
"Mommy, ayo sini. Kenalkan ini istri Ady," ujar Arga membuyarkan lamunan Tiara yang merupakan ibu dari Arga.
Tiara tersadar dari lamunannya, dia memaksa senyumnya dan berjalan mendekati Alea yang masih termangu.
"Ouh ini yah istri Ady, cantik sekali. Siapa namanya sayang?" Sapa Tiara setelah duduk di samping Arga.
"A-ah nama saya Alea tante," ujarnya.
Tiara mengangguk seraya tersenyum.
"Namanya beda, mungkin hanya mirip." Batin Tiara.
"Ekheee, ekhee,"
Sepertinya Ara sudah tidak betah berada di gendongan Arga, dia sudah merengek sambil meliukkan badannya.
Tiara yang menyadari hal itu langsung fokus pada wajah imut Ara, sedari tadi dia tak melihat karena mungkin fokusnya hanya pada Alea.
"Wah, apa bayi ini putri kalian?" Tanya Tiara sambil mengambil Ara dari gendongan Arga sebelum Ady mengambilnya.
Tiara menepuk b0k0ng bayi itu seraya menggumamkan kata tenang, seketika Ara terdiam dari tangisnya dengan nafas pelan.
"Ayahnya ganteng dan bundanya cantik, tentu saja anak-anaknya cantik," ujar Tiara.
"Anak-anak?" Heran Ady, pasalnya ia masih memiliki satu anak. Sepertinya ia melupakan sesuatu.
"Loh, di gendongan istrimu juga anakmu kan? kembar?" ujar Tiara.
Tatapan Arga dan Ady beserta Alea mengarah pada Shaka yang ternyata sudah terbangun sambil menatap mereka polos. Apakah wajah Shaka mirip dengan Ady? sampai-sampai Tiara mengatakan jika Shaka anaknya juga.
"Bu-bukan tante, itu ponakan. Anaknya kak Siska dan bang Nando, mana ada Ady punya anak modus gak ketulungan kayak dia," ujar Ady dengan nada tak terima.
"Oohh, tante kira itu anakmu. Abisnya mirip kamu," ujar Tiara.
Alea tersenyum, dia tahu jika Ady sangat kesal. Setelah dia amati memang wajah Shaka sedikit mirip dengan Ady hanya beda kulitnya saja yang tak terlalu putih menuruni Nando. Berbeda dengan Ara yang memiliki kulit putih menurun dari Ady dan Alea.
"Bayi kamu sudah di kasih makan sampingan? maksudnya selain susu." Tanya Tiara.
Alea menatap Ady dengan kening berkerut, bayinya baru saja tiga bulan dan makanan sampingan apa?
"Maaf tant, kata dokter makanan sampingan dikasih saat umur 6 bulan. Lambungnya belum mampu mencerna, kebetulan juga asi Alea lancar dan gak pernah Ara rewel karena kelaparan," ujar Ady.
"Ehm begitu yah, maklum lah dulu tante pakai baby sitter ngurus anak. Soalnya tante kan kerja juga, pas lahir Gehna juga begitu. Tante hanya stok asi aja," ujar Tiara.
Ady mengangguk, dia tidak akan memberi izin ALea untuk bekerja. Sungguh, dia trauma dengan pernikahan mereka pada tahun-tahun sulit itu karena Alea yang hanya fokus bekerja di banding mengurus dirinya. Apalagi sekarang, bisa-bisa putri mereka terlantar.
"Alea tidak bekerja?" tanya Tiara.
"Enggak tan, sebelum hamil Alea kerja juga. Namun, pas hamil Alea langsung berhenti. Mas Ady juga gak izinin Alea bekerja, katanya biar fokus dengan Ara," ujar Alea.
Tiara jadi tahu siapa nama bayi di gendongannya, dia menjadi gemas ketika melihat Ara yang selalu melirik ke arah Ady. Mungkin bayi itu bingung dengan siapa yang menggendongnya.
Tiara membalikkan tubuh Ara sehingga kini bayi itu dengan jelas menatap Tiara, keningnya mengerut ketika menyadari jika bukan orang tuanya yang menggendong dirinya.
Bibir mungilnya melengkung, matanya pun menyipit bersiap akan menumpahkan tangisan.
"Eh loh ... loh ...,"
"Eekhee ekhee Ekheee,"
Seketika Ady langsung mendekat, dia meminta izin agar membawa Ara kembali ke gendongannya. Ady paham jika Ara selalu takut dengan orang asing, terlebih ketika melihat wajah orang yang menggendongnya.
"Maaf yah tan," ujar Ady ketika ia mengambil Ara.
"Cup, ayah disini. Ayah disini sayang," ujar Ady.
Merasakan kehadiran sang ayah, tangisan Ara terhenti. Ady mengambil sapu tangannya dan membersihkan wajah putrinya dari air mata dan ingus.
Ady pun kembali duduk dan membenarkan Ara di gendongannya.
"Iya tan, biasa di rumah terus. Sekalinya keluar palingan ke mall, atau ke pasar dan seringnya ke halaman rumah. Kakek selalu larang, dia bilang 'Jangan sering ajak anakmu keluar, anakmu cantik nanti di culik orang' gitu katanya," ujar Ady menceritakan dengan sedikit bercanda.
Tiara tertawa, Alea yang melihat kedekatan Tiara dan Ady merasa terheran. Apalagi suaminya sangat berwajah datar dan tak mungkin bisa bercanda.
"Hahaha, Alea Ady ini sering banget main ke sini. Karena orang tuanya selalu sibuk bolak-balik ke London, jadi tante udah hafal tabiatnya dia. Walaupun dingin, dia masih suka bercanda," ujar Tiara yang seperti mengerti kebingungan Alea.
"O-oh begitu yang tan." Kikuk Alea.
Tiara beralih menatap Arga, dia menepuk bahu putranya dengan sedikit keras.
"Teman kecilnya sudah menikah bahkan telah memiliki anak, sedangkan kamu masih bujang lapuk. Apakah kamu sudah tidak doyan wanita?" ujar Tiara.
Arga mendengus sebal, umurnya dan Ady lebih muda dirinya setahun. Kenapa sang mommy seakan-akan membandingkan dirinya dengan teman seumuran dengannya.
"Apa kau tahu tan, dia pernah membuatku kesal karena mengatakan anakku anak haram dan istriku adalah istri simpanan," ujar Ady mengadu pada Tiara.
Tiara membulatkan matanya, dia menepuk kepala putranya sembari mencubit perutnya dengan keras.
"A-AAAA ADUH! SAKIT MOMMY SAKIT!"
"Mulutmu itu minta di geprek yah! kok pedesnya ngelebihin ibu-ibu kang gosip!" Sentak Tiara dengan mengakhiri cubitannya.
Ara mengelus bekas cubitan sang mommy, panas dan perih itulah yang ia rasakan.
"Salahin dia mom, nikah ngumpet-ngumpet kayak gitu. Orang yang baru tahu juga ngiranya bakal kayak aku," ujar Arga membela diri.
"Kamu yang salah! kenapa gak nanya dulu! terus beritanya jadi gimana itu?!" Kesal Tiara.
"Udah aku hentikan tan, berita itu sudah tak ada lagi. Namun, aku yakin jika cepat atau lambat pasti berita itu kembali tersiarkan," ujar Ady.
Tiara menghembuskan nafasnya, netranya beralih menatap seorang wanita mendekati mereka dengan kursi roda.
"Eh, Gehna sayang. Kok disini?" tanya Tiara sembari bangkit dari duduknya dan mendekati remaja bernama Gehna.
Tatapan mereka mengarah pada Gehna, ALea tentu hafal dengan wajah gadis itu apalagi ketika Gehna tengah sekarat.
Kursi roda Gehna di arahkan mendekati Alea, Tiara duduk di sofa single sampung kursi roda putrinya.
"Hai," ujar Alea.
Gehna tersenyum, dia masih merasakan sakit saat berbicara sehingga ia akan menggunakan isyarat mata dam bibir.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Alea.
Gehna mengucapkan kata baik walau hanya gerakan bibir saja tanpa suara, Alea pun tersenyum. Setidaknya Gehna masih bisa di selamatkan dan dia merasa senang.
"Alea, Arga sudah menceritakan semua yang kamu korbankan. Terima kasih karena sudah berani menyerahkan bukti itu, tante sangat berhutang budi," ujar Tiara.
Alea menggeleng.
"Enggak tan, aku hanya berniat menolong. AKu akan sangat merasa bersalah ketika pelaku bebas," ujar Alea.
"Oh ya, siapa nama orang tuamu?" Tanya Tiara, sedari tadi mulutnya gatal ingin bertanya mengenai hal itu.
Alea mengerutkan keningnya, tatapannya beralih pada Ady dan tak lama kembali menatap Tiara.
"Untuk apa yah tan?" bingung Alea.
"Oh enggak, hanya nanya saja," ujar Tiara.
"Ehm itu ... An ...,"
_____
hayo loh, gantung kanðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤. like 200, komen 30. Auto meluncur up yang kedua, selamat berjuang💪😘