Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
Episode 48: Kekesalan Ady



Sepulang dari area bermain, tak sadar hari sudah semakin larut. Alea dan Ady memutuskan untuk pulang, di tambah juga Ara sudah terlihat lelah dan tertidur di gendongan Ady.


Untungnya mereka memakai supir, sehingga Ady bisa istirahat dengan sang istri di sebelahnya.


"Mas, bagaimana kelanjutan Keyla? apakah kita langsung menjebloskannya ke kantor polisi?" tanya Alea dengan suara pelan.


"Terserah padamu," ujar Ady dan mencium pelipis sang istri.


Alea yang di perlakukan seperti itu seketika membeku, memang ini bukan pertama kalinya bagi dia. Hanya saja keharmonisan rumah tangganya baru saja terjadi, dulu mereka hanya peduli urusan masing-masing terlebih Alea.


"Aku sedang menunggu pion ku bergerak, sehingga aku tak perlu mengotori tanganku untuk menyingkirkannya," ujar Alea.


Ady terlihat bingung, dia menatap wajah istrinya yang tersenyum misterius. Alea tidak dapat dia tebak, walau rencana mereka untuk membalas. Namun, Alea sepertinya punya rencana sampingan yang tak dia mengerti.


"Maksudnya? apa kau menjalani rencana baru tanpa mas?" Tanya Ady menyelidik.


"Tidak, ini rencana kita. Aku hanya menambah sedikit bumbu saja kok!" Manja Alea, dia merasa Ady lebih membuat dirinya nyaman.


Ady hanya diam, dia tak bicara kembali karena mobil telah terhenti. Mereka pun turun dan memasuki rumah, dan tampaknya semua anggota keluarga telah tertidur kecuali Nando yang masih berkutat dengan laptopnya di sofa teras rumah.


"Malam sekali, apa kau tak kasihan dengan putrimu? angin malam sangat buruk untuk bayi, besok hari pasti dia demam," ujar Nando tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.


Tentu saja ucapan Nando membuat Alea dan Ady terhenti, tatapan mereka menuju ke arah bayi yang sedang terlelap itu.


"Aku sudah memberinya jaket tebal bang, dan juga selimut. Besok tidak akan terjadi apapun," ujar Ady.


Nando menghentikan ketikannya, dia menatap Ady yang sedang menatapnya.


"Yang kamu bawa itu bayi tiga bulan, bukan bayi tiga tahun. Apalagi Ara terlahir sebelum waktunya, apa kau tak khawatir?" Tanya Nando.


"Terus kita harus gimana bang?" Tanya balik Alea dengan sedikit nada khawatir.


Nando menggedikkan bahunya, dia kembali mengetikkan laptopnya.


"Ck, udahlah. Kalau Ara demam aku akan menarik abang untuk ikut bertanggung jawab!" ujar Ady sambil menarik sang istri memasuki rumahnya.


Nando mengerutkan keningnya, dia menoleh pada Ady yang sudah masuk ke dalam rumah.


"Kok jadi saya?" Tanya Nando pada dirinya sendiri.


Sementara Alea dan Ady segera beristirahat, sebelum itu Alea menggantikan baju putrinya dengan baju hangat.


Kini dengan Ara yang berada di tengah, Alea dan menatap Ady yang tengah merapihkan selimut bayi Ara agar bayi itu tetap nyamannya.


Merasa di perhatikan, Ady langsung menatap balik Alea yang kini mengalihkan pandangannya.


"Ada apa? kenapa kau tidak ke kamar mandi? biasanya kau ke kamar mandi untuk ganti pembalut, tapi tadi hanya mencuci muka saja denganku?" Tanya Ady.


"Oh itu, aku sudah selesai nifas. Kenapa kau baru sadar sekarang mas?" ujar Alea sembari sedikit terkekeh.


"Kau sudah selesai dan tak berkata apapun pada mas? dari kapan?" kesal Ady.


Alea tertawa, dia membalikkan badannya dan memunggungi Ady. Ady pun menarik baju tidur sang istri, sehingga Alea harus berbalik menatap suaminya yang menahan kesal.


"Dari sebulan yang lalu, tapi mas gak nyadar karena terlalu fokus pada Ara. Jadi karena tidak di tanya, ngapain aku bilang?" ujar Alea.


"BULAN LALU? KAU TELAH SELESAI? DAN AKU KEMBALI PUASA KARENA AKU TIDAK TAHU? AKU ... AKU ... ARGHHH!!! KENAPA KAU TIDAK BILANG!"


Alea panik ketika suara Ady melengking, dia menepuk paha putrinya karena bayi mungil itu merasa tidurnya terusik.


"Mas, Ara lagi tidur. Jangan berisik ah!" kesal Alea.


Ady mengacak-acak rambutnya, dia selalu di panas-panasi oleh Nando ketika melihat rambut kakak iparnya yang selalu basa di pagi hari. Belum juga, Ethan selalu meledeknya setiap ia bekerja.


"Ah tau ah," ucap Ady.


Alea menggeleng, dia melihat Ara yabg akan bersiap merengek. Alea lun langsung membuka kancing piyamanya dan memberikan putrinya nutrisinya.


Ara menyusu dengan tenang, Alea pun mengusap kening putrinya yang mengerut. Ady yang tadinya menatap Ara lain, kini kembali menatap Alea.


Alea bingung, memang apa salahnya dia menyusui Ara? lagi pula bukankah biasanya Ady tak mempersalahkannya?


Alea cuek, dia hanya memperhatikan putrinya yang telah melepas sedotan pada nutrisinya. Alea pun memasukkan kembali dan menepuk paha sang anak agar semakin lelap tertidur.


Alea sama sekali tak menatap Ady yang bergerak gusar, karena sangat ngantuk ia pun langsung menarik selimut hingga ke leher kemudian tertidur.


Satu jam berlalu, Ady masih bergerak gelisah. Dia mengacak rambutnya frustasi. Matanya bergulir menatap istrinya yang telah pulas tertidur.


Ady bernisiatif untuk pindah ke ranjang, dia mengambil bantalnya dan menaruhnya kembali ke tempatnya.


Ady merebahkan dirinya dan memejamkan katanya, kantuknya melanda sehingga ia dengan enggan menarik selimut sampai sebatas dada.


"Eekhhh, hhhh ... eekhhh,"


Mata Ady kembali terbuka, dia melihat putrinya yang bergerak gelisah. Isakan kecil mulai keluar, terpaksa Ady harus menyingkap selimut putrinya dan membawa putrinya itu ke gendongan.


"Ssyuuuttt, kenapa sayang? dingin yah?" tanya Ady pada putrinya.


Ady memegang leher Ara, dia merasakan hangat menyentuh kulit tangannya. Dirinya menjadi takut jika apa yang di katakan Nando benar kalau putrinya akan demam.


"Gak enak badannya yah sayang? maafin ayah yah ngajak Ara keluar malam-malam," sesal Ady.


Ady tak tahu harus bagaimana, mau membangunkan Alea tetapi istrinya barus saja tertidur dan ia tidak tega.


Ady merebahkan dirinya, dia bersandar pada kepala ranjang dan merebahkan putrinya di dadanya. Isakan kecil Ara terhenti, dia seperti terdiam mendengar detak jantung sang ayah.


Tak lama, mata indah itu tertutup. Ady melihatnya dan tersenyum, mungkin saja putrinya mimpi buruk dan berakhir menangis. Namun, Ady masih khawatir dan takut Ara demam sehingga ia masih menunggu putrinya beberapa saat.


***


Alea terbangun, dia mengucek matanya. Netranya beralih menatap samping, suaminya tertidur dengan Ara yang berada di pelukannya. Sedikit bingung karena setahunya Ady tidur di sofa semalam, kenapa malah berada di sampingnya?


Alea turun dari ranjang, dia meNcepol rambutnya dan bergegas untuk membersihkan diri. Setelah selesai, Alea keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang segar.


DERT!


DERT!


Ponsel Ady berbunyi, Alea pun mendekati ponsel itu yang terletak di nakas samping Ady tidur.


Tertera nama Angel, dengan kesal Alea pun mengambil ponsel itu dan melirik Ady.


"Aku angkat mas marah gak yah?" gumam Alea.


Lagi-lagi Angel menelpon tanpa henti, hal itu membuat ALea sangat geram pada wanita itu.


Alea pun mengangkatnya, dia menempelkan benda pipih itu di telinganya.


"Halo Ady, Ady tolong aku. Aku di rumah sendiri, oma sedang pergi ke London menyusul orang tuaku. Aku sangat takut Ady,"


"HEH PELAKOR! MEMANGNYA DI RUMAH KAMU GAK ADA PEMBANTU? GAK ADA BODYGUARD? MANJA KOK SAMA SUAMI ORANG?! SITU PUNYA KACA KAN MBAK? NGACA DONG!" marah Alea.


"Kamu?! kenapa ponsel Ady ada di kamu?!"


"Jelas aja ada di saya, orang saya istrinya. Gak laku yah sampe suami orang kamu kejar-kejar huh? mak lampir!"


Setelah mengatakan itu, Alea mematikan ponsel Ady. Dia menghapus riwayat panggilan dan juga memblokir nomor Angel, tak bisa di pungkiri jika Alea panas ketika mendengar suara manja Angel yang tertuju pada suaminya.


"Heran deh, kenapa sih ada gitu orang yang seneng ganggu rumah tangga orang? giliran di ganggu balik marah kan? emang dasarnya aja yang egois, pasti kalau di tanya jawabnya emang salah mencintai? Cinta gak salah, tapi tempatnya yang salah! cinta kok sama suami orang, gak laku apa gimana,"


Alea menggerutu sembari menyisir rambutnya, tidak taukah ia jika sedari dia menelpon Ady sudah bangun dan tersenyum menatap dirinya yang sedang bercermin.


"Kau cemburu? itu tandanya kau sangat mencintaiku bukan?" Tanya Ady sembari menaik turunkan alisnya.


"MAS?!"