Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
Episode 99: Kerusuhan di pernikahan Angel



Ady panik ketika melihat Tiara dan Arga, dirinya takut mereka berdua membongkar semuanya di saat seperti ini.


Matanya sibuk mencari dimana keberadaan Reyhan, kakek dari Arga beserta Alea. Namun, dia tak menemukannya sehingga Ady sedikit bisa bernafas lega.


"Hai Ady, bagaimana kabarmu setelah menghindariku?" Sapa Arga yang mana membuat Alea yang tadinya tersenyum menjadi heran.


"Baik, sangat baik. Saya harus menghindari anda yang sebagai pebinor." Ketus Ady.


"Ini ada apa mas?" Bingung Alea.


"Oh enggak, enggak ada apa-apa. Ini hanya bercandaan aja iya gak Ga," ujar Ady.


Walau curiga, Alea tetap berusaha percaya. Namun, berbeda dengan Ara yang menatap Arga dengan alis yang menukik tajam.


"Paman mau lebut bunda Ala yah? NDA BOLEH!"


Ady dan yang lainnya terkejut mendengar apa yang ARa katakan, terlebih Alea. Dari mana putrinya tau jika kepanjangan pebinor itu perebut bini orang? atau hanya kebetulan saja?


"Buna puna Ala, ayah cama Chaka. Paman cali yang lain aja, talo nda laku minta plomociin cama uncle Edgal." Ketus Ara.


"Hei baby, jangan ngomong begitu nak gak baik," ujar Ady dan mencium gemas pipi bulat putrinya.


Arga beralih menatap Alea, dari sorot matanya terlihat rindu yang mendalam. Dirinya sangat rindu dengan Alea, adik kembarnya.


"Alea aku ...,"


"Arga, bisa kita bicara berdua?" Sela Ady.


Dengan berat hati, Arga menyetujui keinginan Ady. Ara kini sudah berpindah tempat di pangkuan Alea, dia menghiraukan Ady yang berjalan pergi bersama Arga.


Tiara tak menyia-nyiakan kesempatan, dia duduk di tempat di mana sebelumnya Ady duduk.


"Hai Alea, apa kabarmu?" Tanya Tiara.


Alea tersenyum ramah, dan menjawab perkataan Tiara jika dirinya baik-baik saja.


"Kau kah Ara? wah kau sudah besar sekarang, dulu kau masih sangat kecil waktu oma gendong," ujar Tiara pada Ara.


Ara hanya menanggapi dengan senyuman, sebelum netranya berfokus pada seorang anak yang tengah menghampiri mereka.


"Om Acka, Bella mau di pangku!" Seru Bella.


"Minta sama om Edgar yah, nanti Abang Shakanya bangun," ujar Razka.


Shaka memang sudah berpindah tempat, yang sebelumnya bersama Edgar kini bersama Razka.


"AAAA NDA MAU! BELLA MAU CAMA OM!"


Razka menjadi bingung, Bella memang terkenal manja pada keluarganya. Namun, Razka belum terbiasa karena jarang bertemu Bella.


"Bella, ngertiin om yah. Mamah kamu kemana sih emang," ujar Razka.


"Nda tau, Bella mau di pangku om!" Seru Bella.


Ara gemas, dia turun dari pangkuan Alea dan berjalan cepat menuju Bella. Di tariknya rambut Bella yang terkuncir dua itu dengan kencang.


"LUCUH BANGET CIH! ABANG LAGI BOBO! BUAT MACALAH TELUS, PUCING PALA ALA TAU GAK! huh, teltekan cekali pelacaanku." Teriak Ara.


Mungkin karena bisingnya orang yang berbicara sehingga teriakan Ara tak begitu mereka pedulikan.


Bella menangis keras, sehingga Siska yang sedang mengobrol dengan teman sekolahnya dulu harus berjalan cepat menghampiri putrinya.


"Kenapa ini Raz?" Tanya Siska.


Razka bingung menjawab bagaimana, sementara Edgar hanya tersenyum simpul melihat bagaimana keponakannya yang memiliki sifat sang kakak yang galak.


"Kenapa kamu selalu membuat ulah hah? Bella itu adikmu Ara, ke apa kau malah menjambaknya?" ujar Siska.


"Onty nda dengel tadi uncle Lacka bilang apa?makana janan cali macalah, abang lagi bobo. Pelutna lagi nda enak, malah buat macalah aja. Teltekan cekali pecaanku!" Kesal Ara.


Siska menjewer telinga Ara yang mana membuat Ara mengaduh, Alea dengan sigap memegang tangan kakak iparnya agar melepaskan putrinya.


"Kak lepaskan! kasihan putriku!" Ujar Alea sambil menatap Siska.


"Dia telah menjambak Bella, biar anakmu gak nakal seperti tadi." Ketus Siska.


Edgar sudah jengah, dia menarik paksa tangan Siska dari telinga keponakannya walaupun sempat Ara berteriak karena sakit.


"Kau telah menjadi bahan tontonan saat ini." Datar Edgar.


Siska melihat sekelilingnya, dan benar saja kini dia telah menjadi bahan tontonan.


ARa menangis sambil memeluk kaki sang bunda, tak tega dengan putrinya Alea akan menggendong Ara. Namun, Edgar dengan sigap membawa keponakannya untuk keluar dari ruangan itu.


Razka pun ikut menyusul karena Shaka yang terbangun dan terisak kecil karema kaget. Keadaan semakin gaduh, bisik-bisik pun terdengar.


"Kakak boleh marah tapi jangan main tangan, alu tak pernah melakukan hal itu pada putriku. Senakal-nakalnya dia jika masih tahap wajar, jangan gunakan kekerasan kak! dia hanya mengungkapkan kekesalannya lewat cara yabg salah, kita sebagai orang dewasa yang mempunyai pemahaman luas seharusnya mengarahkan bukan mengikuti!" Marah Alea.


Bagaimana tidak marah? jika itu adalah teman sebaya anaknya tidak mengapa, tetapi jika ibu sang anak ikut turun tangan dia juga harus turun tangan.


"Maaf kan aku, aku hanya kesal." Sesal Siska.


"Baiklah, aku maafkan. Dan didik putri kakak, jangan sellau merebut apa yang orang lain miliki. Kebiasaan itu akan di bawa sampai besar, bisa saja setelah besar nanti dia yang akan merebut suami orang," ujar Alea dengan menohok.


Siska mengangguk, dia menggendong putrinya dan akan pergi dari sana. Namun, baru saja dirinya akan pergi tiba-tiba suara tamu ramai membicarakan tentang pengantin laki-laki.


"Apa? kabur? bagaimana bisa?"


"Terus bagaimana ini? apakah acaranya berlanjut?"


"Kasihan sekali, pengantin laki-lakinya kabur,"


Alea mengarahkan matanya pada sang suami dan Arga yang sudah kembali. Mereka tampak bingung dengan keadaan sekitar, dan mereka pun berjalan menghampiri Alea.


"Ini kenapa sih yang?" tanya Ady yang bingung, di tambah melihat Edgar yang membawa putrinya yang sedang menangis sambil memanggil sang ayah.


"Yah hiks hiks ... ayah hiks ...,"


Ara merentangkan tangannya, Ady menyambutnya dengan perasaan bingung. dia mengecek kondisi putrinya, tetapi dia menemukan ada keanehan. Telinga putih sang putri tampak memerah, kemerahan itu sangat kontras sekali dengan kulit Ara yang seputih susu.


"Ara kenapa? ini telinganya kenapa merah?" Tanya Ady dengan lembut sambil mengusap bahu sang putri.


"Hiks hiks ... di jewel hugh hugh! cama onty hugh!" Ara menangis dan sesenggukan, dan hal itu membuat Ady terheran.


"Di jewer?" Tanya Ady memastikan.


"Iya telingana di jewel, cakit ayah hugh ... hugh ... cakit hiks,"


Baru Ady akan menanggapi sang putri, dia terkejut ketika seorang wanita menarik paksa lengannya. Hampir saja Ara terjatuh jika Ady tak menahan putrinya secepat mungkin.


"APA-APAA KAU!" Geram Ady.


"Kak aku mohon bantu aku, Raffi gak ada kabar kak. Pernikahan ini harus segera di langsung kan, aku takut naka keluarga akan menjadi jelek kak hiks ... aku mohon bantu aku hiks ...,"


Yah, wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah Angel. Dia menangis sambil memegangi lengan Ady.


"Aku mohon kak," ujar Angel dengan memelas.