Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
Episode 36: Sosok Alea



Alea sudah selesai memandikan Ara, dia tengah memakaikan putrinya baju yang menutupi semuanya termasuk tangan dan kakinya. Alea mengambil topi bayi dan memakaikan pada kepala putrinya, dia harus memastikan Ara tidak kedinginan karena nantinya Ara akan tidur di kamar ber AC.


"Sudah," gumam Alea.


Alea membawa Ara keluar kamar, dia akan menempati Ara di ruang bayi karena dirinya harus keluar.


"Bi, titip Ara yah. Nanti kalau ada apa-apa, kalian hubungi saya. Stok Asi ada di kulkas," pinta Alea pada salah satu baby sitter dan menyerahkan Ara padanya.


"Baik non," ujarnya.


Alea pun keluar dari kamar bayi, dia kembali ke kamarnya untuk mengambil tasnya. Alea membawa dompet serta ponsel miliknya.


Setelah mendapatkannya, Alea pun keluar dari rumah. Dia memasuki salah satu mobil, dan berniat menyetir sendiri.


Satpam yang melihat mobil Alea yang melaju ke arah gerbang segera membukanya, Alea lun hanya melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang tanpa membuka kaca mobil miliknya.


"Itu teh neng Alea mau pergi kemana yah?" gumam satpam itu.


Sedangkan kini Alea melajukan mobilnya membelah jalan, kaca mata hitam bertengger cantik di hidung mancungnya.


Mobilnya pun terhenti di pelataran kafe, Alea turun dari mobilnya dengan menenteng tas Dior miliknya. Setelahnya Alea memasuki Kafe dengan gaya elegannya, netranya menatap penjuru kafe dan terpusat pada sosok wanita.


Alea berjalan dengan anggun, dia mendekati wanita yang dia tuju dan menepuk bahunya pelan.


"Oh, kau orang yang menghubungiku bukan?" tanya wanita itu sambil bangkit berdiri.


Alea tersenyum, dia barjalan ke depan wanita itu dan duduk menghadap ke arah wanita tersebut. Setelahnya wanita itu juga ikut duduk, wajahnya tampak gugup.


"Jangan gugup begitu Diva, biasanya kau selalu menyindirku. Benar bukan?" ujar Alea sambil membuka kaca mata hitamnya.


Wanita bernama Diva seketika terkejut, matanya membulat sempurna bahkan mulutnya sedikit terbuka.


"A-alea!" sentak Diva.


"Turunkan nada bicaramu, aku kesini ingin menawarkan kerja sama denganmu," ujar Alea dengan nada datar.


"A-apa yang kau mau Alea? kerja sama apa? kau, bukankah kau telah menjadi gelandangan?!"


Alea menaruh kaca mata ke dalam tasnya yang berada di tas meja, dia menautkan jarinya dan menaruhnya di bawah dagu.


"Bagaimana bisa aku menjadi gelandangan jika suamiku saja seorang CEO ternama?" ujar Alea dengan kesan meledek.


"Hahahah, apa kau berhalu? bangun Alea, ini sudah siang," seru Diva yang tertawa mengejek Alea.


Dengan santainya Alea memanggil pelayan, dia memesan minuman untuk dirinya. Setelahnya Alea kembali menatap Diva yang tengah terkekeh.


"Kau belum tau nama lengkap suamiku bukan? Adyatma Putra Dominic, pasti kau telah mendengar rumor yang mengatakan jika penerus Dominic telah kembali. Banyak juga berita yang menyorotnya tengah menggandeng wanita dan seorang bayi di pelukannya, apa kau tak lihat berita itu?" tanya Alea dengan sedikit angkuh.


Diva langsung mengecek ponselnya, dia mencari data Ady. Seketika netranya membulat ketika melihat wajah Ady.


"Alea kau! bagaimana bisa?!" kagetnya.


"Kehidupan itu seperti roda, kadang di atas terkadang pula di bawah. Dulu kalian mencoba menghancurkan ku, tapi kini aku kembali dengan gelar nyonya muda Dominic," ujar Alea dengan santai.


Minuman pesanan Alea pun datang, Alea segera meminumnya dan menatap Diva yang masih terbengong.


"Aku mengajukan tawaran khusus denganmu," ujar Alea setelah meminum minumannya.


"Apa itu?" tanya Diva.


"Aku tak sengaja mendengar percakapanmu dengan Keyla, aku baru tahu jika ternyata Keyla lah yang telah memfitnahku dan juga hampir membunuhku. Menjadikanmu saksi adalah hal yang percuma, untuk itu carikan aku bukti," terang Alea.


Diva menggeleng, tidak mungkin dia berurusan dengan Keyla. Secara Keyla adalah atasan dia di kantor, bisa saja dia yang di balas oleh Keyla.


Brak!


Alea mengeluarkan amplop tebal, dia menyerahkan amplop itu di depan Keyla.


"Uang itu hanya sekedar DP, setelah kau mendapatkan bukti itu ... aku akan membayarmu tiga kali lipat dari ini," tawar Alea.


Melihat uang yang begitu tebal, membuat pertahanan Diva goyah. Dia menatap Alea yang tengah menyunggingkan senyumnya sembari menyeringai.


"Jadi ... apa kau mau? aku tahu jika anakmu sakit, kau perlu uang untuk pengobatan nya. Kerja samalah denganku dan uang ini beserta bonusnya nanti akan kau dapat kan," ujar Alea.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Diva.


"Kau haru mengambil bukti dari Keyla sendiri, maksudku ... pancing dia untuk menjelaskan segala kejahatannya dan bisa juga kau memberiku bukti yang lain." terang Alea sambil berdiri dari duduknya.


Alea memakai kaca mata hitamnya, dia melirik jam tangan mewah miliknya dan menatap Diva yang tengah menatap amplop tersebut.


"Putriku pasti sudah terbangun, aku akan pulang sekarang. Aku tunggu hasilnya," ujar Alea dan pergi meninggalkan kafe.


Saat Alea keluar dari kafe, Ady yang tadinya akan memasuki mobil seketika terhenti. Dia menatap Alea yang tengah menghampiri mobil yang terparkir dan memasukinya.


"Alea?" gumam Ady yang sepertinya ragu jika itu adalah istrinya.


Ady akan meeting di sebuah Resto yang tak jauh dari kafe yang Alea datangi, sehingga Ady dapat melihat jelas ketika Alea keluar dari dalam kafe.


Sedangkan Alea, dia belum bertujuan pulang melainkan dia pergi ke suatu tempat. Tujuannya kali ini adalah rumah pengacaranya, dia harus mengurus kasus ini dengan pengacaranya itu.


Sesampainya di sebuah rumah, Alea memarkirkan mobilnya. Dia turun dari mobil dan mendekati pintu rumah itu.


Tok!


Tok!


Tok!


Alea mengetuk pintu rumah itu, dia menunggu balasan dari dalam.


Cklek!


Alea tersenyum ketika melihat seorang wanita yang berumur kisaran 40 tahun, wanita itu tampak terkejut melihat Alea yang berdiri di depan rumahnya.


"Alea, ya ampun ... kemana aja kamu," ujarnya dengan bahasa non formal.


"Ayo sini masuk, kebetulan kamu kesini ... budhe lagi masak banyak," ujarnya.


Alea mengikuti wanita itu, dia mengamati setiap sudut rumah yang tak pernah berubah Keluarga ini sudah seperti keluarganya sendiri, karena keluarga ini adakah teman dekat ayah dari Alea.


"Papi liat siapa yang dateng pi!" serunya.


Sosok pria keluar dari ruang tengah, dia tampak terkejut melihat Alea yang berdiri di samping istrinya.


"Nak Alea," serunya.


Alea tersenyum, dia mendekati pria itu dan menyaliminya.


"Kemana aja kamu, pakdhe bulan lalu ke rumahmu dan katanya rumahmu kebakaran. Terus pakdhe ke rumah orang tuamu, mereka bilang jika rumah itu sudah di jual," ujar pria itu.


"Alea tinggal sama suami Alea pakdhe, mas Putra ternyata penerus Dominic. Jadinya Alea tinggal di sana sama Edgar, keluarganya juga baik banget sama Alea," ujar Alea.


Pria itu bernama Reyhan, dia adalah sahabat dekat bapak Alea. Dia telah menjadi pengacara Alea dulu, sehingga mereka pun akrab satu sama lain.


Kini mereka berada di ruang tamu, Alea meminum tehnya yang istri Reyhan siapkan.


"Tujuan kamu kesini pasti karena ada masalah kan?" tanya istri Reyhan yang bernama Yuni.


"Eh iya budhe, Alea kesini karena mau pakdhe jadi pengacara Alea," terang Alea.


"Memangnya apa masalahmu?" tanya pakdhe.


Alea menatap pakdhe yang ternyata mulai serius, dia pun mulai menceritakan apa yang terjadi pada dirinya.


"Kasusmu sudah sampai tahap rencana pembunuhan, pakdhe akan membantumu dan juga pakdhe coba menghubungi pengacara lain,"


"Siapa pakdhe?" heran Alea.


"Rolan Rodriguez, pengacara ternama. Sampai saat ini dia tak pernah kalah dalam menangani kasus,"


Alea mengangguk, dia tersenyum lebar. Dengan begitu, dia tak perlu takut jika Keyla melawan dengan pengacara lain. Karena pengacara utama, berpihak padanya.


___________


mau lanjut gak nih? spam komen okay😉 jangan lupa likenya loh😯