Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
Episode 45: Edgar sakit



BRAK!


"BAPAK GAK BISA GITU DONG MAIN PECAT SAYA SEENAKNYA!" sentak Keyla pada Ryanto.


Srek!


Ryanto melempar kertas pada Keyla, wanita itu mengambilnya dan membacanya. Sontak saja matanya membulat, bibirnya terkatup sangat rapat.


Ryanto tak bisa ambil resiko, hutang perusahaannya dengan Dominic sangatlah banyak. Terlebih saham Dominic berada disini, dia tak bisa apa-apa saat ini. Jika tidak, kantornya akan di ambil alih oleh Ady.


"Mas percaya lah ini tidak seperti yang kamu fikirkan, coba kita bicarakan ini baik-baik." ujar Keyla sambil berjalan mendekati Ryanto.


Keyla mengelus bahu Ryanto, dia tersenyum menampilkan rayuannya. Ryanto tak tergoda karena perusahaannya saat ini sangatlah penting, dia tidak mau jatuh miskin.


BRAK!


"OH JADI GINI MAS KELAKUAN KAMU SAMA KARYAWAN KAMU HAH?!"


Seorang wanita tiba-tiba saja masuk dan berteriak ketika melihat Keyla yang sedang menggoda Ryanto. Ryanto yang merasa terkejut segera berdiri dan mendekati sang istri yang tengah menahan amarah.


"Bella kamu jangan salah sangka, dia yang menggodaku. Dia wanita yang tidak tau malu." Unjuk Ryanto pada Keyla yang menatapnya terkejut.


Wanita yang bernama Bella itu segera mendekati Keyla, tangan lentiknya langsung menjambak dan mencakar wajah Keyla dengan tidak berperasaan.


"DASAR CEWEK GATEEELLL! MURAHAN! GAK LAKU KAMU HAH! MAKANYA SUAMI SAYA KAMU EMBAT!"


"ADUHHH SAKIT, AMPUN,"


Ryanto semakin bingung, disisi lain dia sangat takut melihat istrinya yang kesetanan menghajar mantan kekasihnya. Tapi disisi lain, Ryanto merasa kasihan dengan Keyla.


"Bella udah, dia kesakitan," bujuk Ryanto dati jauh.


Arah mata Bella menatap suaminya dengan tajam, dia menghempaskan keyla ke lantai dengan sangat mengenaskan.


"KAMU BELAIN SELINGKUHAN KAMU HAH?!" Sentak Bella.


"Bu-bukan begitu Bell." Gugup Ryanto.


Bella mengibaskan tangannya.


"Alah udahlah, punya berlian kok mau sama sampah! ingat ini Ryanto, perusahaan ini adalah milikku dan kehidupanmu hanya menumpang padaku!"


"BERESKAN BARANGMU DAN JANGAN TAMPAKKAN WAJAH JELEKMU DI HADAPANKU! CAMKAN ITU!"


Bella beranjak keluar dengan di ikuti oleh Ryanto, sedangkan Keyla dia berusaha untuk berdiri dan keluar dari ruangan Ryanto.


Tatapan Keyla saat dia keluar dari ruangan Ryanto adalah terkejut, pasalnya semua karyawan kantor tengah berada di depan ruangan Ryanto dan menatap pada dirinya dengan pandangan jijik.


"Ooh pantas saja naik jabatan, ternyata hasil selingkuh toh!"


"Iya, udah tau bos punya istri masih aja di goda. Emang dasarnya perempuan gak tau malu!"


"Hati-hati deh, takut suami yang lain di ambil juga sama dia,"


Keyla menundukkan kepalanya, tangannya terkepal kuat. Tak kuasa menahan malu, Keyla pun berlari entah kemana dengan menabrak punggung rekan kantornya.


"HUUUU!"


Begitulah sorak sorai ketika Keyla menghindar dari mereka, berbeda dengan Lena yang malah memvideokan hal itu dan mengirimkannya pada Alea.


"Lihatlah, kau pasti akan senang melihat ini." Begitulah kira-kira pesan yang Lena kirimkan untuk Alea.


***


"Kenapa kamu senyum-senyum seperti itu?" heran Siska ketika melihat adik iparnya yang senyum-senyum sendiri.


Alea menoleh sekilas, dia menggeleng dan kembali menaruh ponselnya di meja.


"Tidak kak, hanya video lucu saja." Kilah Alea.


Siska tak banyak bertanya, dia menatap Shaka yang berusaha meraih tangan Ara. Bayi perempuan itu tidak mau di pegang oleh Shaka, karena gemas Shaka pun memukul wajah Ara dengan kencang.


"EKHEEE!"


"Tidak papa, abang hanya gemas dengan adek hm," bujuk Alea.


Ara mulai meredakan tangisnya, dengan kata berair ia menatap Siska yang tersenyum lembut menatapnya.


Mereka yang saat ini berada di kamar bayi, tak heran jika suara tangis Ara tak terdengar hingga ke ruang makan karena jaraknya yang jauh.


Ady dan Nando sepakat membuat kamar bayi ini untuk kedua bayi itu agar mereka mengawasi keduanya sekaligus. Kamar yang bercat baby blue dan pink itu sangat bergambarkan kamar khusus anak-anak.


"Maafkan Shaka yah Al, dia sangat jail," ujar Siska merasa tidak enak.


"Santai aja kak, namanya juga bayi belum ngerti apa-apa. Jangan di bawa serius, peringatin aja dengan lembut. Lama-lama juga ngerti," ujar Alea dengan lembut.


Siska tersenyum, adik iparnya sangat dewasa dalam hal berpikir. Dia merasa jika Alea sangat berbanding terbalik dengan Ady yang mudah kesal, padahal saat menikah dengan Alea tahun 1-2 Ady sangat lah penyabar.


"Kak,"


Siska Dan Alea mengalihkan pandangan mereka ke arah Razka yang memunculkan kepalanya di pintu. Remaja itu berjalan masuk dan mendekati kedua kakaknya.


"Kau membolos?!" Curiga Siska dengan menatap Razka tajam.


Saat ini masih jam 10 pagi, tetapi Razka sudah berada di rumah. Hal itu membuat Siska dan Alea merasa kaget dan curiga.


"Engga yah! aku pulang karena mengantar Edgar, dia demam." Seru Razka yang merasa tak terima.


"Demam?" Heran Alea, karena tadi pagi Edgar baik-baik saja.


Razka mengangguk, Alea pun menitipkan Ara pada Razka. Dia cepat-cepat beranjak pergi ke kamar adiknya, dia tidak tahu jika pagi tadi adiknya sakit.


Cklek!


Alea membuka kamar Edgar dengan sedikit tergesa-gesa, dia melihat Edgar yang tengah tiduran menyamping dengan selimut tebal menutupi tubuhnya.


Kamar bercat galaksi di buat Ady khusus untuk adik iparnya, Edgar sangat merasa nyaman di kamarnya terlebih kamar ini terletak paling pojok sehingga terasa sepi.


Dengan langkah pelan, Alea mendekati ranjang Edgar. Dia mengulurkan tangannya dan menyentuh kening Edgar yang terasa panas.


"Eungh! kakak!" Kaget Edgar.


Alea menarik tangannya kembali, dia menduduki dirinya di tepi kasur sedangkan Edgar menduduki dirinya.


"Kakak dengar kau sakit, dari kapan?" Tanya Alea pada adiknya yang sedang memejamkan matanya itu. Mungkin efek pusing yang Edgar rasakan, Alea tentu tahu karena itu dia membenarkan letak bantal Edgar.


"Aku tidak papa kak, hanya kelelahan saja." Lirih Edgar.


"Apa kita harus ke rumah sakit?" Tanya Alea dengan raut wajah yang khawatir.


Edgar langsung menggeleng, dia sangat tidak suka hal berbau rumah sakit. Itu sangat membuatnya kesal, terlebih saat menghadapi dokter ketika sang kakak melahirkan waktu lalu.


"Tidak, paling mereka berkata cek ini dan itu. Pas hasilnya keluar aku hanya kelelahan, sangat menjengkelkan," ujar Edgar.


"Tapi kan seenggaknya kita sudah tahu apa yang terjadi pada kamu." Bujuk Alea.


Edgar mendengus sebal, dia menatap kakaknya yang tengah mengkhawatirkan dirinya.


"Sayang uangnya kak, walau sekarang keadaan kita jauh lebih baik bukan berarti kita haru menggampangkan suatu hal. Makan obat warung juga aku sembuh kak," ujar Edgar.


Alea berdecak sebal, dia, Ady dan Edgar sangatlah keras kepala dan tidak ada yang mau mengalah. Beruntung mereka saling memahami satu sama lain.


"Gini aja, kakak buatkan aku teh jahe yang dulu pernah ibu buatkan. Kakak masih hafal resepnya kan?" Tanya Edgar.


"Baiklah, kakak akan buatkan." Ujar Alea sembari mengangguk.


Alea bangkit dari duduknya, dia akan beranjak tetapi pertanyaan Edgar membuatnya terhenti.


"Dimana Ara? apa kakak meninggalkannya dengan Shaka lagi? kasihan dia kak selalu di cubit oleh bocah itu," Tanya Edgar.


Alea menggeleng dan terkekeh, posesif Ady dan Edgar terhadap Ara membuatnya senang.


"Tenang saja, ada Razka dan juga kak Siska. Sudah yah, kakak keluar dulu." Ujar Alea.