Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
Episode 88: Bertemu kembali



"Lain kali tuh pakaian di perhatiin mas, jadi malu sendiri kan," ujar Alea yang sedang meledek suaminya.


Ady merengut kesal, dia sungguh malu dengan kejadian barusan. Dimana saat sampai di kantor, semua karyawannya menertawai dirinya.


Ady yang baru sadar, segera bergegas pulang dan membatalkan meeting senilai miliyaran rupiah karena sudah menanggung malu.


"Hmp!! kamu tuh Al! seneng banget ngeliat aku kesal," ujar Ady dan melengoskan wajahnya.


Wajar jika Alea menertawai suaminya, karema jarang sekali Ady membuat dirinya tertawa karena tingkahnya itu.


"BUNDA! BUNDA! EYANG BUYUT TELPON!" Seru Ara yang membawa sebuah telpon genggam sambil berlari memasuki kamar orang tuanya.


Alea menerimanya, dia mulai menyapa Naura yang memang kerap sekali menelponnya. Sedangkan Ady, pria itu membawa putrinya ke atas kasur dan menggelitikinya.


"Baik eyang, nanti Alea sampaikan pada Mas Ady," ujar Alea dan mengakhiri telponnya.


"Apa kata eyang?" Tanya Ady setelah melihat Alea yang sudah menaruh telpon itu di atas nakas.


"Kita di suruh balik ke indonesia, Angel akan melangsungkan pernikahan," ujar Alea dengan senyum manisnya.


Ady bahagia, akhirnya sepupunya itu telah mendapatkan pria yang cocok dengannya.


"Baguslah, dari pada jadi pelakor kan yah?" Ujar Ady.


"Pelakol itu apa yah?" Tanya Ara yang menyimak obrolan orang tuanya.


Ady melihat bibirnya, dia sampai lupa jika putrinya berada bersama mereka. Seharusnya Ady menjaga bicaranya, bukan malah berbicara tanpa rem seperti tadi.


"Abang Shaka mana sayang?" Tanya Alea berusaha merubah topik.


"Abang Chaka tadi dimana yah? oh, di luang tengah bunda lagi makan bolu," ujar Ara.


Alea tersenyum, dia mengajak putrinya untuk turun ke lantai satu menemui putranya. Sementara Ady, dia lebih memilih tidur.


DI lantai bawah, tepatnya di ruang tengah. Terlihat Shaka sedang memakan bolunya di temani dengan kucing kesayangan mereka.


"Shaka, bunda bilang berapa kali. Kalau lagiakan, jangan deket kucing!" Seru Alea yang berjalan menghampiri Shaka.


Shaka menolehkan kepalanya, wajahnya sudah cemong karena krim bolu tersebut. Belum lagi sisa-sisaan bolu yang menempel di krim itu.


"Dih! kok di abicin cih! kan tadi Ala bilang, culu di cicain! nda lek ih!" Marah Ara saat melihat piring bolu yang berada di pangkuan Shaka sudah habis tak tersisa, bahkan kedua mata indahnya sudah akan mengeluarkan bulir-bulir air mata.


"Kayak olang maluk! ambil cono di kulkas! Ayah kan belina dua, catu buat Chaka catu buat Ala! Gitu aja mecti nanis, dacal payah!"


Dengan perasaan kesal, Ara menarik rambut Shaka. Shaka yang di perlakukan seperti itu pun memukul wajah Ara hingga keduanya kini menangis kencang.


"HIKS ... HUAAAA!!!"


"Aduh, sudah lepas Ara gak boleh begitu. Jangan kasar nak," ujar Alea yang panik ketika keduanya masih tetap bertengkar walau sudah menangis.


Ara semakin menarik rambut Shaka hingga tak sengaja Ara membenturkan kepala Shaka pada ujung meja.


"ARA!" Bentak Alea.


Ara terkejut, dia melepas jambakannya dan menatap Shaka yang tengah kesakitan sambil memegangi keningnya.


Alea langsung menggendong Shaka dan mengusap rambutnya pada kening anak itu.


"Hiks ... cakit hiks ...,"


Sedatar-datarnya Shaka, dia hanyalah anak kecil bahkan umurnya belum lima tahun. Dia merasakan sakit yang tak dapat ia tahan, apalagi ketika keningnya terkena ujung meja.


"Shaka kenapa Al?" Tanya Ady yang baru turun, tampaknya pria itu terpaksa memutuskan tidurnya.


"Gak sengaja di jedotin Ara," ujar Alea tanpa melihat ke arah Ady karena ia masih sibuk menenangkan Shaka.


Ady beralih menatap putrinya yang tertunduk, dia paham jika putrinya pasti tak sengaja melakukannya. Karena dia tahu bahwa tak mungkin keduanya saling melukai, persaudaraan diantara keduanya sangatlah dekat dan Ady tahu itu.


Dia berjongkok di hadapan putrinya, telunjuknya mengangkat dagu sang putri dan terlihatlah pipi gembulnya yang sudah di basahi oleh air mata.


"Solly ayah, Ala nda cengaja hiks ... tadi Ala kecel sama abang hiks ...,"


Ara terisak, dia menangis sehingga Ady mengangkatnya ke gendongannya. Dia mengelus punggung sempit putrinya, sementara Ara mengalungkan tangannya di leher Ady sambil menangis.


"Benjol Al?" Tanya Ady sambil mendekati Alea.


"Iya, ampe biru begini. Aku tidurin SHaka dulu yah," ujar Alea dan beranjak pergi.


Ady membawa Ara ke teras rumah, dia menimang putrinya sambil menikmati semilir angin.


Tangisan Ara reda, hanya tersisa sesenggukan akibat menangis tadi. Kepala anak itu bersandar nyaman pada bahu sang ayah, di tambah punggungnya di tepuk yang mana membuatnya mengantuk.


Benar saja, tak butuh lima menit Ara sudah tertidur. Timangan sang ayah memang tak dapat di ragukan lagi, memang sangat mudah membuat putrinya tertidur.


Ady berjalan masuk menuju kamar, dia membuka pintu dan melihat istrinya yang masih berusaha menidurkan Shaka.


"Ara tidur?" Tanya Alea saat melihat putrinya yang bersandar di bahu lebar sang suami.


"Iya, Shaka udah?" Tanya Ady tanpa suara.


"Bentar lagi." Bisik Alea.


Saat Ady menidurkan Ara di samping Shaka, anak itu sedikit terusik dan membalikan tubuhnya ke arah Shaka.


Tangan mungilnya memeluk leher Shaka, kebetulan Shaka yang sudah memejamkan matanya terbangun sebentar dan kembali lelap.


"Manisnya ...." Gemas Alea.


Alea dan Ady memutuskan untuk keluar dari kamar anak mereka, pasutri itu berjalan sambil saling menggandeng satu sama lain.


"Al." Panggil Ady.


"Hm." Sahut Alea.


"Buat yang baru yuk." Ajak Ady.


Seketika langkah Alea terhenti, begitu juga dengan Ady.


"Buat apa?" Bingung Alea.


"Buat degem, ayok!" Seru Ady dan menggendong istrinya.


"GAK MAUUU MAS!!! IHHH, KAMU KESEMOATAN BANGET SIH!!!"


***


Namanya anak kecil, kalau berantem bentar juga akur lagi. Itulah yang kini terjadi pada kedua penerus Dominic itu, dengan berjalan bergandengan tangan di sebuah Mall terbesar di kota itu.


"Ayah, kita ke toko mainan?" Tanya Ara sambil mendongak menatap ayahnya itu.


"Iya, ayo kita ke toko mainan," ujar Ady.


Ara yang senang pun melompat-lompatkan dirinya, sehingga Ady merasa gemas dan mengacak rambut putrinya.


Sesampainya di toko mainan, Ara dan Shaka langsung berpencar mengambil mainan mereka. Sedangkan Ady dan Alea, hanya mengawasi keduanya takut-takut anak mereka berbuat sesuatu yang merugikan pihak toko.


"Ayah, Ala mau boneka ini boleh?" Tanya Ara sambil menunjuk boneka terbaru yang toko tersebut miliki.


"Boleh sayang ambil, tapi ingat ... hanya boleh dua mainan okay?" Ujar Ady sambil berjongkok di hadapan putrinya.


"Kok bolehna dua? tiga boleh?" ucap Ara mengajukan kembali permintaan nya.


"No ... no, tidak boleh. Minggu lalu kakek buyut kirimkan Ara mainan yang banyak, kalau mau beli tiga itu artinya mainan dari kakek buyut harus Ara kasih ke orang lain sebagiannya," ujar Ady menolak permintaan putrinya


Karena keluarganya terlalu memanjakan Shaka dan Ara, Ady tak ingin mereka menjadi anak yang manja dan permintaan nya sellau di turuti. Dirinya takut sang anak akan merendahkan orang lain dan menganggap jika dia harus mendapat apa yang dirinya punya saat ini.


"Mommy! ini!" Ujar Anak lain sambil merebut mainan yang tadi Ara tunjuk.


Shaka, yang memang berada di situ langsung mengambil boneka yang Ara tunjuk dengan gerakan cepat.


"TAMU! ITU PUNAKU!" Seru anak itu sambil menatap tajam Shaka.


"Ciapa cepat, dia dapat! dan ini, milik adikku!" Ketus Shaka dan membawa boneka itu kepada Ara.


Dengan perasaan senang, Ara mengambil boneka itu. Sedangkan anak tadi, sudah kesal dan menatap tajam Ara.


"Mau di colok matana hah?! pelelok pelelok Ala!" Ketus Ara saat menyadari dirinya sudah di tatap tajam.


Ady mengamati wajah anak itu, umurnya memang tak jauh beda dengan Ara. Bahkan anak itu berumur lebih besar dari putrinya, bahkan wajahnya tak asing sama sekali.


"Rea, kenapa belum selesai juga? daddy harus kembali meeting dengan ... loh, Tuan Dominic?"


"Astaga, pantes saja aku mengenali putrimu. Apa kabar Regan?" ujar Ady dengan tersenyum tipis pada pria yang berada di dekat putrinya.