Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
Episode 83: Adopsi



"Sayang, serius kamu mau rawat Opi? kita gak tahu siapa keluarga aslinya, asal-usulnya. Dan gak mudah dapetin hak asuh begitu aja," ujar Ady pada Alea.


Mereka berdua tengah di kamar bersiap untuk tidur, malam lun sudah semakin larut.


"Aku kasihan sama dia, jadi inget dulu kehidupan ku yang susah saat pisah sama kamu." Lirih Alea.


Mendengar hal itu Ady memeluk pinggang istrinya dengan erat, dia membawa sang istri ke dekapan hangatnya.


"Hei, jangan di inget lagi. Udah yah," ujar Ady dengan lembut.


"Habisnya gimana, aku kasihan sama Opi hiks ...," ujar Alea di iringi isakan tangis.


Ady mengecup kening istrinya dengan lembut, kemudian dia mengelus pipi mulus sang istri.


"Aku kebetulan punya temen, dia mau adopsi anak. Keduanya sama-sama baik, penyayang dan kalau urusan finansial jangan di tanya. Ayah temanku seorang mentri, mereka bisa dengan mudah mengadopsi Opi." Usul Ady.


Alea menatap suaminya, tangannya terulur menghapus air matanya.


"Kenapa bukan kamu aja?" Tanya Alea dengan suara bergetar.


Ady menghela nafas berat, dia menarik tangan Alea dan menggenggamnya.


"Sayang, kita mempunyai dua bayi. Mereka harus lebih kita prioritaskan di banding Opi, aku khawatir jika kita lebih mementingkan kedua anak kita ada rasa iri di dalam hati Opi. Bagaimana pun juga, dia hanya anak kecil yang sangat menginginkan memiliki keluarga utuh." Terang Ady.


"Ngertiin yah." Bujuk Ady pada istrinya yang masih terdiam memikirkan apa yang barusan ia ucapkan.


***


Pagi harinya, seperti biasa Alea terbangun dan menyiapkan sarapan. Kedua bayi jiga sudah mandi dan kini tengah anteng bermain di kamar.


Opi, anak itu tengah membantu Alea di dapur. Ia memaksa untuk membantu dan Alea pun akhirnya mengizinkannya.


"Nah, taruh sini sayang." Ujar Alea sambil mengarahkan Opi yang sedang memegang segelas susu.


Opi pun menaruh segelas susu itu di atas meha, walau sulit dengan mudah ia menaruhnya.


"Sebentar yah, tante bangunin om dulu." Pamit Alea.


Alea beranjak ke kamar, saat ia membuka pintu ternyata Ady sudah siap dengan setelan kantornya.


"Udah siap? ayo sarapan dulu," ujar Alea yang berjalan mendekati suaminya.


Ady mengangguk, dia melihat istrinya dengan begitu intens. Tak lama, Ady menutup pintu dan menatap sang istri yang terkejut.


"Ada apa? kenapa pintunya di tutup? jangan aneh-aneh deh mas, kita mau sarapan loh ini!" Kesal Alea.


"Memangnya kau pikir mas mau apa?" Tanya Ady sambil menaik turunkan alisnya.


Alea berdecak sebal, dengan kasar dia menduduki dirinya di tempat tidur. Ady juga mengikuti istrinya, dia duduk di sebelah wanita yang di cintai nya itu.


"Sesuai ucapan mas semalam, mas telah mengabari teman mas. Dia setuju untuk mengadopsi Opi, siang nanti kita akan kumpul di sini," ujar Ady.


"Kenapa mereka mau mengadopsi anak?" Tanya Alea sambil menatap wajah sang suami.


"Mereka memang memiliki anak, tetapi ketiga nya laki-laki. Sang istri sudah tidak di perbolehkan kembali mengandung, sementara istrinya itu sangat menginginkan seorang anak perempuan." Jawab Ady dengan detail.


Alea diam dan memikirkan apa yang suaminya ucapkan, dia merasa sedikit aneh. Pasalnya, kebanyakan orang sangat menginginkan anak laki-laki di bandingkan perempuan.


"Sayang, anak perempuan adalah anugrah terindah. Saat pertama kali aku melihat Ara, terbesit dalam hatiku rasa bahagia yang membuncah. Entah mengapa, aku memang sangat ingin anak perempuan. Keinginanku terpenuhi dengan adanya Ara, dia yang mas jaga layaknya berlian."


"Begitu juga dengan teman mas, dia menginginkan sosok anak perempuan. Maka dari itu, mas menyarankan agar mereka mengadopsi Opi." Ujar Ady panjang lebar.


Alea mendengarkan dengan seksama kata demi kata yang suaminya lontarkan, dia kembali mengingat saat kejadian dimana sang suami akhirnya mengetahui jika mereka telah memiliki seorang putri.


"Sekarang kita sarapan, nanti siang aku akan pulang bersama dengan temanku untuk melihat Opi." Ajak Ady dengan lembut.


Alea mengangguk, dia dan suaminya pergi ke ruang makan. Di Sana sudah duduk Opi yang tengah menunggu mereka, sedangkan kedua bayi itu masih asik di kamar.


"Maaf, kamu sudah lapar yah?" Tanya Alea sambil menduduki dirinya di kursi samping Opi.


Ady pun mulai menduduki dirinya, tetapi dia baru teringat akan kedua bayi itu. Dengan segera Ady beranjak pergi untuk mengambil kedua bayi itu.


"Makanlah, kau ingin makan apa?" Ajak Alea sambil mengambil piring untuk Opi.


"E-ehhmm tempe aja tan," ujar Opi.


"Tempe? ini ada ayam, udang, dan daging juga ada. Kenapa tempe?" Bingung ALea.


Melihat keterdiaman Opi, Alea memutuskan untuk mengambilkan Opi ayam beserta udang. Ia menyerahkan piring tersebut pada Opi yang di tatap heran oleh anak itu.


"Makanlah, tidak usah menunggu om. Sepertinya ia akan mengambil anak-anak dulu," ujar Alea.


Dengan ragu, tangan kecil Opi menggapai sendok. Dia menyuapkan makanan dengan lauk udang itu ke dalam mulutnya.


Seketika raut wajah Opi berkaca-kaca, dia juga kembali menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.


Opi menangis sambil mengunyah makanan itu, Alea yang menyadarinya langsung membolakan matanya.


"Ada apa sayang? kenapa kau menangis? masakan tante gak enak yah? kalau gitu ...,"


"Hiks ... enggak, macakan tante enak banget. Opi sampe nanis begini." Sela Opi dengan terisak.


Alea membawa Opi ke pelukannya, dia mengelus punggung kurus itu dengan sayang.


"Opi nda pelnah lasain makanan enak hiks ... ini peltama kalina Opi lasain makanan enak hiks," ujar anak itu.


Alea menjadi sedih, dia semakin tak rela melepas Opi dengan teman yang di maksud suaminya.


Sementara itu, Ady tengah menatap mereka sambil menggendong Shaka dan Ara di masing-masing lengannya. Dia sungguh terharu dengan apa yang dirinya lihat.


Dia bisa merasakan bagaimana Alea sangat menyayangi Opi padahal mereka baru saja bertemu.


"Nda nis ... Nda nis!" Celoteh Shaka.


"Iya, kita samperin bunda yah." Ajak Ady yang di angguki oleh keduanya.


Ady pun menghampiri Alea dan Opi, dia berdehem sebentar untuk menyadari keduanya.


"Ekheem!"


Alea melepas pelukannya, dia menghapus air mata Opi.


"Sudah yah, lanjut makannya lagi," ujar Alea.


Ady menaruh Shaka dan Ara di kursi khusus mereka masing-masing, kemudian dia duduk di tempat nya.


Ady mengambil mangkok bubur Ara dan Shaka, dia menaruh mangkok itu di depan mereka. Dia juga memberikan sapu tangan dan menyelipkan dia kedua baju anak itu agar tidak kotor.


Memang Ady dan Alea mengajarkan keduanya untuk mandiri, walau makanan itu akan belepotan kemana-mana.


Shaka mulai menyendokkan buburnya walau memegang sendok belum terlalu benar, tetapi bubur itu berhasil dia suapkan ke mulut.


Begitu juga dengan Ara, bedanya jika Ara gampang kesal. Ketika buburnya sisa setengah, sudah sulit di sendokkan. Maka Ara dengan akal pintarnya mengambil bubur itu dengan tangannya dan menyuapkan ke mulutnya.


Maka dari itu, saat makanan Ara sudah tersisa setengah. Alea buru-buru mengambil alih sendok putrinya.


"Opi." Panggil Ady di sela mereka makan.


"Iya om?" Sahut Opi.


"Dimana ibu dan ayahmu? maksudku keluarga kandung?" Tanya Ady.


Opi menggeleng pelan, melihat hal itu Ady menyadari jika Opi tak tahu dimana keluarganya.


"Ekhem ... Opi, apakah kau mau memiliki keluarga utuh? seorang kasih sayang dari ibu dan ayah dan juga saudara?" Tanya Ady dengan pelan.


Opi yang telah memimpikan hal itu sedari dulu pun mengangguk semangat, hal itu membuat Ady tersenyum.


"Om memiliki teman, dia berniat mengadopsimu. Kamu tenang saja, dia sangat menyayangi anak perempuan. Kau pasti akan menjadi princess mereka nanti nya." Bujuk Ady.


"Benarkah? kalau begitu aku mau!" Seru Opi dengan raut wajah bahagianya.


Alea tersenyum sendu, padahal dia sudah menyayangi Opi. Apalagi melihat kebahagiaan sederhana anak itu, pasti akan membuat harinya tambah bahagia.