
Ady turun dari mobil Tesla miliknya, dia membenarkan jasnya dan melangkah memasuki gedung perkantoran.
"Anda ... tuan Ady Dominic?" kaget resepsionis.
"Iya benar, CEO saya ingin menemui bos anda," ujar Aciel selaku asisten Ady.
Resepsionis itu mengangguk, dia mengantar Ady menuju ruangan bosnya. Sesampainya di sebuah ruangan, wanita resepsionis itu mengetik pintu tetapi tak ada sahutan dari dalam.
"Ck, lama!" decak Ady dan membuka pintu dengan paksa.
Terlihat seorang pria paruh baya tengah memangku seorang wanita yang di duga adalah sekretaris pria itu terlihat dari cara berpakaiannya.
PROK! PROK! PROK!
Ady bertepuk tangan sambil melangkah masuk, pria paruh baya itu segera mendorong sekretarisnya dan menatap Ady dengan wajah terkejut.
"Pantas saja perusahaanmu tidak pernah maju, ternyata bermain j4l4ng?" ujar Ady.
"Kau putra suami Alea kan?" heran pria paruh baya itu yang tak lain adalan mantan bos Alea Ryanto Bagaskara.
Ady menatap pria itu dengan pandangan dingin, Aciel yang merasakan aura berbeda dari Ady segera mendekati Ryanto.
"CEO saya ingin berbicara dengan anda," ujar Aciel.
"CEO? siapa? dia? jangan bercanda, dia hanya seorang pelayan," ujar Ryanto dengan memandang remeh Ady.
"Jaga bicara anda tuan! Pria yang anda rendahkan adalah putra pertama dan penerus utama Dominic," tegur Aciel.
Ryanto membelalakkan matanya, dia menatap Ady yang dengan angkuh berjalan menuju sofa dan duduk sambil menatap Ryanto dengan datar.
"Putra pertama Dominic?" gumam Ryanto.
"Benar, dan atasan saya ingin berbicara dengan anda!" tegas Aciel.
Ryanto segera memerintahkan sekretarisnya untuk bersiap, dia menyuruh OB untuk membawa minuman sementara ia tersenyum menatap Ady.
"O-oh maafkan aku, aku tidak tau jika ...,"
"Berhenti berbicara, aku tidak suka berbasa-basi denganmu," ujar Ady dengan datar.
Ryanto menjadi salah tingkah terlebih Ady yang menatapnya dengan aura yang dingin, dia tak menyangka jika ternyata Ady adalah penerus Dominic.
"Kau memecat istriku benar?" tanya Ady.
"O-oh, itu ... itu karena Alea telah melakukan penggelapan dana perusahaan," ujar Ryanto dengan gugup.
Alea telah menceritakan semuanya pada Ady, dia menjelaskan bahwa dirinya tidak pernah melakukan penggelapan uang kantor. Ady lebih percaya pada Alea, sebab rekaman itu dengan jelas menyatakan jika Alea tengah di jebak.
"Apa kau mempunyai bukti untuk itu?" tanya Ady pada Ryanto yang tertegun.
"A-aku mendengarnya langsung dari teman Alea, dia merupakan manager disini," gugup Ryanto.
Ady mengisyaratkan agar Aciel memberikan map yang pria itu pegang, Aciel mengangguk dan menyerahkan map tersebut.
"Kau menuduhnya tanpa bukti, kau membekukan kartu istriku untuk membayar semua kerugian yang tidak pernah dia lakukan. Aciel, berapa harga yang harus di.kembalikan?" tanya Ady pada Aciel.
"2 miliyar tuan, dan anda tuan Ryanto ... kau harus mengembalikan uang itu karena tidak adanya bukti atas penuduhan nyonya muda Dominic!" tegas Aciel.
Ryanto mengambil map yang Aciel sodorkan, itu adalah data kasus penyemaran nama baik dan memeras seseorang. Ryanto bisa di jatuhi hukuman apabila surat tersebut jatuh di tangan pengadilan.
"Tuan, tapi saya tidak salah! saya bisa ...,"
Ryanto menghentikan ucapannya kala Ady mengangkat tangannya mengisyaratkan agar Ryanto diam. DIa menatap Ryanto dengan mata tajamnya, dan menyeringai sinis.
"Kau tidak salah? apa kau di bayar dengan tubuh teman istri saya?" tanya Ady dengan datar.
"Tuan ... itu ...,"
"Kembalikan uang istriku, dan kembalikan nama baiknya!" sentak Ady.
Ryanto langsung mengangguk tanpa ragu, dia tidak menduga jika aura Ady mampu membuatnya takut.
"Tuan, perusahaan anda dengan Dominic Group memiliki hutang yang tidak sedikit. Atasan saya bisa mengambil alih perusahaan anda karena dia memiliki 50% saham disini," ujar Aciel.
Ruanto tiba-tiba saja bersimpuh di bawah kaki Ady, dia mengatupkan tangannya pada Ady ahar tidak mengambil perusahaannya.
"Tuan aku mohon, a-aku akan membayarnya dengan segera," ujar Ryanto dengan panik.
Ady menghempaskan tubuh Ryanto ketika pria itu memegang kakinya, dia sangat tidak suka melihat orang bersimpuh hanya demi dunia itu sangat tidak masuk akal.
"PEcat dengan tidak terhormat Keyla, manager plus mu itu," ujar Ady dan bangkit dati duduknya.
"Pecat dia! karena dia telah melakukan korupsi di kantormu," ujar Ady sembari melemparkan sebuah kertas tepat di depan wajah Ryanto.
Ady segera keluar dari ruangan tersebut, Aciel mengikuti tuanya itu dengan jalan yang tidak santai.
"Tuan, apa hanya itu saja?"
"Eh ehm ... maksudku kenapa kau tidak ambil alih dan memecatnya sendiri?" tanya Aciel sembari mengimbangi langkah Ady.
"AKu masih ingin bermain-main," ujar Ady.
Aciel menghentikan langkahnya, dia menatap Ady yang sudah memasuki mobil dengan pandangan bengong.
"Perasaan gue kalau main ke pasar malem gitu, beda yah kalau CEO mainnya luar biasa," gumam Aciel.
"Kau mau kau tinggal?" sentak Ady.
Aciel sadar, dia segera memasuki mobil dan mobil mereka pun melaju dengan kecepatan sedang.
Berbeda dengan Alea yang kini berada di pasar bersama putri kecilnya, Ady memberi izin untuknya untuk pergi ke pasar membeli sesuatu yang Alea inginkan.
"Jeruknya dua kilo ya mas," pinta Alea.
"Oh, siap neng!" ujar tukang jeruk tersebut.
Alea menatap Ara yang sepertinya merasa aneh dengan pandangan sekitar, dengan gendongan Hipseat memudahkan Ara melihat ke arah depan.
"Ini neng," ujar penjual itu sambil menyerahkan plastik berisi jeruk.
"Berapa mas?" tanya Alea.
"46.000 neng," ujarnya.
Alea menyerahkan uang biru pada pedagang itu, dia mengambil kembaliannya dan kembali berjalan.
"Capek yah dek?" tanya Alea pada putrinya yang masih fokus melihat banyak orang.
Alea merasa heran dengan apa yang menjadi pusat perhatian putrinya, netranya melihat ke arah yang putrinya lihat.
"Ikan?" gumam Alea.
Alea mendekati gerobak penjual ikan, dia menatap ikan ****** yang sangat lucu menurutnya.
"Ara suka yah sayang?" tanya Alea.
Ara menjulurkan tangannya, dia memegang plastik ikan ****** yang berwarna putih bercorak merah.
"Mas, saya mau ini," unjuk Alea pada ikan yang Ara maksud.
"Yang mana neng?" tanya tukang itu sambil mendekati Alea.
"YAng ini mas," tunjuk Alea.
Penjual itu mengambil plastik ikan tersebut, dia memasukkannya ke kantong kresek dan menyerahkannya pada Alea.
"Berapa?" tanya Alea seraya mengeluarkan dompetnya.
"15.000 aja neng," ujarnya.
Alea menyerahkan uang pas, dia mengambil kresek itu dan melanjutkan jalannya.
Tatapannya jatuh pada penjual sayuran, dia sangat ingin sekali membuat es timun di campur dengan sirup dan melon.
Dia mendekati pedagang itu, tangannya terulur mengambil timun yang berukuran sedang.
"Pak, timunnya sekilo yah," ujar Alea.
Penjual yang berusia paruh baya itu mengangguk, dia langsung membungkuskan apa yang Alea pesan.
"Neng, beli timunnya yang kecil apa yang besar?" tanya seseorang di samping Alea.
Alea menoleh dan mengerutkan keningnya.
"Emangnya kenapa yah?" bingung Alea.
"Biasanya kan cewek suka yang besar, nengnya suka juga yang besar?" ujar pria itu dengan menatap Alea dengan wajah menggelikan.
Alea menggeser sedikit tubuhnya, tetapi pria itu lagi-lagi mendekat.
"Selangkah lagi kamu mendekati istri saya, habis kamu di tangan saya,"