Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
S2: Pertemuan Alea dan Siska.



Shaka turun untuk sarapan, dirinya sudah siap mengenakan pakaian sekolahnya. Sementara Ara, masih mempersiapkan diri.


"Pagi bunda." Ucap Shaka sambil mencium pipi Alea.


"Pagi juga sayang, sini duduk sarapan," ujar Alea dan menepuk bangku yang ada di sebelahnya.


Shaka duduk di sebelah Alea, dia membalikkan piring di hadapannya dan mengambil nasi goreng. Melihat sang bunda yang sibuk menyuapi Sky, Shaka memilih untum mengambil sendiri.


"Bisa sayang?" Tanya Alea mengamati kegiatan Shaka.


Shaka mengangguk sembari tersenyum, walau sesekali beberapa butir nasi berjatuhan Alea tak memarahinya dan membiarkan Shaka berusaha.


"Pinternya anak bunda." Seru Alea sambil mengelus kepala SHaka ketika anak itu berhasil menaruh nasi gorengnya ke dalam piring.


Perbuatan Shaka merupakan hal sederhana, tetapi bagi Seorang ibu mandiri nya sang anak adalah suatu kebanggaan.


"Bunda masakin juga ayam kesukaan Shaka, pahanya cuman ada dua. Shaka habiskan," ujar Alea.


Berbeda dengan Shaka, Ara malah lebih suka sayap. Baginya, daging sayap rasanya lebih gurih ketimbang paha.


Ady sibuk dengan ponsel nya, sepertinya pria itu tengah banyak kerjaan.


"Mas, makan dulu! simpan ponselnya." Titah Alea.


"Iya nanti sayang," ujar Ady tanpa menoleh pada istrinya


Alea kesal, dia menatap putranya yang ternyata sudah membuka mulutnya menanti suapan sang bunda.


"Eh, maaf sayang," ujar Alea dan kembali menyuapi Sky.


Sky duduk di kursi bayi sambil memainkan robotnya, biasanya ALea akan membiarkan putranya itu belajar makan sendiri. Namun, kali ini dia ingin menyuapi Sky karena sebentar lagi dirinya akan ikut mengantar ARa dan Shaka ke sekolah.


"Mas, simpen gak ponselnya! nanti aku lempar itu ponsel!" Sentak Alea karena sudah terlanjur kesal.


"Iya-iya." Sahut Ady dan meletakkan ponselnya.


Kini ruang makan hanya ada dentingan sendok, masing-masing fokus pada makanannya sendiri.


"PAGIIII MY PAMILYYY!! ALA TANTIK CUDAH CIAAAPP!!"


Ady hampir tersedak saat mendengar jeritan putrinya, dia segera meminum air putih dan menatap putrinya kesal.


"Jangan berteriak, ini bukan hutan Ara." Peringat Ady.


Ara yang sedang naik ke kursinya mendelikan matanya ke arah Ady.


"Yang bilang ini hutan ciapa? kan ayah, kok jadi Ala yang di pelototin?!" Sewot Ara.


Ady mencoba mengatur nafasnya, berdebat dengan putrinya sama saja berdebat dengan tembok.


"Shaka udah selesai, Shaka liat blacky dulu." ujar Shaka sambil membawa piring kotornya ke dapur.


Sedari kecil, ARa maupun SHaka di ajarkan oleh Alea untuk selalu membawa piring kotor ke dapur. Sehingga mereka sudah disiplin sedari dini.


Alea mengangguk, dia menoleh menatap sekilas Shaka sampai anak itu masuk ke dapur dan kembali menatap Sky.


"Makannya jangan di **** Sky, di kunyah terus telen. Gigi kamu udah lengkap semua, jangan males ngunyah," ujar Alea dan kembali menyuapi putranya.


"Nda nomel telus," ujar Sky.


Netra Alea melebar, putranya sudah berani protes tentang kecerewetannya. Sedangkan Ady, dia sudah menahan senyumnya. Sepertinya Ady yang sudah mengajarkan kata itu.


"Bunda ngomel kalna kamu bandel! nakal! badung!" Sewot Ara.


Sepertinya Ara masih merasa kesal karena hal kemarin, perihal Sky yang menggigitnya.


Sky menatap Ara dengan kesal, dia melempar mainan mobilnya ke arah Ara. Namun, untung saja Ady menghalangi kepala putrinya dari terkena mobil itu.


"Boy, gak boleh lempar-lempar! ayah gak suka yah!" Peringat Ady dengan menatap tepat di kata sang putra.


Sky menunduk takut saat melihat tatapan Ady, ketika ayahnya itu marah menurut Sky sangat menakutkan.


Alea yang melihat putranya ketakutan segera menenangkannya dengan kembali menyuapinya makanan.


"Nda ... nda mau," ujar Sky menolak suapan dari Alea.


"Tuh ayah, Sky gak mau makan nih!" Adu Alea.


Sky pun buru-buru membuka mulutnya sambil matanya melirik ke arah sang ayah yang masih fokus dengan makanannya.


***


"Eh Ara, tadi yang anter kakak kamu yah?" Tanya teman Ara ketika Ara dan Shaka baru saja memasuki kelas.


"Kakak? kakak Ala cuma Chaka doang," ujar Ara dan duduk di bangkunya.


Beberapa teman Ara mengikuti ARa sampai ke mejanya, terlihat Ara sedang melepaskan tasnya.


"Tadi yang anter kamu?"


Ara mengernyitkan keningnya, pasalnya tadi yang mengantar nya adalah Alea.


"Oh, itu bundana Ala. Kenapa? cantik yah? siapa dulu anaknya," ujar Ara membanggakan dirinya.


"Idih, tapi gak mirip kamu tuh. Malah abang kamu yang lebih mirip," ujar temannya.


Ara terdiam, dia lupa bertanya pada Ady tentang dirinya yang tidak mirip. Padahal hanya kata saja, tetapi wajah Ara merupakan versi Ady saat kecil.


"Iya, Ala anakna laja ingglis jadina gak milip." Ngawur Ara.


"Apaa?!! waahh ... iya sih, wajah kamu lebih mirip bule," ujar teman Ara tersebut.


Ara menggaruk keningnya, dia bingung dengan respon temannya.


"Ini otakna Andlea lemot apa lola cih?" Batin Ara.


Sementara itu, Alea dan SHaka sedang berhadapan dengan Siska dan juga Bella. Mereka tak sengaja bertemu saat tadi di parkiran.


"Kamu juga antar anak-anak Al? Tanya Siska canggung.


"Iya kak." Sahut Alea.


Walau Alea merasa canggung pada Siska, tetapi dia juga harus menjaga adab dengan kaka iparnya itu.


"Ya juga sih, lagian nanti kan kamu gak bisa anter jemput Shaka lagi yah. Jadi sekarang banyakin momen dengan putraku," ujar Siska.


"Maksud kak Siska apa yah?" Tanya Alea sedikit merasa tersinggung.


"Loh, kan aku bilang bener. Minggu ini ada perkumpulan acara keluarga, seperti yang sudah Ady janjikan jika SHaka akan kembali padaku saat perkumpulan keluarga saat itu," ujar Siska.


Ingin rasanya Alea marah dan menolak, tetapi dia sadar disini bukan hanya ada dirinya dan Siska. Tapi ada Shaka, Sky dan juga Bella.


"Bunda kita ke kelas aja." Ajak Shaka.


Siska menatap putranya itu, tak pernah dia mendengar putranya memanggilnya dan mengajaknya. Ingin sekali Siska berada di posisi Alea, tetapi dia tidak tahu bagaimana perjuangan Alea mengurus Shaka sejak kecil.


"Kak, aku duluan." Pamit Alea dan beranjak sambil menggandeng Shaka dan Sky.


Siska melihat kepergian Alea dengan tangan terkepal, dirinya merasa jika dia yang harus berada di posisi Alea dan di perhatikan oleh putranya itu.


"Tenang Siska, mulai minggu depan keluarga kecilmu akan kembali lagi." Lirihnya.