
Ady masih sibuk dengan laptopnya, dia harus mengerjakan pekerjaannya karena beberapa hari dirinya cuti. Setelah dua hari tinggal di rumah lamanya, Ady merasa sedikit tenang. Tak ada lagi rengekan Ara akibat Bella, dan juga drama sang kakak.
"Ayah!" Seru Ara sambil berlari memasuki ruang kerja Ady.
"Hm." Sahut Ady tanpa mengalihkan pandangannya.
"Ala mau main kelual yah," ujar Ara.
"Iya," ujar Ady dengan singkat.
Ara yang mendapat respon Ady pun tak puas, hingga dirinya kembali mengajukan izin.
"Ala ke lumah kak danteng, boleh?" Tanya kembali Ara.
"Boleh sayang, boleh," ujar Ady yang masih fokus pada kerjaannya.
"Ala main campe cole juga boleh ayah?" Pinta Ara.
"Iya boleh," ujar Ady.
Ara berjingkrak girang, dia beranjak keluar dengan hati yang riang.
Brugh!
"Eh, hati-hati dek. Untung aja uncle tangkap!" Ujar Edgar yang hampir saja membuat anak itu terjatuh.
"Hehe solly uncle," ujar Ara.
"Mau kemana sih? buru-buru banget?" Tanya Edgar.
"Mau main ke luma kak danteng," ujar Ara dengan cengiran khasnya.
"Memangnya udah izin sama ayah?" Tanya kembali Edgar.
Ara mengangguk cepat, Setelahnya dia pamit pergi untuk bermain dengan Rangga. Edgar hanya bisa menggaruk kepalanya, biasanya abang iparnya itu akan melarang Ara bermain dengan Rangga, tetapi mengapa kali ini di perbolehkan?
"Mungkin Bang Ady lagi plong kali hatinya," ujar Edgar dengan acuh.
Sementara Ara, dia sudah berada di depan gerbang rumah Rangga. Kedua tangannya memegang erat pagar sambil memajukan wajahnya ke celah pagar.
"KAK DANTEEENGG MAIN YOOOKK!!"
Teriakan Ara membuat seorang wanita cantik keluar dari rumahnya, keningnya mengkerut ketika melihat Ara yang memanggil putranya.
"Siapa ya?" Tanya wanita itu sambil mendekati Ara.
Ara tersenyum, dia menjauhkan tubuhnya ketika wanita itu hendak membuka pagar. Senyum Ara belum juga luntur, sampai wanita itu berhadapan dengannya.
"Kak dantengna ada onty?" Tanya Ara dengan cengiran khasnya.
"Kak danteng itu siapa?" wanita itu bingung dengan kecadelan Ara.
Ara mengerutkan keningnya, senyumnya pun luntur. Dia tak mengingat nama Rangga, dia hanya memanggilnya ganteng. Itu saja.
"Ala lupa." Cicit Ara sambil menggaruk pelan pipi gembulnya.
"Siapa sayang?" Tanya seorang pria yang berjalan mendekati mereka.
"Ini dad, nyari kakak danteng. Tapi aku gak tau danteng siapa yang dia maksud," ujar wanita itu.
Suami wanita itu menatap Ara, tiba-tiba ia terkekeh gemas saat melihat kebingungan anak itu.
"Kamu anaknya pak Ady kan? tetangga depan?" Tanya Suami wanita itu.
"Hum, Ala anakna ayah Ady. Calam kenal calon meltua," ujar Ara.
Wanita itu dan suaminya tertawa, masih kecil saja sudah berbicara tentang mertua. Karena perkataan mertua, wanita itu menjadi mengerti maksud Ara.
"Oh, kau mencari Rangga?" ujar wanita itu.
Ara mengangguk antusias, segera wanita itu dan suaminya mengajak Ara masuk. Mereka sangat gemas melihat anak itu, bukan hanya cantik tetapi imut dan lucu. Benar-benar perpaduan antara Alea dan Ady, apalagi Ady memiliki keturunan bule.
"RANGGA! INI ADA YANG MENCARIMU LOH!" Seru wanita yang menjabat sebagai mamah Rangga itu.
Rangga keluar dari kamarnya, dia terkejut melihat ARa yang berada di rumahnya.
"Ara? kenapa kau disini?" Kaget Rangga.
Rangga segera berlari menuju jendela besar, dia melihat ke arah rumah Ara. Namun, dirinya tak menemukan apa yang dia cari.
"Ayah kamu gak marah? biasanya udah g
kayak monkey keluar dari kandang," ujar Rangga.
Rangga menghela nafas lega, bukan dia takut dengan Ady. Hanya saja dirinya malas berdebat dengan Ady yang tak ada habisnya.
"Mommy baru tahu loh, ternyata mommy sudah punya calon menantu." ujar Mommy Rangga.
Desiana Wijaya, merupakan ibu dari Rangga. Dia seorang wanita berumur 30 tahun yang memiliki dua orang anak. Rangga merupakan anak pertama, sedangkan anak kedua Desi seumuran dengan Ara anak itu bernama Renata Wijaya yang biasa di panggil Nata.
"Mommy!" Kesal Rangga, wajahnya kini memerah akibat di ledek oleh sang mommy.
"Hahaha, sayang jangan menggodanya. Sudah, aku akan ke kantor dulu. Kalau kau mau ke butik, hati-hati. Jam makan siang kita bertemu," ujar suami Desi.
Aksa Wijaya, suami dari Desi yang berumur 35 tahun. Dia menjabat sebagai Ceo, dan memiliki sifat yang ramah.
Desi mengantar suaminya keluar, sekalian dia berangkat, sementara Rangga dia mengajak Ara bermain di halaman belakang rumah.
"Wah, kakak Ala mau belenang," ujar ARa ketika melihat adanya kolam renang di belakang rumah Rangga.
"Bukannya di rumahmu juga ada kolam?" Bingung Rangga.
"Ada, tapi nda ada kak dantengnya," ujar Ara dengan polos.
Rangga menepuk keningnya, bagaimana bisa dia bermain dengan anak berumur tiga tahun?
"MOMMY!! MOMMY! HUAAAA DI TINDAL LADI! MALANG CEKALI NACIBKU,"
Rangga dan Ara terdiam, mereka menatap pada sosok anak perempuan seumuran Ara yang tengah merosotkan tubuhnya ke lantai.
"Ciapa?" Tanya Ara sambil berbisik.
"Adikku," ujar Rangga.
Ara mengangguk kan kepalanya, sebelumnya memang dia belum bertemu Renata. Bagaimana mau bertemu, setiap melihat Rangga berjalan di depan rumahnya Ady selalu menyuruhnya masuk.
Tampak Renata sudah berdiri, dengan baunya yang lesu dia berbalik dan terkejut melihat Ara.
"Kamu Ciapa? nda mungkin temana abang kan?" Ujar Nata sambil berjalan mendekati Ara.
Ara masih terkejut melihat Nata, wajah Nata cemong dengan bedak. Bahkan anak itu memakai dress yang sangat ngembang, Ara yang tak pernah pakai seperti itu pun menjadi bingung.
"Hum, macih temen cekalang," ujar Ara.
"Oh, namana ciapa?" Tanya Nata begitu berdiri di hadapan Ara.
"Ala, nama lengkap na Ala itu ... hum ... Ala lupa hehe," ujar Ara dengan lugunya.
Rangga menggaruk kepalanya yang tak gatal, kenapa malah jadi ajang perkenalan. Dia pun menghembuskan nafas kasar, dan memutuskan untuk masuk ke kamarnya saja.
"Huh, pantas saja daddy tak pernah suka ikut mommy kumpul sama temannya. Melihat Ara dan Nata saja membuat mengerti, perempuan jika sudah bersama temannya di akan lupa segalanya." Gerutu Rangga.
Kembali lagi pada kedua anak itu, kini keduanya tampak bermain dengan senang. Apalagi Ara, dia merasa mempunyai teman se-frekuensi.
"Ini bonekana beli dimana?" Tanya Ara sambil menunjukkan boneka yang ia maksud.
"Oh, itu di belikan abang. Kamu mau? ambil aja, udah jelek itu," ujar Nata.
"Benelan? ini dali abang kamu loh?" ujar Ara.
"Benelan lah, abang juga belina di pacal malem. Beda cama daddy belina di mol, malang cekali nacibku," ujar Nata.
Ara mengerutkan keningnya, boneka yang ia pegang tampak sangat bagus.
"Yacudah, ini buat Ala loh. Janan di ambil lagi, nanti Ala ganti cama boneka Ala yah." Ujar Ara.
"Hum, boleh. Cana ambil," ujar Nata.
Sementara itu, kini di rumah Ady tengah kelimpungan mencari putrinya. Padahal ALea sudah berpesan agar Ady memantau Ara.
"Aduh! dimana lagi Ara," ujar Ady dengan panik.
"Mas! mas!"
Ady terkejut mendengar panggilan istrinya, itu tandanya Alea sudah pulang.
"Mas Ara mana?" Tanya Alea yang mana membuat Ady seketika takut.
"Ara itu dia ...,"
"Ara main kak ke tetangga depan, tadi katanya dia udah izin sama bang Ady," ujar Edgar yang baru saja dari dapur.
Mata Ady membulat sempurna, dia langsung berlari keluar bahkan menyenggol Shaka.
"Ayah tenapa?" Bingung Shaka melihat kepergian Ady.