
"Astaga, pantes saja aku mengenali putrimu. Apa kabar Regan?" ujar Ady dengan tersenyum tipis pada pria yang berada di dekat putrinya.
Regan Wijaya merupakan teman bisnis Ady, mereka berteman di karenakan usaha yang mereka bangun bersama.
"Saya mau balik ke indonesia lusa, dan Rea meminta belanja di mall ini sebelum balik ke indonesia," ujar Regan.
Ady mengangguk di sertai senyum tipis, kemudian tatapannya beralih pada Alea yang tengah menahan Ara yang sepertinya sedang kesal pada anak rekan bisnisnya itu.
"Ara sayang, sini," ujar Ady memanggil sang putri.
Dengan memanyunkan bibirnya, Ara berjalan mendekati sang ayah. Ady segera membawa putrinya ke gendongannya dan memperkenalkannya.
"Putri anda?" Tanya Regan.
"Ya, dia putri saya. Itu istri saya beserta putra saya," ujar Ady memperkenalkan keluarganya.
"Oh, istri kamu cantik pantas saja anak-anakmu tampan dan cantik," ujar Regan.
Ady tersenyum, dia merangkul pinggang sang istri posesif. Shaka menatap tajam Rea yang juga balik menatapnya tajam.
"Ayah! tulunin Ala! tulunin!" Sentak Ara.
Karena tak siap, Ady langsung menurunkan putrinya. Tanpa mereka duga, Ara berjalan ke arah Rea sambil melototkan matanya.
"Nda ucah pelelok Chaka! matana minta di colok hah!" Marah Ara.
"Ara, gak boleh seperti itu sayang," ujar Alea dan menarik putrinya menjauh.
"LEPACIN BUNDA! INI ANAK MINTA DI KACIL PELAJALAN!" Teriak Ara.
"Ara!" Peringat Ady.
Ara menatap sang ayah, dia mengerucutkan bibirnya sebal.
"Teltekan cekali pelasaanku." Gumam Ara.
"Maaf Tuan Regan, biasa sifat Ara judes jadinya seperti itu." Ujar Ady sambil tersenyum.
"Tidak papa Tuan Ady, anak kecil biasa seperti itu," ujar Regan.
Ady mengangguk, sedangkan Alea dia mengantar Shaka dan Ara untuk memilih mainan lain.
Sedangkan Rea, dia hanya mengamati bagaimana Alea dengan sabar mengantar Ara dan Shaka memilih mainan. Ada rasa iri di hatinya melihat betapa beruntungnya kedua anak itu memiliki ibu seperti Alea.
"Rea mau juga punya mamah." Lirih anak itu.
***
Setelah pulang dari mall dan pertemuan dengan Regan, Ady dan yang lainnya memutuskan untuk istirahat. Karena lelah, Ady dan Alea tertidur. Sedangkan kedua anak mereka, seperti anak kebanyakan yang pastinya sangat antusias bermain mainan baru.
"Ayah cih pakai acala lalang Ala, mukana minta di tutuk!" Ketus Ara.
"Nda boleh main tangan, ayah kan celalu lalang main tangan," ujar Shaka.
Keduanya sibuk mengobrol sambil bermain mainan baru, Ara yang membeli boneka dan Shaka yang membeli Lego.
"Chaka mau pulang ke luma oma nda?" Tanya Ara.
"Nda, Chaka nda mau," ujar anak itu dengan cepat.
"Tenapa?" Bingung Ara.
Shaka menatap adiknya itu, dia tidak mau karena di indonesia sudah pasti ada mamah kandungnya.
Nando telah di nyatakan sembuh, sehingga kini Siska dan Nando telah kembali ke rumah utama dengan anak bungsu mereka yang berjenis kelamin perempuan berumur 2 tahun.
"Aku nda cuka," ujar Shaka.
Obrolan keduanya terhenti, jam sudah menunjukkan pukul 9 malam dan kini merasa merasa sangat mengantuk.
"Chaka, Ala mau tidul." ujar Ara sambil mengucek matanya.
Shaka mengangguk, dia menyudahi mainannya dan bangkit berdiri. Begitu pula dengan Ara, mereka berjalan keluar kamar sambil bergandengan tangan.
Sesampainya di depan kamar, Shaka menjinjitkan kakinya. Dia berusaha meraih gagang pintu, dan setelah terbuka dia dan Ara masuk dan tak lupa menutup pintu kembali.
Ara berjalan ke arah ranjang, dia berusaha naik ke ranjang itu dengan bantuan dorongan Shaka.
"Cudah?" Tanya Shaka ketika Ara dapat meraih benda yang membantunya naik.
Ara mengangguk, dia sudah sangat mengantuk. Dia pun mengambil posisi di tengah-tengah Ady dan Alea yang saling berpelukan.
"Ayah, ayah! Ara mau bobo!" Ujar Ara sambil menggoyangkan bahu Ady.
Ady yang merasa terusik pun membuka matanya, dia melepas pelukannya dan pinggang Alea dan membiarkan Ara tertidur di sampingnya.
Dia pun duduk karena menyadari tak ada Shaka, setelah melihat Shaka yang masih berusaha naik ke ranjang membuatnya bernafas lega.
Ady memposisikan Shaka di samping Alea, setelah itu dia merebahkan dirinya dan langsung mendapat pelukan dari putri kecilnya.
"Ayah." Bisik Ara.
"Hm," ujar Ady dengan mata terpejam.
"Kapan kita pulang? Ala kangen dengan eyang buyut dan kakek buyut," ujar Ara.
Ady kembali membuka matanya, dia menatap putrinya dengan mata mengantuk.
"Besok sore kita ke indonesia, kita pindah kesana juga. Ara senang?" Tanya Ady.
Namun, bukan jawaban sesuai yang Ady harapkan. Putrinya tampak menatap Ady dengan sendu.
"Abang nda cuka pulang ke lumah kakek, dia bilangna nda mau ketemu mamah," ujar Ara dengan sedikit berbisik.
"Ehm, kita buat abang betah di indonesia okay? Sekarang Ara bobo, sudah malam," ujar Ady.
Ara mengangguk, dia memejamkan matanya. Tak lama, putrinya terlelap begitu juga dengan Shaka yang sudah tertidur di pelukan Alea.
Ady, pria itu tak dapat tidur lagi. Dia sungguh ragu untuk pulang ke indonesia. Apalagi saat mendengar dari Ara jika Shaka tak ingin kembali. Bagaimana perasaan anak itu saat sang mamah lebih memperhatikan adiknya? yah walaupun Ara anak kandung Ady, tetapi kasih sayang Ady dan Alea pada Shaka tetap sama. Dia akan memarahi Ara ketika salah, tak membelanya dan tak memanjakannya.
"Sesuai permintaanku, Shaka akan tinggal bersama kami sampai umurnya 5 tahun. Namun, jika saat itu Shaka masih belum bisa menerima Kak Siska bagaimana?" Gumam Ady.
"Hais ... kenapa harus aku pikirkan sekarang? mungkin ketika mereka bertemu, pikiran Shaka tentang orang tuanya bisa saja berubah kan?" Lanjut Ady.
Ady memutuskan untuk tidur, dia tak ingin memusingkan hal yang tidak tahu akan terjadi seperti apa kedepannya.
Pagi pun datang, Ady dan keluarga kecilnya tengah sarapan sambil mendengarkan celoteh riang Ara.
"Kata om Acka, disana ada jajan namana ... apa yah, Ala lupa. Apa yah Chaka?" Ujar Ara sambil menatap Shaka karena melupakan nama jajan tersebut.
"Chaka chaka, di cubit nanti mulutna bial jontol cekalian." Ketus Shaka, dia tak terima hanya di panggil Shaka tanpa embel-embel abang.
"Ih! napa cih! cilik aja, kan Ala mauna panggil Chaka! kata ayah kan Kita kembali!" Kesal Ara.
Alea yang tadinya sedang mengoles selai pada roti, seketika menghentikan kegiatannya dan menatap Ady. Kenapa suaminya mengatakan jika mereka kembar?
"Mas," ujar Alea.
"Ekhem, bukan kembar Ara. Seperti kembar, kau dan Shaka hanya berbeda beberapa jam saja," ujar Ady yang mengerti situasi.
"Ish! Beda dikit ayah! cama aja kayak Chaka, hump! Teltekan cekali pelacaanku," ucap Ara dengan membuang wajahnya.
Ady hanya bisa menggelengkan kepalanya, putrinya sangat bawel sedangkan Shaka hanya cerewet ketika menimpali ucapan putrinya.
"Sudah, habiskan sarapannya. Setelah itu rapihkan barang kalian, sore kita ke indonesia," ujar Ady.
Shaka menghentikan kunyahannya, dia menatap sang ayah dengan pandangan tak terima.
"Kan Chaka bilang cama ayah, Chaka gak mau pulang!" Sentak Shaka.
"Shaka, sayang ...." Lirih Alea.
TAK!
Shaka membanting sendoknya, dia menatap tajam ke arah Ady yang hanya menatapnya datar.
"Aya capek ngelawat Chaka? makana ayah mau kembaliin Chaka sama mamah kan? ayah udah gak cayang cama Chaka!" Marah Shaka dan turun dari kursinya, anak itu berlari dan menghiraukan panggilan Alea.
"Shaka, sayang ... nak!" Panggil Alea dan berniat menyusul Shaka.
Namun, Ady menahan lengannya. Suaminya menggelengkan kepalanya sambil menatap ke arahnya.
"Shaka hanya takut kembali pada Siska, dia merasa kecewa karena mengira kita akan mengembalikannya. Biarkan dia sendiri dulu, satu jam ke depan kau temui," ujar Ady.
"Tapi mas, apa gak sebaiknya kita tetap disini saja?" Ujar Alea dengan nada memelas.
"Aku maunya seperti itu, tapi keputusan eyang sudah bulat. Dia memerintahkan kita untuk pulang ke indonesia dengan alasan tak ingin jauh dari cucu-cucunya, apalagi mereka sudah tambah tua," ujar Ady.
Ara, ternyata anak itu sudah mengikuti sang abang. dia melihat Shaka yang menangis di kamar mereka.
"Abang janan cedih, kan ada Ala," ujar Ara.
"Pergi!" Ketus Shaka.
"Ish! olang Ala mau temenin doang duga, kenapa cih Chaka ngecelin banget huh. Teltekan cekali pelacaanku." ujar Ara yang tak kembali melanjutkan langkahnya mendekati Shaka.
Hai hai, apa kabar semua? pada nungguin yah? makasih untuk kesetiaan kalian😘😘😘.
Sorry banget kawan, tiba-tiba akun aku keluar dari nt jadinya pas masuk lagi harus pake sandi email nah masalahnya aku lupa sandinya😭😭.
Emang yah, buat sandi itu harus kayak Sctv satu untuk semua biar gak pusing🤦♂️.