Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
Episode 94: Kekesalan Ara



"Seharusnya kamu tahan emosi kamu Siska, sekarang Shaka harus bisa nyaman sama kamu. Bagaimana pun juga Shaka putra kita," ujar Nando menasehati istrinya itu.


"Aku gak tahu mas bagaimana kebiasaan Shaka, aku cuman kesel aja tadi. Mood aku lagi kurang bagus," ujar Siska.


"Iya paham, lain kali tahan emosi kamu. Shaka masih kecil, jika kamu seperti tadi malah membuat kita sulit membuat Shaka nyaman sama kita," ujar Nando.


Nando menatap istrinya yang tengah duduk di tepi kasur dengan kepala tertunduk, setelah tadi Siska menceritakan apa yang terjadi awalnya ia marah. Namun, dia juga tak bisa menyalahkan semuanya pada Siska.


"Mas akan melihatnya dulu," ujar Nando dan beranjak pergi.


Nando keluar dari kamar, kebetulan dia berpapasan dengan Ady yang baru saja keluar dari kamar.


"Shaka mana?" Tanya Nando.


"Lagi mandi," ujar Ady.


"Baru mandi?" Bingung Nando.


Dengan pelan Ady mengangguk.


"Iya, baru bangun. Tadi sore dia nangis karena istri abang itu, jadinya aku tidurkan agar berhenti menangis," ujar Ady.


Nando akhirnya paham, dia mendekati adik iparnya dan memegang bahu adik iparnya tersebut.


"Maafkan Siska, dia tak sengaja membentak Shaka. Dia hanya merasa kecewa saja dengan keputusan kamu tentang Shaka, maka dari itu moodnya sedikit rusak," ujar Nando.


"Bukan keputusan ku, tapi keputusannya. Ady tahu, keturunan perempuan sangat di banggakan di keluarga abang. Maka dari itu, jarang sekali keluarga abang menanyakan tentang Shaka." Terang Ady.


"Orang tuaku sering kali menanyakan Shaka, tapi kan kamu tahu sendiri bagaimana sikap Shaka," ujar Nando.


"Dia bersikap seperti itu karena kehilangan kepercayaan kalian sebagai orang tuanya! dimana kalian saat dia sakit? dimana kalian saat dia lapar? dimana kalian saat dia sedih? jika saja bang Nando tidak bermain api pasti tidak akan terjadi seperti ini. Jangan salahkan Shaka, salahkan diri kalian yang dengan tega mengorbankan kebahagiaan kecilnya," ujar Ady dengan tegas.


Nando bungkam, dia tak bisa lagi membalas ucapan Ady. Ady yang melihat hal itu tersenyum sinis, tangannya terangkat dan menepuk pelan bahu abang iparnya itu. Setelah itu Ady pergi dari hadapan Nando.


Nando menghela nafas berat, semua ini bermula darinya. Dia sakit, itu karena ulahnya sendiri.


Tatapannya mengarah pada pintu kamar Ady, ingin sekali dia membukanya. Namun, tidak pantas karena dia takut ada Alea di dalam kamar tersebut. Sehingga Nando memutuskan untuk beranjak dari sana menuju ruang keluarga.


Sedangkan Ady, saat ini dia tengah menjaga Ara yang berada di ruang tengah sambil menonton kartun kesayangan anaknya itu.


"Ayah, Ala mau buah." Pinta Ara sambil menolehkan kepalanya.


Ara yang tengah duduk di karpet, sementara Ady duduk di sofa membuat anak itu harus sedikit mendongakkan kepalanya.


"Buah? buah apa?" Tanya Ady.


"Apel," ujar Ara.


Ady mengangguk, dia pun berdiri dan berjalan ke arah dapur untuk mengambilkan putrinya buah.


Ara kembali fokus pada apa yang ia lihat, Ady memang menjatahkannya untuk melihat layar. Dia takut putrinya ketergantungan dengan animasi khayalan tersebut.


"Ini," ujar Ady yang sudah kembali dari dapur dengan membawa buah apel yang sudah di potong dan di taruh di piring.


"Telimakacih ayah," ujar Ara.


Ady mengangguk dan tersenyum, dia mengecup kepala putrinya dan menaruh piring tersebut di hadapan sang putri.


Ara memasukkan potong demi potong buah tersebut, dia serius makan hingga tak sadar jika Ady tengah memperhatikan nya.


"Kalau di lihat-lihat, kenapa sekarang wajah Ara lebih ke Alea yah?" Gumam Ady.


Tersadar jika ada yang tengah memperhatikannya, Ara langsung mengalihkan pandangannya ke arah Ady.


"Tenapa?" Tanya Ara.


"E-enggak papa, ayah seneng ngeliat putri ayah," ujar Ady dan mengecup gemas pipi gembul Ara.


Ara memekik senang, dia menjauhkan pipinya dari Ady yang terus saja menciuminya.


"Habiskan apelnya, ayah mau samperin abang dulu." Pamit Ady sambil mengacak rambut sang putri.


Ara mengangguk, dia kembali memakan apelnya. Tak lama, datanglah Bella dengan raut wajah senangnya.


"Ala lagi iat apa?" Tanya Bella.


"Bella nda liat Ala liat apa? kok pakek nanya cih?" Ujar Ara.


"Ohhh Keleta, Bella nda cuka itu. Bella cukana Belbie," ujar Bella.


"Yang nanya capa? Ala kan nda nanya Bella cuka apa." Jengah Ara.


"Danti, Ala mau belbie. Lemotna mana?" ujar Bella.


Ara menatap Bella tak percaya, baru kali ini ada anak yang mengganti chanel kesayangannya. Bahkan Shaka pun harus mengalah jika Ara sudah melihat kereta itu.


"Cabal tunggu tenapa cih, ini juga bental lagi. Ngalah dong!" Ujar Ara tak terima.


"Bella juga mau tonton," ujar Bella.


Bella mendapat remotnya, dia mengganti Chanel dan membuat Ara kesal.


Ara sadar diri, dia berada di rumah orang. Jadi dia harus bersikap sopan dan tak merengek, dia pun berdiri dam mencari Ady.


"Cebel! cebel! cebel! huh ... teltekan cekali pelacaanku!" Gumam Ara.


Ara berjalan ke kamarnya, dia berpapasan dengan Nando yang akan ke ruang tengah.


"Loh, Ara gak main sama Bella?" Tanya Nando yang membuat langkah Ara terhenti.


Dengan cepat, Ara menggeleng. Dia menatap Nando yang juga tengah menatapnya.


"Loh kenapa?" Heran Nando.


"Lagi teltekan cekali pelacaanku," ujar Ara dan kembali melanjutkan langkahnya.


Nando mengangkat satu alisnya, sungguh ajaib tingkah keponakannya itu.


"Haiss ... jika dia putriku, pasti rumah akan sangat ramai," ujar Nando.


Ara membuka pintu kamar, dia melihat Shaka yang tengah bermain ponsel Ady dengan berbaring di kasur. Sedangkan Alea dan Ady tengah sibuk berdiskusi di sofa.


"Di cana pelacaaku teltekan tekan, di cini bebac cekali pelacaan kalian." Ujar Ara dengan ketus sambil membuka pintu dengan lebar


Ara menarik celana Shaka, jangan di tanyakan bagaiman wajah Shaka sekarang. Dia sungguh kesal dengan kebiasaan adiknya itu.


"Melolot celanana abang Ala! di bilangna belulang kok di ulangna lagi!" Kesal Shaka.


"Pelit amat cih! bantuin makana! nomel aja telus! teltekan cekali pelacaanku!"


Shaka menghela nafas berat, dia menarik Ara dengan cepat.


Ady menutup pintu, dia mendekati Ara yang sudah duduk anteng di samping Shaka. Ady menduduki dirinya di tepi ranjang, dia akan bertanya pada putrinya mengenai mengapa putrinya itu kesal.


"Ara kenapa sayang hm?" Tanya Ady dengan lembut sambil mengusap kepala Ara.


"Mau pulang, nda cuka dicini," ujar Ara dengan ketus.


Ady mengerutkan keningnya, apa yang terjadi pada putrinya itu hingga tak betah juga?


"Besok kan eyang buyut mau dateng sama kakek buyut juga, masa kita pulang," ujar Ady.


"Dicini nda bisa bebac ayah! celalu teltekan teltekan teltekan cekaliiii pelacaanku," ucap anak itu.


"Memangnya Ara tertekan kenapa?" Tanya Ady.


Ara pun menceritakan apa yang terjadi tadi, Alea dan Ady hanya mampu tersenyum. Mereka bangga dengan putrinya yang tak saking berebutan dengan sepupunya, memang Ady tanamkan pada putrinya agar tak berebut apapun hal dengan orang lain.


"Gimana mas? apa kita balik aja?" Tanya Alea yang kini sudah duduk di samping Ady.


Ady terdiam sebentar, setelah itu dia merangkul Alea dan mengecup bibirnya sekilas.


"Kita akan kembali ke rumah kita yang lama, yang di tempati Razka dan Edgar saat ini," ujar Ady dengan senyum mengembang.


Razka dan Edgar memilih tinggal di rumah Ady, selain untuk fokus ujian kelulusan mereka juga memilih mandiri.


"Tapi mas, bukankah kita mau mendekatkan Shaka dengan orang tuanya?" Heran Alea.


"Shaka memaksa pulang, lebih pada pulang ke sana lebih baik kita pulang ke rumah kita yang lama. Setidaknya, Shaka dan Ara nyaman tinggal di rumah mereka sendiri," ujar Ady.


Alea mengangguk seraya tersenyum, dia memeluk suaminya dan di balas oleh Ady.


"CHAKA!!! JANAN DI GANTIII IHHH!!! TA BALANGNA CANDAL JUGA YAH!"


Ady dan Alea tertawa, memang seperti itu jika Ara kesal. Bahasa Alea dia gunakan untuk memarahi kakaknya itu.


"Ish! Teltekan cekali pelacaanku!" ketus Ara merebut ponsel Ady yang berada di tangan Shaka.


"DACAL LAMPEEEE!!! NDA COPAN AMBIL HAPEEE!!!" Teriak Shaka karena kesal dengan adiknya itu.


"Sudah sudah, sini kan ponsel ayah. Kita keluar untuk makan malam." Ujar Ady sambil mengambil ponselnya.


Ara memanyunkan bibirnya, begitu pula dengan Shaka.


"Chaka mau makan di kamal aja," ujar Shaka.


"Ala juga, nda mau ketemu cama anabel," ujar Ara dengan ketus.


"Gak boleh gitu, Bella itu adik kalian. Dan kamu Shaka, untuk hari ini saja. Besok kita akan pergi ke tempat lain," ujar Ady.


Ara dan Shaka menghela nafas pelan, akhirnya mereka mengikuti Ady dan Alea ke ruang makan.


Sesampainya di sana, langkah Shaka terhenti. Dia melihat betapa telatennya Siska menyuapi Bella, begitukah lembutnya Siska terhadap Bella.


"Ayo sini Shaka, duduk sebelah oma," ujar Amanda dengan antusias.


Shaka pun duduk di sebelah sang oma, di ikuti oleh Ara yang duduk di sebelah Shaka.


Ethan dan Amanda sang bahagia, kini kedua anaknya berkumpul. Sudah lama dia menanti saat ini, bersama dengan para cucunya.


"Shaka mau makan yah nak, sini mamah ambilkan," ujar Siska dan mengambilkan makan untuk Shaka.


Shaka mengamati Siska yang mengambil makanan untuknya, tak hanya dia Alea dan Ady pun sama.


Tak!


"Nih, makan yang banyak yah sayang," ujar Siska setelah menaruh piring itu di hadapan Shaka.


Siska mengelus rambut lebat Shaka, dia tersenyum manis menunggu anaknya makan.


Ara melihat piring abangnya, di sana terdapat daging. Ara tak tahu daging apa itu, dia pun mengambil daging itu dan memindahkan ke piringnya.


"Loh Ara, kenapa daging punya Shaka kamu ambil sayang?" Tanya Siska sedikit terkejut.


"Abang nda cuka daging," ujar Ara dengan singkat.


Alea tersenyum, kebiasaan Shaka yang tak suka daging merah sudah sangat mereka hafal.


Alea pun akan mengambilkan Shaka ayam, tetapi Siska menghalanginya dan menatap Alea dengan datar.


"Biarkan aku yang mengambilkannya, aku mamahnya. Kau bisa urus putrimu," ujar Siska.


Alea merasakan hatinya berdenyut sakit, dengan lemas dia menarik kembali tangannya.


Ady menyadari kesedihan istrinya itu, dia akan membalas perkataan Siska. Hanya saja tak enak dengan orang tuanya, orang tuanya mau mereka berkumpul bukan bertengkar.


"Shaka mau makan apa nak? biar mama ambilkan," ujar Siska dengan antusias.


Shaka menatap Alea, dia tahu bundanya itu tengah sedih. Tatapan Shaka mengarah pada Siska, dia juga tak tega melunturkan senyuman mamah kandungnya itu.


"Mau ayam." Lirih Shaka.


Dengan senang hati Siska mengambilkan Shaka ayam, dia menaruhnya di piring Shaka dan tersenyum tulus.


"Telima kacih," ujar Shaka.


"Sama-sama sayang." Antusias Siska.


Shaka mendorong piringnya pada Alea, Alea yang melihatnya pun mengerutkan keningnya. Sedetik kemudian dia mengerti mengapa Shaka mendorong piringnya.


"Cuapin." Pinta Shaka.


"Shaka makan sendiri nak, mamah masih harus sua ...,"


"Chaka minta ke bunda, bukan ke mamah." Sela Shaka.