
"SKYYY!!! SINI KAMU!!"
Ara berlari mengejar seorang anak laki-laki berumur kurang dari dua tahun. Walau begitu, anak tersebut sudah lincah berlari dan membuat sang kakak kelelahan mengejarnya.
Sky Samudra Dominic, anak laki-laki dari Ady dan Alea kini sudah berumur satu tahun setengah.
Hap!
Tiba-tiba saja tubuh Sky melayang, ternyata sang ayah yang menggendongnya. Dia menoleh menatap Ara yang berkacak pinggang sambil menatapnya tajam.
"Nakal yah kamu! Ala bilangin bunda nanti!" Kesal Ara.
Sky memeletkan lidahnya, dia berbalik dan memeluk leher Ady dengan erat. Sedangkan ayah dari keduanya, hanya bisa menghela nafas lelah.
"Kenapa ARa mengejar Sky sayang?" Tanya Ady dengan lembut.
"Kalau adeknya jatuh gimana?" Lanjut Ady.
"Dia itu cali gala-gala telus! kaos kaki Ala di ambil! huh! teltekan cekali pelacaanku!"
"Bisa ambil stok baru kan, ayah kan sudah belikan Ara banyak kaos kaki." Bujuk Ady.
Yah, Ady membelikan Ara dan Shaka kaos kaki hingga satu lemari karena putra bungsunya yaitu Sky sangat suka mengambil kaos kaki milik kedua kakaknya.
"Buang aja adeknya yah! Beban lumah dacal!" Ketus Ara dan kembali ke kamarnya, karena dia harus bersiap ke sekolah.
Ady menggelengkan kepalanya, Ara yang saat ini menduduki bangku TK membuat anak itu sudah sibuk dengan perlengkapan sekolah.
"Boy gak boleh nakal yah, kasihan Kak Ara. Kakak kamu itu gak sesabar bang Shaka," ujar Ady sambil menatap putranya yang memainkan dasi sang ayah.
"Boy nda nakal!" Seru Sky.
KArena seringnya Ady memanggil Sky dengan sebuatan boy, membuat anak itu memanggil dirinya sendiri Boy.
"Iya, Boy gak nakal tapi jail." Sahut Ady.
Ady membawa Sky ke ruang makan, di sana sudah ada Shaka yang tengah memakan sarapannya.
"Dimana bunda?" Tanya Ady sambil mengelus kepala Shaka.
"Di dapur," ujar Shaka.
Shaka sudah bisa mengucapkan huruf R dari umurnya 4 tahun. Bahkan saat pertama kali Shaka mengucap R dengan benar, Alea sampai menangis karena merasa anaknya sudah tumbuh besar.
Ady menarik kursi dan mendudukinya, dia menempatkan Sky di pangkuannya.
"Boy, mau Roti apa nasi?" Tanya Ady.
Sky melihat sarapan yang tersaji, seperti mencari sesuatu dan tidak menemukannya membuat Sky mendongak.
"Mimi, nda da?"
Ady mengerti, putranya menginginkan susu. Padahal, putranya sudah meminum ASI saat bangun tidur nanti.
"Nanti, bunda lagi di dapur," ujar Ady.
Ady mengambil roti, dia memotong roti itu menjadi setengah dan memberikannya pada Sky.
Sky mengambil roti itu dan memakannya, dia hanya di berikan setengah karena kalau satu lembar pasti anak itu akan merobeknya dan membuang setengahnya.
"Mas, Ara mana?" Tanya Alea yang baru saja tiba.
"Lagi pakai kaos kaki," ujar Ady.
Alea duduk di samping Shaka, dia membenarkan dasi yang anaknya itu pakai. Sementara Shaka, sibuk pada sarapannya.
"Kemarin di sekolah ada masalah gak?" Tanya Alea.
"Enggak ada." Jawab Shaka.
Alea tersenyum, dia mengambil nasi goreng dan memberikannya pada Ady. Setelah itu dia membawa Sky ke kuris khusus bayi.
"Nda, mimi," ujar Sky.
"Tadi baru susu, badan kamu udah gempal banget Sky." Tolak Alea.
Sky mengerucutkan bibirnya, dia membuang roti yang ia makan ke lantai begitu saja. Melihat itu, Alea menahan nafasnya. Sudah biasa Sky membuat ulah bila dia tak menuruti kemauannya.
"Minum air putih mau?" Bujuk Ady.
Sky menggeleng, dia merentangkan tangannya pada Alea. Alea pun membawa sang anak ke pangkuannya.
"Mimi ... mimi ndaa!!"
Sky menarik kerah baju Alea, dia berusaha untuk mencari sumber minumnya.
"Sky, jangan nakal," ujar Alea.
Karena tak dapat apa yang ia mau, Sky menangis kencang. Sehingga Alea pamit pada Ady untuk membawa Sky ke kamar.
"Ayah, bunda mana?" Tanya Ara yang datang dengan tas sekolah di punggungnya.
"Biasa, adikmu nangis karena tidak di beri susu," ujar Ady.
Ara menaiki kursi nya, dia duduk berhadapan dengan Shaka.
"Hari ini ayah gak bisa antar, kalian bareng Kak Rangga yah. Tadi Ayah udah ngomong sama ayah kak Rangga," ujar Ady.
"Kenapa Chaka Ck ck begitu huh?!" Seru Ara.
"AKu naik ojek aja yah," ujar Shaka.
"Emangna Chaka punya uang? udah lah, nebeng aja ya kan yah? Bial cepet kaya kita!"
Karena sekolah Ara dan Rangga satu arah sehingga Ady kerap kali menitipkan Ara dan Shaka pada Rangga. Sebenarnya bisa saja Ady memakai supir, hanya saja Ara tidak mau di antar oleh orang asing.
"Shaka maafin ayah yah, ayah gak bisa antar karena habis ini jadwal kontrol adik kalian." Bujuk Ady.
"Oke deh." Putus Shaka.
Ady tersenyum, dia mengusap kepala Shaka. Tak terasa umur mereka mencapai 5 tahun, mereka bahkan sudah bersekolah.
TIN!
TIN!
TIN!
"Tuh, sudah di tunggu." Seru Ady.
Ara segera turun dari kursinya, dia memeluk singkat Ady dan tak lupa mencium pipinya.
"Bye ayah!" Teriak Ara sambil berlari keluar.
"Bye princess, hati-hati!" Sery Ady.
Melihat tingkah Ara, Ady hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sementara Shaka, dengan santai menuruni kursi nya dan berjalan mendekati Ady.
"Yah, Shaka berangkat dulu," ujar Shaka.
Ady tersenyum, dia mengusap kepala Shaka dan mencium kening anak itu.
"Hati-hati, jagain adek kamu yah," ujar Ady.
Shaka mengangguk, dia pun berjalan keluar dengan santai.
"CHAKAAA!!! CEPEETAAANNN!!"
Shaka menghembuskan nafas kasar sambil memutar bola matanya jengah.
"Dasar!" Cibir Shaka.
Sesampainya di sekolah, Ara dan Shaka turun dari mobil. Hanya Ara yang mengucapkan terima kasih pada Rangga dan ayahnya, berbeda dengan Shaka yang hanya diam dengan tatapan datar.
Ara melambaikan tangannya saat mobil Rangga meninggalkan halaman sekolah, dengan senyum manis Ara menatap Shaka.
Namun, senyumannya luntur saat melihat sebuah mobil berwarna putih berhenti tepat di depan mereka.
"Ayo Ara kita masuk!" Titah Shaka dan menarik tangan Ara ketika pintu mobil itu terbuka.
"Tunggu Shaka!"
Shaka tak menghentikan langkahnya, sedangkan Ara menarik lengan Shaka agar berhenti karena anak itu di panggil oleh seseorang.
"Shaka! uncle manggil itu!"
"Biarkan saja!" Ketus Shaka.
Langkah mereka terhenti saat orang itu menghadang, Shaka menatapnya penuh amarah.
"Minggir!" Seru Shaka.
"Sebentar nak, papa ingin bicara," ujarnya yang tak lain dan tak bukan adalah Nando.
Shaka memalingkan wajahnya, dia tak suka bertatapan dengan ayah kandungnya. Ara hanya menatap bingung, karena dia tidak tahu apapun.
"Ara masuk kelas, nanti abang susul," ujar Shaka.
Karena tak ingin Shaka marah, Ara langsung menuruti keinginan Shaka. Sementara Shaka, tengah menatap ke arah Nando.
"Nak, begini ... Bella sangat ingin sekolah. Jadi papa memutuskan untuk menyekolahkannya disini, kamu gak keberatankan?" Tanya Nando.
"Kalau aku keberatan, papa juga akan tetap menaruhnya di sini kan?" Ketus Shaka.
Nando hanya diam, tatapannya beralih pada Bella yang berdiri di belakang Shaka.
"Dia ada di sini, justru masalah untuk Shaka!" ujar Shaka.
"Shaka, tapi dia adikmu," ujar Nando dengan halus.
"Adik? adikku hanya Ara! Bella itu anak papa! anak kesayangan papa dan mamah."
Setelah mengatakan itu, Shaka pergi begitu saja dan menghiraukan panggilan Nando.
Tatapan Nando beralih pada putrinya, seharusnya Shaka sudah kembali padanya saat umurnya menginjak 5 tahun. Namun, penolakan Shaka membuat Nando harus mengulur waktu.
"Bang Chaka nda cuka Bella ya pah?" Tanya Bella dengan sendu.
"Engga kok, udah yuk kita ke ruang guru tanya kelas kamu." Ajak Nando.
Sorry malem up nya, aku buat up setelah selesai kerja yah😁