Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
Episode 50: Buka puasa



"TANGKAP DIA!" titah seorang kepala polisi.


Keyla sedang di kejar-kejar oleh segerombolan polisi, dia berusaha melarikan diri saat penangkapan di apartemennya. Kakinya terus berlari hingga dirinya menabrak banyak orang.


BRAK!


Keyla terjatuh ketika seseorang menjegatnya, dia akan bangkit tetapi salah satu polisi menangkapnya dan langsung memborgol dirinya.


"Lepaskan saya pak! saya tidak salah," ujar Keyla dengan nada sedikit tinggi.


Orang-orang sudah memusatkan perhatiannya pada Keyla, bahkan kini wanita itu sudah menjadi tontonan.


"Jelaskan di kantor polisi saja!"


"Kalian! bawa dia,"


Keyla di paksa memasuki mobil, sepertinya hari ini adalah hari terakhirnya melihat dunia luar. Karena sebentar lagi ia akan mendekam lama di penjara.


Berbeda dengan Alea dan Ady yang tengah bersantai menikmati waktu berdua di balkon kamar mereka.


Beruntung malam ini Ara tidur lebih cepat, sehingga mereka memiliki waktu untuk bermesraan.


"Tadi aku dapat info, Keyla sudah berhasil di tangkap. Beberapa hari ke depan, pasti kita di panggil untuk sidang. Aku mau, kamu berbicara sejelasnya pada pengadilan agar mereka cepat menghakimi Keyla." Pinta Ady sambil menaruh kepalanya dia kepala sang istri.


"Pasti akan banyak media yang datang, secara mas kan keluarga terpandang. Kalau mereka ragu identitasku dan Ara gimana?" Pertanyaan Alea membuat Ady menjauhkan kepalanya.


"Hei, kamu ngomong apa sih? kalau mereka tahu kenapa? mas sama kamu kan udah nikah, kalau punya anak ya wajar dong. Terus salahnya dimana? sudah saatnya mereka tau kalau kamu istri mas dan Ara putri mas,"


Ady tak suka saat Alea berbicara seakan-akan dia dan putri mereka adalah aib. Padahal keluar Ady pun tak masalah dengan pernikahan Ady saat ini, lalu kenapa Alea harus mempermasalahkannya?


"Mereka belum tau apa status ku mas, mendengar ucapan Arga kala itu membuatku yakin jika yang lain pasti juga memikirkan hal yang sama. Jika aku, hanyalah istri rahasia," ujar Alea.


"Enggak, jangan kamu dengarkan mulut mercon itu. Aku sama sekali tak merahasiakanmu, bahkan keluargaku pun tahu siapa dirimu." Elak Ady.


"Tapi ...,"


Alea membulatkan matanya, dia merasakan benda kenyal di bibirnya. Dengan wajah yang masih terkejut, Alea menatap Ady dengan pandangan yang masih terkejut.


"Masih sama, tetep manis," ujar Ady.


Tersadar dari keterkejutannya, ALea menatap Ady garang. DIa memukul dada Ady karena kesal suaminya mencuri kesempatan di saat seperti tadi.


"Aw, sakit Al. Udah," ujar Ady. Padahal pukulan Alea tak dia rasakan, hanya saja dirinya geli dengan pukulan kecil sang istri.


Alea mendengus sebal, dia membuang wajahnya dan tak mau menatap Ady.


"Sayang,"


Suara berat Ady menerpa telinganya, bahkan kini nafas berat suaminya dia rasakan dia leher putih jenjangnya.


Jantung Alea berdegup kencang, dia tak bisa lagi mengontrol dirinya. Bahkan dia sudah panas dingin ketika merasakan lengan Ady yang melilit perutnya.


Alea menolehkan kepalanya, jantungnya tambah berdetak keras ketika wajahnya dengan Ady hanya tersisa beberapa cm saja.


"M-mas ...." Alea sungguh gugup, jarak ini sangatlah dekat.


"Ara sudah tidur, kini giliran aku yang kamu perhatikan. Aku menahannya buka satu atau dua minggu saja, bahkan aku menahannya sudah satu tahun. Terakhir kali sebelum pertengkaran itu bukan? jadi ... bolehkah?"


Alea mengigit bibirnya, dia tahu Ady sudah menunggu lama. Tetapi dirinya belum siap, mengingat jika sudah lama sejak saat itu.


"Mas aku ...,"


"Kalau kau belum siap, tak apa. Mas masih bisa menunggu," ujar Ady dan menjauhkan wajahnya dari Alea.


Alea menatap raut wajah Ady, dia menangkap jika Ady sangat kecewa. Alea pun menjulurkan tangannya pada rahang tegas Ady sehingga pria itu menatap wajah sang istri.


Ady yang mengerti sinyal itu langsung saja melebarkan senyumannya, dia langsung menyelipkan tangannya di leher dan bawah paha Alea untuk dirinya gendong ke kamar.


Alea melingkarkan tangannya di leher Ady, tatapan mereka pun terkunci satu sama lain.


Ady merebahkan tubuh Alea di ranjang, dia tak mengalihkan pandangannya barang sedikit pun dari wajah Alea.


Kini, malam itu menjadi saksi kembalinya cinta mereka. Sekian hari, sekian minggu, sekian bulan, akhirnya mereka kembali menjadi suami istri seutuhnya.


***


Pagi hari, Alea terbangun karena matahari yang menyorotnya. Dia mengucek katanya dan melihat jam di nakas yang menunjukkan pukuk 9 pagi.


"ASTAGA! AKU BANGUN TERLAMBAT!" Pekik Alea.


Saat Alea akan bangun, dirinya terkejut ketika melihat dirinya yang polos tanpa benang sehelai pun. Dia langsung berbalik bada dan melihat Ady yang sudah rapih dengan pakaian santainya sembari menatapnya dengan senyum manis.


"MAS?" Kaget Alea.


Jika kalian berpikir ALea akan bangun di pelukan suaminya, kalian salah! Ady sudah bangun lebih dulu dan memandikan putrinya, dia merasa jika Alea sangat kelelahan dan bernisiatif untuk memandikan putrinya yang sudah terbangun.


"Selamat pagi sayang, tidur nya nyenyak?" Tanya Ady dengan seringiannya.


Alea menutup wajahnya, dia sangat-sangat malu. Ady yang melihat itu terkekeh, sehingga ia duduk dari posisi berbaringnya dan menatap istrinya dengan santai.


"Mandi lah cepat, katanya kita akan pergi ke rumah Arga. AKu sudah mengajukan cutiku untuk beberapa hari ke depan," ujar Ady.


"Kenapa?" Heran Alea.


"Besok persidangan di adakan, aku tak mau lagi menunggu lama. Secepatnya kita mengurus wanita itu," ujar Ady.


Alea mengangguk, dia menarik selimut dan melilitkan di tubuhnya. Setelahnya dia berjalan ke kamar mandi dengan selimut tersebut.


Melihat Alea yang seperti itu membuat Ady tersenyum, dia menggelengkan kepalanya dan terkekeh.


"Padahal sudah memiliki satu anak, tapi masih saja malu," ujar Ady.


Ady pun berdiri dari duduknya, dia berjalan ke arah lemari Ara untuk mengambilkan putrinya sarung tangan.


Ady harus memakaikan Ara sarung tangan, bayi itu sering kali mencakar wajahnya sendiri. Ady tidak tega melihat cakaran itu, pasti akan sangat perih jika terkena air.


Jika sedang potong kuku, Ara pasti menangis. Harus mencari waktu yang pas untuk menggunting kuku anak itu, dan untuk saat ini Ady harus memakaikan putrinya sarung tangan.


Ady keluar kamar, tak lupa dia menutup pintu. DIrinya mendekat ke halaman rumah karena saat ini Ara tengah di gendong oleh Naura sambil melihat kupu-kupu berterbangan.


"Eyang." Panggil Ady.


Naura menoleh, begitu juga dengan Ara yang menatap sang ayah.


"Pakaikan sarung tangan itu pelan-pelan Ady, takut dia menangis," ujar Naura.


"Iya eyang," ujar Ady.


Selesai memakaikan sarung tangan, Ady mencolek pipi gembul sang putri. Netranya beralih menatap Robert yang tengah menggendong Shaka.


"Ternyata kakek sangat sabar dengan anak minim ekspresi itu," ujar Ady.


"Kamu ini! jangan seperti itu, dia juga keponakanmu," ujar Eyang.


Tak dapat Ady pungkiri, memang Shaka adalah ponakannya. Namun, bayi itu sudah memonopoli istrinya dan hal itu membuat dirinya sangat kesal.


"Bayi itu, sama seperti Arga. Sama-sama membuatku kesal." Gumam Ady.