Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
Episode 66: Aku ingin ada di saat itu



Edgar tengah kebingungan, pasalnya ia di jemput oleh Ady bahkan sebelum sekolahnya usai. Razka pun tidak tahu, bahkan abangnya itu tak mengajak dirinya pulang sekalian.


"Abang ada meeting habis ini, kakakmu baru saja pulih dan tak bisa lebih leluasa menjaga Ara. Keponakanmu itu sudah sangat lincah, jika kita meleng sedikit anak itu ntah ada dimana," ujar Ady di sela perjalanan mereka.


"Memangnya eyang dan mamah ada dimana?" Tanya Edgar dengan heran.


Ady menelikan mobilnya di sebuah minimarket, oa mematikan mobil dan menatap Edgar sebentar.


"Nanti abang ceritakan, sekarang kita turun dulu. Kakakmu menitip biskuit Ara yang sudah habis dan juga membeli yogurt kesukaannya," ujar Ady dan turun dari mobil.


Tak banyak berpikir, Edgar langsung mengikuti Ady keluar dari mobil. Tas ransel masih ia gendong, dirinya melangkah masuk ke dalam minimarket.


Ady mulai mengambil keranjang, sementara Edgar hanya membuntutinya dari belakang. Matanya juga ikut melihat sekitar barang-barang yang terjual, hingga tatapannya terhenti pada suatu barang.


"Bang!" Panggil Edgar.


Ady yang sedang menelisik makanan pun menolehkan kepalanya dengan kening mengkerut.


"Aku mau coklat yah," ujar Edgar dengan senyum manisnya.


"Boleh, ambil aja," ujar Ady.


Dengan senang hati Edgar mengambil coklat, tak hanya satu coklat tetapi stok yang ada di sana ia masukkan semua ke keranjang yang Ady bawa.


Hal itu membuat pertanyaan besar bagi Ady, karena pria itu tak senang coklat. Sedangkan adik iparnya membeli seakan-akan semua anggota keluarga akan memakannya.


"Kenapa banyak sekali?" Heran Ady.


"Ehmm ... itu, kan suasana di rumah lagi panas banget. Siapa tahu dengan makan coklat pikiran kita akan menjadi dingin, biar kalian bisa akur gitu," ujar Edgar dengan lugunya.


Hati Ady teriris, Edgar tak lebih dari seorang remaja baru yang mengenal kehidupan. Dengan coklat, apakah bisa membuat keluarga itu kembali? Hanya pikiran anak-anak, tetapi mampu membuat Ady terdiam.


"Aku salah yah bang? ini aku yang bayar kok, abang tenang aja," ujar Edgar saat melihat Ady yang terbengong.


Ady tersadar, dia segera menggeleng seraya tersenyum. Tangannya menepuk bahu Edgar dengan pelan.


"Gak usah di pikirin, kamu adik abang. Tanggung jawab abang," ujar Ady.


"Tapi bang bener loh, aku ...,"


"Lebih baik beli setokonya aja gimana?" ujar Ady sambil berjalan meninggalkan Edgar yang melongo.


Berselang beberapa saat, Ady dan Edgar sudah selesai berbelanja. Mereka sedikit mengintip barang belanjaan mereka karena takutnya ada yang tertinggal.


BRUK!


Edgar menabrak seseorang tak sengaja, ia segera meminta maaf. Ady pun ikut menoleh dan menghampiri adik iparnya itu.


"Kau tak apa?" Tanya Ady pada Edgar.


"Loh, Ady?"


Ady tersentak kaget, dia melihat orang yang mengenalinya. Seketika raut wajah suram menyertainya serta kedataran wajahnya pun kembali.


"Kau kesini jiga? oh iya turut berduka cita atas musibah yang menimpa keluargamu, sungguh aku turut perihatin," ujar wanita itu yang tak lain adalah Angel.


"Terima kasih, tapi kata-katamu tak ada guna dan tak akan bisa membuat semuanya kembali," ujar Ady dan berlalu pergi.


"Eh, loh! Ady!" Seru Angel karena merasa terabaikan.


Edgar pun jadi bingung sendiri, dia mengamati Angel yang tengah mencak-memcak kesal.


Angel pun menyadari saat dirinya di perhatikan, ia pun menoleh dengan raut wajah sangar.


"APA LIAT-LIAT!" Seru Angel.


Edgar meringis pelan. "Situ mbaknya lebih mirip monyet makanya saya perhatiin," ujar Edgar dan berlari pergi saat Angel terdiam.


"BOCAH TAK TAU TATA KRAMA! GILA!"


Edgar terkekeh mendengarnya, bahkan ia yakin jika saat ini Angel yang di katakan sebagai orang gila karena berteriak di tengah kerumunan.


Mungkin wanita itu tengah menahan malu, itulah yang Edgar pikirkan. Ady yang melihat keisengan adik iparnya pun sedikit terhibur, dia ikut tertawa menanggapinya.


"Kau memang terbaik!" Seru Ady.


"Tentu saja, lihat dulu siapa kakakku!" Sahut Edgar.


Jika kalian berpikir Edgar dan Ady sama-sama dingin dan kaku, kalian salah. Dua orang itu memiliki sifat yang hampir sama, tentu saja mereka saling memahami karakter mereka.


***


"SAYANG! MAS PULANG!" Seru Ady ketika membuka pintu rumah.


Edgar masih terlihat bingung, dia berjalan di belakang Ady sambil melihat sekelilingnya.


"OAAA! YAAAA!"


Edgar dan Ady menunduk melihat sosok mungil yang tengah merangkak cepat ke arah mereka, Ady pun menangkap putrinya berhubung barang belanjaan ada bersama Edgar


"HAP!" Seru Ady.


"EHEEE!" Ara tertawa dengan riang, apalagi ketika Ady melayangkan tubuhnya.


Edgar mendekat ke arah Ady, dia menoleh bahu abang iparnya itu.


"Bang, ini rumah siapa?" Tanya Edgar.


"Oh, ini rumah abang. Gimana? baguskan?" Terang Ady.


Edgar terkejut, tetapi dia menormalkan kembali ekspresinya. Ada hal yang ia tidak tahu saat ini, entah apa masalah nya Edgar tak mengerti sama sekali. Namun, ia tahu jika situasi sekarang sedang tidak baik-baik saja.


"Eh mas, kamu udah pulang. Maaf, tadi aku ketiduran. Untungnya kamu keburu pulang, jadi Ara gak keburu keluar," ujar Alea yang tengah berjalan menghampiri Ady.


"Enggak papa, lain kali aku harus pakaikan Ara pagar agar anak ini tak kemana-mana." ujar Ady sambil mencium kening Alea.


Alea tersenyum, netranya beralih menatap sang adik yang masih terlihat bingung. Sebenarnya Alea juga bingung menjelaskan seperti apa, tetapi Ady berkata padanya jika pria itu yang akan menceritakan semuanya pada Edgar agar anak itu mengerti.


"Ayo masuk, nanti di dalam abang ceritakan semuanya," ujar Ady.


Edgar mengangguk, mereka pun masuk dan duduk di ruang keluarga. Sambil memantau Ara bermain, Ady mulai menceritakan apa yang terjadi pada keluarganya.


"Jadi Kak Alea keguguran karena terkena dorongan Bang Nando?" Tanya Edgar dengan nada berbeda.


"Ini bukan sepenuhnya salah Bang Nando, dia seperti terlihat kebingungan dan berakhir mendorong Kak Siska. Kebetulan aku berada di belakangnya dan terdorong," ujar Alea berusaha untuk membela Nando.


Ady yang mendengar pernyataan sang istri oun berdecak kencang, ia sungguh kesal dengan perkataan Alea seakan-akan wanita itu sangat menghargai Nando.


"Kamu belain dia terus, kita udah kehilangan calon anak kita loh. Aku kecewa sama dia, masa kamu sebagai ibu yang mengandung masih bisa maafin dia. Kamu gak sayang sama calon anak kita?!" Sentak Ady dengan wajah merah karena marah.


"Mas," ujar Alea yang akan menjelaskan kembali.


Ady mengibaskan tangannya, ia berdiri dan berkacak pinggang sambil menatap istrinya.


"Kamu tahu bukan berapa tahun aku menunggu kamu siap hamil, okelah sekarang ada Ara. Tapi kamu pasti tahu keinginan aku! aku mau ngerasain menjadi suami siaga di saat kehamilan kamu! aku mau ngerasain gimana sih rasanya menjadi suami yang harus mencari ngidam istrinya. Aku mau merasakan pertumbuhan bayiku di rahimmu! Dan aku kehilangan semuanya karena pria yang kau sebut sebagai abang iparmu itu!"


"Mas ...." Sela Alea.


"Aku seorang ayah, calon bayi yang masih berbentuk janin itu adalah anakku! Tentu saja aku merasa kehilangan yang sangat, bahkan bisa di katakan aku membenci mereka!" Lanjut Ady dengan nafas memburu.


Alea hanya bisa menundukkan kepalanya tak berani menatap ke arah wajah suaminya yang terlihat marah.


Ternyata, pertengkaran mereka di saksikan oleh Ara. Bayi itu melihat pertengkaran kedua orang tuanya dengan ekspresi bingung.


"Kak, bang .... udah! Ada Ara disini, pertengkaran kalian bisa membuat pertumbuhannya terganggu!" ujar Edgar menghentikan ketegangan yang ada di rumah baru ini.


Ady melihat putrinya, begitu juga dengan Alea. Mereka menormalkan ekspresi mereka agar putrinya itu tak menyadari pertengkaran mereka.


"EH! ANAK AYAH, ANAK CANTIK," ujar Ady dengan nada sedikit tinggi.


Ara sudah tahu kata pujian, ia menepuk tangan mungil nya dengan pelan.


"Eheee! oaaa!"


__________________


Mohon maaf lahir dan batin kawan, semoga amal ibadah kita semuanya di terima ... Aamiinn


Terima kasih atas dukungan kalian, dan maaf sekiranya ada ketikan author yang menyinggung kalian🙂.


Terima kasih para pembaca setiakuuu atas pengertian kalian😍😍