
"Sayang,"
"Yang,"
"Haisss,"
Ady tengah menahan kesabarannya, sedari tadi pria itu membujuk istrinya yang tengah marah.
"Al, itukan cuman mantan doang. Tetap kok cinta aku sama kamu," ujar Ady.
Alea masih tidur membelakanginya Ady, dia berusaha memejamkan matanya untuk tak menghiraukan Ady.
"Dosa loh cuekin suami kalau kayak gitu," ujar Ady.
Alea pun akhirnya berbalik dan menatap Ady tajam, berbeda dengan Ady yang menatap istrinya dengan senyum lebar.
"Dosa aku kan yang tanggung kamu, ya berarti dosa kamu yang nambah! Dasar gak jelas!" Ketus Alea.
Sontak Ady melototkan matanya, dia tak memikirkan jika istrinya bisa membalas ancamannya.
"Udah deh, aku tahu pasti pas kita hampir pisah kamu berharap balik sama dia kan? ngaku kamu!" Curiga Alea dengan mata melirik tajam suaminya.
"Enggak tahu, mungkin kalau kamu enggak hamil Ara kemungkinan bisa jadi. Secarakan cinta pertama sulit terlupakan." Jawab Ady dengan jujur.
Alea melongo, memang jujur sangat di wajibkan. Namun, jika jujurnya kebangetan seperti ini ... maka siapa yang akan di salahkan?
"Benerkan? makanya aku suruh kamu hamil, biar akunya makin cinta," ujar Ady tanpa dosa.
Dengan cekatan Alea pun menggigit dada Ady yang berbalut kaos dengan keras.
"AAAWWWW! SAKIT AAALLL!" Teriak Ady karena merasa kesakitan. Ady berusaha melepaskan gigitan sang istri, tetapi gigitannya malah semakin keras.
"Aawww suer yang ... sakit banget astagaaaa!!" Seru Ady sambil mendorong kepala istrinya.
Alea pun melepaskan gigitan nya, dia menatap Ady dengan tersenyum manis menampilkan gigi putihnya.
"Shhsss, sakit tau Al." Ringis Ady dan membuka kaos yang dirinya kenakan.
Benar saja, dada berototnya memerah dan tercetak jelas bekas gigitan istrinya. Wanita jika sudah kesal apalagi cemburu, tak pernah berpikir apa yang dirinya lakukan.
"Sakitkan? biasanya juga kamu begitu!" Ketus Alea dan beranjak ke kamar mandi.
Ady menatap dadanya dengan raut wajah meringis, bahkan dirinya takut jika Alea akan kembali berulah seperti tadi.
"Gak lagi-lagi deh gue ngomong tentang mantan." Gumam Ady.
Sedangkan di ruang tamu, Ethan sedang mengamati kedua cucunya bermain di karpet. Sesekali dia terkekeh ketika melihat Shaka yang selalu mengerjai Ara.
"AAAAA!!!" Teriak Ara karena Shaka berusaha menarik bandonya.
Tangan gemuk Shaka berhasil menarik bando tali Ara, bahkan anak itu menariknya dan melepaskannya hingga tersabet ke arah mata Ara.
Ctak!
"EEEKHEEE EKHEE EKHEE,"
Ethan segera membawa Ara ke gendongannya, dia melepas bando itu yang kini berada di mata cucu perempuannya.
"Abang gak boleh gitu sayang," ujar Ethan kepada Shaka yang hanya menatapnya dengan pandangan polos.
Mendengar cucunya menangis, Amanda yang sedang membuat pudding pun akhirnya menghampiri mereka.
"Hei ada apa ini? Shaka, apa kau menjaili adikmu lagi hm?" Tanya Amanda pada cucu laki-lakinya itu.
Shaka hanya tertawa lebar, dia merasa bukan di marahi melainkan di ajak bercanda.
"Enggak boleh sayang, minta maaf sama Ara. Ayo." Bujuk Amanda dan membawa Shaka ke gendongannya.
Shaka menatap Ara, begitu juga dengan Ara yang menatap Shaka dengan air mata di pipi gembulnya.
"Cium adeknya, ayo." Ajak Amanda.
Shaka menurut, ia pun mencium pipi gembul milik Ara. Namun, bukannya berhenti menangis tangisan Ara malah bertambah keras. Bahkan bayi itu mengusap-usap pipi gembulnya sambil berceloteh memarahi Shaka.
"EKHEEE EKHEE EKHEEE HIKS HUAAAA!"
"Eh, abang udah minta maaf loh. Kok malah tambah nangis sih, kurang yah?"
Lagi- lagi Shaka di arahkan mencium pipi Ara, tetapi kali ini Ara menghentikan tangisnya. Bukan tanpa alasan bayi itu berhenti nangis, melainkan ....
"HWEK! HIKS ... HWEEKK,"
Amanda dan Ethan saling pandang, tawa keduanya pun pecah ketika melihat reaksi Ara ketika di cium Shaka untuk kedua kalinya.
"Abang bau yah, iyaaa abang bau ...," ujar Ethan menenangkan cucunya.
***
"Bisa gak sih, lu gak usah ungkit kebenaran itu lagi hah? Cukup gue dan lu yang tahu, udah! kenapa mesti lu kasih tau nyokap lu!" Sentak Ady pada Arga yang tengah menatapnya datar.
Arga datang ke kantornya sangat pagi, pria itu bercerita tentang dirinya yang telah memberitahu keluarganya siapa sebenarnya Alea.
"Jangan egois Ady, dia kembaran gue. Dia berhak tahu siapa sebenarnya dia!" Tegas Arga.
"SEKARANG BUKAN WAKTU YANG TEPAT!" Teriak Ady.
"KAPAN?! NUNGGU GUE MATI DULU BARU LU BILANG KENYATAAN ITU?!" Bentak balik Arga.
Nafas keduanya kian memburu, Ady dan Arga sama-sama saling menatap tajam. Keduanya berusaha untuk mengeluarkan ego mereka dan tanpa mau mengalah keduanya pun berusaha untuk menang.
"Bisakah kalian melihat keluarga ku tenang? Masalah Kak Siska baru saja selesai, kami baru bernafas dengan tenang." Ujar Ady sambil memijat kepalanya.
"Apa masalahnya sih lu kasih tahu ALea tentang kebenaran itu, gampangkan? dia pasti akan terima," ujar Arga dengan kesal.
"Masalahnya gak sesederhana itu Ga, gue juga mau semuanya selesai. Tapi inget dong! kakek lu, rival kakek gue bodoh! Belum lagi, Ayunda ... tepatnya sepupu lu itu adalah mantan gue!" Terang Ady.
"APA?! AYUNDA? LU DAN DIA ...." Ujar Arga sambil melototkan matanya.
Dengan tenang, Ady mengangguk. Satu kenyataan yang di terima, jika ternyata Alea dan Ayunda adalah sepupu.
"Kenapa lu mesti nikahin adek gue sih!" Gerutu Arga.
"Ya namanya juga jodoh, mana tau gue kalau Alea ternyata kembaran lu," ujar Ady.
Keduanya pun sama-sama terdiam, memikirkan sesuatu yang mungkin akan mereka gunakan sebagai jalan keluar.
"Alea gak tahu kan kalau dia mantan lu?" Tanya Arga.
Ady menghela nafasnya kasar, dia menegakkan duduknya dan menatap Arga dengan serius.
"Itu dia masalahnya, dia tahu," ujar Ady dengan lemas.
"Gimana yah, kasih tau aja lah yah. Abis itu kita pikirin apa yang terjadi," ujar Arga dengan nada memohon.
"Bisa gak lu biarin gue napas dulu! capek gue ngadepin masalah, seenggaknya biarin dulu lah rumah tangga gue tenang. Capek tau! Belum lagi kalau bini gue galau dan sedih, kasihan anak gue!" Ketus Ady.
"Hah ... yaudah deh, gue balik dulu." Putus Arga.
Ady mengangguk, dia menghembuskan nafas lega ketika Arga telah keluar dari ruangannya.
"Untung deh tuh orang nurut." Gumam Ady.
Ady pun mengambil ponselnya, dan dia menelpon seseorang.
"Halo."
"Halo, gimana? berhasil kamu bujuk dia?" Tanya seseorang di seberang sana.
"Untuk kali ini berhasil, tapi belum tentu lain kali. Tapi, kenapa sih Kek harus bujuk Arga begini?"
Ady menelpon Robert, sepertinya mereka berdua memiliki rencana entah apa itu.
"Pulang kantor temui kakek di mansion utama, ada hal yang harus kakek bahas." Putus Robert.
"Emangnya gak bisa di telpon Kek?" Ujar Ady.
"NURUT AJA SIH! SUSAH BANGET!" Kesal Robert dan mematikan sambungan telpon.
Ady yang mendengar teriakan kakeknya pun meringis, telinga terasa sangat pengang akibat teriakan tadi.
"Niatnya nanti sore mau kencan, malah dengerin petuah,"