
"Ayah tinggal yah, baik-baik di rumah oma. Jangan nakal okay!" Pesan Ady pada kedua bocah itu.
Ara mengangguk, dia berlari masuk bersama kresek besar yang berisikan jajan.
"OMAAAA!!!! ALA DATENG NIHHHH!!!"
Ady tersenyum melihat tingkah putri kecilnya itu, Kemudian netranya beralih pada Shaka yang masih diam melihatnya.
"Shaka gak ikut masuk?" Tanya Ady sambil mengusap rambut Shaka.
Shaka hanya diam, sehingga Ady pun mensejajarkan tingginya dengan Shaka.
"Kenapa? apa ada yang ingin Shaka sampaikan?" Tanya Ady.
"Apa Shaka akan di kembalikan ke mama dan papa?" Tanya Shaka dengan raut wajah sendu.
Ady tak tega melihat tatapan SHaka, tatapan seorang anak kecil yang merasakan kesedihan. Bola mata yang jernih, membuat hati Ady tersentuh saat melihat mata itu berkaca-kaca.
"Shaka ... Ayah pernah bilang sama Shaka, mereka orang tua kandung SHaka. Namun, walau begitu ... ayah dan bunda sangat menyayangi Shaka. Kami tidak pernah membeda-bedakan SHaka dengan Ara, karena bagi kami kalian anak-anak kami." Jelas Ady.
"Tapi Shaka gak mau tinggal dengan mereka." Ujar Shaka dengan suara bergetar menahan tangis.
Ady memegang kedua bahu anak itu, dia takut Shaka menangis karena ini bukan waktu dan saat yang tepat.
"Shaka dengarkan ayah, jika nantinya kamu merasa di asingkan di sana. Ayah akan kembali mengambilmu dan sampai kapan pun Ayah tidak akan menyerahkanmu pada orang tuamu lagi." Terang Ady.
"Shaka maunya tunggak sama ayah sama bunda juga hiks ...,"
Ady memeluk anak itu, bocah itu kini terisak di bahu Ady. Ady menjadi bingung, Shaka sudah menangis seperti ini.
"Kak Siska gak bisa paksa Shaka untuk tunggal dengannya, bagaimana ini? Kak Siska akan terus menyalahkan istriku karena mengira Shaka sudah di doktrin olehnya." Batin Ady.
Ady menjauhkan SHaka darinya, dia mengusap air mata di pipi gembil bocah itu. Alea berhasil membesarkan Shaka, timbangan SHaka cukup bahkan sampai pipinya terlihat gembil.
"Iya, ayah akan berusaha okay. Kita lihat ke depannya," ujar Ady.
"Sekarang Shaka masuk dulu yah, besok ayah kesini menjenguk kalian." Titah Ady.
Shaka mengangguk, dia menghapus air matanya dengan tangan kecilnya. Ady membantu anak itu menghapus air matanya.
"Besok ayah kesini kan?" Tanya Shaka.
"Iya, besok ayah kesini. Udah yah, masuk gih langsung cuci kaki, cuci muka. Terus bobo deh, oke jempol!" Seru Ady.
Shaka mengangguk, dia mengambil kreseknya dan pergi masuk ke dalam. Ady melihat punggung Shaka yang semakin menjauh, tatapannya pun berubah sendu.
"Ayah harap, ada keajaiban yang membuatmu bisa bertahan di keluarga kami." Lirih Ady.
Sedangkan di dalam kamar, Ara sudah menargetkan tante nya itu. Siapa lagi kalau bukan Gehna.
"Onty lihat apa?" Tanya Ara sambil melihat laptop yang di pangku oleh Gehna.
"Ini film drakor, kau pasti akan suka. Pemainnya tampan-tampan, hah ... sayang sekali tak bisa di gapai." Seru Gehna.
Ara melihat drama itu, dia tak mengerti dengan bahasanya, tapi ada satu bahasa lain yang ARa mengerti.
"Onty, dia ngomong apa?" Heran Ara.
"Oh, dia bilang aku cinta kamu. Saranghaeyo." Seru Gehna sambil menunjukkan live dengan jarinya.
Ara menganggukkan kepalanya, sedangkan di pojok ruangan, tepatnya di atas sofa selonjor ada Shaka yang memainkan gamenya.
Ara dan Gehna asik menonton sambil memakan cemilan yang Ara beli, hingga waktu menunjukkan pukul tengah malah. Ara dan Shaka tertidur dengan pulas nya dalam keadaan jajan yang masih berada di pelukan mereka.
"Dah selesai!" Seru Gehna dan merenggangkan ototnya.
Gehna menoleh ke sampingnya. "Eh? tidur ternyata?"
Gehna menggelengkan kepalanya, dia mengambil bungkus jajan yang berada di pelukan Ara. Setelah itu menaruhnya di nakas dan mengambil tisu basah. Dia membersihkan bibir Ara dan membenarkan letak tidurnya.
Netranya beralih pada Shaka, dia turun dari ranjang dan mendekati Shaka. Keadaan tidur Shaka sama persis seperti Ara, bahkan masih banyak bungkus jajan lainnya.
Gehna membawa Shaka ke gendongannya, setelah itu dia membawanya ke ranjang. Dia merebahkan Shaka, dan membersihkan mulut Shaka.
"Kalau Kak Alea, pasti suruh mereka bangun untuk gosok gigi. Cuman aku gak tega banguninnya, tidur udah pules banget. Gak papa lah sesekali kali yah." Gumam Gehna.
***
"Boy, jangan rewel dong. Ayah mau keluar sebentar, mau jemput kakak sekolah pinter." Pinta Ady sambil menciumi kening putranya yang berada di pangkuannya.
Sky sama sekali tidak mau berpindah tempat, bahkan saat Alea menggendongnya anak itu terus menangis. Sehingga Ady mengambil alih, barulah diam.
"Aku jadi keinget dulu mas, pas Ara rewel ternyata ada kecelakaan di jalan. Mungkin Sky punya firasat yang gak enak," ujar Alea.
Ady melirik istrinya sebentar. "Itu hanya kebetulan aja, takdir gak ada yang tahu," ujar Ady.
"Atau kamu tunda aja mas," ujar Alea.
Ady menggeleng, dia memiliki janji pada Shaka untuk datang pagi hari. Tak mungkin ia melanggarnya, melihat tatapan kecewa anak itu nanti Ady tak sanggup.
"Kamu susu1n Sky aja, biasanya dia kalau udah di susu1n diem. Mungkin emang lagi rewel aja," ujar Ady.
Ady menyerahkan Sky pada Alea, walau anak itu berontak tapi Ady harus pergi.
"Aku berangkat yah, jemput mereka dulu," ujar Ady.
Alea mengangguk, dia memejamkan matanya saat Ady mengecup keningnya. Ady segera bergegas menjemput kedua anaknya.
Sesampainya di rumah Tiara, dia langsung mengetuk pintu rumah itu. Tak ada halangan apapun di jalan, Sky menangis mungkin karena tahu sang ayah akan pergi bersama kakaknya. Tahu sendiri bagaimana jealous nya Sky pada Ara.
Cklek!
"Oh Ady? mau jemput Ara sama Shaka yah? ayo masuk, mereka lagi sarapan," ujar Tiara menyambut kedatangan Ady.
Ady mengangguk dan tersenyum ramah, dia mengikuti Tiara sampai ke ruang makan. Shaka dan Ara yang melihat kedatangan Shaka pun segera turun dari kursinya dan berlari ke arah Ady.
Ady berjongkok, sehingga keduanya masuk ke pelukan sang ayah.
"Ayah! ayah!" Seru Ara.
"Hm?" Sahut Ady sambil melihat putri kecilnya itu.
"Calange!" Seru Ara sambil menunjukkan jarinya yang berbentuk love.
Shaka memutar bola matanya jengah, sementara Ady yang mengerti bahasa itu oun tertawa.
"Ara tuh dari tadi calange calange, apaa ... lagi calange." Gerutu Shaka.
"Hahaha iya kah? Coba ayah tanya, Ara tahu dari siapa?" Tanya Ady.
Ara melirik ke arah Gehna yang sedang memberi kode agar Ara tak memberitahukannya pada Ady.
Ady melihat tatapan putrinya, dia melihat adik iparnya yang cengengesan.
"Kamu mengajaknya drakoran Gehna?" Tanya Ady.
"Itu ... itu gak sengaja kok kak, please jangan bilang kak Alea. Nanti aku di marahin sama dia." Seru Gehna sambil mengatupkan tangannya.
Ady hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan remaja yang seumuran dengan Edgar itu.
"Yasudah, ayo kita pulang." Ajak Ady.
"Loh, kok pulang? Kita kan sekolah yah!" Seru Ara tak terima.
"Kalian mau sekolah pake baju santai?"
Ara dan Shaka saling pandang, lalu menatap baju yang mereka kenakan.
"Celagamna Ala dimana? kemalin macih pakek," ujar Ara.
"Ada di rumah Bella, kita pulang aja ke rumah ambil seragam yang lain." Ajak Ady.
Wajah Ara tiba-tiba menjadi panik, Ady yang baru saja berdiri dari jongkoknya terlihat bingung saat melihat putrinya.
"Kenapa?" Tanya Ady.
"Kita ambil bajuna Ala yuk ke lumah Bella," ujar Ara.
"Ha?"
"Di cakuna ada uang dua lebu Ala." Sahut Ara dengan wajah panik nya.
Ady menepuk keningnya, putrinya selalu menyayangkan berapa pun uang yang tersisa. Dan ini hanya dua ribu, wajah putrinya sudah sepanik itu.