Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
Episode 70: Kasihan Shaka



Alea dan Ady kembali menginjakkan kakinya di kediaman Dominic, ada rasa rindu di dalam hati Alea. Dirinya ingat ketika pertama kali dia datang kesini dan di sambut hangat oleh keluarga suaminya


"EKHEEE! EKHEEE! AAAAA!"


Razka yang berjalan di belakang Ady segera berlari ke kamar bayi, hal itu menimbulkan tatapan heran dari Ady, Alea dan juga Edgar


"Itu suara Shaka kan? iya, itu siara Shaka." Celetuk Alea dan berjalan mengikuti kemana Razka berlari.


Ady yang masih menggendong Ara pun juga mengikuti mereka, tak terkecuali Edgar yang membuntuti abang iparnya itu.


Shaka lagi-lagi menangis, sudah berapa banyak pengasuh yang kewalahan mengurusnya. BAyi itu akan menangis dan berteriak, mendorong semua benda yang ada di depannya termasuk piring makanan.


"Hei, kau kenapa?" Tanya Razka yang telah berada di ruang bayi.


Netranya melihat ke arah Shaka, bayi itu meraung sambil menendang tangan dan kakinya dengan posisi terduduk di bawah meja.


Pipi yang tadinya gembul sekarang menjadi tirus, tak ada lagi pipi tembam yang biasa di cubit oleh Razka.


Berbeda dengan Ara, bayi itu semakin hari semakin terlihat gemuk. Bahkan Ady selalu mencium gemas putrinya itu.


"Shaka, kenapa Shaka begitu? ayo sini sama uncle." Ajak Razka mencoba membujuk bayi itu.


Bukannya menurut, Shaka malah membalikkan tubuhnya. Dia melengos seperti wanita yang ngambek akibat keinginannya tidak di turuti.


"Shaka, coba lihat siapa yang uncle bawa," ujar Razka kembali mencoba membujuk ponakannya itu.


Terlihat Alea memasuki kamar, dia melihat Razka yang berjongkok sambil menatap sosok mungil yang membelakangi mereka.


"Shaka, nak." Ujar Alea sambil mendekati mereka.


Mendengar suara Alea Shaka belum juga berbalik, mungkin bayi itu tengah memproses suara yang dia dengar.


"Shaka, ini bunda sayang." Seru Alea.


"Nda?" Sahut Shaka sambil menolehkan kepalanya.


Alea sudah berjongkok di sebelah Razka, dia tersenyum ketika Shaka membalikkan badan dan menatapnya dengan penuh binar di mata bulat anak itu.


"Nda ... nda ...,"


Alea mengangguk, dia mengambil SHaka dari kolong meja dan memeluknya erat. Tak terasa air mata Alea juga ikut turun, dia sangat merindukan ponakannya itu.


"Shaka ngapain di sana sayang? gigit nyamuk loh nanti," ujar Alea.


"Nda." Hanya itulah kata-kata yang Shaka keluarkan, sungguh Alea sangat bahagia sekaligus sedih melihat Shaka saat ini.


Alea berdiri dengan Shaka yang masih berada di gendongannya, ia berjalan keluar kamar dan menemui Ady di ruang tengah.


Shaka dengan nyaman menyandarkan kepalanya di dada Alea, mata bayi itu sidah sayu dan menandakan jika dirinya akan tidur.


"Mas." Panggil Alea ketika melihat Ady yang tengah duduk di sofa sambil menonton berita di TV.


Ady menoleh, dia menggeser duduknya untuk sang istri. Alea pun duduk dengan Shaka yang berada di pangkuannya.


"Kenapa dia menangis?" Tanya Ady.


"Tadi ...,"


Tak di duga Ady malah mengelus sayang pipi Shaka, netranya menatap bayi yang sudah tertidur itu dengan lembut.


"Dia semakin kurus," ujar Ady dengan suara pelan.


"Mas benar, aku sedikit kaget saat melihatnya. Padahal dia lebih gemuk dari pada Ara." Ujar ALea sambil menatap mata suaminya.


"Dia sangat jarang minum susu, bahkan cemilan yang biasa ia perebutkan dengan Ara selalu di tolaknya. Kak Siska sampai mencubitnya karena ia merasa tertekan apalagi dengan keadaan Bang Nando yang tak kunjung membaik." Terang Razka.


Tentu saja Ady dan Alea terkejut, apakah sampai seperti itu dampak mereka pindah dari rumah ini?


"Shaka tidak nyaman dengan Kak Siska, dia selalu di marahi dan di cubit ketika tidak menurut. Berbeda dengan Kak ALea yang membujuk halus Shaka," ujar Razka melanjutkan perkataannya.


Alea menatap Ady, begitu oun sebaliknya. Alea semakin tidak tega meninggalkan Shaka kembali, hatinya terasa sakit ketika mengetahui jika Siska memperlakukan Shaka seperti itu.


Alea juga tak dapat mempermasalahkan Siska, dia tahu jika SIska tengah tekanan batin dan juga lelah akibat apa yang terjadi pada rumah tangganya.


Di tambah Amanda membantu mengurus perusahaan karena Nando yang sedang sakit, dan juga Robert dan Naura yang kembali ke London karena pekerjaan.


***


"Keadaan tuan Nando semakin memburuk, saya sarankan anda membawanya ke rumah sakit lain yang lebih bagus perawatannya. Walau pun rumah sakit ini di lengkapi dengan fasilitas yang lengkap, tetapi kondisi tuan Nando cukup serius." Terang sang dokter kepada Siska yang duduk di depannya.


Siska menutup mulutnya tidak percaya, sudah berapa minggu dia.melihat suaminya seperti itu. Seperti orang yang kecanduan sesuatu, dan Siska tak mengerti mengapa suaminya bertambah parah dari sebelumnya.


Jika sebelumnya Nando dapat di ajak bicara, kini pria itu hanya diam sambil bergumam kata maaf. Padahal Siska sudah berkata jika wanita itu sidah memaafkannya, tetapi entah apa yang ada di pikiran Nando mengenai dirinya.


"Terus dok, saya harus gimana?" Ujar Siska dengan memelas.


"Ehm, Siska lebih baik kita ke Amerika. Di sana kami ada kenalan seorang dokter terbaik, dia sangat terkenal karena keberhasilan dia dalam merawat pasien." Ujar Revan menengahi semuanya.


Siska menatap arah mertuanya itu, dia sedikit berpikir dan menimbang apa yang mertuanya itu usulkan.


"Pi, bagaimana dengan Shaka? Amerika tengah musim dingin, dan Shaka tidak bisa berada di sana. Kulitnya akan muncul ruam merah karena alergi terhadap dingin, sama seperti Mas Nando waktu kecil." Ujar Siska sambil menatap ke arah papi mertuanya.


"Kita akan pikirkan itu nanti, sekarang kita urus keberangkatan Nando. Karena kondisinya akan semakin parah, papi takut mentalnya terganggu." Putus Revan dan beranjak dari ruangan dokter.


Siska menatap Rosi, ibu mertuanya itu hanya bisa mengelus punggung menantunya. Ia tahu jika saat ini Siska sungguh tertekan dengan keadaan yang ada, dia juga tak bisa menyalahkan Nando dengan kondisi yang seperti ini


Revan memasuki kamar rawat Nando, terlihat putranya tengah menatap kosong ke arah depan.


Kabar Mila saat ini adalah mendekam di oenjara, dia terbukti mencelakai Nando karena wanita itu yang mengakuinya sendiri.


Untuk anak Mila, Revan membawanya ke rumah mantan suami Mila. Ternyata mantan suaminya itu sudah lama mencari Mila karena wanita itu telah membawa kabur putri mereka. Hak asuh anak Mila sepenuhnya jatuh pada mantan suaminya dan wanita itu membuat cerita seakan mantan suaminya mengusir dia dan sang putri.


"Nando." Panggil Revan.


"Pi, Siska marah kepadaku. Dia ingin menceraikanku, dia ingin memisahkanku dari Shaka. Kesalahanku tak bisa di maafkan, aku menyesal hiks ... arghh!"


"NANDO!"


Revan berteriak ketika melihat Nando memukuli kepalanya sendiri, dia memegang tangan anaknya itu dan memeluknya.


"Tolong, jangan seperti ini lagi." Lirih Revan.