja keluar dari mobil, para remaja itu memukuli Edgar di pinggir jalan.
BUGH!
Hampir saja Edgar terpukul balok kayu jika saja Ady tidak datang menyelamatkannya. Netra Ady menajam menatap para remaja yang tengah menatapnya takut.
"Kenapa kalian memukulinya? Apa salah dia dengan kalian?" tanya Ady dengan dingin.
"Tuan, lebih baik kau tidak usah ikut campur. Ini masalahku dengan anak sampah itu," seru Yudha.
Saat Ady akan menjawab, tepukan di bahunya membuat dia menoleh. Alea berada di belakangnya tanpa Ara di gendongannya.
"Siapa yang kamu maksud anak sampah?" tanya Alea dengan geram.
"Tentu saja dia! anak beasiswa tidak tau diri, parasit!" seru Yudha.
Edgar masih terdiam, bukannya dia takut hanya saja dirinya sangat menjaga nama baik kakak iparnya.
"Oh, jadi dia adikmu? apa kau pembantu dari tuan ini?" tanya Yudha dengan angkuh.
Edgar mengepalkan tangannya, dia merasa marah ketika kakaknya di hina. Edgar sellau terima jika dirinya di sakiti fisik dan mental, tetapi dia tak akan terima jika keluarga dibawa dalam hal ini.
"Pukul," titah Alea.
Edgar masih tak bergeming, dia tetap diam dengan pandangan datarnya.
"PUKUL EDGAR! KAKAK MEMERINTAHKAN KAMU UNTUK MEMBALAS!" sentak Alea.
BUGH!
Dengan sekuat tenaga Edgar memukul wajah Yudha yang terlewat sombong. Rahang Yudha menjadi miring, Edgar yang melihat itu tersenyum tipis. Keahliannya belum lah hilang, dia harus mengasahnya kembali.
"Masih untung hanya rahangmu yang geser, bukan otakmu yang ku buat berhenti," ujar Edgar dengan dingin.
Semua teman Yudha menatap Edgar tak percaya, sedangkan Edgar hanya melipat tangannya di depan dada dan menatap abang iparnya yang tengah melongo.
"Maafkan aku, janji ini yang terakhir," ujar Edgar dan mendekati sepedanya.
Edgar melajukan sepedanya meninggalkan dua orang yang masih berdiam di tempat.
"Edgar ...,"
"Dia taekwondo, sabuk hitam," cuek Alea dan kembali ke mobil.
Ady akan mengikuti Alea, tetapi tatapannya terjatuh pada Yudha yang tengah menahan sakitnya.
"Wanita yang kau sebut pembantu itu istriku, jaga baik-baik ucapanmu!" ujar Ady dan pergi meninggalkan para remaja itu.
Yudha mengepalkan tangannya, rahangnya begitu sakit. Dia tahu siapa pria yang ada di depannya tadi, tetapi dia tak pernah tahu jika Adu sudah menikah.
"Lu sih bos cari gara-gara, udah tau tadi tu cewe cantik begitu. Gue kira malah kakak kelas kita, masa iya lu katain dia pembantu," celetuk tekan Yudha.
"Bisa diem gak lu! banci!" kesal Yudha dan pergi meninggalkan para temannya yang terbengong.
"Lah kalau kita banci si bos apa? waria kali yah," gumam salah satu dari mereka.
***
"Sejak kapan kamu di bully?" tanya Ady mengintrogasi Edgar.
"Semenjak sekolah di sana," jujur Edgar.
Ady menatap remaja yang tengah bermain game dengan santai, padahal luka lebam di wajah Edgar membuat Ady merasa ngilu.
"Aku sudah biasa, hanya Razka yang mau berteman denganku. Ini bukan seberapa," ujar Edgar.
"Tapi kan kau harus bicarakan ini, kakakmu semakin banyak pikiran jika kau selalu menghindarinya, dia kakakmu pengganti orang tuamu. Ceritakanlah apa yang terjadi pada dirimu, entah di sekolahmu ataupun di tempat lain," pinta Ady.
Edgar menyimpan stik PS miliknya, dia menatap Ady yang tengah duduk di kursi meja belajarnya. Helaan nafas terdengar, tatapan Edgar berubah menjadi serius.
"Jika aku buat masalah, mereka pasti akan memanggil kak Alea. Dia baru saja hidup tenang dengan abang, tidak mungkin aku menghancurkan nya dengan menjelekkan nama keluarga ini. AKu masih cukup sadar jika aku hanya menumpang," terang Edgar.
"Kenapa kau berkata seperti itu? siapa bilang kau menumpang? kau adik abang, kenapa bisa kau berfikir seperti itu? Abang tidak pernah membedakanmu dengan Razka, kalian sama-sama adik abang," ujar Ady tak terima dengan pernyataan Edgar.
"Ed, abang sudah menganggapmu sebagai adik kandung abang sendiri. Bahkan mamah dan papah telah menganggapmu anak mereka? apa kasih sayang kami terhadapmu masih kurang?" lanjut Ady.
Mata Edgar mengembun, dia memalingkan wajahnya agar Ady tak melihat betapa rapuhnya dia.
"Bersikaplah layaknya seorang adik, jangan selalu menganggap dirimu adalah orang asing. Karena kita ini keluarga," tulus Ady.
"Abang ...," panggil Edgar dengan bibir bergetar.
BRUGH!
Edgar memeluk Ady dengan erat, dia menumpahkan segala tangisnya. Ady menjadi pengganti ayahnya, Ady lah yang membantunya selama ini.
Terlihat Alea tengah mengintip, dia tersenyum bahagia. Keluarga ini menerima ia dengan adiknya dengan penuh suka cita, padahal dia hanyalah kalangan biasa bukan seperti Dominic. Sungguh dia merasa sangat bersyukur untuk itu.