Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
Episode 58: Pertengkaran di kantor



"Mas, kenapa belakangan ini kau selalu sibuk?" Tanya Siska yang tengah memakaikan dasi pada suaminya.


"Sedang ada banyak pekerjaan," ujar Nando.


Siska mengangguk paham, dia tak berpikiran aneh-aneh. Hanya saja, waktu antara dia dengan Nando sangatlah singkat.


"Apakah Shaka rewel?" tanya Nando.


Siska menggeleng, Nando yang melihat itu tersenyum tipis.


"Apa kau marah karena aku sering lembur?" Tanya Nando.


"Tidak." Cicit Siska.


"Lalu, kenapa kau murung seperti itu?" Heran Nando.


Siska menggeleng, dia membereskan handuk sang suami. Sementara Nando yang masih merasa terheran segera mendekati istrinya.


"Jangan kekanak-kanakan Siska, aku bekerja juga untuk kamu dan Shaka. Kenapa kau malah seperti ini," ujar Nando dengan nada sedikit kesal.


Siska menaikkan satu alisnya, dia menatap Nando tak percaya. Dirinya di sebut kenakan? memangnya apa yang dirinya lakukan?


"Aku kenakan? Setiap malam alu selalu nunggu kamu pulang, setiap malam aku sendiri mengurus Shaka yang rewel. Setiap malam aku selalu tidur terlambat, itu karena siapa? itu karena kamu! tapi kamu selalu berkata aku kenakan, aku kenakan, apanya yang kekanakan mas? apa kalau aku marah gak wajar?" Sentak Siska.


"Udahlah yang, gak usah ribut. Ini masih pagi," ujar Nando yang kesal.


"Yang mulai duluan kan kamu! kenapa aku selalu di salahin?" ujar Siska. Setelah mengatakan itu dia keluar dari kamar tanpa melihat jika ada seseorang di depan kamar mereka.


Nando pun keluar kamar, dia menatap Edgar yang tengah menatapnya.


"Tadi di panggil bang Ady, katanya mau berangkat meeting bareng," ujar Edgar dengan wajah datarnya.


Nando mengangguk, ia segera menghampiri Ady. Sedangkan Edgar, menatap Nando dengan pandangan yang tak dapat terbaca.


"Edgar, kok melamun disini. Cepat bersiap, sekarang kau akan ujian bukan?" ujar Alea menyadarkan lamunan Edgar.


"Kak, aku ingin berbicara sesuatu," ujar Edgar.


Alea menaikkan satu alisnya, apalagi ketika Edgar malah menarik nah ke bawah tangga.


"Sepertinya ada yang aneh dengan bang Nando," ujar Edgar.


"Aneh? aneh kenapa?" Tanya balik Alea.


Edgar mengawasi sekitarnya, di rasa aman dia kembali menatap sang kakak.


"Kakak tahu kan kalau kemarin aku jenguk teman di rumah sakit?" Tanya Edgar.


"Iya, kan kamu izin ke kakak," ujar Alea.


Edgar menatap kembali sekeliling, seperti takut jika ada seseorang yang lihat dan mendengar percakapan mereka.


"Aku melihat bang Nando sedang menggendong anak balita, perempuan. Umurnya sekitar 2-3 tahun, dan saat itu ...,"


Flashback On.


"Ed, gue ke toilet dulu yah. Lu tunggu disini biar yang lain gak bingung," ujar teman Edgar.


Edgar mengangguk, dia duduk di depan ruang rawat sambil memainkan ponselnya.


"Qiqi tidak papa, jangan terlalu khawatir,"


"Bukan itu mas, aku khawatir kejang-kejangnya kambuh. Maaf yah, aku jadi mengganggu urusan kantormu,"


Edgar hafal suara itu, dia menatap dua orang yang baru saja melewatinya. Salah satu dari mereka sangat Edgar kenal, pria itu yang tak lain dan tak bika. adalah Nando.


"Bang Nando? ngapain dia disini?" Gumam Edgar.


Edgar semakin merasa aneh ketika melihat anak kecil yang berada di gendongan Nando, walau Nando memakai masker tetapi Edgar hafal dengan jas yang pria itu kenakan.


Di lihatnya Nando merangkul pinggang wanita itu seperti sepasang suami istri, karena tang Edgar tahu jika Nando orang yang sangat cuek dan tak pernah romantis seperti itu.


Flashback Off.


"Kau tak memergoki mereka?" Tanya Alea setelah Edgar selesai bercerita.


"Bagaimana aku mau memergoki mereka, jika kau salah tangkap aku sendiri yang malu," ujar Edgar.


Alea merasa jika kakinya di pegang oleh tangan kecil, dia menundukkan wajahnya dan tersenyum ketika melihat putri kecilnya yang merangkak sampai padanya.


"Kenapa kau lama sekali? aku harus bekerja, untungnya Ara menemukanmu," ujar Ady yang berada di belakang Alea.


Tentu saja suara Ady membuat Edgar dan Alea terkejut, wajah mereka menjadi pucat pasi. Ady yang tengah menggulung lengan kemejanya terheran melihat istri serta adik iparnya.


"Ada apa? kenapa kalian melihatku seperti melihat hantu?" Heran Ady.


"Oh enggak mas, kaget tadi kami." Gugup Alea.


"Hayooo! Kalian pasti lagi ngomongin mas kan? ngaku!"


"Iya, ngomongin mas. Puas?" ujar Alea sambil membawa Ara ke gendongannya.


"Kak, bang ... aku pamit berangkat dulu," ujar Edgar menyela perbincangan suami istri itu.


Alea mengangguk, begitu juga dengan Ady. Akhirnya Edgar pun pergi, sedangkan Alea dan Ady kembali bersitatap.


"Siang nanti datanglah ke kantor, antarkan aku makan siang. Karena sepertinya aku tidak bisa pulang," ujar Ady.


Alea mengangguk, tak masalah baginya ke kantor Ady mengantar makan siang. Toh, dirinya sudah beberapa kali ke kantor Ady sehingga tak membuatnya pusing.


"Oh iya, apakah kau tekah datang bulan? apa perlu kita periksa ke dokter?" Tanya Ady.


Sebab sudah sebulan lebih Alea telat datang bulan, Ady khawatir jika Alea hamil kembali karena bekas operasi di perut sang istri.


"Nanti sepulang dari kantor kamu aku mampir ke apotik beli tespeck yah," ujar Alea yang di balas anggukan oleh Ady.


"Oke sayangnya ayah, ayah berangkat kerja dulu yah," ujar Ady pada putrinya yang tengah mengemut jempol mungilnya.


"Oaaa ...," ujar Ara dan memiringkan kepalanya.


"Ayah harus kerja, buat beli popok Ara. Cemilan Ara, baju Ara, dan mainan Ara juga. oke sayang?"


Entah Ara mengerti apa tidak, bayi itu mengangguk. Ady yang gemas akhirnya menciumi pipi bulat putrinya itu, sungguh dia tak rela membagi pipi putrinya dengan yang lain.


"AAAAA!" Teriak Ara yang kesal.


"Udah mas, bau jigong nanti pipi putriku," ujar Alea.


Ady menghentikan aksinya, ia beralih mengecup pipi serta bibir sang istri untuk energi berangkat kerja.


Alea mengantarkan Ady ke mobil, dia melihat Ady yang mengulurkan tangannya pada salah satu pembantu yang membawa tas beserta jas sang suami.


"Aku berangkat dulu," ujar Ady.


"Iya, Ara bilang dadah ayah ... dadah." Ujar Alea sambil menggerakkan tangan mungil sang putri.


Sebelum memasuki mobil, Ady ikut melambaikan tangannya ke arah sang putri. Setelahnya dia masuk dan membuka jendela agar melihat sang putri.


"Dadah ... dah ... dadah," Celoteh Ara.


Setelah mobil Ady pergi meninggalkan rumah, Alea pun berbalik masuk. Tetapi putrinya masih melambaikan tangan dan hak itu membuat Alea terkekeh.


"Udah sayang, ayah udah berangkat," ujar Alea dan menurunkan tangan putrinya.


Netra Alea menatap Shaka yang merangkak menghampirinya, dan yang lebih dia herankan lagi Nando melewati Shaka begitu saja dan langsung keluar rumah untuk memasuki mobilnya.


"Apa Mas Nando gak liat Shaka? biasanya kan dia gendong Shaka dulu." Bingung Alea.


Alea pun menduduki Ara di karpet berbulu dan kembali mengambil Shaka karena khawatir anak itu akan ikut keluar.


Tak lama, Alea melihat kakak iparnya yang tengah buru-buru pergi. Dia mengernyitkan keningnya sambil berjalan di belakang sang kakak.


"Ada apa dengan mereka?" Bingung Alea.


BRAK!


Alea terkejut, dia segera berlari masuk dan menemukan Shaka yang menarik kabel telepon rumah.


"Eh, jangan sayang. Gak boleh," ujar Alea.


Alea membenarkan kembali letak telpon rumah, dia mengambil mainan untuk kedua bayi itu. Rutinitasnya sekarang hanyalah menjaga bayi, seharusnya hanya Ara saja. Namun, belakangan ini Siska sangat sibuk di luar begitu juga dengan Nando.


ketika asik menjaga Shaka dan Ara, Alea di kejutkan dengan Amanda yang berlari ke arahnya.


"Ada apa mah?" Bingung Alea.


"Cepat kamu siap-siap, titip mereka sama pengasuhnya atau enggak sama eyang. Kita haru secepatnya ke kantor Nando!" Titah Amanda.


Alea masih bingung, sehingga ia tak merespon perkataan mertuanya. Sehingga Amanda memerintahkan pengasuh dua bayi itu untuk menjaganya sementara waktu.


Alea langsung berlari ke kamarnya, dia mengambil tas beserta dompet dan setelah itu menyusul Amanda yang menunggu di mobil.


"Mah, sebenarnya ada apa ini?" Heran Alea.


Amanda tak menjawab, dia sibuk menelpon dan sepertinya tak tersambung. Akhirnya Alea memilih tutup mulut, dan mengikuti mertuanya.


Sesampainya di kantor Nando, Amanda turun beserta Alea. Alea ikut berlari tergesa-gesa karena mertuanya yang berlari mendahuluinya.


Sedari awal masuk Alea sudah merasa aneh, karena para karyawan tak banyak terlihat. Dan yang lebih mengherankannya lagi, mereka mengerumuni suatu ruangan.


"CUKUP SISKA! KAMU GAK BERHAK BERKATA SEPERTI ITU DENGAN DIA!"


Alea sontak saja membulatkan mata, dia mendengar suara kakak iparnya. Dia pun mencoba memasuki kerumunan, netranya melihat sang kakak ipar yang tengah menatap tajam seorang wanita yang tengah memegangi pipinya sehabis tertampar.


"Kak Siska dan ... MILA?!"