Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
Episode 85: Arga di begal



Kamu baik-baik yah di sana." Ujar Alea sambil memeluk Opi.


Opi menganggukkan kepalanya, anak berumur 5 tahun itu hanya menatap sedih karena akan berpisah pada Alea.


Setelah melepas pelukannya, Roni selaku abang tertua langsung menggandeng lengan Opi memasuki mobil.


Mereka pun akhirnya pergi dari sana, sementara Alea hanya menatap kepergian mereka sambil melambaikan tangannya.


Ady yang melihat istrinya bersedih pun mendekat, ia merangkul istrinya dan mengelus baju itu pelan.


"Masuk yuk, kasian anak-anak tidur sendiri." Ajak Ady.


Akhirnya Alea menuruti suaminya untuk memasuki rumah, dia berniat untuk tidur karena badannya terasa sangat lelah.


Dertt


Dertt


Ponsel Ady berbunyi, dia pun mengurungkan niatnya memasuki kamar bersama Alea untuk mengangkat telpon.


Saat sudah menjauhi Alea, Ady langsung mengangkat telpon tersebut.


"Halo,"


"Halo Ady! Cepatlah ke rumah sakit, Arga di begal!"


Ady membulatkan matanya, dia merasa terkejut karena tiba-tiba saja yang menelponnya mengabarkan tentang musibah itu.


"Baik tan, Ady langsung ke sana sekarang," ujar Ady dan mematikan sambungan itu.


Tanpa pamit, Ady segera keluar dari rumah dan melesat pergi ke rumah sakit. Sementara di kamar, Alea tengah merasa tak enak badan. Entahlah, dia juga tak tahu apa yang terjadi pada dirinya saat ini.


Saat Alea akan memejamkan mata, dia mendengar suara mobil Ady.


"Mas Ady pergi kemana?" Heran Alea sambil menatap jendela kamarnya.


"Mungkin balik ke kantor kali yah." Lanjut Alea karena wanita itu tidak mau ambil pusing, dia pun kembali tidur.


sesampainya di rumah sakit sesampainya di rumah sakit Adi langsung menuju ruang UGD Arga. Di sana terlihat Tiara sedang menunggu Arga di depan pintu dengan perasaan cemas Ady pun langsung menyapa kedua orang itu dengan nafas yang tersenggal-senggal akibat berlari tadi.


"Jadi gimana Tan keadaan Arga? memangnya apa yang terjadi dengan Arga?" tanya Ady dengan cemas.


"Tadi, tadi saat pulang dari kantor. Tiba-tiba saja ada orang yang menikam perutnya, mobil dia di ambil bahkan laptop ponsel dan dompet juga ikut di ambil hiks ...," ujar Tiara.


Ady yang mendengar hal itu terkejut, netranya melihat ke arah Gehna yang menenangkan sang ibu.


Cklek!


Dokter akhirnya keluar, Ady langsung menghadap nya dan bertanya mengenai keadaan Arga.


"Jadi gimana dok? pasien gak papa kan?" Tanya Ady dengan panik.


"Apa disini ada yang mempunyai golongan darah A? kami sangat membutuhkannya untuk pasien, karen stok sedang habis dan akan lama untuk mencari." Terang sang dokter.


Tatapan Ady mengarah pada Tiara dan juga Gehna, keduanya menggeleng.


"Tante sama kayak Arga, hanya saja tante memiliki trauma terhadap jarum suntik." Terang Tiara.


"Ini keadaan Arga lagi darurat tan! seenggaknya hilangkan dulu trauma itu, ini anak tante loh!" Sentak Ady hingga ia melupakan fakta bahwa Arga bukanlah anak kandung dari Tiara.


Tiara akan menimpalinya, tetapi dia teringat jika Gehna belum tahu yang sebenarnya.


"Mohon kerja samanya, pasien tengah mengalami kritis akibat tusukan yang hampir mengenai ginjalnya," ujar dokter itu.


Mendengar hal tersebut, Ady langsung berdecak kesal. Dia menelpon temannya yang kebetulan juga seorang dokter di rumah sakit lain, tetapi temannya berkata jika stok tengah kosong begitu juga dari rekan yang lain.


"Ady." Panggil Tiara saat Ady akan menelpon kembali.


"Panggil Alea kesini!" Titah Tiara.


Ady menaikkan satu alisnya, dia menaruh ponselnya kembali dan menatap tajam ke arah Tiara.


"Apa maksud tante?" Cetus Ady.


"Alea memiliki darah yang sama dengan Arga, mereka kan kembar dan pasti dia bisa mendonorkan darahnya." Ujar Tiara dengan suara bergetar.


Ady membulatkan matanya tak percaya, secara tak langsung Tiara menginginkan semuanya terbongkar.


"Tante gila hah?! istriku belum tahu jika Arga adalah kembarannya!" Sentak Ady dengan suara keras, dan karena itu Gehna mendengarnya.


"Apa? Bang Arga dan Kak Alea saudara kembar? mah?"


Tatapan keduanya menatap ke arah Gehna yang tengah membulatkan matanya, remaja itu sepertinya terkejut mendengar pernyataan barusan.


"Gehna, mamah ...,"


"Aku gak akan kasih tahu Alea soal ini!" Geram Ady.


"JANGAN GILA KAMU! KEMBARANNYA TENGAH SEKARAT DAN KAMU MASIH MEMENTINGKAN EGOMU!" Marah Tiara.


"Lalu ... bagaimana dengan tante? tante juga egois, bisa kan tante yang donorin. Kenapa harus Alea?" Ujar Ady membalikkan tuduhan Tiara.


Tak lama bunyi ketukan sepatu terdengar, Ady melihat Ayunda dan Reyhan tengah berjalan cepat ke arah mereka.


Sebelum mereka sampai, Ady segera mengiyakan ucapan Tiara.


"Ok! aku akan menyuruh Alea untuk mendonorkan darahnya, tapi dengan satu syarat! jangan biarkan ayah anda tahu mengenai siapa Alea!" Ujar Ady dengan tegas.


Karena keadaan semakin mendesak, terpaksa Tiara mengiyakan. Dia melihat Ady segera pergi dan akan menjemput istrinya.


"Gimana? Arga selamat?" Tanya Reyhan dengan wajah datarnya.


"Ayah, Arga masih ada di dalam. Dia kehabisan darah, beruntung teman Arga akan kesini untuk mendonorkan darahnya," ujar Tiara.


Reyhan mengangguk, darahnya dan Arga memang sama. Namun, di karenakan umurnya yang sudah memasuki 70 tahun membuatnya tak bisa menjadi pendonor.


"Kakek." Panggil Gehna dan berjalan kecil menuju sang kakek.


Mengetahui gerak-gerik putrinya yang akan mengabari sesuatu membuat Tiara memegang lengan sang putri dengan erat. Dia membawa Gehna menjauh dari Reyhan sesegera mungkin.


Sementara Ayunda, dia mengerutkan keningnya ketika melihat Ady yang segera pergi ketika dia dan Reyhan datang.


"Kenapa bisa Ady ada disini?" Gumam Ayunda.


***


Alea dan Ady berjalan tergesa-gesa di lorong rumah sakit, dan langkah mereka terhenti di depan sebuah ruangan untuk mendonorkan darah.


Dengan setia, Ady menunggu istrinya itu yang sedang mendonorkan darahnya. Setelah tadi di cek dan semuanya baik, sehingga pendonoran pun berjalan lancar.


Singkatnya, Alea telah selesai mendonorkan darah. Dengan badan yang lemas, dia menatap Ady yang juga tengah menatapnya.


"Gimana? pusing yah?" Tanya Ady.


Dengan lemas, Alea pun mengangguk. Ady mendekatkan wajahnya, dia mengecup kening beserta bibir Alea.


"Mas, sebenarnya siapa yang aku donorkan?" Tanya Alea, karena Ady hanya mengatakan jika temannya tengah sekarat dan butuh donor darah.


"Itu ... dia teman ku sejak kecil," ujar Ady.


"Perempuan?" Tebak Alea.


Dengan tegas Ady menggeleng, dia saja cuek dengan wanita. Bisa-bisanya ia mempunyai teman perempuan.


"Enggak! dia laki-laki, udah kamu istirahat aja. Bentar lagi kita pulang, kasihan Edgar jaga kedua bayi sekaligus." Terang Ady.


Alea mulai memejamkan matanya, mungkin karena lelah dan mengantuk. Melihat istrinya yang tidur, Ady beranjak keluar dan menuju ruang perawatan Arga.


"Ady! gimana? dia ...," ucapan Tiara terhenti saat mendapati Ady yang tengah menatap datar orang yang berada di belakang Tiara.


"Bagaimana cucu pembunuh ini ada disini?" Ujar Reyhan dengan dingin sambil menatap tajam Ady.


Ady mendadak melangkah maju, dia tak suka jika kakeknya di katakan pembunuh. Secara, anak pria itulah yang mencelakai dirinya sendiri.


"Mohon maaf sekali tuan, setelah lama tidak bertemu ternyata Fungsi otak anda semakin lama semakin menurun." Ketus Ady.


"KAU!!! AYUNDA! APA INI PRIA YANG KAU CINTAI? TIDAK BERMORAL SEPERTI INI?" Sentak Reyhan pada cucunya itu.


"Tunggu sebentar ... Tidak bermoral gimana maksudnya? saya tidak pernah mengotori cucu kesayangan anda, bahkan saya laki-laki yang bertanggung jawab. Tidak bermoral bagaimana? oh ... seperti anda yah? seorang ayah yang tega memaksa putrinya bercerai dan berpisah dari anaknya?" Balas Ady tak kalah pedas.


Reyhan melototkan matanya, tangannya terkepal erat ingin sekali memukul Ady.


"Saya tidak sudi jika salah satu keluarga saya berhubungan denganmu, termasuk kamu Ayunda! lupakan pria ini! sampai mati pun, kakek gak akan rela keluarga kita dan dia menjadi besan!" Marah Reyhan.


"Hei Tuan Reyhan yang terhormat, siapa yang mau menikahi mantan? saya sudah menikah dan memiliki dua anak, apa saya harus menikah kembali dengan wanita yang jauuhhh di bawah istri tercinta saya?" Ujar Ady dengan datar.


Keduanya bersitegang, bahkan Ayunda tak percaya dengan apa yang Ady ucapkan. Sakit hati? tentu saja, bagaiman pun juga dia dan Ady memiliki kenangan.


"Mas, dari tadi aku cariin ternyata disini,"


Tubuh Ady mendadak kaku, begitu pula dengan Tiara dan Gehna.


Dengan perlahan, Ady membalikkan badannya. Netranya menatap sang istri yang tengah menatapnya bingung.


"Loh, ada tante Tiara juga? siapa yang sakit tan?" Ujar Alea dengan bingung ketika melihat Tiara yang baru saja berbalik badan.


Suasana semakin panas, di tambah Reyhan yang sejak tadi mematung ketika melihat wajah Alea.


"Tania?" Ujar Reyhan dengan lirih, dan sayangnya lirihan itu di dengar oleh Alea.


"Maksud kakek apa yah?" Ujar Alea dengan bingung.


Menyadari kondisi yang tak baik, Ady segera menarik tangan istrinya pergi dari sana sebelum semuanya terbongkar.


"Tiara! wanita itu, kenapa mirip sekali dengan kembaranmu?" ujar Reyhan pada Tiara yang tengah bungkam.


Sedangkan Ayunda, dia menatap kepergian Ady beserta Alea dengan rasa sakit di hatinya.


"Kenapa sakit sekali." Batin Ayunda.


__________


Tauu gakkkk, kemarin udah buat capek-capek eh malah ponselnya eror entah mengapa ketikannya jadi hilang ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ kan kesel jadinya. Mau ketik ulang, moodnya udah jelek๐Ÿ˜ด๐Ÿ˜ด๐Ÿ˜ด. Ini di panjangin kok ketikannya dari biasanya๐Ÿ˜Œ๐Ÿ˜Œ๐Ÿ˜Œ