
"Aaaaa! Ndaaa! hiks ... ndaaa,"
Mereka baru saja sampai di rumah, sehabis di suntik tadi tangisan Ara dan Shaka belum juga reda apalagi Shaka yang terus ingin berdekatan Alea. Berbeda dengan Ara, dia sudah lebih tenang di dekapan sang ayah.
"Iya-iya sayang, bentar yah, bunda ambil baju kamu dulu," ujar Alea yang kini beranjak ke kamar tanpa Shaka.
Ady mendorong stroller yang berisi Shaka, karena Ara yang berada di gendongannya. Ia menghentikan langkahnya dan duduk di sofa, netranya melihat putrinya yang hampir terlelap dengan sesenggukan.
Kemudian tatapannya beralih menatap Shaka, bayi itu terlihat sudah lebih tenang dan tengah menatap Ady.
"Jangan cengeng, jadi bayi harus LAKIK!" Ujar Ady dengan sentakan di akhir kata.
Shaka yang tengah menatap Ady serius seketika menegang terkejut, begitu juga dengan Ara hingga tubuhnya tersentak kaget.
"EKHEE ... EKHEE ... EKHEEE,"
"Eh, kok malah nangis dua-duanya?" Bingung Ady.
Ayah yang masih berusia muda itu tengah panik, bahkan ia berusaha menenangkan dua bayi sekaligus.
"Diam yah ... diam yah sayang, maafkan ayah. Shaka! kau juga diam, jangan caper di waktu yang gak tepat!" Seru Ady.
Alea yang barus saja turun dari tangga pun berlari sedikit cepat, ia melihat Shaka dan juga Ara yang sidah menangis histeris.
"Kenapa mas?" Tanya Alea yang kini sudah mendekati mereka.
"Na-nangis, tadi di gigit kerbau ... eh maksudnya nyamuk, iya kaget jadinya mereka." Ujar Ady sambil meneguk ludahnya kasar.
Sedikit bingung dengan penjelasan Ady, tetapi Alea tak ambil pusing karena ia harus menyusui keduanya.
"Mas, bawa ke kamar. AKu mau nyusuin mereka," ujar Alea.
Ady mengangguk, mereka pun beranjak ke kamar sekalian beristirahat. Alea membaringkan tubuhnya dan mulai menyusui Shaka, sedang Ara bayi itu juga ingin.
"Terus Ara gimana Al?" Tanya Ady dengan bingung.
Alea baru teringat, ia pun membawa Shaka duduk dan mengeluarkan nutrisinya yang lain.
"Sinikan Ara nya." Pinta Alea sambil merentangkan tangan kirinya.
Dengan bingung, Ady melakukan apa yang Alea suruh. Alea mengambil putrinya dan menggendongnya di kiri, sehingga kini dia menyusui dua bayi yang bersandar di dadanya.
Ady yang melihat itu pun meringis, dia baru menyadari perjuangan seorang ibu menyusui anaknya harus seperti ini. Berkorban pegal, dan menahan kantuk serta lelah.
"Bisa Al?" Tanya Ady memastikan.
"Bisa, mamah yang ajarin aku kalau-kalau mereka memintai di waktu yang sama," ujar Alea.
Ady duduk di tepi kasur, dia memperhatikan kedua bayi itu yang menyedot asupannya dengan mata terpejam.
"Mas, coba kamu tolong ambilkan kompresan. Kayaknya tangan Shaka bengkak karena kebanyakan gerak sehabis di suntik tadi," ujar Alea yang menyadari saat bayi itu bergerak gelisah pada lengan kirinya.
Ady menurut, dia beranjak dari kamar untuk mengambilkan apa yang Alea pinta. Jika Alea bisa menjadi ibu siaga, maka dia juga harus bisa menjadi ayah siaga.
Tak lama Ady pun kembali, dia membawa baskom berisikan air dingin dan juga sebuah handuk kecil.
"Nih," ujar Ady dan menaruh baskom itu di nakas.
Dengan inisiatif, Ady mengambil handuk itu dan memasukkan ke air. Kemudian dia mengangkatnya dan memerasnya hingga sedikit lembab.
Ady mendekati Shaka, dia mengangkat lengan baju anak itu dan mengompresnya dengan pelan.
Shaka sempat melirik apa yang omnya itu lakukan, karena sangat mengantuk dia kembali memejamkan matanya.
"Maaf yah, pasti kamu capek ngurus mereka." Ujar Ady sambil menatap wajah lelah sang istri.
Alea tersenyum, dia membenarkan letak tangannya untuk menahan tubuh kedua bayi itu yang tengah bersandar di padanya.
"Ara putriku, Shaka keponakanku. Mereka bukan beban bagiku, sehingga tak ada lelah dalam mengurus mereka." Tulus Alea.
Ady memaksa senyumnya, dia tak habis pikir dengan Alea. Wanita itu meninggalkan karirnya dan juga impiannya demi memenuhi permintaannya. Bukan Ady egois, dia hanya trauma jika rumah tangganya kembali seperti dulu.
"Terima kasih, terima kasih kau sudah mau menurut denganku. Kau melahirkan putriku dengan bertaruh nyawa, dan kau merawatnya dengan ketulusan. Tak ada lagi wanita yang mampu memasuki ruang kosong di hatiku selain kamu, kamu yang sudah memenuhi ruang isi hatiku sehingga tak ada seorang pun yang dapat memasukinya," ujar Ady panjang lebar dalam berterima kasih pada sang istri.
Alea tersentuh karena ucapan Ady, dia membalas senyuman suaminya.
"Tapi tetapi saja, aku mejadi yang kedua," ujar Alea.
Ady mengerutkan keningnya.
"Yang kedua? enggak Al, suer deh aku gak pernah duain kamu!" Seru Ady.
"Syuuttt, yang bilang kamu duain aku siapa? orang aku bilang mejadi yang kedua," ujar Alea membela diri.
Bukankah tadi Alea yang bilang sendiri? terus, maksud wanita itu apa? Ady pun ikutan bingung sendiri.
"Terus tadi ...,"
"Ihhhsss, maksud aku itu ... aku menjadi yang kedua, karena cinta pertama kamu yaitu ibumu sendiri. Dia menduduki tempat tertinggi di hati seorang anak laki-laki, bahkan seorang wanita yang telah menjadi istrinya pun tak bisa menggeser kedudukan itu," ujar Alea.
Ady tertegun, sedewasa ini pemikiran istrinya? dia banyak melihat hubungan menantu dan mertua yang sering ribut akibat hal sepele. Namun, istrinya dengan terang-terangan mengakui kedudukan sang mamah.
"Oohh begitu, jadi kalau misalnya aku hanya mempunyai satu gelas susu. Kamu kelaparan dan mamah kelaparan, siapa yang lebih dulu aku beri?" Tanya Ady menantang pemikiran Alea.
Alea terdiam, bahkan ia terdiam sangat lama. Ady yang menyadari hak itu pun menghela nafasnya.
"Tidak usah di pikirkan, seka ...,"
"Mamahmu." Sela Alea dengan cepat.
"Kenapa?" Tanya Ady dengan netra menyorot Alea serius.
Alea tersenyum, dia melihat ke arah Ara dan juga Shaka secara bersamaan.
"Apa kau akan lebih memperdulikan wanita yang baru saja memasuki hidupmu? kau lihat aku, dengan rela aku menyusui mereka walau badanku lelah. Aku rela menyusui mereka walau perutku lapar, aku bahkan rela menyusui mereka di kala aku sangat mengantuk. Apa kau akan menyerahkan susu itu untuk istrimu, sedangkan ibumu menahan lapar, lelah, dan kantuknya hanya demi dirimu kenyang saat kecil?" Terang Alea panjang lebar dan hal itu membuat Ady sedikit berpikir.
Memang benar apa yang di ucapkan Alea, tetapi dirinya serasa belum puas dan menanyakan kembali.
"Lalu bagaimana dengan Shaka? ibunya tak seperti itu, apa dia harus memperdulikan orang tak memperdulikannya?" Tanya Ady.
"Tentu saja, dia harus peduli karena mamahnya juga peduli padanya. Jika Kak Siska tak memperdulikan Shaka, mana mungkin dia mau mengandung dengan susah payah, melahirkan dengan nyawa yang menjadi taruhannya. Hanya saja, rasa kecewa pasti itu ada. Shaka akan merasakannya, tetapi aku yakin setega-teganya Shaka dia tak mungkin menelantarkan ibunya."
"Karena darah lebih kental dari pada air." Lanjut Alea yang mana membuat Ady terpaku.