
Pagi harinya, rumah ramai akibat Sky yang rewel. Anak itu tak pernah mau lepas dari Ady, sehingga Ady harus terus menggendongnya. Bahkan untuk Sekedar duduk, Ady tidak di perbolehkan oleh Sky. Dia akan menangis keras, dan itu membuat Ady khawatir.
"Pegel banget yang." Adu Ady pada Alea yang duduk di tepi ranjang sambil memompa asinya. Karena Sky yang tak mau dia gendong, sehingga Alea harus memompa asinya dan di masukkan ke dalam boto.
"Sabar yah mas, bentar lagi selesai. Nanti kalau dia udah nyusu, paling nanti juga tidur," ujar Alea.
Ady menghela nafas pelan, sudah dua jam dia berdiri. Lelah memang, tetapi Ady lebih merasa sedih ketika putranya sakit. Wajah pucat, hidung beserta pipi merah akibat demam. Dan jangan lupakan juga plester demam di keningnya.
Pipi berisi Sky tertekan oleh bahu Ady karena anak itu menyandarkan kepalanya pada bahu kekar sang ayah.
"Dah, ni!" Seru Alea dan memberikan satu botol Asi pada Ady.
Ady mengambilnya, dia merubah posisi Sky di gendongannya. Setelah itu dia memberikan Sky botol itu, Sky pun menerimanya dengan baik.
Ady menimangnya ke kanan dan kiri sambil menepuk-nepuk pelan Sky.
Beruntung, pagi tadi Edgar ada kuliah pagi sehingga remaja itu bisa mengantar keponakannya dulu ke sekolah.
Sky sudah mulai mengantuk, Ady meniup-niup kata Sky agar anak itu segera tidur. Jujur saja, pinggang Ady serasa ingin patah karena berdiri sambil menggendong Sky.
"Susu bubuk kaleng itu kamu taruh di lemari atas. jangan lagi di taruh kulkas." Titah Ady.
"Semut mas," ujar Alea.
"Kan itu ada tutupnya sayaangg." Gemes Ady.
"Ya tetep aja lebih bagus di kulkas," Ujar Alea yang tak mau kalah.
Ady menghela nafas pelan, beginilah kalau sudah debat dengan istrinya pasti ujung-ujungnya dia yang harus mengalah.
"Nanti aku belikan lemari pendingin yang gak bisa di buka sama Sky," ujar Ady.
"Lemari apa? lemari yang di gembok? kamu lupa kalau anak kamu itu ada aja akalnya, padahal aku taruh susu itu di tempat paling atas. Tapi apa? tetep aja tuh dia bisa ambil." Gerutu Alea.
Ady menghela nafas sabar. "Terus maunya gimana? ganti anak gitu?" ujar Ady.
Alea mendelik tak suka, di berdiri dan menatap suaminya itu.
"Enak aja! emang mas pikir bikin nya gak cape apa? ngeluarinnya juga butuh tenaga, main ganti aja! udah ah, aku kau jemur baju Sky dulu." Ketus Alea.
Alea keluar dari kamar, dia harus menjemur baju Sky. Di rumah itu memang ada pembantu, tetapi untuk baju Sky Alea sendiri yang mencucinya.
Brak!
Sky tersentak kaget saat mendengar suara pintu yang tertutup, Ady pun kembali mengayunkan putranya hingg kembali tertidur.
"Hais ... untung istri." Lirih Ady.
***
Sore hari, di rumah Ady sangat ramai. Kedua keluarga tengah berkumpul, mereka datang karena ingin menengok keadaan Sky yang belum kunjung membaik.
"Apa gak di bawa ke rumah sakit aja Dy?" Tanya Amanda yang khawatir pada cucunya itu.
"Kemarin kami sudah panggil dokter, tadi panasnya udah turun tapi sekarang malah balik panas lagi." Frustasi Ady.
"Yaudah, kita bawa ke dokter aja sekarang." Sahut Rehan.
Bukannya Ady tak mau, dia tidak ingin Sky mengamuk. Sebab, anak itu paling anti dengan rumah sakit karena setiap ia ke rumah sakit pasti berakhir dengan suntikan. Yup, Sky membenci rumah sakit.
"Nanti dia nge reog di rumah sakit gimana? gak ah, dari pada ngamuk, teriak-teriak begitu. Mending panggil dokter aja." ujar Ady sambil membenarkan posisi Sky yang tidur di stroller nya.
Ady sengaja menaruh anaknya di sana agar tak.lelah menggendong terus. Beruntung kali ini Sky mau di taruh walau stroller nya harus sesekali dia gerakkan.
Sedangkan di kamar Ara, sudah ada Bella dan juga Shaka. Ara dan Bella bermain masak-masakkan sedangkan Shaka dia memainkan Ponsel Ady.
"Bella! napa makananna di buang cih!" KEsal Ara, saat dirinya sudah lelah membuat kue malah dengan mudahnya Bella melemparnya.
"Ini nda bica di makan Ala," ucap Bella dengan wajah polosnya.
Ara menatap datar setelah menghela nafas pelan, dia melirik sebentar plastisin bentuk kue itu dan kembali menatap Bella.
"Yang bilang bica di makan capa? b0do itu namana!" Ketus Ara.
"Ara bicaranya, nanti ayah denger marah loh." Sahut Shaka.
Ara mencebikkan bibirnya, dia kembali membuat kue dari plastisin itu dan menghiraukan Bella.
Cklek!
Ara yang tadinya merengut segera tersenyum lebar, dia menaruh semua mainannya dan berlari ke luar.
Ara berlari hingga melewati ruang keluarga, mereka yang berada di sana tentu saja menatap aneh Ara.
"Kenapa ARa berlari seperti itu Ed?" Tanya Reyhan pada Edgar yabg menghampiri mereka.
"Biasa, ada calonnya," ujar Edgar enteng dan duduk di sebelah Alea.
"Calon? calon apa? ngada-ngada kamu!" Seru Rehyan dan Robert serentak.
Edgar menelan ludahnya kasar, dia sangat lupa jika Reyhan dan Robert sangat overprotektif pada Ara.
"Itu maksudnya ... calon temen gitu," ujar Edgar mencari aman.
Sedangkan di depan, Ara sedang bertemu Rangga. Saat ini umur Rangga sudah menginjak usia 12 tahun, sebentar lagi dirinya akan lulus sekolah bangku dasar.
"Ini buat Ala?" Tanya Ara sambil memegang dus berisikan setumpuk coklat.
"Ya, papi ku baru pulang dari Itali. Itu semua coklat untukmu, aku tidak suka," ujar Rangga dengan nada datarnya.
Ara tersenyum senang, hingga tampaklah lesung pipinya. Pipi rangga bersemu merah, Ara benar-benar cantik sat dia tersenyum itu yang membuat Rangga takjub.
"Yaudah a-aku pulang dulu." Ujar Rangga sambil menggaruk belakang lehernya.
Ara mengangguk antusias, dia melihat Rangga pergi sebelum kembali memasuki rumahnya.
saat ia akan berbalik, tiba-tiba saja ada seseorang yang menepuk bahunya.
"Eh? Tio? kok bica ada di lumah Ala?" Bingung Ara menatap teman sekelasnya itu.
Anak laki-laki tampan bernama Tio itu tersenyum, dia merupakan anak keturunan belanda. Sangat tampan, bahkan anak sekecil Ara pun mengakuinya.
"Tio kok tambah danteng cih." Gumam Ara sambil menatap Tio dengan wajah bengong.
"Hello! gak usah pasang muka begitu, kenapa kakak sepupuku memberimu coklat begitu banyak?" Ketus Tio.
Ara tersadar, dia menatap kardus coklat di pelukannya itu sejenak dan mendongak menatap Tio.
"Kan Ala kecayangan Kak Langga," ujar Ara.
"Heh? kesayangan? pacar maksudmu?" ujar Tio.
"Pacal? yang buat kuku itu? Ala cuka, belina dimana?"
Tio menatap tak percaya pada Ara, pertanyaan Ara membuat IQ tingginya menjadi cetek.
"Kau suka pada sepupuku?" Tanya Tio.
"Iy ... Kalau Ala bilang iya nanti Tio nda temen lagi cama Ala, kata uncle Lacka dapet dua itu lebih baik."
"Hei! aku bertanya padamu!" Seru Tio.
Ara tersadar dari perkataan batinnya. "Eh, nda kok," ujar Ara.
Tio menghela nafasnya pelan, kemudian dia pamit untuk kembali ke rumah Rangga karena anak itu memang sedang mampir ke rumah Rangga yang merupakan sepupunya.
"Oohh jadi Tio cepupu Kak Langga, kelualgana banyak yang ganteng. Untung banyak Ala." Gumam Ara sambil tersenyum-senyum sendiri.
PUK!
Ara menoleh, dia mendapati SHaka yang menghampirinya dengan raut wajah datar.
"Baru aja sama Kak Rangga, terus sekarang Tio. Gak boleh rakus Ara," ujar Shaka.
Ara menepis tangan Shaka di bahunya. "Apaan cih Chaka, ini tuh kata uncle Lacka invec ... eum apa namanya?"
"Investasi." Sahut Shaka.
"Nah itu, invecstasi maca depan! jadi Ala nda takut nda ada jodohna nanti. Ada dua kok, nanti hatina ALa bagi dua. Luma puluh pelsen buat Kak Langga, lima puluh pelsen lagi buat Tio. Genap jadina celatus pelsen!" Seru Ara dengan raut wajah berbinar membayangkan jika dirinya di beri hadiah seperti tadi oleh Rangga dan Tio.
Shaka hanya bis menggelengkan kepalanya, dia terheran mengapa Ara begitu centil.
"Tenang Chaka, nda ucah takut cucah. Nanti Ala tambah banyak pacal bial kita kaya tapi nda kelja." Seru Ara sambil menepuk bahu SHaka yang hanya pasrah terhadap celotehan adiknya itu.
Terima kasih atas support nya. Alhamdulillah, aku udah mendingan. Maaf malem banget, nyicil kawan buatnya ðŸ¤. Tapi tenang, Episode ini aku panjangin kok🤩